
•••••
Mendengar suara batuk sontak membuat Cull serta Ai terbangun.
" Sayang! Awww, " cicit Ai karena kepalanya terbentur oleh kepala Cull.
" Maaf, apa ini sakit? " tanya Cull sembari mengusap kepala Ai dengan lembut.
Ai tidak menjawab, ia membuang muka serta menepis tangan Cull dari kepalanya. Perlakuan pria ini dan anggota keluarganya masih membekas di hatinya, apalagi dengan Cintaka. Ucapan dan hinaan itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
" Mom haus, " lirih Mia sehingga menyadarkan keduanya.
" Sayang jangan buat Mommy takut. Katakan apa yang sakit? katakan sayang, " ucap Ai disertai tangisan. Rasa bahagia menjadi campur aduk atas keselamatan Mia melawan maut.
" Princess kamu haus sayang? " Cull ikut andil, ia menyodorkan gelas berisi air putih.
" Biar aku yang kasi. Tuan hanya orang asing, " sikap Ai membuat Cull mendesis, ia paham kenapa Ai bersikap cuek.
" Aku adalah Daddynya! Jadi tidak ada salahnya, " ujar Cull dengan santai.
" Daddy yang tega melihat seorang bocah merengek serta dihina orang? itukah yang dinamakan seorang Daddy? " pertanyaan Ai berhasil membuat hati Cull tersayat. Memang perbuatan sang Kakak sewaktu di kantor tidak terpuji bahkan sudah keterlaluan.
Ai merebut gelas dalam genggaman Cull yang membeku terdiam. Sedangkan Mia menatap keduanya silih berganti tanpa sepatah katapun.
" Cukup Mom! " Mia menolak untuk minum lagi.
" Mom apakah Mia sedang bermimpi? bukankah Mia sudah bersama Tuhan? "
Deg
" Sayang, "
" Princess, "
Sontak membuat Ai dan Cull tersentak mendengar penuturan polos Mia. Karena mereka paham makna dari ucapan itu. Sehingga keduanya mendekap tubuh Mia yang masih terbaring lemas secara bersamaan. Menyadari hal itu membuat Ai melototkan mata menatap Cull.
" Sayang jangan berkata begitu. Mia akan selamanya bersama Mommy, Nenek serta Kakak kamu, " ucap Ai sembari mengusap wajah pucat Mia.
" Dan Daddy, " timpal Cull berhasil membuat Ai membuang muka, melihat tingkah Mommy twins M membuat kebahagiaan tersendiri bagi Cull.
" Bagaiman Opa dan Oma Mom? " mendengar pertanyaan Mia membuat raut wajah Ai berubah. Ia tidak ingin ada hubungan lagi dengan keluarga Sywa. Cull bisa melihat jika Ai tidak suka dengan pertanyaan Mia.
" Opa dan Oma baik Princess. Atas nama Opa, Oma, Daddy sangat berterima kasih kepadamu Princess. Kenapa kamu rela mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan kedua orang tua Daddy yang sudah mengecewakan kamu? " ungkap Cull dengan serius. " Mereka sudah tua sebaiknya mereka yang berada di posisimu, sedangkan masa depanmu masih panjang Princess, "
Bukk
Atas ucapan tidak wajar Cull berhasil tangan Ai mendarat di mulutnya.
" Awww, " ringis Cull karena tepukan itu cukup kuat.
__ADS_1
" Dasar anak kurang aja*! " Ai menatap tajam. Ai terbawa emosi karena ucapan Cull yang tidak sepantasnya dilayangkan tentang kedua orang tuanya. Walaupun Ai kecewa dengan sikap keluarga Sywa tetapi hati kecilnya tidak sesuai dengan ucapannya.
Cull terkekeh, baru kali ini orang yang berani memeperlakukannya begitu, yaitu wanitanya. Dalam hati Cull loncat girang melihat perlakuan Ai
" Mom, Dad lebih baik kalian keluar, Mia merasa terganggu. Mia lagi sakit tetapi kalian seperti anak kecil, " setelah mengatakan itu Mia menutup kedua matanya.
Cull dan Ai saling pandang. Ai masih menatap tajam tidak bersahabat, sedangkan Cull mengulum senyuman.
" Apakah Tuan yang terhormat masih tetap berada disini tanpa ingin melakukan apapun? " sindir Ai yang tidak dimengerti Cull.
" Tentu saja! Aku akan menemani putriku, " jawab Cull sembari mengusap pucuk kepala Mia dengan rasa kasih sayang.
" Ssst....! Apa hati Tuan tak terketuk memanggil Dokter untuk memeriksa keadaannya setelah siuman? "
" Ssst! " Cull menepuk keningnya tidak menyadari hal itu.
"Maaf sayang! " kata panggilan itu berhasil membuat jantung Ai berdebar. Sedangkan Cull, entah dalam keadaan sadar atau tidak hanya dia yang tau.
Cull menekan tombol untuk memanggil Dokter.
•••••
1 minggu Mia sudah di rawat
Selama itu Mia ditemani oleh Mommy, Max serta Daddy. Jam makan siang dan pulang kantor Cull ke RS untuk menemani Mia. Walaupun ia tidak disukai oleh Ai dan Max, tetapi tidak menyurutkan niatnya. Selama seminggu ia dianggap tidak ada di ruangan rawat Mia.
