
•••••
1 bulan kemudian
Pria maco sedang senyam-senyum di meja kebesarannya yang berada di luar negeri. Pria itu adalah Cullen Sywa dari perusahaan SYWA GRUP. Ia mengingat kejadian 1 bulan yang lalu, dimana si monster bermata satu miliknya selama 7 tahun ini menganggur atau mengalami impoten dapat berfungsi kembali hanya melihat tubuh polos wanita yang ia belum ketahui namanya.
# Flashback On #
Dengan jari gemetaran Ai mengoleskan salep ke kulit yang terkena ruam. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia melihat langsung atau menyentuh kulit orang yang baru dikenalnya. Apalagi tubuh yang ia sentuh adalah ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Tubuh yang kekar dengan otot-otot, termasuk perut berbentuk roti sobek semakin membuat Ibu dua anak ini berteriak histeris didalam hati karena sangat mengagumi.
Sedangkan pria yang hampir keseluruhan kulitnya disentuh hanya bisa menikmati dengan mata terpejam. Jari-jari lentik Ai membuat darahnya berdesir hebat, belum lagi jantungnya dagdigdug.
" Sudah selesai, " ucap Ai sembari menghembuskan nafas panjangnya karena selama mengoleskan salep ke tubuh oppa Korea ia merasakan sesak.
" Aku sangat kedinginan, apakah tidak ada baju? " iya ia merasakan sangat kedinginan, apalagi hujan malam belum berhenti, belum lagi angin malam masuk melalui cela-cela rumah kecil itu.
" Pakaian untuk pria tidak ada, adapun tapi untuk usia 6 tahun, " sahut Ai sembari berpikir.
" Hmmm bagaimana jika tuan pakai selimut tebal saja, " Ai memberi solusi.
" Hah.... " oppa Korea melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Ai.
" Jika tuan mau karena itu salah satu solusi yang terbaik. Jika begitu saya akan tidur di kamar sebelah, " Ai meletakan selimut tebal di atas kasur yang berada disampingnya.
" Kau mau kemana? " atas pertanyaan itu membuat tangan Ai mengurungkan niatnya membuka pintu kamar. Ia membalikan tubuhnya menatap oppa Korea dengan kening mengerut, bukankah tadi ia sudah beritahu jika ia akan tidur di kamar sebelah.
" Tidurlah bersama denganku disini!, "
Deg
Seketika mata Ai melotot seperti ingin terlepas dari tempatnya mendengarkan permintaan konyol itu.
" Aku tidak akan bisa tidur atau tenang jika tidak ada yang mengusap bintik-bintik merah di tubuhku ketika alergi ini kumat, yang biasa melakukan itu adalah Mamiku, " jelasnya sembari meringis menahan rasa gatal yang luar biasa.
" Hah...., "
" Kau jangan pikir yang negatif. Itu terjadi yang terakhir ketika aku masih kelas 6 SD. Jadi Mami yang mengusap sekalian memelukku sepanjang malam sampai aku tertidur, " ucapnya dengan senyuman penuh makna.
Deg
Mata Ai kembali melotot tidak percaya dia akan melakukan apa yang dikatakan pria yang belum ia ketahui selak-beluk asal-usulnya dari mana.
" Jika kau keberatan aku tidak memaksa. Yah sudah kau tidur saja, maaf sudah merepotkanmu, " setelah mengatakan itu ia bangkit berdiri melepaskan lilitan handuk di pinggangnya begitu saja tanpa merasa malu dihadapannya masih berdiri wanita yang kebetulan menatapnya.
" Akkk, " teriak Ai sembari menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak kedua bola matanya di sungguhi oleh si monster bermata satu yang lagi menegang.
Ai membalikan tubuhnya sembari mengelus dadanya, dia benar-benar syok melihat benda yang baru kali ini dilihatnya. Walaupun si monster bermata satu itu telah menerobos kitty miliknya , bahkan memegangnya tetapi itu dalam kegelapan ia tidak pernah tau bagaimana bentuk monster bermata satu orang dewasa.
Si oppa Korea pura-pura tidak menyadari apa yang dilakukan Ai, dengan tenangnya ia berbaring dengan posisi telungkup tanpa selesai kain pun menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
" Mam.... Mami ini sangat gatal sekali! Cull tidak tahan, " lirihnya dengan suara dibuat-buat sembari bibirnya melebar ingin tertawa.
" Mami.... Cull tidak tahan, belakang Cull sangat gatal, " lirihnya kembali dengan nada suara yang sama. Membuat Ai tidak tega, wanita polos ini terjebak dalam permainan pria misterius.
" Apa itu benar ya? ini kebetulan atau apa? kenapa persamaan mereka nyata sekali, " Ai membatin dengan posisi masih membelakangi pria misterius. " Jadi nama panggilannya Cull?, " batinnya sekali lagi.
Tak tok tak
Suara hentakan dari tangan dan kaki Cull membuat Ai semakin penasaran ingin menoleh.
