
Di hotel mewah milik keluarga Sywa sudah dipadati oleh tamu undangan dari kalangan bisnis.
Mia sengaja menunggu Jihan di lobby hotel. Tidak lama mobil yang membawakan Jihan terparkir. Jihan dituntun oleh kepala pelayan menuju dimana Mia berada.
"Aunty," panggil heboh Jihan.
"Hai sayang, hmmm Jihan cantik sekali," puji Mia sembari mengusap pipi imut Jihan.
"Aunty juga sangat cantik, hmmm kita seperti kembaran ya Aunty hehehe," gelak tawa Jihan memperlihatkan giginya tak beraturan.
"Ayo kita sudah ditungguin," ajak Mia sembari mengandeng tangan kecil Jihan membawanya masuk menuju tempat pesta.
Sepanjang jalan Jihan takjub melihat hiasan bunga, begitu juga melihat para tamu yang tak pernah dilihatnya. Jihan tau jika mereka bukanlah orang rendahan seperti dirinya.
"Opa, Oma," sapa Jihan seketika melihat kedua pasangan yang sedang berulang tahun.
"Hai cantik," balas Aileen langsung mengecup pipi imut Jihan.
"Selamat ulang tahun pernikahan Opa, Oma. Semoga panjang umur dan sehat selalu," kata polos Jihan karena ia kira ini acara ulang tahun yang biasa ia hadiri ketika teman-temannya berulang tahun.
"Amin," jawab mereka.
"Oma ini ada hadiah dari Jihan, maaf jika ini berupa coklat. Ini coklat buatan Mami khusus untuk Opa sama Oma," kata Jihan menyodorkan kotak kecil itu.
"Terima kasih sayang," Aileen meraih kotak itu dengan senang hati. Dengan tidak sabar ia membukanya.
"Wah cantik sekali sayang pasti rasanya juga enak," kata Aileen dengan wajah berseri-seri, mengagumi coklat buatan Mami Jihan.
"Apakah Oma menyukainya?"
"Tentu saja sayang bahkan Oma tidak sabar ingin mencicipinya karena Oma adalah pencinta coklat," kata Aileen. "Hmmm kenapa Mami tidak ikut sayang?" tanya Aileen karena ia berharap Mami bocah manis itu juga meramaikan perayaan ulang tahun pernikahan mereka.
"Mami bekerja Oma, jadi tidak bisa datang," jawab Jihan seperti yang dikatakan sang Mami.
"Oh," Aileen ber oh ria.
Tamu undangan pada sudah hadir semua sesuai jumlah undangan.
"Kemana anak ini? kok lama sekali," kata Aileen tidak melihat batang hidung Max.
"Sabar sayang mungkin boy masih dalam perjalanan, maklum ini kota besar kemungkinan terjebak macet." Cullen berusaha menenangkan sang istri yang tampak panik.
"Ini acaranya mau mulai sayang, tidak enak dengan para tamu jika diundurkan," sambung Aileen. "Mommy hubungi dulu," imbuhnya.
__ADS_1
Aileen menghubungi Max. Sedangkan Jihan tak henti-hentinya berceloteh bersama Opa dan Oma buyut.
Setelah 15 menit akhirnya Max tiba dengan penampilan cool. Sehingga mengundang perhatian para tamu undangan. Khususnya kaum hawa.
"Selamat anniversary Mom, Dad. Maaf Max sedikit terlambat," kata Max.
"Terima kasih sayang, kenapa telat?" tanya Aileen.
"Ada sedikit masalah Mom. Hmmm ini buket hadiah dari Max, apa Mommy menyukainya?" Max memberikan buket mawar putih.
"Ya ampun buket ini indah sekali sayang, baru kali ini Mommy menerima buket secantik dan seindah ini, sangat unik." Kagum Aileen sangat menyukai buket bunga mawar pemberian putra sulungnya.
Max membalas dengan senyuman.
"Sayang siapa yang membuat buket ini? kamu pesan di toko langganan kita bukan? setau Mommy di sana tidak seindah ini," kata Aileen.
"Iya Mom di toko langganan kita, hmmm ada karyawan baru," jawab Max dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Mom ingin bertemu dengan orang itu sayang,"
Deg
"Mampus," batin Max dengan rahang mengeras.
