
•••••
Helikopter mendarat di Mansion besar serta megah.
" Max, Mia kita sudah sampai sayang, " ucap Uncle Berry. " Naik sini biar Uncle yang mengendong, " ucapnya pada Mia karena bocah imut itu kelihatan tegang. " Dan kamu Max, Uncle gendong dari depan ya? , " Uncle Berry menjulurkan tangannya ingin meraih tubuh jangkung Max.
" Tidak perlu Uncle, Max bukan anak kecil lagi, " tolaknya dengan gaya khasnya sembari menepis tangan Uncle Berry. Ia turun mengikuti sang Pilot.
Kini mereka sudah berada didepan pintu utama yang sangat megah, disana sudah ada Ibu Cintaka menyambut kedatangan anak-anak didiknya.
" Sayang kalian sudah datang? " sapanya langsung meraih Mia dari gendongan Kakak sepupunya.
" Ini istana Ibu cantik, " tanyanya sembari mengangumi Mansion megah bak istana, baru kali ini pertama bagi dia dan sang Kakak melihat sebuah rumah serupa dengan istana. Biasanya mereka melihat di televisi saja, khususnya chanel anak-anak.
" Bukan sayang tetapi ini Mansion milik Opa dan Oma, orang tua Ibu, " jelasnya sembari mengecup pucuk kepala Mia bertubi dalam gendongannya. " Bagaimana apa kalian mabuk dalam Helikopter? " sambungnya.
" Tidak Ibu cantik! karena kami anak pintar, " sahut Mia sembari bercanda.
" Anak pintar! ayo masuk hmmm mungkin kalian sudah lapar? " Ibu Cintaka membawa mereka masuk dengan Mia dalam gendongannya sedangkan Max bergelut manja dengan tangan Ibu Cintaka, ia tidak mau dengan Uncle Berry.
Cintaka langsung membawa Max serta Mia ke meja makan karena saat ini waktunya makan siang, apalagi makanan hidangan sudah tertata diatas meja makan. Ibu Cintaka sengaja menyuruh pelayan memasak bermacam menu untuk menyambut kedua bocah jenius yang sangat menyentuh hatinya.
" Sayang kamu dari mana saja? saatnya makan siang. Ini kenapa kamu menyuruh Pak Lie masak bermacam menu? " tanya Mami Lili melihat kedatangan Cintaka. " Hmmm Berry sayang kamu sudah kembali? " tanyanya melihat kedatangan Berry.
" Iya Tante karena aku membawa anak-anak didik untuk ikut lomba mewakili Provinsi x yang kebetulan mewakili sekolah yayasan keluarga SYWA, " jelasnya.
" Segeralah duduk Papi sudah lapar, "
" Tunggu sebentar Pi, kita harus menunggu tamu kita, " sela Cintaka karena ia sengaja merahasiakan kedatangan kedua bocah tampan dan cantik serta memiliki IQ yang luar biasa. Kebetulan ketika ingin menuju meja makan si kembar kebelet ingin ke kamar kecil, sehingga mereka diantar oleh pelayan wanita.
" Siapa tamu yang kamu undang sayang? " tanya sang Mami.
" Nanti juga Mami akan tau, tapi Cinta harap Papi dan Mami jangan sampai syok, " ucapnya membuat kedua orang tuanya salin memandang dengan perasaan penasaran.
" Nyonya Mansion ini sangat megah, " cecar Mia dengan suara lantangnya sepanjang jalan mengagumi seisi Mansion.
" Nona, jangan panggil saya Nyonya! saya hanya seorang pelayan, " jelas sang pelayan.
" Nama saya Mia bukan Nona, " balasnya.
__ADS_1
" Siapa mereka? " tanya Mami Lili mendengar percakapan suara anak kecil dengan seorang pelayan sembari memandang kearah asal suara.
Prang
" Ahhh, " teriak Mia.
Mendengar suara pecahan membuat beberapa orang yang berada di meja makan saling berlarian kecil menghampiri asal suara.
" Guciku!, " teriak Mami Lili dengan mata melotot melihat guci kesayangan dengan harga fantastik sudah terbelah dua di lantai yang terbuat dari marmer. " Siapa yang berani menyentuh barangku sampai pecah begini? " serunya dengan nada meninggi sembari berjongkok menangisi pecahan guci kesayangannya.
" Nyonya maafkan Mia, Mia tidak sengaja menyenggolnya, " dengan perasaan takut serta gugup Mia ikut berjongkok dengan posisi berlutut di kaki wanita paruh baya yang sedang menangisi guci yang tidak sengaja disenggolnya.
" Jadi bocah ini yang berani menyentuh bahkan memecahkan guci kesayanganku? kamu siapa hah? " ucapnya dengan nada marah.
" Hiks hiks hiks Kakak.... Mia tidak sengaja melakukannya, " Mia menoleh kearah sang Kakak yang hanya bisa mematung.
" Apa kamu tau harga guci ini berapa? ini guci mahal dan ini koleksi kesayanganku tetapi karena kamu aku kehilangan guci ini, " bentuknya semakin membuat Mia ketakutan, sehingga membuatnya semakin menangis.
