Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 17


__ADS_3

•••••


Hari ini Mia serta Max akan berangkat ke Ibu kota. Mia mewakili Provinsi x ikut perlombaan seni lukis yang diikut sertakan 34 provinsi di Indonesia. Mia juga mengikuti lomba Bahasa Inggris di Ibu kota, kebetulan Ibu Cintaka mendapat informasi. Anak berusia 6 tahun ini menguasai 5 bahasa asing yaitu Mandarin, Inggris, Spanyol, Prancis, Portugis. Entah dari mana mereka mempelajari semua itu sang Mommy tidak pernah tau, yang pastinya didalam kamar banyak bermacam buku yang masih layak untuk dibaca.


Sedangkan Max mau dikirimkan Uncle Berry keluar negeri selama 1 minggu. Max memiliki kemampuan di bidang teknologi, bisnis, dengan kejeniusannya anak berusia 6 tahun ini mampu menciptakan beberapa aplikasi yang cenderung berkaitan dengan dunia bisnis. Berkat kejeniusannya Max berhasil membantu pihak petinggi bagian administrasi RS memecahkan selisih di bagian dana masuk serta keluar akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab alias korupsi dengan cara rapi. Sedangkan yang pemilik selalu Direktur RS yang dikenal pintar tidak dapat menemukan dimana letak kerugian itu, sampai pemilik yayasan pulang begitu saja karena ada yang lebih penting dari itu. Melihat keahlian Max, Uncle Berry ingin mengirimnya keluar negeri untuk membantu sepupunya yang dalam kesulitan. Tidak beda dengan sang Adik, Max juga menguasai 5 bahasa asing yang ada di dunia.


" Apa ini tidak membahayakan Max Ber? " tanya Ai dengan perasaan cemas. Bagaimana mungkin anak berusia 6 tahun akan berpergian jauh tanpa ditemani orang terdekatnya, serta disana negara asing.


" Kamu tenang saja Mom twins, " ucap Berry mengerti dengan kekhawatiran wanita yang mampu memikat hatinya. Sekarang ia memanggil Ai dengan sebutan Mom twins.


" Max sayang apa kamu yakin Nak dengan keputusan------, "


" Max yakin Mom. Mommy jangan khawatir, Max bisa jaga diri, " ucapnya memotong langsung ucapan sang Mommy.


Berry menggeleng kepala dengan senyum-senyum melihat kebiasaan Max yang suka memotong ucapan yang membuatnya begitu yakin, tidak ada ubahnya dengan sepupu keren serta casanova pemilik yayasan itu.


" Bagaimana Mommy tidak khawatir sayang, kalian masih kecil bahkan baru berusia 6 tahun. Kenapa sih kalian memiliki IQ yang luar biasa? "


" Mom seharusnya Mommy bangga kami memiliki kejeniusan yang orang-orang tidak miliki, " cemberut Mia.


" Hmmm tapi karena kepintaran kalian membuat kalian selalu berpergian dan dicari-cari orang, " ucap sang Mommy dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


" Maaf karena Nenek, Mommy kalian tidak bisa ikut, " lirih sang Nenek dengan dada sesaknya, kemarin baru pulang dari RSUD. Penyakit sesaknya kumat.


" Tidak apa-apa Nenek, " ucap si kembar serempak sembari memeluk sang Nenek, keduanya menyayangi wanita paruh baya ini.


" Kesayangan Nenek jaga kesehatan kalian selama berada di sana. Jadilah kebanggaan buat banyak orang, dan tetap rendah hati atas pencapaian kalian. Nenek sangat bahagia memiliki cucu-cucu seperti kalian. Bukan hanya sekedar tampan dan cantik tetapi sangat pintar di bidangnya masing-masing, " ungkap bahagia sang Nenek. " Mungkin kepintaran kalian mengikuti jejak Daddy ka------, "


" Sayang bersiap-siaplah, " potong sang Mommy karena mendengar apa yang diucapkan oleh sang Mama, ia tidak ingin membahas itu pada saat ini.


