
•••••
Hari ini adalah hari libur. Walaupun libur sekolah kedua anak genius tetap bangun pagi untuk membantu sang Mommy serta Nenek.
" Sayang kenapa kalian ikut terbangun juga? hari ini adalah hari libur jadi bermanja-manjalah dengan guling serta selimut kalian, " ucap Mommy si kembar sembari membuat sarapan. Sang Mommy terbangun dari jam 4 subuh untuk membuat aneka macam kue. Berkat hasil lomba melukis putri cantiknya ia mendapat modal, ia kembali menggeluti hobinya.
" Tidak Mom, kami harus membantu Mommy serta Nenek, " sahut Mia sembari merentangkan tangannya.
" Sayang kalian masih kecil, cukup kalian belajar saja sudah membuat Mommy senang sayang.... biar menjadi orang yang berguna suatu saat nanti. Tidak seperti Mommy serta Nenek, Mommy ingin kalian tidak mengikuti jejak kami, " ucap sang Mommy sembari mengendong putri cantiknya, wajah bantal bangun tidur Mia membuat wanita berparas cantik semakin gemes.
" Sudah gede masih main gendong-gendongan, " cibir dingin Max.
" Cemburu bilang Kak, " goda Mia sembari menjulurkan lidahnya masih dalam gendongan sang Mommy.
" Sayang kamu ingin gendong juga? " sang Mommy menurunkan Mia lalu ingin mengangkat tubuh Max.
" Stop Mom! jangan sentuh Max, Max bukan anak kecil lagi, " ujarnya menepis tangan sang Mommy.
" Sayang kamu masih berusia 6 tahun, itu artinya masih kanak-kanak masih butuh bimbingan atau pengaman dari Mommy ataupun Nene, " terang sang Mommy.
" Usia memang kanak-kanak Mom, tetapi jiwa Max tidak ubahnya dengan pria dewasa, " ujarnya dengan gaya coolnya sehingga membuat sang Mommy mengulum senyuman.
" Entah gaya dan sifat siapa yang kamu ikuti sayang, mungkinkah itu dari Daddy misterius kalian? " batin Ai.
" Kakak terlalu percaya diri tetapi buktinya masih ngompol, sok-sokan mengaku jiwa sudah dewasa hmmm, " ejek Adik kembarnya siapa lagi jika bukan Mia anak yang menggemaskan.
" Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, " balas sang Kakak karena tuduhan sang Adik tidaklah benar dengan wajah datarnya.
" Hahaha lihatlah Mom ekspresi wajah Kakak, jika seperti wajahnya Mia yakin semua cewek-cewek di luar sana menjuluki Kakak pria batu es yang sulit dicairkan, " Mia kembali menggoda sang Kakak.
" Dari mana kamu tau bahasa seperti itu sayang? " sang Mommy menautkan kedua alisnya.
" Dari novel-novel milik Mommy, " ucapnya polos.
" Hah....! sayang sekali lagi kamu jangan sentuh itu lagi ya? itu bukan khusus anak-anak, itu hanya orang dewasa yang boleh membacanya, " jelas sang Mommy sedikit terkejut karena novel-novel itu bernuansa romantis.
" Mia tau Mom, Mia hanya membaca intinya saja bukan keseluruhan. Oke Mia tidak akan sentuh lagi, Mia akan fokus dalam melukis Mia, "
" Anak pintar, " Ai sangat beruntung memiliki si kembar, ia tidak pernah menyesali kehadiran kedua buah hatinya. Apalagi untuk membenci kehadiran mereka, sedikitpun rasa itu tidak pernah terpikirkan olehnya.
" Mommy bangga memiliki kalian sayang, " Ai berlutut mensejajarkan tingginya dengan kedua buah hatinya dan langsung memeluk keduanya.
" Maaf jika Mommy belum bisa membahagiakan kalian, " lirih sang Mommy dengan mata berkaca-kaca.