Seperti saat malam ini sepertinya Cull pulang kantor langsung meluncur ke RS untuk menginap.
" Ini apa Dad? " tanya Mia ingin tau, ia meraih bungkusan itu dengan senang hati.
" Hmmm bukalah jika kamu ingin tau, " titah Cull.
Mia segera membuka bungkusan itu, seketika matanya berbinar melihat benda itu.
" Princess Rapunzel! " Ucap bahagia Mia.
Ternyata itu boneka yang bisa menari dalam kotak.
" Terima kasih Daddy, " ucap girang Mia.
" Apa kamu suka? "
" Sangat suka Dad, bahkan Mia sudah lama menginginkan boneka seperti ini tetapi dulu tidak memiliki uang lebih, " ungkap Mia dengan raut wajah sedihnya mengingat masa lalu mereka sewaktu di desa yang sangat memprihatinkan.
Cull mengerti karena ia paham dengan keadaan rumah kediaman yang tidak layak bagi dia yang dari kalangan atas.
" Sekarang apapun yang kamu inginkan Daddy akan penuhi, " jujur Cull merasa terenyuh mendengar pengakuan Mia. Ia langsung mendekap tubuh kecil Mia kedalam pelukannya.
Sedangkan Ai dan Max hanya bisa terdiam memandangi interaksi keduanya yang tidak ubah seperti Ayah dan anak.
__ADS_1
" Jangan membiasakan, mereka bukan anak kecil lagi, " ucap ketus Ai tidak menyukai putra-putrinya di manjakan.
" Terserahku!
" Dia anakku! " Ketus Ai.
" Dia juga anakku! " Balas Cull tidak ingin kalah.
" Aku yang mengandung bahkan melahirkan, "
" Dan aku yang mencetaknya! "
Seketika membuat Cull dan Ai saling menatap dengan mulut menganga. Dan Ai segera membuang muka.
" Jangan sembarangan, " ucap ketus Ai dengan wajah memerah dan segera membuang muka, ia langsung bangkit menuju balkon untuk mencari angin segar karena dadanya sudah sesak mendengar ucapan ngelantur Cull.
" Daddy akan menyusul Mommy, kalian beristirahatlah, " perintah Cull kepada Max dan Mia, yang lelah melihat kedua orang dewasa itu selalu berdebat jika sudah bertemu.
Bagaimanapun Mia tidak munafik, bocah cantik itu tidak dendam dengan sang Daddy. Lain halnya dengan Oma Lili dan Aunty Cintaka, sampai sekarang Mia tidak ingin bertemu dengan keduanya. Walaupun setiap hari kedua wanita beda usia itu selalu datang ke RS, tetapi Mia selalu menolaknya.
Sesuai keinginan Mia besok ia akan pulang ke rumah, walaupun sang Daddy berusaha menahannya karena masih khawatir dengan kondisi kesehatannya. Tetapi bocah jenius itu merengek, ia bosan berlama-lama di RS. Ia sudah rindu dengan peralatan lukisnya. Sesuai kesepakatan sang Daddy, Mia akan rawat jalan selalu dipantau oleh perawat maupun Dokter di rumah.
•••••
Berhubungan hari libur Cull pulang subuh dari RS. Ada keperluan di Apartemen, makanya ia terpaksa harus ke Apartemen. Ingin memerintahkan Akas tetapi Akas sedang berada di luar kota.
" Aku akan pulang sebentar ke Apartemen. Tunggu aku kembali, biar aku yang mengantar kalian, " ungkap Cull pada Ai yang lebih dulu terbangun.
" Kami tidak ingin merepotkan siapapun! " Ucap tegas Ai dengan sikap cuek.
" Kau jangan keras kepala, " setelah mengatakan itu Cull melangkah keluar kamar rawat Mia. Ucapan Ai menghujam baginya.
Ai memandang tubuh kekar yang mulai menghilang dengan perasaan sulit dijabarkan.
" Apa maksud serta tujuanmu memberi perhatian kepada mereka? aku tidak ingin mereka kecewa untuk kedua kalinya karena aku tidak sanggup melihat kesedihan atau kekecewaan mereka, " gumam Cull dengan suara lirih, sedangkan Max dan Mia masih terlelap.
Di Apartemen Cull mendudukkan tubuhnya sejenak di sofa tempat bersantai. Lelah, letih itulah yang ia rasakan selama Mia di rawat. Tetapi ia tidak pernah mengeluhkan semua itu kepada siapapun.
Cull menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari memijit ujung keningnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia meraih ponsel yang berada di kantong celananya.
" Sitt, " umpatnya karena ponsel itu terlepas dari tangannya sehingga terjatuh kebawah melalui celah sofa.
Cull berusaha meraih dengan memasukkan tangannya tetapi sulit untuk dijangkau. Merasa tidak sabar, sofa itu didorongnya. Sehingga ponsel itu dengan mudah diraihnya. Seketika matanya menangkap sesuatu tidak jauh dari ponselnya tergeletak. Cull meraih benda itu, ternyata sebuah dompet yang diyakini milik perempuan.
" Dompet siapa ini? hmmm apa ini milik Mami? " gumam Cull karena hanya Maminya yang sering ke Apartemennya.
Merasa penasaran Cull membuka dompet itu. Seketika matanya melotot dengan mulut menganga.
Deg
__ADS_1
Bersambung.....