" Hmmm apa tuan sudah menyelimuti tubuh tuan?" tanyanya ingin memastikan ia tidak mau kecolongan lagi.
" Kenapa rupanya? " tanyanya dengan santai.
" Saya hanya memastikan saja, " sahutnya sembari meremas jari-jari lentiknya karena merasakan gugup.
" Aku masih telanjan*, " sahutnya santai dan jujur sembari menahan rasa gatal ples mengeram menahan gairahnya.
Deg
Ai menelan salivanya, jawaban Cull membuat dirinya semakin gugup.
" Ta-tadi tu-tuan bilang dingin, te-tetapi kenapa-----, " ucap Ai dengan terbata dan gugup.
" Karena aku tidak dapat menahannya, " sahutnya sembari memotong ucapan Ai. " Lagian kau tidak mau melakukannya bukan? Mami ini sangat gatal sekali, Cull tidak tahan Mi, " ringisnya kembali.
" Baiklah jika kau yang memintanya, "
" Hah.... bukankah dia yang meminta kenapa seenak jidatnya saja menuduh orang, " umpat Ai bergumam tanpa sadar masih didengar oleh Cull yang mengulum senyuman karena umpatan Ai membuatnya semakin gemes.
" Kau wanita pertama yang berani mengumpatku, bahkan menolak tubuh perfekku ini. Kau wanita yang berbeda dari yang pernah aku jumpai, kau berhasil menarik perhatianku, " batinya sembari menyelimuti tubuhnya sampai batas pinggang.
" Sudah, "
Ai membalikkan tubuhnya dengan mata menyipit seperti orang mengintip, jujur saja ia belum sepenuhnya percaya.
" Selimuti sampai leher, " lirihnya tanpa memandang kearah Cull karena tadi ia sempat melihat jika Cull menutupi tubuhnya hanya sebatas pinggangnya saja.
" Bagaimana kau mengusap tubuhku bagian yang gatal jika semuanya ditutupi?, " Cull menduduki dirinya di kasur sempit yang muat buat dua orang.
" Huh...., " Ai menghembuskan nafasnya dengan menggunakan mulutnya sehingga membuat bibirnya maju kedepan.
" Cepatlah ini sangat gatal, " karena tidak sabar Cull menarik tangan Ai begitu saja sehingga membuat dirinya terduduk disampingnya.
" Berbaringlah dengan posisi membelakangi saya, " lirih Ai berusaha menahan rasa gugupnya. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal ini dengan orang yang baru dikenalnya, tetapi kenapa dari hatinya terdalam Cull seperti tidak asing baginya, bahkan ia melihat Cull seperti putranya sendiri. Tanpa menolak dan bertanya apapun Cull mengikuti yang diperintahkan Ai karena sesungguhnya ia tidak tahan dengan rasa gatal itu. Kebetulan bagian ruam lebih banyak di punggung sampai bawah, begitu juga dengan rasa gatalnya.
Ai membaringkan tubuhnya dengan tangan sebelah kiri menyangga kepalanya dengan posisi menghadap tubuh Cull yang membelakanginya. Dengan tangan bergetar bercampur dingin Ai mulai mengusap punggung kekar Cull. Ia berusaha menahan detak jantungnya.
Deg
__ADS_1
Seketika ia menghentikan usapan di punggung Cull, punggung itu tidak asing baginya.
" Kenapa berhenti, " tetapi tidak ada jawaban, bahkan usapan itu tidak diteruskan.
" Kenapa? " suara lembut Cull serta dengan tubuh berbaliknya Cull menyadari lamunan Ai yang ia sendiri tidak tau melamunkan apa.
Mata keduanya bertemu begitu intens, wajah keduanya begitu dekat hanya beberapa jarak saja. Cull memutar kedua bola matanya karena mendapati kedua bola mata Ai berkaca-kaca, sedikit dikedipkan saja makan bulir bening itu lolos begitu saja.
" Kau kenapa? "
" Maaf, " lirih Ai berusaha tersenyum sembari memundurkan wajahnya agar sedikit menjauh.
" Apa ini karena aku memaksamu? " Cull yakin jika itu semua karena ia memaksa Ai. Ai menggelengkan kepala pertanda bukan itu penyebab perubahan di wajahnya. " Menangislah jika itu membuat kau merasa lebih baikan, " tanpa diminta bulir bening itu bergulir membasahi kedua pipi mulusnya.
Cull mengusap air mata itu menggunakan kedua Ibu jarinya. Entah kenapa hatinya berdesir melihat air mata dan wajah sendu wanita yang belum ia ketahui namanya sedang menangis dihadapannya yang tidak ia ketahui penyebabnya. Cull menarik selimut menutupi tubuhnya sampai sebatas tulang selangka. Ia membawa kepala Ai dan meletakannya di bahunya dengan posisi tubuh saling berhadapan. Senyuman mengembang di bibirnya mendapati jika Ai tidak menolak perlakuannya, dengan lembut ia membelai pucuk kepala Ai dengan perasaan yang sulit ditebak.
