Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 80 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Tok tok tok


Sekitar jam 9 pintu rumah petak milik Emily diketuk. Sebelum membuka kunci pintu si bocah manis intip lewat celah jendela. Begitulah peringatan dari Emily, tidak boleh sembarangan menerima tamu tanpa diundang.


Senyuman bahagia terpancar di wajah manis Jihan. Ternyata yang bertamu adalah Uncle tampan.


Ceklek


"Selamat pagi Uncle tampan," sapa Jihan dengan manja sembari menarik lengan Max.


"Pagi Jihan," balas Max disertai senyuman.


"Ayo masuk Uncle tampan," mempersilahkan Max masuk kedalam.


"Jihan lagi nonton kartun ipin upin?" ujar Max karena siaran televisi menampilkan ipin upin.


"Iya Uncle tampan Jihan suka nonton kartun ipin upin," jawab Jihan.


Hmmm


"Apa Jihan sudah mandi?" tanya Max sembari pandangannya kesemua sudut tetapi sosok yang dicarinya tidak ada tanda-tanda menampakkan diri.


"Sudah Uncle tampan, kita jadi bukan ke sekolah?" tanya Jihan memastikan perkataan Max kemarin.


"Jadi dong makanya Uncle menemui Jihan," jawab Max.


"Tunggu ya Uncle, Jihan ingin minta izin sama Mami dulu," kata Jihan ingin bangkit dari duduknya.


"Memang Mami Jihan kemana?" keberuntungan bagi Max untuk bertanya karena ia tau jika Emily belum masuk kerja.


"Masih tidur Uncle tampan," jawab Jihan dengan polos.


"Hah dasar pemalas. Jadi Jihan belum sarapan?" ujar Max.


"Sudah Uncle tampan, tadi Mami bangun terlalu pagi langsung buatan sarapan buat Jihan. Lalu Mami kembali tidur lagi, sepertinya Mami sakit deh. Jihan liat banyak obat di atas meja didalam kamar Mami," cicit Jihan. "Biar Jihan bangunkan Mami dulu," imbuhnya.


"Tidak usah biar Uncle saja yang temui Mami Jihan," ujar Max langsung bangkit.


"Tapi Uncle tampan, lelaki dan wanita tidak boleh berada di satu kamar, kata Mami itu sangat berbahaya," kata Jihan dengan polos.


"Jika Uncle yang masuk itu boleh, begitulah yang dikatakan Mani Jihan," bohong Max.

__ADS_1


"Baiklah jika Mami mengatakan itu," jawab Jihan begitu polosnya dan bisa diakali.


Tok tok


"Uncle tampan langsung masuk saja karena pintu kamar Mami tidak pernah terkunci," teriak Jihan dari ruang televisi.


"Sangat ceroboh," gumam Max tidak menyukai kebiasaan itu.


Ceklek


Pintu terbuka dan Max langsung masuk, tidak lupa ia tutup kembali.


Deg


Seketika matanya membulat tanpa berkedip melihat penampilan Emily saat ini. Dimana Emily tidur mengenakan setelan tank top seksi. Dengan posisi miring sembari memeluk guling. Sehingga dengan jelas Max menikmati pemandangan indah tubuh Emily.


Glek


Tanpa sadar Max menelan salivanya. Dengan cepat ia menggelengkan kepala tidak ingin terjerumus. Bagaimanapun Emily adalah istri orang, begitulah yang ada dibenak Max.


"Huuhh," Max menghela nafas panjang. " Sangat ceroboh coba orang lain yang masuk kedalam kamar ini entah apa yang terjadi," degus Max dengan tatapan datar.


Max meraih selimut lalu ditutupi tubuh mulus dan seksi itu. Setelah itu Max menyibak gorden agar sinar matahari masuk kedalam kamar.


Emily mulai menggeliat karena wajahnya terkena cahaya sinar matahari. Sehingga selimut itu kembali jatuh merosot ke lantai.


"Jihan sayang tolong hari ini jangan ganggu Mami, badan Mami sakit sekali sayang," gumam Emily masih dengan mata terpejam. Dengan posisi terlentang sehingga tubuhnya semakin seksi.


Glek


Kembali Max dibuat tak berkutik. Bukan pertama ini Max menikmati pemandangan tubuh seksi wanita tetapi milik Emily sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah di kencani.


