Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 78 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Tok tok tok


Max mengetuk rumah Nenek Lala.


Ceklek


Pintu rumah terbuka


"Mami," panggil Jihan karena ia kira orang yang mengetuk pintu adalah Emily.


Deg


"Jihan," gumam Max tak percaya.


"Uncle tampan," kata Jihan langsung menghambur memeluk Max. "Mami Jihan hilang Uncle, Mami Jihan tidak pulang-pulang hiks hiks," tangis Jihan mendekap paha Max.


"Maksud kamu Mami Emily?" tanya Max dengan tubuh menegang.


"Iya Uncle, apa Uncle mengenali Mami?" tanya Jihan dengan wajah menadah ke atas.


Deg


Max terkejut luar biasa mendengar pengakuan Jihan, bocah manis yang pernah masuk kedalam mobilnya. Ternyata Jihan adalah putri dari karyawan yang bekerja sebagai cleaning servise di perusahaannya.


Max berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Jihan. Kedua bahu Jihan dipegang oleh Max. Tatapan intens Max berlabuh di wajah manis Jihan.


"Uncle tampan benarkah Uncle tampan kenal dengan gan Mami?" tanya Jihan kembali.


"Iya Uncle mengenali Mami Jihan," jawab Max begitu saja.


"Jihan siapa yang datang?" tanya Nenek Lala dari arah dalam.


"Uncle tampan Nenek," jawab Jihan.


Nenek Lala langsung bergegas keluar karena mendengar Jihan menyebutkan Uncle tampan, berarti putra penerus Sywa.


"Selamat sore Tuan," sapa Nenek Lala.


Hmmm


Max berdehem disertai anggukan.


"Jihan suruh Uncle tampan masuk," titah Nenek Lala.


"Ayo Uncle tampan silahkan masuk," ajak Jihan seperti yang diperintahkan Nenek Lala.


Max ikut masuk dan yang pasti tangannya ditarik Jihan. Kini mereka duduk di sofa yang sudah mulai usang. Nenek Lala merasa tidak tenang karena keadaan rumah mereka sangat jauh berbeda dengan Mansion milik keluarga Max.


"Maaf Tuan, harap dimaklumi keadaan rumah kami," ungkap Nenek Lala.


"Tidak masalah," ujar Max.


"Aku penasaran bagaimana Emily bisa menghilang seperti yang Jihan katakan? begitu juga yang dikatakan tetangganya tadi," Max memulai membuka suara ingin membahas tentang Jihan.


"Iya Tuan dalam 1 minggu ini Emily tidak kunjung pulang ke rumah, biasanya tidak pernah seperti ini. Apa yang terjadi kepadanya?" lirih Nenek Lala disertai isak tangis. "Kenapa dia pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu," imbuhnya.


"Uncle tampan tolong bantu carikan Mami," rengek serta mohon Jihan.

__ADS_1


Max terdiam sembari menatap Jihan.


"Perbedaan wajah mereka sama sekali tidak ada kemiripan, hmmm mungkin wajah Jihan identik dengan Papinya." Batin Max.


"Uncle," seru Jihan sembari menarik lengan Max sehingga membuat Max tersadar dari lamunannya.


"Uncle akan usahakan. Bagaimana jika Jihan tinggal bersama Opa, Oma untuk sementara?" usul Max.


"Nenek apakah boleh Jihan menerima tawaran Uncle tampan?" tanya Jihan meminta persetujuan Nenek Lala.


"Boleh-boleh saja sayang asalkan Jihan senang. Nenek tidak ingin melihat Jihan menangis terus-menerus," kata Nenek Lala tidak keberatan, karena ia pribadi ingin melihat Jihan kembali ceria seperti biasanya.


"Terima kasih Nenek," kata Jihan.


"Tunggu Nenek akan mengemasi pakaian Jihan," kata Nenek Lala beringsut bangkit.


"Tidak perlu Bibi. Pulang dari sini aku akan sekalian mengajak Jihan ke pusat perbelanjaan, dan sekalian makan malam." Ujar Max langsung punya rencana.


"Baiklah.Tuan, Bibi titip Jihan," kata Nenek Lala. " Jihan jangan merepotkan Uncle tampan serta Opa, Oma." Pesan Nenek Lala sebelum mereka meninggalkan rumah.


"Tenang Nenek, Jihan tidak akan membuat ulah," jawab Jihan sembari tersenyum.


•••••


Disebuah pusat pembelanjaan Max mengandeng lengan kecil Jihan. Sungguh kali ini pria yang terkenal playboy serta angkuh arogan ini ternyata bisa luluh melihat wajah polos Jihan. Semua karyawan membulatkan mata melihat sosok Max mengandeng anak kecil. Hal ini pertama kalinya bagi Max.


"Uncle tampan kenapa setiap orang memandangi kita dengan tatapan aneh?" tanya Jihan dengan polos.