" Mom bersabarlah menanti hari itu, dimana Max akan jadikan Mommy seperti seorang ratu suatu saat nanti. Sudah cukup perjuangan, kesedihan, bahkan air mata berharga Mommy. Belum lagi mendapat fitnah, caci-maki,hinaan bahkan masih banyak lagi yang dilontarkan orang-orang di luar sana tentang b kehidupan kita. Max tau semua itu Mom....Max salut dengan Mommy, Max tidak pernah tau apa alasan atau hubungan Mommy dengan Daddy, karena Max tidak ingin membuka luka yang sudah tertutup, " batin Max tidak ubahnya dengan pemikiran orang dewasa pada umumnya. " Apakah Daddy seorang pria tidak bertanggung jawab? suatu saat Max akan bertanya pada Uncle," sambungnya masih membatin.
" Nenek mana Mom? " tanya Mia.
" Tadi Mommy suruh beli bahan yang kurang sayang, mungkin bentar lagi pulang, "
Tok tok tok
" Nah itu mungkin Nenek, ayo tolong bukakan pintu, " titah sang Mommy yakin jika yang datang serta mengetuk pintu adalah Mamanya.
__ADS_1
" Bentar Nenek, " sahutnya sembari melangkah kearah pintu dengan semangat 45.
Ceklek
" Silahkan masuk Ne----, "
" Hah...., " seketika membuat Mia tidak meneruskan ucapannya karena yang datang bukanlah sang Nenek yang mereka kira, tetapi pria bertubuh jangkung yang sangat ia kenali.
" Bapak, " panggil Mia dengan suara cukup meninggi.
" Selamat pagi anak cantik, " sapanya gemes melihat ekspresi wajah Mia yang terkejut.
" Selamat pagi juga Bapak tampan, " balasnya menggoda.
" Apa kamu tidak ingin memperbolehkan Bapak masuk? Bapak ingin menemui Mommymu untuk membicarakan masalah lomba melukis yang diadakan 3 hari lagi, " jelasnya dengan maksud kedatangannya ke rumah kecil bisa dikatakan gubuk.
" Silahkan masuk Pak, maaf beginilah keadaan gubuk kami, " ucap polos Mia tetapi cukup ucapan orang dewasa pada umumnya. Mendengar ucapan merendahkan diri pria itu mengulas senyuman sembari mengusap pucuk kepala Mia.
" Sayang bilang Nene cepat masuk karena Mommy butuh bahan itu, " suara meninggi sang Mommy dari arah dapur.
Deg
Suara itu tidak asing di telinga bagi tamu tanpa diundang.
" Bapak duduk disini dulu, biar Mia panggilkan Mommy. Maaf Mommy mengira yang datang adalah Nenek tetapi tamu tanpa diundang di pagi hari hahaha, " gelak tawa Mia mencandai pria jangkung tersebut.
" Jelangkung dong, " balasnya ikut terkekeh.
Mia meninggalkan pria yang sedang memperhatikan setiap sudut rumah kecil itu.
" Bukan Nenek yang datang tetapi ketua yayasan Mom, " ucapnya. " Katanya ingin menemui Mommy untuk membicarakan perlombaan melukis Mia, " jelas Mia sama seperti yang dijelaskan oleh ketua yayasan.
" Baiklah! sebentar Mommy siapkan minuman, kamu temui dulu" sahut sang Mommy paham.
Ai menyeduh teh hangat dan meletakkannya di atas kapan beserta beberapa potongan kue yang dibuatnya pagi ini. Karena selama ini mereka tidak pernah kedatangan tamu, apalagi bukan orang biasa yang ingin menemuinya. Ai sedikit merapikan penampilannya agar tidak terlihat terlalu kucel, bagaimanapun ia harus menjaga hati kedua buah hatinya.
" Itu Mommy, " tunjuk Mia pada sang Mommy yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Deg
Seketika membuat kedua orang dewasa melebarkan mata dengan mulut menganga. Keduanya tampak terkejut dan tidak percaya.
