Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 64 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Di rumah petak berukuran kecil memiliki dua kamar. Wanita berparas cantik masih tertidur dengan nyenyak. Rasa lelah seharian kemarin membuatnya enggan untuk terbangun. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan.


Sedangkan bocah cantik berusia 4 tahun sudah lama terbangun. Merasa lapar ia hanya bisa menyantap roti yang selalu tersedia di atas meja bersama dengan air putih.


Sungguh mandiri bocah cantik itu. Dia tidak tega membangunkan sang Mami yang masih terlelap untuk membuatkan makanan untuk dirinya. Sehingga ia memakan roti untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.


Untuk menunggu sang Mami bangun bocah itu belajar mewarnai. Beberapa bulan lagi ia akan dimasukin ke Taman Kanak-Kanak yang kebetulan berada di kawasan rumah kontrakan mereka.


Tok tok tok


"Emy, Emy," panggil seseorang dari luar rumah sembari mengetuk pintu.


Jihan bangkit langsung membuka pintu karena ia sudah sangat hafal dengan suara cempreng itu. Hampir setiap pagi belakangan ini pemilik rumah kontrakan bertandang ke rumah mereka untuk menagih sewaan rumah.


Ceklek


Handle pintu ditekan Jihan.


"Tante Mita," sapa Jihan.


"Mana Mami kamu Jihan?" tanya wanita itu dengan wajah sangarnya.


"Masih tidur Tante," jawab Jihan dengan polos.


"Masih tidur?" teriak Tante Mita. "Sudah menjadi bos sekarang? jam segini masih tidur. Berarti sudah bisa dong bayar sewaan rumah yang sudah telat 1 minggu," ujar Tante Mita dengan wajah berubah senang karena sebentar lagi menerima uang.


"Mami kelelahan Tante," jawab Jihan.


"Bangunkan sekarang juga, kalian harus bayar sekarang," tegas Tante Mita.


"Tapi Tante," cicit Jihan keberatan.


Tok tok tok


"Emy bangun kamu," teriak Tante Mita sembari menggedor pintu kamar.


Didalam kamar


"Siapa sih ribut sekali?" gumam wanita itu abadi menutup telinganya dengan bantal.


"Emy bangun kamu," suara teriakan itu menyadarkan wanita itu.


"Kak Mita," lirihnya dan segera bangkit.


Ceklek


Pintu terbuka


"Dasar jam segini baru bangun," cibir Tante Mita.


"Hmmm ada apa Kak Mita pagi-pagi?" tanya wanita itu tanpa menyadari sesuatu.


"Mau nagih uang sewa rumah. Sudah ada bukan?" kata Tante Mita.


Deg


Wanita cantik itu menelan ludahnya.


"Maaf Kak Mita belum ada, kasi waktu 1 minggu lagi," jawab wanita itu dengan tidak enak jati karena selalu meminta uluran waktu.


"1 minggu lagi 1 minggu lagi, sebenarnya kalian mau bayar tidak sih?" ujar Tante Mita dengan murka.

__ADS_1


"Maaf Kak saat ini aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Aku janji akan bayar," jawabnya.


"Aku tunggu dan ingat jika tidak bisa membayar kalian angkat kaki dari sini karena masih banyak yang ingin menyewa rumah ini," ancam Tante Mita sembari berlalu pulang.


Mendengar ancaman itu membuat wanita bernama Emily mengelus dada. Ia pusing mendapat uang dari mana untuk membayar sewa rumah, sedangkan waktu yang diberikan sangat singkat.


"Mami," panggil Jihan sehingga menyadarkan lamunan Emily.


"Sayang kamu sudah bangun?" ternyata sedari tadi Emily tidak menyadari keberadaan putri manisnya itu.


"Sudah Mi," jawab Jihan dengan wajah sedihnya.


"Sudah jam berapa sekarang?" gumam Emily sembari melirik jam dinding. "Hah jam 10!" kagetnya.


Dengan cepat Emily bergegas menuju dapur.


"Sayang maafkan Mami, kamu pasti sudah lapar bukan?" kata Emily.


"Jihan sudah sarapan roti tadi Mi," kata Jihan mengikuti Emily ke dapur.


"Mami buatkan susu dulu," kata Emily langsung menyeduh susu untuk putri kesayangannya. "Ini sayang di minum dulu agar putri Mami tumbuh sehat, hmmm bagaimana dengan kaki Jihan apa masih sakit?"


"Sedikit nyeri Mami tetapi tenang saja tidak apa-apa bagi Jihan," cicitnya disertai senyuman.


