Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 94. (Season 2 Twin M)


__ADS_3

"Aku tidak mau," jawab Emily.


Deg


Mendengar jawaban dari Emily membuat Max tak berkutik, perlahan lengan yang menggenggam seuntai bunga terlepas begitu saja.


Melihat itu membuat Emily mengulum senyum.


"Aku, aku mau Tuan melamarku di depan kedua orang tua," kata Emily. "Tetapi statusku seorang Ibu," lirih Emily sembari menunduk.


"Berarti kamu menerima lamaranku?" ujar Max dengan mata berbinar-binar. "Itu tidak menjadi halanganku untuk menikahimu, aku menerima kamu apa adanya. Percayalah cinta ini murni dari hatiku yang terdalam, aku tidak mempermasalahkan statusmu seperti apa sayang," imbuhnya dengan wajah serius Emily dapat melihat itu dari sorot tatapan Max


Emily mengangguk disertai air mata karena ia tidak mampu untuk berkata-kata.


Mendengar hal itu membuat Max ingin melompat kegirangan. Ia segera bangkit, lalu mengusap wajah Emily menghapus derai air mata kebahagiaan.


Cup


"Terima kasih sayang," kata Max sembari mengecup kening Emily cukup lama.


Belum puas sampai disitu. Max mengangkat tubuh Emily lalu memutarkan, sehingga membuat Emily melingkarkan kedua tangannya di leher Max.


"Aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu." Ungkap Max menyatukan kening dengan kening Emily.


"Apa aku tidak salah dengar? hmmm bukankah Tuan sangat membenci diriku?" kata Emily.


"Sayang itu dulu tetapi sekarang sebaliknya. Hmmm maaf atas perlakuan kasarku kepada dirimu dulu. Sungguh aku minta maaf," ungkapnya dengan wajah sendu.


"Tidak mau," desis Emily langsung berlari menyelusuri tanaman bunga.


Max mengulas senyum lalu mengejar Emily. Saat ini mereka seperti film Bollywood.


"Sayang tunggu! Jangan kencang nanti kamu jatuh," teriak Max cukup khawatir jika wanitanya terjatuh.


Bruk


Awww


Apa ya g dikatakan Max barusan terjadi sudah. Emily tersandung akar bunga sehingga membuatnya tersungkur.


"Mana yang sakit?" Max memeriksa seluruh tubuh Emily, saking tidak sadarnya sampai ke bagian inti.


"Cukup Tuan," henti Emily karena sudah kelewatan batas, walaupun Max melakukannya diluar kesadarannya.


"Tuan? sekarang aku bukan Tuan kamu tetapi calon suami, jadi carilah panggilan yang seharusnya," ujar Max tidak menyukai panggilan Emily.


"Jadi aku panggil apa?" tanya Emily, jujur saja dengan masalah beginian ia tidak paham.


"Sayang," ujar lantang Max.


"Apa sebutan itu hanya untuk diriku saja? secara umum anda sang playboy," kata Emily dengan mulut mengerucut. Ia benar-benar tidak menyukai itu, bahkan ia sering memergoki Max bertelepon dengan para wanitanya.


"Tidak sayang ini khusus hanya kepadamu seorang," ujar Max dengan wajah serius.


"Benarkah Tuan?" tanya Emily sengaja mengerjainya.


"Tuan, Tuan! Sayang.....," cetus Max.


Hahaha

__ADS_1


Gelak tawa Emily pecah sehingga membuat Max tersenyum karena baru kali ini melihat tawa lepas dari seorang Emily.


"Baiklah sa-sayang," ucap Emily sedikit canggung karena belum terbiasa.


"Anak pintar,"


Max semakin mendekati Emily.


"Sayang," panggil Max sembari menyisipkan bunga di telinga Emily sehingga menambah aura kecantikan dari Emily.


Cup


Kecupan romantis mendarat di kening Emily. Sehingga membuat raut wajah Emily memerah. Tatapan keduanya bertemu. Max semakin mendekati wajah Emily sehingga deru nafas dari keduanya saling menyapu wajah masing-masing.


Sungguh Max tidak tahan dengan bibir menggoda dari Emily. Dengan jantung berdegup kencang ia berani melakukan itu kepada wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


Cup


Kecupan dahsyat mendarat di bibir Emily. Emily membulatkan mata serta tubuhnya menegang. Tatapan keduanya tidak lepas dengan bibir mereka saling menempel. Merasa tidak tahan tanpa sadar Emily memejamkan mata sehingga itu pertanda lampu hijau bagi Max.


