Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 92. (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Max merogoh ponsel yang berada dikantong celana yang ia kenakan.


"Nomor baru," gumamnya.


Merasa tidak mengenali nomor tersebut membuat Max mengurungkan niatnya untuk mengangkat. Sudah dua kali ponselnya bergetar, dan tiba-tiba mati sendiri.


"Kehabisan baterai," ujar Max sembari meletakan ponsel di atas nakas.


Merasa kantuk ia pun mengistirahatkan tubuhnya. Rasa lelah dan sebagainya membuatnya ingin cepat tidur.


Hotel berbintang milik keluarga Marvel Satria kini di sulap begitu indah dengan dekorasi bernuansa putih. Sesuai kesepakatan mereka akan melakukan pemberkatan nikah sekaligus mengelar resepsi di hotel tersebut.


Didalam kamar mewah wanita cantik dengan pandangan kosong meratapi dirinya di cermin besar.


"Sebentar lagi statusku akan menjadi seorang istri. Aku menikah dengan pria yang sama sekali aku tidak sukai," gumam Emily di depan cermin. Ia sudah di rias oleh MUA terkenal serta profesional.


"Mami," panggil Jihan masuk menemui Emily. "Wah Mami sangat cantik," puji Jihan.


"Jihan juga sangat cantik," balas Emily melihat Jihan sudah mengenakan gaun pesta.


"Kenapa Mami tidak menikah dengan Uncle tampan?" tanya Jihan dengan polos sehingga berhasil membuat Emily menghela nafas.


"Sayang itu tidak mungkin," jawab Emily dengan mata berkaca-kaca.


Hmmm


Emanuel menghampiri Emily sama Jihan.


"Jihan dipanggil Oma," ujar Emanuel kepada Jihan.


"Baiklah Jihan akan keluar menemui Oma," kata Jihan.


Kini tinggallah kedua Kakak beradik di kamar itu. Emanuel memandangi wajah sendu Emily dengan pandangan kosong.


"Dek tadi malam sudah Kakak hubungi tetapi sayangnya tidak diangkat, bahkan sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi," ujar Emanuel.


Mendengar penuturan Emanuel jelas saja membuat Emily menatap intens kepada sang Kakak.


"Maksud Kakak siapa?" tanya Emily dengan bibir bergetar.


"Siapa lagi jika bukan pria yang kamu cintai. Kak Nuel sudah mengirimkan pesan," ujar Emanuel. "Jika dia mencintaimu maka dia akan datang tepat waktu," imbuhnya.


Emily membulatkan mata mendengar apa yang dikatakan Emanuel. Ia tidak menyangka jika sang Kakak mendukungnya. Emily menceritakan semuanya kepada Emanuel, siapa pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Tentu saja Emanuel sangat kaget mendengar cerita Emily.


"Hmmm Kak Nuel mau tanya sesuatu. Apa kamu pernah mendampinginya ke pesta xx?" tanya Emanuel ketika ingat pada saat itu para rekan bisnis membicarakan bahwa CEO terkenal telah mengandeng seorang wanita cantik.


Emily mendesah.


"Iya, bahkan Ema sempat melihat Kak Nuel bersama dengannya," jawab Emily.


"Jadi kenapa kamu tidak menghampiri Kak Nuel?" tanya Emanuel tentu saja ia kaget mendengar pengakuan sang Adik.


"Kak Nuel sendiri juga tau alasannya," balas Emily.


"Dasar keras kepala, main mengumpat saja. Masih Kak Nuel juga yang membantumu bukan?" ujar Emanuel.


Hahaha


Emily terkekeh kecil tetapi tidak lama wajahnya kembali sendu. Masa depannya bergantung kepada pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


"Tidak lama lagi kamu akan turun, mempelai pria sebentar lagi akan tiba," ujar Emanuel. "Tenanglah jika dia memang mencintaimu dia akan datang tepat waktu," imbuhnya kembali sembari menepuk bahu Emily.


Emily mengangguk


•••••


Atas kesepakatan Cullen sama Aileen akan pergi ke rumah kontrakan Emily. Mereka ingin menemui Emily karena ingin tau urusan apa yang menyebabkan ia pergi selama itu.


"Sayang cepatlah," cicit Aileen sudah tak sabaran. Entah kenapa hati kecilnya mengatakan seperti ada hal yang tidak beres.


"Tunggu sayang, Daddy sisir ribut dulu," ujar Cullen baru saja selesai berpakaian.


"Sayang tanpa sisir pun Daddy sudah tampan," goda Aileen agar sang suami tidak membuang waktu.


"Hmmm sudah pintar menggoda ya?" balas Cullen menggoda.


"Suamiku memang tampan bukan?" kata Aileen. "Dan perkasa," bisik Aileen tepat di telinga Cullen.


"Sayang jangan pancing Daddy. Lihat si monster mata satu kesayangan Mommy langsung terbangun di pagi ini," ujar Cullen dengan mesum sembari menunjuk kepemilikannya.


"Dasar! Belum di apa-apain sudah mengacung," sungut Aileen dengan bibir mengerucut.


"Sayang sepertinya dia lapar, masih ada waktu," goda Cullen secepat mungkin memeluk tubuh Aileen dari arah belakang.