Acara peniupan lilin dimulai. Semua menyanyikan lagu diiringi tepuk tangan. Yang paling heboh adalah Jihan, bocah manis itu sangat antusias.
Sungguh Max tidak tenang pikirannya tertuju kepada wanita beranak satu itu. Tetapi Max yakin Emily tidak akan berani membantah ancamannya. Max yakin besok wanita itu akan bekerja di kantor seperti biasanya.
Acara demi acara berlangsung. Ada acara berdansa, menyumbang sebuah lagu. Sedangkan Max yang biasanya menebarkan pesona tetapi malam ini pria itu seperti ada masalah.
"Tuan, Nona Syntia ingin mengajak Tuan berdansa," ujar Dion memberitahukan.
"Aku lagi tidak mood," ujar Max tanpa berminat.
"Baik Tuan," jawab Dion sedikit heran karena ia tau siapa sang CEO.
Max duduk sendiri sembari minum jus.
"Hai Uncle tampan bolehkah Jihan duduk semeja dengan Uncle?" kata Jihan tiba-tiba menghampiri Max karena ia merasa bosan disekitar Oma sama Opa.
Mendengar permintaan Jihan membuat Max sadar dari lamunannya. Lalu mengangguk pertanda setuju dengan permintaan Jihan.
"Uncle tampan kenapa sendiri? semua memiliki pasangan?" kata polos Jihan.
__ADS_1
"Tidak ada yang mau bersama Uncle," jawab Max sembarangan.
"Bagaimana jika Uncle bersama Mami Jihan saja, tetapi sayangnya Mami Jihan tidak ikut," sambung Jihan dengan polosnya.
Kening Max mengerut mendengar penuturan Jihan. Bagaimana mungkin ia akan bersama dengan seorang emak-emak.
"Uncle tidak rugi. Mami Jihan sangat cantik, bahkan jika dibandingkan dengan wanita-wanita disini pasti Mami Jihan yang paling cantik. Dan bahkan Aunty Mia juga kalah," ungkap Jihan memuji paras cantik sang Mami.
Max menautkan alis mendengar celoteh yang tidak penting bagi Max. Tetapi ia hanya diam pura-pura mendengar celoteh bocah manis itu.
"Bagiku hanya dia yang paling tercantik, walaupun status wanita beranak satu," batin Max.
"Uncle, apa Uncle setuju?" tanya Jihan dengan polosnya.
Hmmm
"Uncle,"
"Bisa diam tidak!" Seketika suara bariton Max membuat Jihan terkejut.
"Maaf Uncle," lirih Jihan seperti menahan tangis. "Jihan akan pergi," katanya dan langsung beranjak dari meja yang ditempati Max.
"Jihan, Jihan," panggil Max tetapi tidak membuat Jihan menghentikan langkahnya menuju Opa sama Oma. Mana mungkin Jihan mendengar panggilan itu sedangkan alunan musik memenuhi acara itu.
Aakkk
Max menjambak rambutnya.
"Maaf Tuan Nona Lusia ingin mengajak Tuan berkencan," ujar Dion kembali datang mengabari sang CEO.
"Aku pusing Dion jangan menganggu aku saat ini, bilang kepada wanita-wanita manja itu jika aku tak berminat," ujar Max dengan rahang mengeras.
"Baik Tuan maafkan saya," jawab Dion lalu berlalu meninggalkan Max yang lagi tersulut emosi.
Jihan duduk sendiri di kursi yang tidak jauh dari percakapan sang Oma. Aileen melihat wajah murung Jihan langsung meninggalkan istri rekan sang suami untuk menghampiri Jihan.
"Jihan kenapa? apa Jihan sudah mengantuk?" tanya Aileen.
"Iya Oma, bisakah sekarang Jihan pulang?" jawab Jihan.
"Apa tidak bisa menunggu sebentar lagi sayang?" tanya Aileen.
"Tetapi Jihan sudah mengantuk Oma, maaf jadi merepotkan Oma," kata Jihan sembari menundukkan kepala.
__ADS_1
"Baiklah sayang jika Jihan memang sudah mengantuk. Oma tidak bisa memaksa, tunggu Oma panggilkan Paman Herman biar mengantar Jihan pulang," ujar Aileen dan langsung menemui kepala pelayan.
Bersambung....