
"Tutup mulutmu! Kau kira ini kandang orang hutan?" decak Max tanpa memperdulikan Emily yang menutup matanya dengan menggunakan tangan.
Emily menghela nafas.
"Laksanakan pekerjaanmu," ujar Max tidak ingin dibantah.
Mau tak mau Emily membuka kedua matanya dan tanpa sengaja kembali melihat tubuh polos Max yang hanya terlilit handuk di pinggangnya. Dengan cepat Emily mengalihkan pandangannya ketempat lain. Max memperhatikan hal itu sehingga ia berdecak.
"Sok suci," sindir Max sehingga membuat Emily menghentikan pekerjaannya.
"Merasa atasan sesuka kamu mengatai orang yang belum kamu ketahui seluk-beluk bagaimana kehidupannya. Jika saja aku tidak butuh sekali pekerjaan ini, tidak akan terjepit seperti ini," batin Emily berusaha memendam emosinya.
Sedangkan Max dengan santainya membaringkan tubuh kekarnya di sofa panjang sembari menerima telepon dari para wanita yang ingin berkencan dengannya.
Pertama-tama Emily merapikan berkas yang berserakan di atas meja serta bawah meja kebesaran sang CEO. Untuk memudahkan Emily berlutut di lantai.
Wanita A: "Darl apa besok ada waktu? hmmm aku ingin kita pergi ketempat biasa,"
Wanita A: "Oke besok aku jemput jam 11 siang. I love you darl,"
Wanita B: "Malam cantik,seksi.Hmmm lagi sibuk ya?"
Wanita B: "Sama aku juga sangat merindukan tubuh seksimu itu cantik,"
Huk huk
Seketika Emily terbatuk mendengar obrolan Max dengan para wanita kencannya. Sehingga membuat Max tidak mood lagi untuk melanjutkan obrolan itu.
"Menganggu saja," umpat Max masih dengan posisi berbaring.
Sedangkan Emily menghela nafas.
"Hentikan dulu pekerjaanmu. Ambilkan setelan di atas kasur didalam kamar itu," titah Max.
"Baik Tuan," jawab Emily.
Emily bangkit lalu berlalu masuk begitu saja kedalam kamar pribadi di ruangan itu tanpa memandang Max yang sedang memperhatikannya dengan kening mengerut. Sungguh Max heran dan langka mendapati wanita seperti Emily. Karena kebanyakan wanita akan bahagia dan beruntung bisa berduaan seperti ini. Tetapi tidak dengan Emily, seakan pesona Max tidak berarti baginya.
Untuk pertama kalinya hanya dihadapan Emily, Max memperlihatkan tubuh polosnya itu. Dan Emily orang pertama yang diperbolehkan masuk ke kamar pribadinya, bahkan wanita-wanita yang ia kencani hanya boleh berada di ruang kerja Dion. Max tidak pernah memperbolehkan mereka memasuki ruang CEO.
"Ini Tuan," Emily meletakan setelan itu di atas meja sofa dengan wajah menunduk, intinya ia tidak melihat tubuh polos Max.
"Pakaikan ke tubuhku," titah Max kini sudah terduduk di sofa.
"Hah," seketika membuat Emily sontak kaget tetapi ia tidak berani mendongak wajahnya. Emily mengigit bibir bawahnya.
"Apa kau tidak dengar?" seru Max dengan wajah tidak suka.
"Maafkan saya Tuan saya tidak bisa melakukannya," kata Emily dengan jujur.
__ADS_1
"Kau berani membantah?"
"Maafkan saya Tuan, tugas saya disini sebagai kebersihan kantor. Bukan mengurus keperluan pribadi Tuan," kata Emily dengan tegas, bukan berarti ia berani. Saat ini jantungnya berdebar takut jika Max melakukan sesuatu seperti yang telah ia perbuat dengan para wanita kencannya.
"Kau berani membantah?" sekali lagi bentakan itu. "Kau jangan sok suci," imbuhnya kembali.
Emily tidak menjawab ia masih berdiri mematung dengan kepala menunduk.
"Lakukan!" Titahnya.
Emily masih dengan posisi awal.
"Lakukan!" Bentaknya lebih dahsyat. "Atau aku cabut kontrak kerja sama," ancam Max.
Deg
Tentu saja Emily sontak kaget. Mana mungkin ia membiarkan hal itu terjadi. Sedangkan ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Memikirkan sewa rumah dan semua kebutuhan mereka, terutama Jihan.
