Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 65 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Dengan langkah gontai Emily naik lift menuju tingkat terakhir gedung itu. Kedua kakinya bergetar hebat menuju ruang sang CEO.


Duk duk


Bunyi dentuman sepatu seseorang membuat Dion menghentikan kegiatan menatap layar laptop.


"Selamat pagi Tuan, saya yang bernama Emily," kata Emily berdiri di depan meja Dion.


Dion menegakkan wajahnya menatap sesosok itu.


Deg


Seketika Dion terpesona melihat paras cantik itu, ia yakin wanita itu tidak cocok menjadi cleaning servise.


"Tuan," panggil Emily.


Hmmm


"Mari saya antar," Dion bangkit dan membawa Emily masuk ke ruangan sang CEO.


Tok tok tok


"Masuk," suara bariton dari dalam.


"Maaf menganggu Tuan. Ini Nona Emily karyawan baru bagian kebersihan," kata Dion.


"Berikan data dirinya padaku," ujar Max dengan posisi membelakangi.


"Ini Tuan," Dion meletakan map biru di atas meja kebesaran sang CEO. "Jika begitu saya permisi," Dion mengundur diri melanjutkan pekerjaannya.


Max meraih map tersebut masih dengan posisi membelakangi Emily. Sedangkan Emily berdiri mematung dengan wajah menunduk sembari meremas jari-jemarinya, sungguh ia merasa sesak berada di ruangan semewah ini untuk pertama kalinya.


Max mulai menyimak data diri Emily.


Nama : Emily Luisa


Usia : 24 tahun


Status : Ibu satu anak


Kening Max mengerut membaca data diri Emily. Kenapa statusnya ibu satu anak? seharusnya sudah menikah atau belum menikah.


Emily memejamkan mata ketika data dirinya dibacakan.


Max segera memutar kursi kebesarannya sehingga tepat dihadapan Emily yang tengah tertunduk. Max memperhatikan Emily dari ujung kaki sampai ujung rambut tetapi sayangnya wajah Emily tersembunyi karena akibat menunduk.


"Angkat wajahmu! Sangat tidak sopan," ujar Max sehingga membuat Emily Sinta kaget.


"Maafkan saya Tuan," kata Emily mengangkat wajahnya sehingga tatapan keduanya bertemu.


Deg


"Ya ampun ternyata Tuan CEO sangat tampan," batin Emily karena sewaktu di lapangan tadi ia hanya berdiri dengan wajah menunduk sehingga ia sama sekali tidak memandang ke arah sang CEO. "Sadarlah Emily, jangan pernah bermimpi," batinnya dengan darah berdesir.


"Usia 24 tahun sudah memiliki satu anak? tetapi dari poster tubuhnya seperti masih gadis," batin Max kembali memperhatikan Emily dari bawah ke atas.


Emily seperti orang pencuri yang ingin di interogasi. Karena sorot mata Max menyoroti setiap jengkal tubuh bak model itu.

__ADS_1


"Jadi kau orang yang dimaksudkan? apa kau sudah tau jika perusahaan hanya membutuhkan 10 karyawan kebersihan?" ujar Max tidak suka.


"Maaf Tuan, kemarin saya dihubungi pihak kantor," jawab Emily apa adanya.


Hmmm


"Sesuai peraturan kantor anda terpaksa aku coret dari daftar karyawan lolos," ujar Max dengan tegas.


Deg


"Tapi Tuan. Saya sangat butuh pekerjaan ini, saya mohon," mohon Emily. "Apapun pekerjaan yang diberikan saya akan kerjakan yang penting saya dapat kontrak kerja di sini," imbuhnya Emily de gan tangan memohon.


"Tidak ada yang berani membantah keputusanku," ujar Max dengan mata tajamnya.


"Saya mohon Tuan, saya sangat butuh pekerjaan ini," mohon Emily kembali.


"Sepertinya dia sangat butuh pekerjaan ini, apa aku kerjain saja. Dan aku ingin melihat kegigihannya itu," batin Max dengan senyum menyeringai.


"Aku beri kesempatan tetapi kau bekerja setelah karyawan semua pulang sampai tengah malam. Aku ingin melihat kinerja kau selama 1 bulan, jika kau lolos maka kau mendapatkan kontrak kerja di perusahaan ini," ujar Max. "Apa kau bersedia?"


"Saya bersedia Tuan. Terima kasih," jawab Emily dengan senang.


Semula raut wajah itu murung kini berseri-seri. Bahkan ia tidak memikirkan resiko kerja di malam hari di kantor sebesar itu. Emily memang di kenal wanita pekerja keras serta tidak takut dengan apapun kecuali ada satu hal yang sampai saat ini yang ia takuti.


Hmmm


"Kapan saya mulai bekerja Tuan?" Emily memberanikan diri untuk bertanya.


