
Hari ini Berry akan memulai dari awal. Ia akan ke kota x untuk membangun tempat YGM. Ya selama 20 tahun lalu Berry menekuni seni olah raga. Maka dari itu ia akan membuka beragam olah raga.
"Dad, Mom jika ada sesuatu jangan lupa hubungi Berry," kata Berry sebelum berangkat.
"Sayang kenapa harus di kota lain, disini banyak bangunan kata," ungkap sang Mommy.
"Disini sudah padat Mom, sedangkan di kota tersebut masih bisa terhitung," jawab Berry.
"Baiklah jangan melupakan kami," timpal sang Daddy.
"Iya sayang kami sudah tua, kami butuh kamu sayang," ungkap wanita yang sangat menyayangi Berry selama ini.
"Tentu Dad, Mom. Berry akan sering-sering mengunjungi kalian," ujar Berry.
Di kota x
Berry menjadi pelatih di YGM yang dikelolanya. Ia juga memperkerjakan 3 pelatih. 2 pria dan 1 wanita. Baru 2 minggu buka tetapi tempat YGM sudah ramai di datangi oleh semua kalangan.
•••••
Di sebuah hotel di kota x. Mia serta asistennya baru saja tiba. Besok mereka akan memamerkan karya lukisan Mia, sekalian memberi event untuk anak pelajar semua jenjang.
"Dita tubuhku lelah sekali," adu Mia kepada sang asisten.
"Apa Nona ingin pijitan? didalam hotel ini tersedia jasa pijit," ungkap Dita.
"Tidak perlu Dit," jawab Mia sembari menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Nona saya dengar-dengar disebelah hotel ini ada tempat GYM yang baru buka. Sang pelatih katanya cool banget," ujar Dita.
"Boleh juga itu Dit sepertinya aku ingin sepeda statis," jawab Mia berminat.
"Hmmm tumben apa karena pelatihnya cool?" goda Dita.
"Sembarangan saja, bukan karena pelatihnya cool seperti yang kamu katakan tetapi ingin menyegarkan tubuh ini," kata Mia.
Sesuai kesepakatan akhirnya mereka bersiap-siap. Mumpung ada kesempatan Mia menggunakan waktu itu.
"Selamat sore Nona, terima kasih sudah berkunjung," sapa sang karyawan.
Mia maupun Dita mengangguk.
"Dita kamu mau kemana?" tanya Mia karena Dita celingak-celinguk.
"Hmmm mencari pelatih yang dijuluki Nona," jawab Dita tanpa menatap Mia.
"Baiklah akau akan ke sana," ujar Mia tanpa memandangi keramaian.
Mia langsung menuju sepeda fitnes.
"Wah ternyata enak juga, kenapa dari dulu aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk YGM," gumam Mia.
Suit... suit...
__ADS_1
Beberapa pria menggoda Mia sehingga Mia merasa terganggu.
"Huh Dita kemana sih?" gerutu Mia tanpa ingin menghiraukan para pria itu.
Hmmm
"Apa ada yang bisa dibantu?" tiba-tiba suara bariton mengagetkan Mia sehingga ia menghentikan aktivitasnya.
Deg
Mia maupun Berry terdiam saling menatap tanpa berkedip.
"Kamu!" Tunjuk keduanya terkejut.
Mia merasa sesak. Jantungnya berdegup kencang, begitu juga dengan Berry.
"Wajah ini," batin Berry mengingat wajah Aileen.
Hmmm
Berry berusaha mengatur detak jantungnya. Sungguh ia terpesona dengan wajah Mia.
"Apa ini pelatih yang dimaksudkan Dita?" batin Mia sempat mengagumi Berry.
"Sepertinya Nona orang baru?" tebak Berry.
"Iya Uncle," jawab Mia.
"Hah Uncle," gumam Berry dengan mata menyipit. "Apakah aku sudah setua itu?" tanya Berry
Berry bungkam dan dia sadar jika sudah berumur.
"Aku mau coba itu," kata Mia menunjuk alat barbel.
"Apa kamu mampu? hmm biar aku yang bimbing," ujar Berry.
Mia mulai mengangkat barbel. Sedangkan Berry sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Mia.
Awww
Mia menjerit rupanya barbel tidak sengaja lepas dari tangan lalu mengenai kakinya.