"Sayang cukup kita tidak ada waktu untuk berperang di ranjang," gerutu Aileen berusaha melepaskan pelukan yang sudah mengarah ke arah intim.


"Berperang di sofa saja sayang jika tidak ingin di ranjang," godanya kembali.


Aaaah.....


Pekik Aileen seketika kedua payyyuddaraa di remas oleh tangan kejar itu.


Tanpa sadar keduanya terbawa gaiirahh, dan berakhir di atas ranjang.


"Huh resiko miliki suami mesum," sungut Aileen sembari berlalu ke kamar mandi. Terpaksa ia kembali membersihkan diri karena seluruh tubuhnya sudah lengket keringat, serta bekas jilattann.


Hahaha


Gelak tawa Cullen merasa puas, dan tak lama ia masuk ke kamar mandi.


Kini mereka sudah berada di depan rumah petak milik Emily.


Tok tok tok


"Jihan sayang," panggil Aileen sembari mengetuk pintu.


"Emily, Jihan!" Entah ini sudah yang ke berapa Aileen memanggil tetapi tidak ada sahutan.


"Mungkin mereka tidak berada di rumah sayang," ujar Cullen.


"Bagaimana kita ke rumah Bibi saja sayang," ajak Aileen ke rumah Nenek Lala.


Tok tok tok


Ceklek


"Tuan, Nyonya," gumam Nenek Lala sontak kaget melihat kedatangan Cullen sama Aileen tiba-tiba.


Mereka dipersilahkan masuk. Aileen memberitahu kedatangan mereka. Ternyata selama seminggu ini Emily tidak berada di rumah, serta Jihan juga tidak ada.

__ADS_1


Akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong.


"Sebenarnya apa yang terjadi sayang?" lirih Aileen sembari memijit ujung keningnya. "Hubungi putra kita," titahnya.


Cullen melakukan apa yang diperintahkan sang istri.


"Ponselnya di luar jangkauan sayang, inilah kebiasaan putra kita," omel Cullen.


"Hubungi Dion, kebetulan malam tadi Dion menyusul Max bukan?" kata Aileen.


"Mommy benar," balas Cullen langsung menghubungi Dion.


•••••


Di hotel mewah Max masih terlelap. Dion terpaksa membangunkannya karena mendapat telepon dari kedua orang tua Max.


"Ada apa Dion? kau menganggu acara tidurku saja," umpat Max dengan wajah masam.


"Tuan ini telepon dari Tuan sama Nyonya," ujar Dion sembari menyodorkan ponsel ke Max.


Hmmm


Dengan mata terpejam Max menerima ponsel itu.


"Halo Dad, Mom!" Sapa Max.


"------------------------"


"Apa? baik Mom,"


Mendengar cerita dari sang Mommy membuat Max langsung bangun. Tidak ingin berlama-lama ia langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Max didepan cermin besar didalam kamar hotel.


Max sudah rapi. Seketika ia meraih ponsel yang tadi malam di charger. Lalu mengaktifkan kembali. Matanya menyipit melihat puluhan panggilan tak terjawab dengan nomor yang tidak di kenal. Dan ratusan pesan dari berbagai nomor, hanya satu pesan dari nomor yang tak terjawab. Merasa penasaran Max membuka pesan itu. Seketika matanya terbelalak kaget. Jantungnya berdebar membaca pesan singkat penuh makna itu.


"Jika Tuan mencintainya, segera datang ke hotel x siang ini. Acara pemberkatan dimulai jam 12. Emily akan menikah!"


Begitulah pesan singkat itu.


"Hah tidak mungkin," gumam Max dengan tubuh melemas.


•••••


Di hotel


Emily turun didampingi oleh kedua orang tuanya yaitu Tuan Bintara dan Nyonya Sania. Tidak ada senyuman di wajah Emily maupun Sania. Sepanjang melangkah di atas altar Emily mengedarkan pandangannya mencari sesosok yang bisa menyelamatkan pernikahan terkutuk ini. Tetapi ia menelan pil pahit menerima kenyataan itu karena sesosok itu tidak ada.


Dari kejauhan Marvel menyunggingkan senyuman menawannya, bagaimana tidak akhirnya ia berhasil menikahi Emily wanita yang sudah lama ia sukai bahkan cintai.


Kedua orang tua Emily menyerahkan Emily kepada mempelai pria.


Kini mereka telah berdiri dihadapan Pendeta untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Lagi-lagi Emily mengedarkan pandangannya ke penjuru arah, berharap sosok itu tiba dan membatalkan pernikahan ini. Tetapi sekali lagi ia menelan pil pahit karena sosok yang diharapkan tidak pernah datang. Pandangan Emily tertuju kepada Emanuel. Emanuel menggelengkan kepala dengan wajah sendu, karena tidak sanggup melihat raut wajah sang Adik membuatnya menunduk.


"Kamu sangat bodoh Ema, terlalu berharap!" Batin Emily menertawai kebodohannya.


Kini tiba saatnya untuk mereka mengucapkan janji suci pernikahan.


"Emalia Bintara, sa------"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2