"10 tahun lagi," ujar Max sembari memain-mainkan pena mahal miliknya. "Mulai hari ini," sambungnya.


"Baik Tuan. Sekali lagi terima kasih atas kesempatan ini," kata Emily sembari tersenyum.


Jam kerja kantor telah usai. Satu-persatu para karyawan meninggalkan gedung besar dengan ratusan tingkat itu. Sedangkan Emily baru tiba di kantor. Ia menggunakan seragam khusus yang tersedia oleh perusahaan.


Di lobby Emily berdiri sesaat.


"Nak ada perlu apa kembali datang setelah jam kerja kantor telah usai?" tanya seorang satpam yang bertugas dinas malam.


"Saya kerja Pak, saya diberi kesempatan mendapat kontrak kerja disini. Asalkan saya lolos menerima tantangan ini selama 1 bulan," terang Emily.


"Maksud kamu kerja di malam hari?"


"Iya Pak," jawab Emily.


"Baiklah, jika ada apa-apa segera kabari saya, karena saya bertugas shift malam," kata sang satpam.


"Terima kasih Pak," balas Emily.


Di ruang khusus karyawan kebersihan sudah menunggu kepala kebersihan. Ia memandu Emily, tugas apa saja yang akan ia kerjakan.


Dengan semangat 45 Emily berjalan menuju lantai teratas dimana letak ruang CEO.


"Jihan semua ini untuk kamu sayang. Mami akan berjuang demi kebahagiaanmu," gumam Emily sepanjang jalan.


Tiba di meja asisten Dion. Emily tercengang melihat tontonan yang tidak lazim baginya.


"Maaf saya tidak sengaja," kata Emily sembari menundukkan wajah tidak ingin melihat kemesraan itu.

__ADS_1


"Ternyata yang dikatakan orang-orang tentang CEO perusahaan ini benar adanya," batin Emily karena memergoki hal yang tidak ingin dilihatnya.


Mendengar seseorang datang membuat keduanya melepaskan tautan bibir mereka. Max menoleh ke asal suara, dan ia tau jika karyawan kebersihan yang telah memergoki mereka.


"Kau pulanglah," ujar Max kepada wanita yang baru saja ia cumbu.


"Tapi beb aku masih kangen," jawab wanita manja itu.


"Hmmm besok masih ada waktu," ujar Max dengan wajah datar.


"Itu hanya janjimu saja beb, nyatanya wanita baru lagi," gerutu wanita manja itu.


"Aku tidak ingin mendapat bantahan," suara Max sedikit meninggi. Sehingga membuat Emily mendongak memberanikan diri memandang keduanya.


"Baiklah," gumam wanita itu dengan cemberut.


Cup


Kecupan mendarat di pipi Max karena ciuman itu tiba-tiba begitu saja.


Emily membulatkan mata melihat keberanian wanita itu.


"Apakah tidak ada tempat lain untuk begituan? mata suci aku ternoda," gerutu Emily dalam hati.


"Apa tugas kau berdiri saja disitu?" suara bariton menyadarkan Emily.


"Maaf Tuan," jawab Emily.


"Bersihkan ruangan ini terlebih dahulu baru ke ruangku," ujar Max sembari bangkit.


"Apakah Tuan tidak pulang? maaf jika saya lancang," Emily memberanikan bertanya karena matahari sudah terbenam.


"Kau mengaturku? siapa dirimu? baru saja bekerja sudah berani bertanya. Ini kantorku dan sesukaku mau pulang atau bermalam," ujar Max dengan tatapan tajamnya.


"Maafkan saya sudah lancang Tuan," kata Emily tidak berani menatap mata tajam itu.


Emily mulai merapikan berkas yang bertumpuk di atas meja kebesaran Dion yang memang sengaja di berantakan oleh Max sebelum Emily datang.


Setiap merapikan berkas tentang bisnis Emily teringat dengan cita-citanya semasa kecil ingin menjadi sekretaris. Tetapi takdir mengubah segalanya, ia tidak dapat melanjutkan sekolah.


Merasa cukup Emily melanjutkan ke ruang CEO.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban. Sedangkan pintu dibiarkan terbuka setengahnya.


"Tuan permisi," panggil Emily didepan pintu.


"Tuan permisi," entah sudah berapa kali ia memanggil tetap tidak ada jawaban.


Tidak ingin membuang waktu. Emily masuk begitu saja. Ia tidak ingin pekerjaannya terbengkalai.


"Ya ampun ruangan apa ini? apakah aku salah masuk? perasaan tadi pagi ruangan ini sangat rapi," gumam Emily dengan mata membulat serta mulut menganga melihat ruang CEO sangat berantakan.


Ceklek


Ahhhh.....

__ADS_1


Teriak histeris Emily.


Bersambung....


__ADS_2