Kini ciuman itu berubah jadi ******* dan ciuman panas dari keduanya menggelora. Cecapan dari keduanya memecah keheningan di padang bunga. Bunga serta kicauan burung menjadi saksi mereka berdua.


Hmmm


Merasa kehabisan oksigen Max serta Emily menyudahi olah raga bibir. Bukan tanpa sebab, Max hanya takut kehilangan kesadaran. Ia tidak akan melakukan hal lebih dengan wanita yang dicintainya sebelum sah menjadi suami-istri. Ia memang seorang CEO terkenal akan sifat playboy tetapi untuk hal yang lebih dalam ia tidak pernah melakukannya. Nasehat dari kedua orang tuanya di junjung tinggi oleh Max, khususnya sang Mommy. Cukup hanya masa lalu sang Daddy saja yang gelap.


Max mengusap ujung bibir Emily sehingga membuat wajah Emily semakin memerah. Emily dapat merasakan bibirnya membengkak atau menebal ulah ciuman panas itu.


"Sangat manis sehingga membuatku candu sayang," ujar Max dengan bahagianya, ia usap pucuk kepala Emily sembari tersenyum.


Kini Max terbaring di rerumputan dengan kepala di pangkuan paha Emily sembari menggenggam telapak tangan, dan sekali-sekali mengecupnya.


"Maaf semuanya terjadi begitu saja. Waktu di Mall ketika kami menemani Tante, tidak sengaja aku bertemu dengan Kak Nuel sehingga aku dibawa pulang," cerita Emily.


"Ketika aku mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirimu melalui pesan Emanuel, apa kamu tau apa yang aku rasakan?" Emily menggeleng dengan tatapan inten. "Aku hampir putus asa karena sisa waktu begitu singkat. Untungnya lokasi hotel tempat acara sialan itu hanya memakan waktu beberapa menit saja dari hotel penginapan kami," ceritanya kembali.


Sejenak Max mendesah.


"Sepanjang jalan pikiranku hanya Emily dan Emily. Aku sangat takut jika aku terlambat, dan dalam sekejap kamu milik orang lain," ungkap Max dengan mata memerah. "Apa kamu tau hal yang paling aku takuti di dunia ini, ketika aku menyadari bahwa aku jatuh cinta bahkan sangat mencintaimu? itu adalah jika kamu milik orang lain sayang," imbuhnya sembari mengecup punggung tangan Emily.


Mendengar ungkapan dari Max tentu saja membuat Emily tercengang dan tidak percaya. Bagaimana mungkin pria yang selalu menindas dirinya ini ternyata memiliki perasaan kepada dirinya.


"Apa benar ketakutan itu kamu rasakan sayang?" tanya Emily karena belum percaya sepenuhnya.


Max mengangguk.


"Ketika Daddy memaksa untuk menikahkan aku kepada pria yang sama, seketika itu juga hatiku hancur. Karena apa? karena aku mencintai seseorang, apa kamu tau siapa itu?" Max menggeleng. "Itu adalah dirimu! Dengan alasan Daddy aku terpaksa setuju, dan terjadilah sampai pada proses itu," Emily menceritakan secara singkat.


"Terima kasih sayang," ujar Max sembari kembali mengecup punggung tangan Emily.


"Kak Nuel memaksa untuk aku berkata jujur sebelum pernikahan itu terjadi. Mau tidak mau aku menceritakannya, dan Kak Nuel sangat terkejut karena aku mencintai seorang CEO terkenal dan sebagainya. Dari situ cecar pertanyaan dari Kak Nuel membuat aku mendengus. Mungkin karena kasihan Kak Nuel menghubungi kamu pada malam itu tetapi sambungannya tak terbalas," cerita Emily.


Emily menghela nafas sejenak sebelum meneruskan ceritanya.


"Ketika hari itu tiba, dari situ aku merasakan hidup tanpa masa depan. Sepanjang melangkah altar pernikahan pandanganku ke seluruh penjuru arah, mencari sesosok orang yang aku cintai tetapi sayangnya aku tak menemukan sesosok itu sehingga membuat dunia seakan kiamat ketika pengucapan janji suci pernikahan dimulai," ungkap Emily dengan mata berkaca-kaca.


Sejenak Emily mengulum senyuman.


"Ketika suara bariton yang sangat aku kenali menghentikan semuanya betapa bahagianya aku. Jika kamu tidak datang tepat waktu entah apa yang terjadi hiks hiks...." Seketika tangisan Emily pecah, sejak tadi ia berusaha menahannya. Ia menangis bukan karena gagalnya pernikahan ini tetapi karena rasa hari, bahagia dan sebagainya.

