
Di TK. JASLINE GRUP. Seperti hari biasanya anak-anak didik belajar dengan giat.
Emanuel sedari tadi menunggu kepulangan para anak murid. Ia sengaja menunggu di area para orang tua murid. Sedangkan kebetulan hari ini Aileen sedikit terlambat menjemput Jihan.
Dari kejauhan Emanuel dapat mengenali bocah cantik serta mengemaskan. Seperti biasanya Jihan menunggu di tempat biasa. Kebetulan sang satpam tidak berada ditempat, kemungkinan ke toilet atau lagi kemana. Itu kesempatan bagi Emanuel untuk mendekati Emanuel.
Dengan cepat ia mengendong Jihan dan segera membawa masuk ke mobil.
"Lepas, lepas," teriak Jihan didalam mobil.
"Anak manis tenanglah ini adalah Paman. Kakak dari Mami Jihan," Emanuel menenangkan Jihan sembari menjalankan roda empat.
Agak menjauh Emanuel menepikan mobil karena tidak tega mendengar tangisan dari Jihan seperti ketakutan.
"Paman siapa? Paman ingin menculik Jihan? Oma tolong Jihan," teriak Jihan.
"Paman bukan orang jahat," kata Emanuel.
"Jihan tidak kenal Paman, awas saja akan Jihan lapor sama Uncle tampan," cicit polos Jihan.
"Kalau Jihan tak percaya, Paman akan hubungi Mami," ujar Emanuel sembari meraih ponsel.
Seperti yang diperintahkan sang Daddy. Emanuel menghubungi lewat ponsel Bintara.
"Lihat ini Mami Jihan bukan?" ujar Emanuel memberikan ponsel itu kepada Jihan.
"*Mami...."Pekik Jihan seketika melihat wajah Emily yang sudah dirindukannya.
" Jihan sayang! Jihan baik-baik saja bukan?" tanya Emily diseberang sana.
"Baik Mi. Mami Paman ini ingin menculik Jihan," adu Jihan.
"Tidak sayang, Paman orang baik. Paman akan membawa Jihan untuk menemui Mami, jadi Jihan jangan membantah oke," kata Emily sembari tersenyum.
"Benarkah begitu? tapi bagaimana dengan Opa sama Oma?" tanya Jihan.
"Jihan jangan khawatir karena Mami sudah beritahu Opa sama Oma," bohong Emily.
"Oh begitu, baiklah Jihan tidak perlu takut lagi," cicit Jihan dengan polosnya.
"Anak pintar," balas Emily*.
Akhirnya Jihan tidak perlu takut karena sudah mendengar langsung dari Emily. Sehingga tidak merepotkan Emanuel lagi.
•••••
Emily menunggu kedatangan Jihan di teras rumah. Walaupun ia berada di teras jangan pikir bisa kabur, semua sudah dijaga ketat.
Dari kejauhan ia melihat mobil yang membawa Jihan. Seketika wajah yang selalu sendu kini berseri-seri. Dengan tidak sabarnya ia berlari langsung membuka pintu mobil. Rupanya Jihan terlelap di pangkuan sang Kakak.
"Jihan sayang bangun, ini Mami sayang," kata Emily sembari mengelus pipi chubby Jihan.
__ADS_1
Seketika membuat tidur Jihan terganggu, dengan perlahan ia membuka kelopak matanya.
"Mami," lirih Jihan masih belum terlalu sadar.
"Sayang ini Mami," kata Emily dengan mata berkaca-kaca. "Mami sangat rindu sayang," isak Emily sembari memeluk erat Jihan masih dalam mobil.
"Jihan juga rindu sama Mami hiks hiks," tangis Jihan seketika pecah.
Emanuel terharu melihat Ibu dan anak itu. Bohong jika ia tidak terharu, bagaimanapun ia punya perasaan.
Malam menjelang kini keluarga Bintara menikmati makan malam bersama.
"Jihan jangan takut kepada Oma dan Opa. Kami adalah orang tua dari Mami Jihan," jelas Sania.
"Iya Oma," jawab Jihan masih sungkan, beda ketika pertama kali ia kenal dengan Opa Cullen dan Oma Aileen dia cepat akrab.
"Jihan cantik sekali," puji Sania kembali.
"Terima kasih Oma," jawab Jihan.
Kini mereka sedang berada di ruang keluarga. Sedangkan Jihan sudah berada didalam kamar, karena kelelahan dia cepat tidur.
Besok adalah hari pernikahan Emily dengan Marvel. Semua sudah dipersiapkan dari pihak keluarga Marvel. Mau tak mau Emily pasrah dengan semua ini, dan menurut saja apa yang perintahkan sang Daddy.
