Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 38


__ADS_3

•••••


Mendengar penuturan Dokter semua keluarga Sywa kaget. Ternyata golongan darah Mia AB-, sedangkan Exsel O positif. Mereka sudah salah menduga selama kejadian 1 minggu yang lalu.


" Hiks hiks.... Dokter apapun yang terjadi tolong selamatkan cucuku, bagaimana mungkin kami dapat pendonor, sedangkan golongan darah keluarga kami tidak ada yang sama, " tangis Mama Leni memohon kepada Dokter yang menangani Mia. Wanita paruh baya itu memeluk Max yang juga ikut terisak.


" Mommy kemana Nenek? " tanya Max karena tadi tidak menyadari kepergian sang Mommy.


" Tenang sayang Mommy mungkin menenangkan diri, " bohong sang Nenek semakin erat memeluk Max.


Papi Matheo, Mami Lili serta Cintaka menoleh kearah Cull yang ternyata tidak berada ditempatnya lagi.


" Pi, kemana Cull? " tangis Mami Lili merasa menyesal.


" Tenanglah Mi semua akan baik-baik saja, " Papi Matheo berusaha menguatkan, padahal ia sendiri tidak yakin jika semua akan baik.


" Kenapa dia pertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kita Pi? padahal Mami sudah salah menilai mereka hiks hiks...., " Tangisan Mami Lili semakin menjadi.


" Hiks hiks aku orang yang jahat, " tubuh Cintaka merosot ke lantai menangisi atau menyesali atas perbuatan tak terpuji. " Aku tidak pantas dibilang manusia, " isak Cintaka memukul-mukul dinding dengan tangannya.


" Mama hentikan! Kasian calon anak kita, " Exsel berusaha menahan amukan Cintaka yang menyakiti dirinya sendiri.


Cintaka menghentikan, ia mengangkat wajahnya menatap suami yang selama 1 minggu ini diabaikannya bahkan tidak ingin melihat wajahnya.


" Papa hiks hiks maafkan Mama, " Cintaka terisak sembari mengelus wajah sedih sang suami. " Maafkan Mama, Papa, " tangisnya kembali.


" Sudahlah Ma semua sudah terjadi, " Exsel membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Setelah merasa tenang Cintaka berigsut mendekati Max yang duduk disamping Nenek Leni.


" Sayang Aunty minta maaf, " lirih Cintaka kepada Max. Mendengar permintaan maaf dari Aunty Cinta, tidak membuat Max terenyuh. Ucapan Aunty Cinta di kantor tadi masih terngiang jelas di telinganya. Karena masalah itu membuat Adik kesayangannya terbaring mempertaruhkan nyawanya melawan maut.


Semua orang diluar ruang operasi tampak sedih. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap bantuan dari seseorang bisa menyelamatkan putri cantik yang murah senyum itu.


•••••


Di luar yang mulai mengelap seorang wanita menyusuri jalan ditempat keramaian. Sepanjang jalan berpapasan dengan orang ia menanyakan satu hal yang sama.


" Tuan, Nyonya, Nona, apa anda bergolong darah AB- ? jika benar tolong bantu saya, apapun imbalannya saya akan lakukan, " ucap Ai setiap bertemu setiap orang.


" Maaf Nona, golongan darah saya ini itu, " begitulah jawaban yang ia terima. Satu orangpun tidak ada yang sama dengan putrinya, padahal sudah ratusan ia bertanya.


Ai tidak patah semangat mengingat keadaan putrinya yang hanya punya batas waktu. Orang-orang seakan tau apa yang terjadi melihat keadaan Ai yang sangat memprihatinkan. Pakaian yang ia kenakan masih berlumuran darah, tanpa alas kaki. Entah dimana sepatu yang ia kenakan sebelumnya, tetapi sedikitpun ia tidak merasakan sakit.


Brak


" Awww, " ringis Ai ternyata ia tersenggol sepeda motor yang melintas. Sehingga menyebabkan ia terjatuh, mengakibatkan keningnya tergores serta siku tangannya. Tanpa diminta darah segar mengalir.


" Kalau ingin cari mati jangan disini! " Bentak pengendara sepeda motor tanpa merasa kemanusiaan.


" Maaf, " ujar Ai berusaha bangkit melanjutkan pencariannya.


Hari semakin gelap tanpa tidak mengurungkan niat Ai untuk mendapatkan pendonor darah sesuai dengan golongan darah putrinya.


" Ya Maha Pencipta jika Engkau masih berkenan memberi kesempatan untuk putri hamba untuk menghirup udara segar, kirimkan malaikat melalui seseorang untuk menyelamatkan putri hamba, " doa Ai sepanjang jalan.


Dari kejauhan seseorang melihat apa yang dilakukan Ai. Sontak saja membuatnya terenyuh, bahkan sakit yang ia rasakan. Sesosok itu turun dari dalam mobil, pelan-pelan ia melangkah semakin mendekat.


Tiba-tiba Ai terjatuh bersimpuh tepat pada kedua kakinya.