Berry dan si kembar dapat melihat perubahan di wajah Ai ketika disinggung mengenai Daddy si kembar.


" Bagaimana caranya aku menanyai soal Daddy si kembar jika kamu saja menutupi serta tidak ingin membongkar statusnya, " batin Berry sembari menatap wajah Ai yang sibuk mengemasi atau memasukan pakaian si kembar M kedalam koper. Sudah pernah Berry menanyai soal itu kepada Nenek si kembar tetapi ia tidak mendapatkan jawaban karena wanita paruh baya itu tidak ingin ikut campur. Ia menyerahkan masalah itu pada putrinya, jika Berry ingin mengetahuinya lebih baik bertanya langsung ke orangnya.


" Mommy percayakan kepada putra-putri Mommy yang jenius ini, suatu saat kami akan mengajak Mommy serta Nenek naik pesawat " ucap Mia membanggakan diri dan berharap ucapannya tercapai.


" Mom kami memang masih berusia 6 tahun tetapi pemikiran kami sudah dewasa, bahkan melampaui orang dewasa pada umumnya, " timpal Max dengan gaya cool serta angkuhnya. Membuat sang Mommy serta Uncle Berry menggeleng kepala sembari mengulum senyuman, atas sikap Max mengingat keduanya kepada seseorang.


" Tante Lili serta Om Matheo pasti akan syok terkejut melihat wajah 11 12 bocah jenius ini, " batin Berry. " Hmmm bagaimana jika nanti mereka bertemu, apakah keduanya menyadari bahwa mereka sangatlah mirip, hanya usia saja yang membedakan mereka, " sambungnya kembali.


" Ayo jika sudah siap kita akan segera berangkat. 20 menit Helikopter akan lepas landas, " ucap Uncle Berry memasukan barang bawaan kedua si kembar kedalam bagasi mobil. Mereka ke RSUD menggunakan mobil karena disanalah terdapat lapangan Helikopter milik SYWA GRUP.


" Ber aku percayakan putra-putriku padamu. Aku titip mereka selama disana, " ucap Ai dengan mata berkaca-kaca melepaskan kepergian kedua buah hati yang sudah banyak berjasa membantunya.

__ADS_1


" Kamu jangan khawatir, mereka sudah kuangap anak-anakku sendiri hmmm, " sahut Berry tanpa melihat sorot mata Ai karena ia tau jika wanita itu akan terdiam jika sedikit disinggung.


" Mommy, Nenek Max serta Mia pergi. Jaga diri Mommy dan Nenek ya? " ucap keduanya.


Ai memeluk kedua buah hatinya dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Ia tidak berhenti menciumi silih berganti wajah kedua si kembar sampai-sampai membuat keduanya merasa geli.


" Cukup Mom, " tegas Max dengan gaya dewasanya. " Seperti anak bayi saja, " setelah mengatakan itu ia langsung masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan sikap menyebalkan sang Mommy. Karena tidak segampang itu mendapat kesempatan untuk mencium putra sulung sok dewasanya itu.


" Haha sok dewasa sekali kamu sayang, " kekeh sang Mommy.


" Mom, Mia pergi ya. Mia akan merindukan Mommy serta Nenek, " ucap Mia mengecup sekali lagi pipi mulus sang Mommy. Jika sikap putrinya ini 11 12 dengannya.


Berry serta si kembar sudah berada dalam mobil. " " Da..... da... Mommy, Nenek, " teriak Mia dari dalam mobil, sedangkan Max sibuk dengan laptop hasil bonus dari pihak RS.


" Da... da..... sayang..... hati-hati selamat sampai tujuan, " balas sang Mommy dengan suara meninggi. Ai memandang mobil itu sampai menghilang dari pandangannya.


" Semoga kalian selamat sampai tempat tujuan sayang, Mommy selalu merindukan kalian, " gumamnya dengan pandangan jauh kedepan.


Melepas kepergian seorang anak tidak seperti melepas hewan peliharaan. Walaupun hanya sementara tetapi rasanya sangat sulit karena kehadiran mereka di rumah menjadi berwarna.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2