Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 85 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Dari semalam Jihan tidak berhenti merengek ingin bertemu Max. Sampai tidurpun Jihan mengigau memanggil Uncle tampan.


Sesuai janjinya tadi malam Emily terpaksa menyetujui permintaan Jihan untuk menemui Max di kantor. Mereka tidak memiliki nomor ponsel Max.


"Mami ayo bangun ini sudah pagi," Jihan sedang mengusap wajah Emily yang masih bergulung selimut.


"Hmmm sayang ini masih jam setengah 6" gumam Emily dengan mata terpejam.


"Mi kita akan ke kantor Uncle tampan, jadi cepatlah bangun," rengek Jihan.


"Iya sayang tetapi tidak sepagi ini, yang ada Uncle belum datang," jelas Emily.


"Kalau begitu Jihan mandi dulu ya Mi? Mami juga cepat bikin sarapan oke?" cicit Jihan.


"Oke Buk bos," balas Emily sembari tersenyum.


Setelah sarapan sekitar jam 9 Emily membawa Jihan ke kantor perusahaan Sywa untuk bertemu dengan Max. Mereka menggunakan sepeda motor.


"Sayang pegangan yang erat ya?" kata Emily.


"Iya Mi. Mami ngebut saja ya?" kata polos Jihan.


"Sayang tidak boleh ngebut sangat bahaya," jelas Emily.


Hahaha


Gelak tawa Jihan dibelakang Emily.


"Sayang duduk yang tenang nanti Mami tidak seimbang," imbuhnya.


Kini mereka tiba di gedung besar bertingkat tinggi. Sebenarnya Emily segan untuk memasuki gedung itu lagi.


"Ayo Mi," desak Jihan.


Emily menghela nafas lalu mengandeng tangan kecil Jihan.


Tiba di lobby Emily di sapa oleh seorang satpam yang mengenal dirinya.


"Nona," sapa sang satpam.


"Selamat pagi Pak," balas Emily.


"Nona kemana saja selama ini?" tanya sang satpam karena sudah lama sekali tidak melihat Emily.


"Aku tidak bekerja lagi Pak," jawab Emily.


"Oh," Pak satpam hanya ber oh ria.


"Mari Pak kami ingin masuk," kata Emily.


Sang satpam mengangguk.


Emily membawa Jihan ke meja resepsionis.


"Selamat pagi Nona, kami ingin menemui Tu------"


"Uncle tampan," sela Jihan.


"Maksudnya siapa?" tanya sang resepsionis dengan wajah tidak suka.


"Pemilik kantor ini," jawab Jihan tidak memberi kesempatan untuk Emily berbicara.


Sang resepsionis tercengang. Tidak lama ia menelisik penampilan Emily dari bawah sampai atas.

__ADS_1


"Apa sudah buat janji?" tanya wanita modis itu.


"Belum Nona," jawab Emily.


"Tuan lagi keluar menemui klien , kalian tunggu saja di sana," ujar sang resepsionis sembari menunjuk tempat tunggu.


"Sayang kita tunggu Uncle di sana ya? Uncle lagi keluar," bujuk Emily.


"Iya Mi," jawab Jihan dengan mimik wajah cemberutnya.


1 jam, 2 jam, 3 jam sudah lamanya Emily dan Jihan menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Max.


"Mami kenapa Uncle sangat lama sekali?" entah sudah kesekian kalinya Jihan bertanya.


"Sayang kita pulang saja ya? lain kali saja kita kembali lagi. Sepertinya Uncle lagi banyak pekerjaan," bujuk Emily.


"Tidak mau Mi," rengek Jihan.


"Ayolah sayang, mengertilah." Bujuk Emily kembali.


Dengan hati kecewa Jihan mengikuti perkataan Emily.


"Ayo Mi," ajak Jihan dengan raut wajah murungnya sembari menarik tangan Emily yang masih duduk.


"Uncle tampan," teriak Jihan melihat sosok Max yang ingin memasuki lift khusus di samping mereka.


Mendengar teriakan yang sangat dikenal membuat Max mengurungkan niatnya memasuki lift.


"Uncle tampan," panggil Jihan sekali lagi, langsung berlari menghampiri Max.


"Jihan," ujar Max tidak percaya melihat kedatangan Jihan.


"Uncle tampan Jihan rindu Uncle tampan," rengek Jihan sembari memeluk kaki Max.


"Uncle juga rindu Jihan. Hmmm Jihan kesini dengan siapa?" tanya Max karena tidak melihat sosok Emily.


"Sama Mami, Uncle tampan. Itu Mami," jawab Jihan sembari menunjuk Emily yang berada di kursi tunggu.


Deg


Melihat keberadaan Emily di kursi tunggu membuat tubuh Max menegang, sedangkan Emily sibuk dengan ponselnya.


"Jihan apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Max ingin tau.