" Mia minta maaf Nyonya..... Mia benar-benar tidak sengaja. Apapun hukuman dari Nyonya Mia akan terima asalkan Nyonya mau memaafkan Mia, " isaknya masih berlutut di kaki Mami Lili.
" Tidak semudah itu, kamu harus menggantikannya dengan guci seperti ini, " bentaknya menepis tangan mungil Mia dari kakinya sehingga membuat tubuh Mia terdorong mengenai kaki sang Kakak.
" Aku tidak butuh permintaan maaf kalian, aku ingin guci seperti ini kembali, " ucapnya tanpa kalah.
" Memang berapa harga guci itu? " sebenarnya Max tau benar harga bahkan di negara mana guci itu berasal tetapi ia sengaja pura-pura tidak mengetahuinya.
" Hahaha anak ingusan seperti kalian tidak tau apa-apa, jangan sok mau mengantikan. Kalian mau tau aku orang pertama yang mampu mengoleksi guci ini. Jadi dapat disimpulkan harga guci ini sekitar----------, "
" US $ 53 juta ( Rp 752 miliar) jadi pelelangan itu jatuh di tangan Nyonya, " ucap Max dengan santai.
Deg
Semua mata membulat tidak percaya mendengar jawaban dari bocah yang dianggap ingusan. Mereka tidak pernah menyangka dengan jawaban benar itu.
" Kamu sudah tau bukan harganya selangit? apa kalian mampu menggantikannya jika aku minta ganti dengan berupa Rupiah? hmmm orang seperti kalian tidak akan mampu, " ucap Mami Lili merendahkan Max dan Mia.
" Nyonya benar orang seperti kami tidak akan mampu, jangankan uang sebesar nominal itu. Uang dengan nominal kecil saja kami tidak punya, " ungkap Max dengan jujur dan tanpa rasa takut sedikitpun.
" Sudah tau tetapi belagu, " desisnya dengan wajah menyeramkan.
__ADS_1
" Cukup Mi, " akhirnya Cintaka buka suara.
" Mia tidak sengaja Tante, " timpal Berry.
" Sudahlah Mi jangan dipermasalahkan, " sambung sang suami yang tak lain adalah Papi Matheo.
" Kalian jangan ikut campur, " tegasnya. " Siapa yang berani membawa dua bocah ingusan ini menginjak Mansionku?"
" Mereka berdua lah tamu Cinta Mi, " sahut Cintaka dengan jujur.
" Apa? siapa mereka sampai kamu membawanya kesini? apa mereka seorang pengemis atau mereka sengaja melakukan pekerjaan seperti ini disuruh oleh kedua orang tuanya? "
Deg
Kedua tangan Max terkepal erat mendengar orang tuanya dibawa-bawa, dengan darah mendidih ia berusaha menahan amarahnya.
" Nyonya jangan bawa-bawa orang tua kami, " lirih Mia dengan sedih, karena perbuatan yang tidak disengaja tetapi sang Mommy dibawa-bawa.
" Cukup Mi, " ucap Cintaka kembali.
" Kamu jangan terkecok akal bulus kedua bocah ini. Paling-paling kedua orang tua mereka hanya memperalatkan mereka, "
" Cukup Nyonya yang terhormat telah menghina orang tua kami! kami yang salah kenapa dibawa-bawa orang tua kami? cukup kami saja yang Nyonya hina, " tegas Max dengan tatapan tajamnya. " Ayo Dek kita pergi dari istana orang terkaya ini, kita bukan seorang pengemis yang telah dituduhkan, " Max merangkul sang Adik yang masih terisak membawanya ingin keluar dari Mansion.
" Benar-benar tidak mempunyai etika atau sopan santun seenak jidatnya pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab. Apa ini didikan dari kedua orang tua kalian? "
Deg
" Cukup Anda menghina Mommy kami! kami hanya memiliki Mommy saja tetapi didikan Mommy tidak seperti yang Anda tuduhkan! kami memang tidak memiliki yang namanya Daddy, bahkan kami tidak tau bagaimana rupa yang disebutkan seorang Daddy! tapi percayalah Mommy mendidik kami tidak ubahnya dari Ibu-ibu yang lainnya. Jika kalian ingin menghina atau merendahkan kami silahkan, tetapi jangan hinakan Mommy kami karena selama ini Mommy sudah banyak mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya. Kami memang orang tidak berada bahkan bisa dikatakan orang paling termiskin di dunia ini, tetapi kami tidak miskin ilmu dan etika, " ucap Max panjang lebar mengutarakan hati yang menyesakan dadanya dengan mata berkaca-kaca.
" Ibu Cantika dan Uncle Berry kami akan pergi sekarang juga dari sini, tempat ini bukan untuk orang seperti kami. Bersabarlah Nyonya kami akan berusaha mengantikan guci yang dipecahkan oleh Adikku. Maafkan atas kedatangan kami yang hanya membawa musibah, " ucap Max sembari mengusap air mata yang sudah dapat ditahannya. Inilah pertamanya bocah cuek dan sok dewasa ini menangis dihadapan orang lain. Ia mengajak sang Adik dengan merangkul tubuhnya.
" Sayang jangan pergi! " seru Cantika.
" Max, Mia jangan lakukan itu, " seru Berry.
" Berhenti! langkahi dulu mayatku!!!,
Bersambung.....
__ADS_1