"Baik Tuan," lirih Emily terpaksa melakukan hal itu. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
Dengan tangan bergetar Emily meraih pakaian itu. Gerak-gerik Emily tidak lepas dari pandangan Max. Emily mendekat dengan tubuh bergetar.
"Lanjutkan pekerjaanmu," ujar Max sembari menarik baju kaos yang di genggam erat oleh Emily. Semua setelan di atas meja dibawa Max ke kamar.
Max tau jika Emily terpaksa melakukan itu, bahkan pria itu menyadari kegugupan yang dirasakan Emily.
"Sungguh tak tau malu," sungut Emily merutuki sang CEO.
Ceklek
"Selesaikan semuanya, aku tidak ingin besok masih berantakan." Ujar Max sembari merapikan dasinya. Malam ini ia menghadiri sebuah lelang kalangan pebisnis.
"Baik Tuan," jawab Emily.
Setelah kepergian Max kini Emily merapikan kamar pribadi Max sampai kedalam kamar mandi. Tidak terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka 11 malam.
"Huhh akhirnya kelar juga. Hah sudah jam 11," gumam Emily sembari menghela nafas lega. "Kasian Jihan," imbuhnya mengingat bocah manis itu, bocah penyemangat hidupnya.
Merasa semuanya sudah kinclong Emily keluar dari ruang CEO tanpa merasa takut di kantor sebesar itu karena semua lampu sepanjang lorong masih menyala.
Emily mengembalikan peralatan seperti skop, sapu dan pengepel ke tempatnya semula.
Tiba di lobby Emily bertemu dengan dua satpam yang bertugas.
"Malam Pak," sapa Emily dengan ramah sembari ditangannya memegang napan berisi dua cangkir kopi hangat.
"Malam juga Non," jawab keduanya serempak.
"Pak ini aku buatin kopi biar Bapak-bapak tidak mengantuk," kata Emily menyodorkan napan berisi kopi hangat.
__ADS_1
"Terima kasih Non," jawab kedua satpam itu.
"Sama-sama Pak, jika begitu aku pulang," balas Emily.
"Iya Non hati-hati,"
"Dia sangat cantik sehingga tidak cocok bekerja sebagai kebersihan," ungkap salah satu satpam mengagumi paras cantik Emily.
"Tidak hanya sekedar cantik tetapi sangat ramah, dan mau membuatkan kita minuman," timpal rekannya.
Emily menjalankan sepeda motor buntutnya dengan hati-hati. Menerobos jalanan tengah malam demi sesuap nasi dan kebahagiaan untuk putri semata wayangnya.
Emily menepikan sepeda motor ingin membelikan kue kesukaan Jihan.
"Pak pesan satu varian rasa keju+meses," kata Emily.
"Tunggu sebentar ya Non," jawab sang penjual martabak manis.
Tidak butuh lama Emily sampai di rumah orang tua sahabatnya yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah sewaan mereka.
Tok tok tok
"Tante," panggil Emily tidak enak hati tengah malam menganggu waktu istirahat orang lain. Kadang Emily berpikir karena selalu merepotkan Tante Lala.
Ceklek
Handle pintu ditekan.
"Kamu Emily," seru Tante Lala dengan wajah bantalnya. "Ayo silahkan masuk, Jihan sudah tertidur," ujarnya.
"Maaf Emy menganggu waktu istirahat Tante," kata Emily merasa tidak enak hati.
"Kamu jangan merasa direpotkan, Tante sama sekali tidak merasa direpotkan. Hmmm bahkan Tante senang ada Jihan di rumah ini," ungkap Tante Lala.
"Terima kasih Tante," jawab Emily. "Emy mau bangunkan Jihan dulu," imbuhnya langsung masuk ke kamar yang biasa digunakan Jihan.
Tiba di kamar sempit itu Emily memandangi tubuh bocah manis itu tertidur meringkuk. Sepertinya Jihan kedinginan karena selimut sudah kemana-mana tidak menutupi tubuhnya.
"Sayang ayo bangun, Mami sudah pulang," kata Emily sembari menepuk halus wajah Jihan.
Jihan menggeliatkan tubuhnya dan segera membuka mata.
"Mami. Mami sudah pulang?" cicit Jihan sangat senang.
"Iya sayang ayo kita pulang, maaf Mami sudah menganggu tidur nyenyak Jihan. Hmmm sayang Mami bawain martabak kesukaan Jihan," kata Emily.
"Hore," Jihan kegirangan.
Bersambung.....
__ADS_1