Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 79 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

"Mami," teriak Jihan.


"Sayang," lirih Emily.


Bukk


Jihan langsung memeluk erat Emily.


Awww


Ringis Emily ketika pahanya disentuh keras oleh Jihan.


"Mami kemana saja hiks hiks hiks," seketika tangisan Jihan pecah dalam pelukan Emily.


"Maafkan Mami sayang," jawab Emily ikut terisak.


Hmmm


Deheman seseorang membuat Emily menegak wajahnya ke depan.


Deg


Seketika mata Emily membulat dengan mulut menganga. Tidak percaya dengan pria di depannya, yang tak lain adalah bos di perusahaan tempatnya bekerja.


"Tu-tuan," gumam Emily masih tak percaya. Bagaimana mungkin putrinya bisa mengenali Max, begitulah yang dipikirkan Emily.


"Kau tidak menyuruhku masuk?" tiba-tiba suara bariton itu membuat kesadaran Emily yakin jika pria itu benar-benar adalah bosnya.


Tanpa menunggu dipersilahkan Max masuk begitu saja. Max mengedarkan pandangannya kesemua sudut didalam ruangan itu. Seketika keningnya mengernyit melihat isi dalam rumah itu.


"Uncle tampan maaf beginilah keadaan rumah Jihan," cicit Jihan langsung melepaskan pelukan.


Emily menyipitkan mata, ternyata yang diceritakan putrinya bahwa Uncle tampan itu adalah sang CEO di perusahaan SYWA.


"Tidak masalah," ujar Max.


"Mami buatkan Uncle tampan minum," titah Jihan karena ia belum paham dengan urusan begituan.


Hmmm


"Tuan ingin minum apa?" tanya Emily masih diposisi awal, sedangkan Jihan duduk di samping Max.


"Jus lemon segar," ujar Max.


"Maaf Tuan tidak ada persediaan lemon di rumah," jawab Emily dengan tidak enak hati.


"Yang adanya jus apa?" tanya Max.


"Semua buah tidak ada Tuan karena saya baru pulang," jawab Emily. "Kalau susu ada," imbuhnya.


"Aku mau zuzu kamu!"


Deg


"Hah...." Seketika mata Emily membulat sembari menunduk menatap kedua gundukan miliknya. "Sembarangan," desis Emily dengan raut wajah memerah. Sedangkan Max memperhatikan sorot mata Emily.


"Mami apa Mami tidak dengar? Uncle tampan ingin Zuzu Mami, jadi buatkan sekarang kasian Uncle tampan sudah kehausan," kata Jihan dengan polosnya.

__ADS_1


"Jihan," lirih Emily mendengar kepolosan Jihan.


"Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan Jihan?" goda Max sembari menaik turunkan matanya.


"Sembarangan, yang ada air putih," gerutu Emily.


"Hmmm kau pasti berpikiran mesum," ujar Max ingin menyudutkan Emily.


"Kalian payah masalah susu saja dibesar-besarkan," gerutu Jihan langsung bangkit menuju dapur untuk menjadi mengambil air putih.


"Jihan sayang susu yang dimaksudkan pria menyebalkan ini bukan susu yang kamu maksud," batin Emily.


Emily berlalu menyusul Jihan. Kening Max mengerut melihat Emily jalan menggunakan tongkat, sejak tadi ia tidak menyadari jika Emily memegang tongkat.


"Ada apa dengan kaki Mami? kenapa Mami menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan?" tanya Jihan sedikit khawatir.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sayang tadi Mami terpleset ketika mencuci pakaian karena terlalu ceroboh, makanya jadi begini," jelas Emily untuk menyakinkan Jihan.


"Itulah Mami selalu teledor," gerutu Jihan. "Mami tunggu Jihan sudah dewasa nanti dan memiliki uang banyak, Jihan akan membeli mesin cuci seperti tetangga-tetangga kita untuk Mami, agar Mami tidak terpleset lagi." Celoteh Jihan yang sangat menyentuh hati seorang Emily.


"Maka dari itu Jihan harus giat belajar," jawab Emily dengan mata berkaca-kaca yang siap meluncur tetapi karena kehadiran Max sebisa mungkin ia tahan.


Max terdiam melihat interaksi Ibu dan anak di depan matanya.


"Ada apa dengan kakinya? apa karena itu dia menghilang selama seminggu?" batin Max.


Emily ikut mendudukkan dirinya di kursi tepat didepan Max, jujur saja pahanya terasa ngilu dibawa berdiri cukup lama.


"Jihan ingin mandi dulu. Uncle tampan jangan pulang dulu sebelum Jihan kembali ya?" kata Jihan kepada Max.


"Ah Jihan payah kenapa menahan pria menyebalkan ini. Mami jadi tidak bisa bernafas lega."