" Tuan, apa golongan darah Tuan AB? jika benar tolong selamatkan putri saya, apapun imbalannya akan saya lakukan termasuk nyawa saya sendiri, " lirih Ai tanpa menegak wajahnya keatas. Ai tau jika sosok itu seorang pria karena dari sepatu yang dikenakannya.


" Saya mohon Tuan, putri saya sedang terbaring tak berdaya mempertaruhkan nyawa, " lirihnya kembali sembari terisak. " Saya mohon Tuan, Andalah orang yang terakhir saya minta bantuan karena setiap orang yang saya tanya semuanya tidak sama, hiks hiks...., " Ai semakin bersimpuh.


Tes tes

__ADS_1


Menyadari tetesan dua kali dari atas membuat Ai penasaran mengangkat wajahnya keatas.


Deg


Mata Ai membulat dengan mulut menganga melihat siapa orang yang ia simpuh.


" Rey! " Lirihnya membuat air mata semakin deras.


Tatapan keduanya saling bertemu. Ai tersentak kaget melihat pria itu sedang terisak, sisa bulir bening yang menetes tadi masih membendung di pelupuk matanya.


" Hiks hiks...., " entah mengapa kelemahan Ai keluar begitu saja didepan Cull.


" Maaf, " lirihnya tidak berdaya.


Ai berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bangkit dan berniat meninggalkan tempat itu, ternyata ia salah orang.


" Kau mau kemana? " akhirnya Cull membuka suara sejak tadi bungkam.


Bukk


Cull langsung mendekap tubuh lemah dan tak berdaya Ai, membawanya kedalam pelukannya.


Cull berusaha tetap terlihat seperti biasanya. Cull memejamkan kedua matanya meresapi rasa sesak di dadanya.


" Kenapa kau bodoh! " lirihnya. " Kenapa kau bodoh! " Ujarnya kembali karena tidak mendapat respon dari Ai.


" Aileen, " panggilnya karena tubuh Ai semakin melemah, bahkan kepalanya terjatuh di pundaknya.


Cull langsung memapah tubuh lemah Ai, ternyata Ai pingsan dalam pelukannya.


Tiba di RS. Cull mengendong Ai ala bridal menuju kamar VVIP khusus keluarga Sywa. Para perawat menawarkan untuk membawa pasien tetapi diabaikan sang Direktur RS.


" Periksa dia dan beri perawatan terbaik, " ujar Cull.


Setelah mendapat perawatan Cull mendekati ranjang tempat terbaringnya Ai.


" Sebentar lagi Nona akan sadar. Nona mengalami kelelahan dan bahkan bisa dikatakan depresi. Ini membahayakan kejiwaannya jika dibiarkan terus-menerus, " terang sang Dokter.


" Depresi? " ujar Cull tidak menyangka jika wanitanya sedang menghadapi problem dalam hidupnya. " Kau boleh keluar, " titah Cull.


Kini tinggallah mereka berdua. Cull mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang sembari menatapi wajah pucat Ai.


" Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku sadar jika kalian tidak akan dapat memaafkan kami, " ujar Cull sembari mengusap wajah pucat Ai. " Jangan khawatir Princess akan baik-baik saja, " imbuhnya kembali.


"Jika sesuatu terjadi disalah satu dari kalian, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Hmmm apa ini sangat sakit? " Cull menempelkan telapak tangannya ke kening serta siku Ai yang terluka.


Karena Ai masih betah menutup mata Cull bangkit ingin kembali ke ruang tempat Mia di rawat. Sebelum ia mencari keberadaan Ai, Mia sudah melewati masa kritisnya.


Cup


Cull mendaratkan kecupan di kening Ai dengan penuh penghayatan.


Di ruang rawat Mia yang bersebelahan dengan kamar rawat Ai. Semuanya berkumpul disana menunggu kesadaran Mia. Mereka tidak tau jika Ai mendapat perawatan.


Ceklek


Semua mata tertuju kearah pintu.


" Apakah putriku sudah sadar? " ujar Cull dengan wajah lesunya. Hatinya terasa di iris sembilu melihat Mia terbaring dengan beberapa alat medis terpasang di tubuh mungilnya.


Cull mendapat gelengan kepala dari keluarganya. Sedangkan Max tidak ingin menyambut kedatangan pria yang ia panggil Daddy. Cull sesak melihat sikap berubah Max padanya.


" Sayang andaikan bisa ditukar atas apa yang kamu lewati, Daddy siap menggantikannya. Daddy tidak sanggup melihat tubuh kecilmu dalam keadaan seperti saat ini. Daddy minta maaf sayang, " lirih Cull dalam hati dengan mata berkaca-kaca.


Ceklek

__ADS_1


Pintu ruangan kembali terbuka, ternyata Berry yang datang.


" Uncle, apa Mommy sudah ditemukan? " Max langsung melayangkan pertanyaan karena tadi Uncle Berry berjanji akan mencari Mommy.


" Maafkan Uncle Max. Uncle sudah mencari kemana-mana tetapi Uncle tidak menemukannya, " jawab Uncle Berry.