__ADS_1


Max bangkit dari pembaringannya. Ia usap wajah Emily yang kini dipenuhi air mata.


Cup cup


Ia kecup kedua mata Emily dengan penuh rasa haru.


"Cukup sayang," lirih Max ikut terbawa perasaan.


"Terima kasih sayang kamu datang tepat waktu dan bahkan membalas cintaku," lirih Emily masih dengan terisak.


"Itu sudah takdir kita sayang," ujar Max kini membawa tubuh Emily kedalam pelukannya.


•••••


Kini Emily berada didalam hotel milik keluarga Sywa, dimana tempat Max menginap. Max sengaja membawakan wanitanya karena jujur saja ia masih kecewa dengan kedua ora g tua Emily yang tak lama lagi akan menyandang sebagai mertuanya.


"Sayang aku kangen Jihan," rengek Emily sejak tadi.


"Sayang aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan dirimu, tenanglah aku sudah mengabari Emanuel bahwa kamu sekarang sedang bersamaku," ujar Max.


"Jihan pasti mencari karena ia masih belum terbiasa dengan Opa, Oma." Terang Emily.


"Dia akan baik-baik saja sayang," imbuhnya sembari mengusap pucuk kepala Emily dengan rasa sayang.


"Hmmm semoga begitu! Sayang aku khawatir dengan keadaan kedua orang tuaku setelah kegagalan pernikahan ini," kata Emily memikirkan apa yang terjadi kepada orang tuanya, khusus sangat Daddy.


"Kamu tenang saja sayang, semua sudah diurus Dion," jawab Max.


Emily mengangguk ia yakin bahwa Max bisa melakukan apapun.


"Aku sudah memerintahkan Dion untuk menghubungi Daddy sama Mommy. Besok mereka akan datang untuk menemui calon mertua, hmmm apa kamu ingin tau mendengar kabar itu membuat Mommy menghubungiku sampai puluhan kali panggilan tak terjawab," terang Max.


"Sayang kenapa kamu tidak angkat? sini biar aku yang angkat, lagi pula aku sudah kangen Tante," pinta Emily.


"Jangan sayang aku sengaja melakukan itu karena kita akan jadi kejutan. Bahkan Daddy sama Mommy tidak tau wanita mana yang aku lamar karena Dion sudah aku larang membuka identitas kamu, makanya Mommy terus-menerus menghubungiku. Pasti saat ini Mommy mengutuk diriku, terutama ia tidak akan setuju dengan wanita yang ingin aku lamar, secara ia mengidamkan menantu seperti dirimu bahkan menyukai dirimu sebagai menantunya," ujar Max.


Emily hanya bisa mendesah. Lalu ia memberanikan diri meletakan kepalanya di dada bidang sang kekasih. Mendapatkan hal itu tentu saja membuat Max bersorak-sorai dalam hati.


"Sayang aku akan secepatnya menikahi kamu, dari pada kita berbuat dosa tanpa kita sadari. Pria normal mana yang mampu menahan jika selalu berdekatan begini dengan wanita secantik kamu" ujar jujur Max. "Uhhh pantas saja si Marvel brengse* itu mati-matian menjadikan kamu sebagai istrinya, sampai ingin melakukan poligami," sungut Max sangat tidak suka.


"Uhh baru sekarang mengatakan aku cantik, dulu kemana saja? sok jadi pria bersih padahal sudah celup sana-sini," sungut Emily karena ia tau bagaimana sifat pria yang sudah sah menjadi kekasihnya ini.


"Sayang percayalah jika calon suamimu ini masih perjaka ting ting," ujar Max dengan wajah memelas.


"Ngakunya memang begitu, jika para pencuri, pembunuhan dan lain sebagainya mengaku makan penjara akan penuh," sindir Emily kini kepalanya sudah disingkirkan dari dada bidang Max, hal itu membuat Max mendesah.


"Kamu tidak percaya?" Emily refleks mengangguk. "Apa aku ingin membuktikannya sekarang juga?" goda Max sehingga mendapat tatapan tajam serta mendapat cubitan cukup tersakiti di perutnya.


"Mesum," cicit Emily yang kini merasa malu.


"Bahkan aku tidak paham dengan urusan ranjang, makanya ketika malam pertama kita nanti. Hmmm sebaiknya kita sebelum memulai mencari cara lewat menonton," ujar Max sengaja menggoda Emily. "Oya tetapi kamu sudah berpengalaman," imbuhnya dengan suara pelan, jujur saja ia sedikit kecewa karena Emily terlebih dimiliki pria lain.


Deg


Tentu saja Emily tak bergeming.


Bersambung....


__ADS_1


__ADS_2