"Hmmm tidak ada yang ingin kau jelaskan?" suara bariton Max membuat lamunan Emily buyar.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, karena sudah tidak masuk kerja selama 1 minggu lebih," kata Emily dengan kepala menunduk.


"Apa kau lupa dengan syarat kontrak kerja jika kau keluar?" ujar Max dengan tatapan tajam tetapi sayangnya tidak dilihat Emily.


"Saya mengerti Tuan dan saja tetap akan bekerja," jawab Emily.


"Kalau bicara dengan sopan harus menatap lawan bicara, kau pikir kau bicara dengan lantai?" geram Max karena sejak tadi Emily hanya menunduk saja. Max berpikiran jika Emily muak dengan wajahnya ini yang banyak gilak kaum hawa. Tetapi tidak dengan Emily, wanita ingin selalu membuang muka jika berhadapan dengannya.


"Maaf," gumam Emily.


Hmmm


"dokter Mico," seru Emily melihat kedatangan dokter blasteran.


"Maaf jika saya menganggu," ujar dokter Mico. "Tuan Max," seru Mico sangat mengenali Max.


Hmmm


Max ternyata mengenali dokter Mico tamu Emily karena kebetulan dokter Mico bekerja di instalasi RS milik keluarganya.


Emily sempat kaget ternyata mereka saling mengenal.


"Saya hanya ingin mengantar obat Nona Emy yang ketinggalan di mobil tadi," ujar dokter Mico sembari menyodorkan kantong berisi obat-obatan.

__ADS_1


"Terima kasih dokter," kata Emily meraih kantong obat dengan wajah tersenyum indah. "Maaf sudah merepotkan," imbuhnya.


Melihat hal itu membuat darah Max mendidih dengan tangan terkepal erat. Bagaimana tidak, ketika berbicara dengannya Emily tidak pernah menunjuk wajah seperti itu. Sedangkan kepada pria ini wajahnya berseri-seri.


Krett


Bunyi kursi yang diduduki Max sangat kuat bergesekan dengan lantai karena memang sengaja. Max bangkit lalu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata, bahkan ia melupakan pesan Jihan.


Emily maupun dokter Mico saling memandang dan tak lama memandangi punggung Max yang mulai menghilang.


"Ada apa dengannya?" gumam Emily setelah punggung Max tak terlihat lagi.


"Nona Emy mengenali Tuan Max? hmmm aku lupa siapa sih yang tidak mengenali Tuan," kata dokter Mico.


"Iya dokter kebetulan aku bekerja di perusahaan Tuan sebagai cleaning servise," ungkap Emily tidak gengsi dengan pekerjaannya.


"Oh berarti Nona Emy spesial," ujar dokter Mico.


Emily mengerutkan kening tidak paham.


"Jarang-jarang loh atasan bahkan seorang CEO dekat kepada bawahan yang cukup dibawah jika tidak ada maksud lain. Hmmm lupakan saja," imbuhnya.


"Mami Uncle tampan mana? apa sudah pulang?" tanya Jihan karena tidak mendapati Max.


"Sudah sayang," jawab Emily.


"Ah Uncle tampan, sudah Jihan bilang tungguin Jihan malah pulang tak bilang-bilang.


" Mungkin ada pekerjaan mereka dadak sayang," kata Emily.


"Apa ada pesan buat Jihan Mami?" tanya Jihan.


"Tidak ada sayang," jawab Emily.


"Bagaimana ada pesan pergi aja begitu saja, main nyelonong. Dasar!" Batin Emily.


"Itu siapa Mi?" tanya Jihan seketika sadar ada orang lain duduk di samping Emily.


"Kenalkan sayang itu Uncle dokter," kata Emily.


"Uncle dokter?" tanya Jihan.


"Iya sayang Uncle dokter yang menolong Mami ketika tertusu....," seketika Emily sadar sehingga tidak melanjutkan ucapannya, hampir saja ia keceplosan.


"Menolong Mami? memangnya Mami kenapa?" sungguh Jihan tidak peka dan dapat memahami atas apa yang ingin dikatakan Emily.


"Sayang lupakan saja, lebih baik Jihan makan Mami sudah siapkan makan buat Jihan," kata Emily ingin mengalihkan pembahasan.


"Jihan sudah makan Mi sebelum pulang ke rumah. Uncle tampan membawa Jihan makan di restoran mewah," jawab Jihan dengan polosnya.


Hmmm


"Baiklah aku akan kembali Nona Emy dan anak manis," ujar dokter Mico.


"Terima kasih dokter," jawab Emily tetapi tidak dengan Jihan, bocah manis itu tampak tidak suka dengan kehadiran dokter Mico.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2