" Hiks hiks hiks, " seketika isak tangis Ai pecah dalam pelukan Cull.
" Ada apa sebenarnya? " sebenarnya Cull sangat penasaran dengan masalah yang dihadapi Ai. Padahal seumur-umur ia terkenal orang yang cuek dan tidak ingin tau urusan orang, apalagi orang yang tidak dikenalnya terkecuali terhadap keluarganya. Tetapi kenapa dengan Ai perasaan ingin taunya begitu besar, seperti ada ikatan batin dari keduanya.
" Saya hanya merindukan anak-anak hmmm maaf....." Ai ingin melepaskan dekapan kepalanya tetapi tidak dibiarkan oleh Cull.
" Biarkan seperti ini. Tidurlah kelihatan kau kelelahan, sekarang sudah larut malam, "
" Tapi bagaimana dengan tubuh tuan yang gatal? "
" Hmmm jangan khawatirkan itu, " Cull memejamkan matanya menahan sesuatu di bawah sana.
" Ada apa denganku? aku seperti wanita tidak benar saja sembarangan dan mau dipeluk oleh orang yang sama sekali tidak aku kenal. Pasti dia berpikiran aku adalah wanita yang persis dikatai para trio ratu gosip itu, hmmm biarkan sajalah dia berpikiran negatif. Aku sangat nyaman dalam dekapannya, seperti aku memeluk putra-putriku sendiri, " batin Ai. Selama ini belum ada seorangpun yang berani menyentuh tubuhnya terkecuali dengan kejadian yang menghadirkan kedua anak kembar jeniusnya. Kepada Berry saja Ia sangat menjaga jarak, padahal keduanya sudah lama saling mengenal, tetapi kenapa pada pria yang baru saja dijumpainya ia tidak menolak. Ai benar-benar tidak mengerti dengan dirinya saat ini.
Tidak menunggu lama deru nafas Ai terdengar begitu tenang menandakan yang empunya sudah terbawa ke alam mimpi. Cull tersenyum penuh arti mendapati wanita yang mampu membangkitkan kembali si monster bermata satunya telah tertidur dalam dekapannya. Cull mengangkat sedikit tubuhnya untuk menarik selimut, mungkin itu selimut yang selalu digunakan Ai untuk menemani tidur malamnya. Cull menyelimuti tubuh Ai sampai sebatas tulang selangka.
" Lihatlah kau bagai anak kucing dalam dekapanku. Apa kau tidak takut tidur dengan pria yang baru kau kenal? atau sebenarnya ini kelakuanmu? awalnya hanya kepura-puraanmu saja?, " pertanyaan negatif bermunculan dibenak Cull, jujur ia tidak menginginkan jika semua pikiran negatifnya menjadi kenyataan.
" Aroma dan dekapan ini tidak asing bagiku, " Cull memutar bola matanya melihat langit-langit kamar yang sudah rapuh. " Aku akan mencari tau siapa jati dirimu sesungguhnya, "
Cup
Merasa tidak tahan Cull mendaratkan kecupan manis di kening Ai. Sebenarnya sejak tadi ia menginginkan bibir seksi yang menantang dihadapannya, tetapi hatinya berkata lain. Bisa saja ia langsung melahap tubuh yang berhasil membuat organ vitalnya berfungsi kembali dengan sesuka hatinya seperti yang sering ia lakukan dengan wanita penggoda beberapa tahun silam. Tetapi terhadap Ai ia tidak ingin melakukannya, entah apa alasannya ia juga tidak tau.
Cull semakin mengeratkan pelukannya, ia berusaha melawan nafsunya. Tidak lama ia ikut ke alam mimpi menyusul Ai, mungkin karena lelah apalagi pengaruh cuaca malam membuat keduanya terkantuk.
# Flasback Off #
" Maaf aku pergi tanpa memberitahumu, " gumamnya dengan kepala menyandar di kursi kebesarannya sembari memejamkan mata.
Pagi menjelang Cull terbangun lebih duluan dari Ai karena mendengar ketukan pintu. Cull menyunggingkan senyuman penuh arti melihat posisi Ai menyerupai anak kucing dalam dekapan induknya. Cull bangun dengan hati-hati takut menganggu tidur nyenyak Ai, ia melilitkan tubuhnya dengan handuk. Cull membuka pintu ternyata yang datang adalah supir yang membawanya kemarin. Keduanya bercakapa-cakap, akhirnya Cull masuk kembali kedalam ingin melihat Ai apakah ia sudah bangun karena bagaimanapun ia harus berterima kasih karena sudah mengizinkan menginap dan mendapatkan bonus di rumah kecil ini. Tetapi sayangnya Ai belum bangun. Cull kembali mendaratkan kecupan di kening Ai dengan penuh penghayatan sembari bergumam mengatakan sesuatu.
Bersambung....
__ADS_1