" Jadi Mommy kemana Uncle? Max mengkhawatirkan Mommy hiks hiks, " seketika tangisan Max pecah karena mencemaskan sang Mommy, apalagi sekarang sudah larut malam.


Cull mendesis sakit melihat kebersamaan Max dengan Berry. Max masuk kedalam pelukan Berry, bahkan kedatangannya tidak berarti bagi Max.


" Mungkin Mommy berada di tokoh sayang, " ucap Nenek Leni bermaksud menenangkan Max agar tidak mencemaskan Mommynya. Nenek Leni memberi kode kepada Berry.


" Iya Nenek benar Max, Uncle lupa mencari Mommy di tokoh. Ya ampun Uncle begitu bodoh tidak mengingat tokoh, " sambung Uncle Berry berbohong.


Max mengangguk tapi jangan salah, bocah jenius itu tidak percaya sama sekali yang dikatakan Uncle Berry.


" Dek, bangunlah! Apa kamu tidak ingin makan es krim? ini malam minggu loh, " ucap Max disamping brankar pembaringan Mia. Setiap malam minggu mereka akan menyantap es krim di ruang bersantai di rumah. " Dek, kamu dengar bukan apa yang Kakak katakan? sudah cukup tidurmu, nanti Mommy ngomel loh jika kamu tidak bangun-bangun, " sambung Max sembari menangis.


" Jangan buat Mommy, Nenek dan Kakak takut Dek. Apa kamu ingin menambah beban Mommy? Mommy sudah banyak menderita selama ini Dek, jadi Kakak mohon tolong jangan ditambah lagi hiks hiks.... " Max mengeluarkan kesedihannya didepan semua orang didalam sana sembari mengincang pelan tubuh Mia.


Ucapan bocah kecil itu membuat semuanya terenyuh, merasakan sesak di dada masing-masing. Khususnya Cull batinnya sangat sakit mendengar penuturan Max.


Tanpa di minta Oma Lili, Cintaka serta Nenek Leni meneteskan air mata.


Ceklek


Pintu kembali terbuka, semua mata tertuju ke ambang pintu yang sudah berdiri wanita dengan berpakaian pasien.


Deg


Mereka sontak kaget melihat keadaan Ai yang memprihatinkan, kecuali Cull karena ia sudah mengetahuinya.


" Mommy, " panggil Max langsung berlari kearah sang Mommy dan langsung memeluknya. " Mommy apa yang terjadi? kenapa kening dan siku Mommy di perban? " tanya Max menyadari keadaan Mommy.


" Tidak apa-apa sayang, kamu jangan cemaskan keadaan Mommy, " jawab Ai karena tidak perlu menjelaskan apa yang dialaminya.


" Sayang bagaimana kondisi Adikmu? maaf Mommy tidak mendapatkan pendonor yang cocok, " lirih Mommy dengan ia akan sembari mendekap tubuh kecil Max.


" Mia sudah melewati masa kritisnya Mom. Pihak RS mendapatkan stok darah dari luar, " jelas Max karena begitulah yang diketahuinya.


Sedangkan Cull menggeleng memandangi keluarganya.


Ai tidak percaya karena itu sangat langkah dan sulit dipercaya. Tetapi untuk saat ini wanita dengan tubuh lemasnya tidak ingin memikirkan masalah itu dulu, yang terpenting baginya Mia selamat.


Dengan langkah gontai Ai berusaha menyeret kakinya untuk mendekati brankar tempat putrinya terbaring dengan alat medis terpasang di tubuh kecilnya.


Hati seorang Ibu mana yang tidak tersayat hatinya melihat keadaan anaknya terbujur tidak sadarkan diri dengan luka parah.


" Sayang ini Mommy, apa kamu tidak ingin menyapa Mommy? sudah cukup tidurmu sayang, " lirih Ai menyentuh tangan Mia. " Maafkan Mommy sayang semua ini salah Mommy.....kenapa kamu nekat dengan semua ini? hanya kamu dan Kakakmu harta yang berharga dalam hidup Mommy. Tanpa kalian hidup Mommy tidak ada artinya, karena kehadiran kalian Mommy masih bertahan sampai saat ini, " lirih Ai dengan pilu sembari terisak.


Semua tersentuh dan merasakan sesak. Berry melangkah mendekati Ai, lalu mengusap punggungnya menguatkan wanita yang membuatnya jatuh cinta. Ai tidak menolak karena hatinya sedang kacau atau tidak memiliki arah.


Cull sangat sakit melihat apa yang dilakukan sepupunya, ditambah lagi dengan Ai tidak menolak. Kedua tangannya terkepal erat dengan diam.


Sedangkan bocah cantik serta cerdas itu sama sekali tidak bergerak. Mia tidak merespon sama sekali.


" Sayang bangunlah! Apa kamu tidak ingin mengetahui keberadaan Daddy kalian? atau ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kalian bisa hadir di dunia ini? Mommy berjanji akan menceritakan kepada kamu dan Kakak, " isak Ai kembali pecah sembari menciumi wajah Mia.


Deg




Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2