"Sudah lama sekali Uncle tampan. Tante yang berada di meja panjang itu tidak memperbolehkan Jihan sama Mami masuk ke ruangan Uncle," cerita Jihan.


"Mami," panggil Jihan seperti teriakan.


Emily menoleh kearah dimana suara Jihan. Sehingga pandangannya bertemu dengan Max yang juga melihatnya.


"Sini Mami," panggil Jihan.


Emily memasukan ponsel kedalam tas selempang kesayangannya. Lalu melangkahkan kaki, tetapi hanya beberapa langkah ia langsung menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya sedang menyapa Max.


Deg


"Dad-Daddy!"


Dengan tergesa-gesa Emily berlari dari tempat itu sebelum sesosok itu melihat dirinya. Emily langsung masuk begitu saja disebuah ruang, ternyata itu adalah gudang kantor yang kebetulan tidak jauh untuknya bersembunyi. Sejak tadi Max memperhatikan gerak-gerik Emily, kebetulan posisinya menghadap Emily.


"Dion bawa Tuan Bintara ke ruangan, aku akan menyusul," titah Max karena ia merasa penasaran kepada yang dilakukan Emily tanpa disadari oleh orang lain. "Jihan ikut Uncle Dion, nanti Uncle akan susul," ujar Max dengan lembut kepada Jihan.


"Iya Uncle tampan, bawa Mami Jihan juga," cicit Jihan.

__ADS_1


Klien itu menatap Jihan dengan seksama. Karena Jihan mengundang perhatiannya. Tetapi tidak lama ia berpikir bahwa bocah manis itu adalah keponakan dari Max.


Selepas kepergian mereka. Max langsung menuju gudang tempat persembunyian Emily.


Didalam gudang Emily tidak tenang. Rasa takut menyelimuti dirinya. Emily berdiri bersandar pada daun pintu yang kebetulan kunci dari dalam rusak sehingga tidak bisa terkunci.


Deg


Jantung Emily berdebar-debar merasakan pintu tergoncang.


"Demi apapun tolong selamatkan aku," gumam Emily. "Tolong," gumamnya lagi karena merasakan pintu seakan ingin dipaksa dibuka.


Brak


Seketika pintu itu terbuka lebar.


Brak


Pintu kembali tertutup.


"Tolong Dad, Emy tidak mau. Emy tidak mau Daddy," lirih Emily sembari membungkam wajahnya dengan posisi tubuh berjongkok.


Kening Max mengerut melihat apa yang dikatakan Emily dengan suara bergetar seperti sangat ketakutan.


Max melangkah mendekati Emily yang ketakutan dengan menyembunyikan wajahnya sehingga ia tidak tau siapa orang yang menemui dirinya.


Mendengar derap sepatu mendekat semakin membuat Emily ketakutan. Sungguh ia kira tadi sesosok itu melihat dirinya.


Emily terisak sembari menggeleng-gelengkan kepala masih dengan posisi tertunduk.


Hmmm


"Apa yang kau lakukan?" suara bariton itu membuat Emily berhenti terisak. Ia sangat hafal dengan suara itu.


Seketika ia melepaskan tangan yang menutupi wajah, lalu segera menadah wajahnya ke atas.


Deg


"Tu-Tuan," lirih Emily langsung bangkit menghambur memeluk Max dengan sangat eratnya.


Atas apa yang dilakukan Emily tentu saja membuat Max kaget sehingga tubuhnya menegang. Sangat lama mereka dengan posisi Emily memeluk Max. Tetapi ia tidak membalas pelukan itu.


Tidak ada yang duluan buka suara sehingga hanya terdengar jetak jantung keduanya jika diteliti.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku," ujar Max akhirnya buka suara. "Klien sudah menunggu, begitu juga dengan Jihan. Kita segera menemui mereka," imbuhnya.


"Tidak, jangan bawa aku bersama Tuan," lirih Emily semakin mengeratkan pelukannya.


"Ada apa dengan kau?" bentak Max sembari ingin melepaskan pelukan itu tetapi dengan kekeh Emily malah mengeratkan pelukannya.


"Jangan bawa aku," lirih Emily disertai isak.


"Awas waktuku sangat berharga jadi jangan membuang untuk hal tidak penting," ujar Max. "Apa kau sengaja menggodaku?" goda Max.


Mendengar itu membuat Emily tersadar dan dengan sekuat tenaga melepaskan pelukannya karena Max ternyata membalas pelukan itu.


"Sesuai perintah Jihan aku akan membawa kau ke ruangan," Max terpaksa menarik tangan Emily.


"Tolong jangan bawa saya sekarang juga kedalam ruangan Tuan, saya mohon Tuan," desis Emily sembari menangis.


Melihat tangisan Emily membuat Max tergugu.


"Saya mohon," lirihnya kembali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2