"Anak hebat!" Kagum Emily sembari mengecup pipi Jihan.


"Mami bau belum cuci muka," protes Jihan.


"Putri Mami," rengek Emily dengan wajah cemberut.


"Mami apa Mami mau tau Opa, Oma yang menyelamatkan Jihan sangat tampan dan cantik loh, sudah cantik baik lagi," puji Jihan mengingat pertemuannya dengan kedua paruh baya kemarin.


"Iya Mi," jawab Jihan seakan paham.


Dret


Ponsel di atas meja terbuat dari kayu berdering.


"Sayang tolong ambilkan ponsel Mami di atas meja," pinta Emily.


Dengan cepat Jihan melangkah mengambil ponsel itu.


"Ini Mami," Jihan menyodorkan ponsel itu.


Nomor baru tanpa nama


"Iya halo selamat pagi juga,"


"-------------------,"


"Ya saya sendiri,"


"-----------------,"


"Apa? apa Tuan tidak salah orang?"


"--------------------,"


"Baik Tuan terima kasih,"


Setelah mengakhiri telepon Emily sangat bahagia.

__ADS_1


"Sayang Mami diterima, dan besok Mami mulai bekerja," kata Emily dengan senangnya.


"Hah benarkah? Jihan ikut senang Mi," kata Jihan ikut senang mendengar kabar baik itu.


"Sayang tunggu sebentar Mami masakin nasi goreng karena putri cantik Mami kelihatannya sudah lapar," kata Emily dengan yakin.


"Mami tau saja," jawab Jihan.


•••••


Keesokan hari


Emily bangun sangat pagi. Sebelum pergi bekerja ia memasak untuk Jihan. Dan ia menitipkan Jihan kepada orang tua sahabatnya yang tidak jauh dari rumah mereka.


Kini Emily mengendarai sepeda motor bututnya. Sepanjang jalan ia senyam-senyum karena sangat senang. Tentu saja ia senang karena tidak semua orang bisa berkesempatan bekerja di perusahaan besar itu. Dengan gaji lumayan besar dibandingkan gaji ditempat lain tidak sebesar itu.


"Jihan sayang semoga ini awal dari segalanya," gumam Emily. "Semua demi kamu sayang," imbuhnya.


Tiba di kantor


Seperti yang diarahkan oleh kepala kebersihan. Karyawan bagian cleaning servise berbaris di lapangan. Begitu juga dengan karyawan lama.


"Selamat pagi," kepala bagian kebersihan memulai pidatonya.


Tidak lama sang CEO dan asisten tiba di lapangan. Karyawan heran melihat sang CEO turun langsung ke lapangan karena hal ini tidak pernah terjadi. Tetapi kali ini pria tampan itu turun langsung. Sedangkan karyawan baru tidak mengetahui hal itu.


"Selamat pagi untuk kita semua," sapa Dion selalu asisten perusahaan terbesar itu.


"Selamat pagi Tuan," sahut semuanya dengan kepala menunduk.


"Baiklah buat karyawan yang sudah lama bekerja silahkan kembali bekerja, sedangkan karyawan yang baru diterima harap masih di tempat," ujar Dion.


Hening itulah yang terjadi saat ini. Bagaimana tidak hening dihadapkan oleh dua pria tampan dengan tatapan datar.


"Dion bukankah kita menerima karyawan baru bagian kebersihan 10 orang? tetapi kenapa ada 11 orang?" ujar Max memperhatikan barisan itu.


Deg


Seketika Emily yang berdiri paling akhir merasa tidak tenang karena ia tau karyawan yang terakhir diterima.


"Maafkan saya Tuan saya juga baru mengetahui sekarang," jawab Dion karena benar tidak tau.


"Jadi siapa yang berani mengubah peraturan yang sudah ditetapkan?" ujar Max dengan tegas.


"Pak Bimo, apa Bapak yang mengubah peraturan?" tanya Dion kepada kepala kebersihan.


"Maafkan saya Tuan saya di perintah oleh Tuan besar beserta Nyonya," kata Pak Bimo.


"Urus semuanya," ujar Max langsung berlalu meninggalkan lapangan.


Dion tau apa yang harus dilakukan.


"Berikan data karyawan yang baru diterima Pak," ujar Dion. Pak Bimo memberikan data karyawan tersebut.


"Atas nama Emily Luisa silahkan ke ruang CEO sekarang juga," ujar Dion.


Deg


Emily merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar perintah itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2