"Ada apa?" dengan segera Berry sadar dari lamunannya, lalu menghampiri Mia.
"Sakit," lirih Mia sembari mengelus jari-jemari kaki lentiknya.
"Hmmm biar aku pijitin," ujar Berry langsung menangkap kaki jenjang Mia laku memijit jari yang memerah.
Deg
Sungguh Mia kaget dan jantungnya berdegup kencang, baru kali ini ia merasakan hal itu. Sungguh Mia terpesona akan karisma seorang Berry. Walaupun sudah seumuran Daddy nya tetapi tampilan dan karisma Berry tidak ada bedanya dengan anak-anak ABG seusia teman-teman Mia.
Andaikan Mia tau bahwa siapa sesungguhnya pria yang saat ini memijit jari-jemarinya, mungkin sejak tadi ia mendekap pria itu. Tetapi sayangnya mereka tidak mengetahui hal itu, bodohnya lagi mereka melupakan sesuatu yaitu perkenalan diri mereka masing-masing.
__ADS_1
"Tampan sekali," gumam Mia tidak sadar sehingga menghentikan Berry memijat jari-jemarinya.
"Kamu bilang apa?" tanya Berry pura-pura tidak dengar, padahal gumaman Mia sangat jelas didengarnya. Bahkan bibirnya sempat melengkung mendengar pujian wanita imut ini.
"Hah," akhirnya Mia sadar akan perkataannya sehingga kini raut wajahnya bersemu merah. Tentu saja Mia malu karena keceplosan. "Tidak, aku tidak mengatakan apapun," bohong Mia dengan mimik wajah menyakinkan.
"Hmmm apa aku salah dengarnya? aku dengar gumaman seseorang mengatakan tampan sekali," goda Berry.
"Mungkin," jawab Mia sembari membuang muka serta menghela nafas. Dengan cepat ia menarik kakinya yang tengah menyangga di lutut kekar Berry.
Keduanya menjadi canggung.
Tiba-tiba datang rombongan emak-emak rempong para istri pejabat, yang ingin Nge-YGM menghampiri dimana Berry.
"Hai tampan temani kita-kita dong," goda salah satu emak-emak.
Mia yang mendengar godaan emak-emak merasa tidak suka.
"Aduh Om tampan ini bagaimana sih melakukan permulaan?" rengek emak yang lain.
"Tunggu Tante-Tante yang cantik akan saya panggil pelatih untuk membimbing," ujar Berry.
Melihat Berry tidak ingin membimbing membuat Mia lega, tetapi setelah mendengar pujian Berry membuat Mia cemberut.
"Tetapi kami maunya Om tampan dan perkasa ini," goda salah satunya lagi bahkan mengelus otot-otot Berry.
Dengan segera Berry memundurkan badannya lalu menatap kearah Mia. Mia yang sudah naik pitam segera meninggalkan tempat perkumpulan emak-emak.
"Hari ini saya tidak bisa, maaf Tante-Tante," ujar Berry. Bagaimanapun ia harus bersikap ramah kepada para pelanggan, walaupun ada sebagian dari mereka seperti menggoda.
"Huh," degus mereka serempak.
Berry segera meninggalkan tempat itu dan ingin mencari Mia.
"Hmmm ada apa denganku?" gumamnya.
Tidak lama senyuman menyungging di bibirnya mendapati sosok Mia. Mia masih Nge-GYM bersama seseorang yang diyakini Berry sahabatnya.
Berry memberanikan diri menghampiri mereka.
Hmmm
Deheman seseorang membuat Mia sama Dita menoleh.
Deg
Dita menelan ludahnya melihat siapa yang datang menghampiri mereka. Bahkan Dita menganga.
"Nona, itu pasti pelatih yang dijuluki orang-orang itu. Oh my god tampan sekali walaupun lebih tua dari kita," bisik Dita kepada Mia.
Mia diam saja bahkan dia membuang muka, pura-pura tidak menyadari kehadiran Berry. Entah apa yang membuat Mia seperti itu.
"Caranya begini," ujar Berry langsung memegang tangan Mia karena Mia melakukan kesalahan.
__ADS_1
Sehingga mata keduanya bertemu cukup lama. Pancaran sorot mata menggambarkan perasaan mereka yang masih tersembunyi.
Bersambung....