Seketika bola mata Max menangkap ada yang aneh dibalik celana pendek yang dikenakan Emily tepat berada di paha atas. Max yakin benda putih bernoda itu adalah sebuah perban.


Hmmm


Max sengaja berdehem bermaksud membangunkan Emily.


"Ada apa sayang? Mami sudah siapin sarapan," gumam Emily, dia kira itu deheman dari Jihan.


Tetapi sesaat Emily berpikir. Biasanya kalau jika Jihan yang bangunkan bukan begitu caranya, putrinya pasti mendaratkan ciuman di pipinya tetapi ini ia tidak merasakan jika ada kecupan. Karena penasaran Emily berusaha membuka kedua matanya dan langsung terbangun dengan mendudukkan dirinya.

__ADS_1


"Dasar putri tidur!" Degus Max sembari menelan salivanya melihat dia gundukan yang menantang karena ternyata Emily tidak menggunakan bra.


"Tuan," teriak Emily sangat nyaring. "Aakkk," teriaknya kembali sembari menutup bagian dada dengan kedua tangannya. Sungguh Emily baru menyadari penampilan.


"Tutup mulutmu itu! Seperti kayak diperkoza saja," ujar Max tanpa merasa bersalah.


"Sangat tidak sopan," seru Emily dengan tatapan tajam.


"Mami, Mami apa yang terjadi?" panggil Jihan langsung masuk kedalam kamar. "Uncle tampan apa yang terjadi?" tanya Jihan.


"Tanyakan saja sama Mami Jihan, Uncle juga tidak tau sepertinya Mami Jihan kemasukan setan bisa teriak sendiri tanpa disentuh," ujar Max sembari mengulum senyum.


Sedangkan Emily mengeram marah, ingin sekali ia ingin membungkam mulut itu.


"Sayang kenapa Jihan mengizinkan orang asing memasuki kamar Mami? apa lagi seorang lelaki. Bukankah sudah Mami peringatkan pada Jihan?" kata Emily dengan suara meninggi meninggi sehingga membuat Jihan menunduk.


Emily sudah tau jika Jihan menundukkan kepala bocah manis itu merasa bersalah dan bahkan sedih.


"Maafkan Jihan Mami. Kata Uncle tampan boleh masuk karena Mami sendiri yang mengizinkan Uncle tampan," kata polos Jihan termakan bualan Max.


"Sayang tinggalkan Mami sama Uncle. Mami tidak marah sama Jihan, maaf jika suara Mami mengagetkan Jihan," kata Emily dengan lembut, ia tidak ingin Jihan sedih.


"Baik Mi," jawab Jihan masih menunduk lalu keluar kamar.


Keduanya terdiam dengan sorot mata tajam yang ditunjukan Emily.


"Sangat tidak sopan, jangan kira karena saya karyawan Tuan seenaknya saja nyelonong memasuki kamar orang asing, apa lagi kamar seorang wanita," ujar Emily menahan amarah. "Apa ini kebiasaan Tuan terhadap para wanita?" lirih Emily.


"Apa aku tergoda dengan tubuh jelek kau itu? asal kau tau aku sama sekali tidak tertarik, apa lagi sampai tergoda," ujar Max dengan lantang.


Mendengar pengakuan Max membuat Emily mengeram. Tentu saja ia tidak terima dikatai memiliki tubuh jelek dan tidak menarik karena kenyataannya tidak begitu. Hanya Max orang yang berani mengatai tubuhnya jelek dan tidak menarik.


"Baguslah jika begitu," jawab Emily sembari mengatur nafasnya. "Saya harap Tuan keluar dari kamar ini, saya ingin berganti pakaian," usir Emily.


"Kau mengusirku?"


"Tentu saja, tidak mungkin saya berganti didepan orang asing," ujar Emily dengan geram.


"Sudah aku katakan tubuhmu tidak menarik, jadi itu tidak berpengaruh," ujar Max. "Lain kali jangan ceroboh, bagaimanapun pintu kamar harus terkunci. Kau sengaja ingin menggoda para lelaki? termasuk dokter kekasih kau itu," degus Max lalu berlalu sembari menutup pintu kamar dengan keras sehingga menimbulkan suara keras. Sedangkan Emily membulatkan mata dengan mulut menganga.


"Manusia aneh," gerutu Emily selepas kepergian Max.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2