"Mungkin karena kita sebagai sepasang kekasih," jawab Max sekenanya.


Hahaha


"Pelankan suaramu sayang," ujar Max.


Hahahaha


Gelak tawa itu kembali lagi karena mendengar godaan Max.


"Sangat lucu. Ayo kita makan dulu," Max membawa Jihan memasuki restoran yang berada didalam Mall.


Kini mereka memesan makanan.


"Jihan ingin pesan makanan apa?" tanya Max.


"Jihan ingin makan, makanan kesukaan Mami," jawab Jihan. Apakah disini ada yang menjual sup jagung?" tanya Jihan.


"Sup jagung? dia menyukai sup jagung? " gumam Max. Sebaliknya Max sama sekali tidak menyukai makanan yang disukai Emily.


"Iya Uncle tampan itu makanan favorit Mami. Kami tidak pernah membeli tetapi Mami sendiri yang masakin," ungkap Jihan dengan polosnya. "Tetapi soal rasa jangan diragukan lagi," imbuhnya.


"Baiklah kebetulan menunya ada," ujar Max.


"Terima kasih Uncle tampan, semoga dengan Jihan menikmati sup jagung ini mengetuk hati Mami untung pulang. Jihan rindu Mami Uncle tampan," cicit Jihan dengan mata berkaca-kaca.


Hmmm


"Jika Mami Jihan kembali pulang, pakah Uncle tampan bersedia mentraktir kami makan ditempat ini? Mami belum pernah makan ditempat semewah dan semahal ini," ungkap polos Jihan.

__ADS_1


"Baiklah, Uncle akan mentraktir kalian sebagai penyambutan kembalinya Mami Jihan," jawab Max menuruti kemauan Jihan karena ia tidak ingin Jihan kembali sedih.


Tidak lama pesanan mereka datang dan kini sudah tertata di atas meja. Jihan dengan tidak sabarnya untuk mencicipi sup jagung tersebut. Sedangkan Max memesan spaghetti.


Srup


Bunyi Jihan menyeruput kuah sup.


"Masakan Mami tetap paling nomor satu," cicit Jihan setelah mencicipi, lalu membandingkan masakan restoran dengan sang Mami.


Mendengar celoteh Jihan membuat alis Max menyatu. Seketika ia penasaran ingin mencicipi masakan sup jagung yang diolah oleh Emily.


Keduanya menikmati pesanan masing-masing sembari bercanda gurau. Tiba-tiba seorang wanita berpakaian seksi menghampiri.


"Hai beb," sapanya kepada Max tanpa disuruh langsung duduk di samping Max.


"Laura," desis Max tidak menyukai kehadiran wanita yang bernama Laura.


"Beb kencan yuk!" Goda Laura dengan jari-jemari di lengan Max.


"Dia siapa sayang?" tanya Jihan tiba-tiba sehingga membuat Max maupun Laura membulatkan mata menatap Jihan.


Seakan mengerti Jihan mengedipkan mata kepada Max.


"Anak kecil ini siapa beb?" tanya Laura dengan tubuh meliuk-liuk memang disengaja.


"Sayang," geram Jihan.


"Dia hanya wanita penggoda sayang, jadi jangan diladeni," ujar Max de gan santainya.


"What?" pekik Laura dengan mata melotot.


"Tante menor dengar ya ini adalah calon Papi Jihan," cicit Jihan dengan polosnya sekalian ingin mengerjai Laura.


"Menor kau bilang?" bentak Laura kepada Jihan. "Calon Papi? jangan pernah bermimpi bocah kecil. Lihatlah penampilan serta pakaianmu seperti anak kampung," ujar Laura tidak sadar jika saat ini ia telah berhadapan dengan siapa.


Mendengar sindiran serta direndahkan membuat Jihan menundukkan kepala. Sungguh perkataan Laura tidak boleh dicontoh.


"Lihatlah bajumu penuh dengan noda," ujar Laura kembali.


Jihan bangkit lalu bergegas keluar restoran.


"Jihan tunggu," panggil Max tetapi tidak dihiraukan oleh Jihan.


"Kau!" Bentak Max sembari menunjuk wajah Laura dengan jari telunjuknya. "Tutup mulutmu jika tidak ingin karirmu hancur tanpa tersisa," ancam Max.


•••••


Keesokan hari Max mengantar Jihan pulang ke rumah karena Jihan ingin mengambil boneka pemberian sang Mami. Karena Oma tidak sempat akhirnya Max yang mengantar Jihan.


Setelah mengambil kunci cadangan dari Nenek Lala kini mereka berada didepan pintu rumah kontrakan Jihan bersama sang Mami. Dengan tidak sabaran Jihan ingin membuka pintu, padahal kunci saja belum di tekan tetapi karena ketidak sabaran Jihan membuka handle pintu.


Ceklek


Deg


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2