" Ai...., "
" Berry, "
Lirih keduanya tersentak kaget.
" Jadi mereka ini putra-putrimu? "
" Iya Ber mereka adalah keponakan kamu, " sahut Ai.
" Ya ampun kenapa aku bodoh tidak menyadarinya. Pantas saja wajah putri cantikmu tidak asing bagiku, " ungkapnya.
__ADS_1
" Apa kabar kamu? " Berry langsung bangkit mendekati Ai.
" Stop, " teriak Max dari arah belakang.
Mendengar teriakan itu membuat Berry mengurungkan niatnya ingin memeluk wanita yang sudah sangat ia rindukan serta ingin ditemuinya.
" Hmmm, " Berry berusaha menetralkan perasaannya.
" Aku baik! mari silahkan duduk, ini kusiapkan minum serta cemilan, " Ai mempersilahkan teman lamanya.
" Terima kasih, jangan repot-repot, " balasnya.
" Sayang kalian segeralah mandi, apa kalian tidak malu dengan bau acem kalian? hmmm " gurau sang Mommy.
" Uhhh wangi begini dibilang acem, " protes Mia. " Baiklah kami permisi dulu Pak, " sambungnya.
Keduanya saling bercerita begitu asiknya.
•••••
3 hari kemudian
Ai melepaskan keberangkatan Mia yang didampingi sang Nenek dan putra sulungnya. Ai tidak bisa ikut mengantarkan Mia ikut lomba dikarenakan banyak orderan, ia tidak bisa begitu saja membatalkan rezeki yang sudah mengalir.
" Sayang tetap semangat, menang ataupun kalah jangan berkecil hati. Sekali lagi Mommy minta maaf karena tidak bisa menghadiri perlombaan melukis kamu untuk kedua kalinya, " ucap Ai dengan perasaan sedih.
" Tidak masalah Mom, Nenek serta Kakak cukup mendampingi Mia. Mommy baik-baik ya disini selama kami tidak ada, " Mia mengecup berkali-kali seluruh wajah sang Mommy.
" Ber, titip mereka ya? " ucapnya kepada Berry.
" Kamu jangan khawatir. Jaga dirimu disini, " sebenarnya dalam hati pria itu kecewa karena Ai tidak ikut serta ke kota untuk menghadiri perlombaan anak didiknya, yang tak lain adalah putri wanita yang menghipnotis dirinya.
" Terima kasih, "
Semuanya sudah masuk kedalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke kota. Mama dan putra-putrinya akan menginap selama 2 hari. Ai melambaikan tangan melepaskan kepergian mereka. Mobil yang membawa rombongan mulai menghilang dari pandangannya, Ai kembali ingin masuk kedalam rumah.
Guk guk guk
" Tolong-tolong, " teriak pria berlari dengan nafas terengah-engah menghampiri Mommy si kembar.
Guk guk guk
Bahkan membuat pria tersebut menyembunyikan dirinya di tubuh Ai dengan kedua tangannya melingkar di pinggang ramping dari arah belakang.
Deg
" Us... us... us..., " usir Ai dengan lembut. Sehingga membuat anjin* besar dan menyeramkan itu berlari dengan kencang meninggalkan halaman rumahnya.
" Dia sudah pergi, bisakah kamu lepaskan tanganmu? " ucapnya sedikit tidak terima tetapi ia mengerti karena keadaannya. Mungkin saja pria ini sangat ketakutan, ia bisa merasakan sendiri degup jantung serta tubuhnya bergetar hebat kala anjin* itu menggonggong.
Merasa sudah aman pria tersebut melepaskan pelukannya, jujur saja ia merasakan betah sangat nyaman memeluk wanita yang sama sekali ia tidak kenal, bahkan tidak tau jika itu adalah seorang wanita Nenek peyo*. Tetapi semuanya adalah keadaan mendesak, daripada ia terjebak dengan hewan menyeramkan itu.
Deg
__ADS_1
Bersambung.....