Setelah berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya Emily bukannya pergi ke kamar tetapi ia menenangkan dirinya di taman belakang rumah mewah itu.
Emily memandang jauh dengan tatapan kosong.
"Besok adalah hari yang sangat menakutkan bagiku. Tuhan jika takdirku memang seperti ini aku akan ikhlas menerimanya, selama ini aku berusaha menjauh sebisa mungkin tetapi takdir membawaku kembali ke rumah ini," gumam Emily dengan wajah sendu tanpa semangat.
"Aku harap kamu akan datang dan menggagalkan pernikahan ini, aku jatuh cinta kepadamu. Aku sangat membutuhkan dirimu saat ini," gumam Emily dengan mata berkaca-kaca.
Hmmm
Deheman dari Emanuel tidak membuat Emily menoleh.
"Dek," sapa Emanuel sembari menepuk bahu Emily lalu segera duduk di samping sang Adik.
"Ada apa Kak?" balas Emily.
"Apa kamu senang dengan pernikahan ini?" Emanuel sengaja bertanya padahal ia tau kenyataannya seperti apa.
"Tidak perlu Ema jawab, Kak Nuel juga sudah tau sendiri," jawab Emily terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.
"Maaf Kakak tidak bisa membantu kamu, kamu sendiri tau bagaimana sifat Daddy," ujar Emanuel.
"Ema sudah pasrah Kak Nuel, entah bagaimana kedepannya nanti. Marvel bukan mencintai Ema tetapi rasa terobsesinya saja," ungkap Emily dengan mata berkaca-kaca. "Kak Nuel tega menyerahkan Ema kepada pria yang tidak tepat, Kak Nuel tau sendiri bagaimana kelakuan Marvel," imbuh Emily dengan berurai air mata.
Mendengar keluh kesah Emily membuat Emanuel terdiam.
"Apa kamu memiliki kekasih selama ini?" tanya Emanuel.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya lagi Ema mengatakan itu," jawab Emily merasa tidak ada gunanya lagi.
"Tentu saja ada gunanya jika dia bisa menyelamatkanmu dari pernikahan ini," ujar Emanuel.
Mendengar hal itu membuat Emily mendongak kepalanya.
"Maksud Kak Nuel apa?" tentu saja Emily tidak mengerti.
"Kak Nuel dapat membantumu!" Ujar Emanuel.
•••••
Di Mansion
"Dad cari tau dimana keberadaan Jihan," lirih Aileen dengan terisak, sejak tadi tidak ada titik terang. Sedangkan Max saat ini berada di kota x.
"Tenang sayang akan Daddy usahakan," ujar Cullen berusaha menenangkan Aileen.
"Bagaimana Mommy bisa tenang sayang, sedangkan kita tidak tau dimana keberadaan Jihan. Apa yang harus Mommy katakan kepada Emy," kata Aileen.
Ting
Bunyi notifikasi ponsel Aileen yang diletakkan di atas meja sofa. Dengan segera Aileen meraih ponsel tersebut.
"Nomor pribadi, berarti tidak memiliki nomor.
Tante sekarang Jihan bersama saya, maaf jika saya membawa Jihan tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tante jangan khawatir, terima kasih atas kebaikan Tante sama Om telah menjaga Jihan selama saya tidak ada.
Begitulah isi pesan tanpa nomor itu.
Aileen menghela nafas merasa lega. Sungguh sama sekali ia tidak merasa curiga, begitu juga dengan Cullen. Sayangnya Max tidak berada di sana.
" Syukurlah jika sekarang Jihan bersama Maminya," ungkap Aileen merasa lega.
"Besok kita akan ke rumah mereka sayang, kita harus tau apa yang menjadi kepentingan Emy selama satu minggu ini," ujar Cullen.
"Daddy benar," sambung Aileen, karena ia juga merindukan Emily.
•••••
Di kota x
Setelah meninjau lokasi pembangunan hotel baru. Max kembali ke hotel tempatnya menginap beberapa hari ini.
Di balkon ia berdiri memandangi bangunan gedung berjejer dibawah sana. Selama kepergian Emily membuatnya galau.
"Dimana dirimu sebenarnya? aku rindu dengan tingkah lucumu," gumam Max dengan pandangan jauh ke depan. "Aku tidak tau dengan perasaanku kepadamu, tetapi ketika bersama denganmu aku merasa nyaman. Kau wanita yang berbeda," imbuhnya.
Max mengingat ketika mereka bersama, bahkan ia mengingat momen ketika tanpa sengaja mengecup bibir Emily.
"Apa aku jatuh cinta kepadamu Emily?" ujar Max dengan bibir melengkung. "Apa aku sudah gila? ya aku gila karena dirimu," ujar Max sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya bergetar didalam kantong celana.
Bersambung.....