
•••••
Bruk
" Awww, " jerit Ai karena tubuhnya saling tabrakan dari arah bersamaan menuju rombongan.
" Maaf, " ucap pria itu.
Duarr
Bagai langit terbelah yang dirasakan keduanya setelah mengetahui siapa yang ditabrak dan menabrak.
" Dek! "
" Kak Exsel! "
Seru keduanya dengan mata membulat serta mulut menganga. Tatapan keduanya saling bertemu dengan tidak percaya.
Buk
Pikiran sudah buntu dan saking rindunya Exel memeluk tubuh Ai begitu saja. Mendapat tubuhnya dipeluk membuat tubuh Ai menegang.
" Dimana kamu selama ini Dek? " benarkah ini kamu Aileen? kamu menghilang begitu saja tanpa jejak, " ungkap Exsel dengan mata berkaca-kaca.
Bagai nyawanya hilang Ai hanya bisa terdiam mematung, ia tidak membalas pelukan itu dan membiarkan pria yang menjadi bagian hidupnya dimasa lalu mengungkapkan isi hatinya.
" Lepas Kak! " lirih Ai seketika sadar atas apa yang terjadi.
" Mommy! " teriak Mia dengan jarak beberapa meter.
Deg
Membuat Ai dan Exsel menyadari. Keduanya dapat melihat sorot mata dari semua orang. Tak terkecuali Cintaka istri dari Exsel.
Sedangkan Mama Leni dan Ine membungkam mulutnya tidak menyangka jika mereka bertemu dengan Exsel di Mansion ini.
" Exsel! " Gumam Mama Leni serta Ine bersamaan.
" Jadi Max dan Mia adalah putra-putramu Dek? " tanya Exsel tidak menyangka.
Ai terdiam tidak tau harus menjawab apa. Yang pasti pikirannya kacau. Wanita cantik itu tidak pernah menyangka jika bertemu dengan mantan tunangannya apalagi bertemu di Mansion mewah ini.
Ai memberanikan diri menatap kumpulan orang, disana matanya bersirobok dengan Cullen. Tidak tahan Ai memutuskan pandangan itu.
Kedua tangan Cull terkepal erat, sorot matanya tajam menghujam. Bagaimana mungkin seseorang memeluk wanitanya dihadapan banyak orang, serta didepan matanya sendiri. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Papa kamu butuh penjelasan, " tatapan menghujam Cintaka kepada Exsel. Wanita mana yang tidak sakit melihat suaminya sedang memeluk seorang wanita dengan raut wajah yang sulit dijabarkan, serta mendengar kata-katanya.
Deg
Ai tertekun ternyata mantan tunangannya adalah suami dari guru lukis putrinya. Ai menelan sakitnya harus berbuat apa, seketika perasaan kacau menghinggap dirinya.
Exsel tidak menjawab pertanyaan sang istri. Pandangannya masih lekat kepada Ai.
" Dek jawab dan jelaskan semuanya padaku! " Exsel benar-benar tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya, padahal disini ada istri dan kedua mertuanya.
Ai menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
" Kenapa kamu meninggalkanku tanpa persetujuan ku? " ujar Exsel kembali sembari mengguncang kedua bahu Ai.
" Aku yakin kedua orang tuamu sudah menceritakan semuanya padamu Kak, " lirih Ai dengan derai air mata yang sudah tidak mampu ia tahan lagi.
" Tidak! aku tidak percaya semua itu. Apa kamu tau selama ini aku terus mencari keberadaanmu karena aku butuh penjelasan langsung darimu, " ungkap Exsel.
Deg
Mata Ai kembali membulat. Bagaimana mungkin mantan tunangannya masih berusaha mencari keberadaannya, sedangkan dia sudah berumah tangga.
Tidak beda dengan Cintaka, wanita seorang pelukis Internasional ini sudah tidak tahan melihat hal itu. Seluruh tubuhnya melemah, yang pasti hatinya perih seperti di sembilu mendengar penuturan dari sang suami untuk wanita lain.
" Semua sudah selesai Kak, " jawab Ai memundurkan tubuhnya sehingga membuat kedua tangan Exsel terlepas di bahunya.
" Kamu memutus secara sepihak, " ujar Exsel dengan nada meninggi membuat semua orang terbelalak kaget.
Seketika membuat Ai terus mundur sembari menggelengkan kepala.
" Aileen, tunggu! " Exsel berteriak memanggil Ai yang sudah berlari meninggalkan taman Mansion menuju gerbang.
__ADS_1
" Exsel! " teriak Cintaka dengan perasaan hancur karena sang suami ingin mengejar Ai. Tanpa peduli Exsel melangkahkan kakinya.
" Ex-----, "
" Cinta! " seru semua orang mendapati tubuh Cintaka merosot ke rerumputan dengan tidak sadarkan diri.
Exsel menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. Matanya membulat melihat istrinya pingsan. Ia mengurung niatnya untuk mengejar Ai dan menghampiri sang istri.
Cull melihat hal itu mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak pernah menyangka jika wanita yang berhasil merebut hatinya adalah punya hubungan dengan Kakak iparnya.
Plak
" Singkirkan tanganmu pada putriku! " bentak Mami Lili seketika. Wanita paruh baya itu melayangkan tamparan di wajah menantunya. Bayangkan saja Ibu mana yang tidak kecewa atas sikap menantunya yang baru saja di pertontonkan. " Pergi kamu dari sini, " teriak bercampur tangisan.
" Sayang bawa Kakakmu ke RS, " titah Mami Lili merasa khawatir dengan kondisi putri keduanya karena wajah Cintaka sangat pucat serta ujung tangan kakinya dingin.
Keluarga Sywa bergegas membawa Cintaka masuk ke mobil menuju RS.
" Oma, Mia ikut, " ucap Mia sehingga menghentikan langkah Oma.
" Semua ini karena ulah Mommy kalian, " Oma Lili seketika tidak sadar atas ucapannya.
Deg
Mendengar hal itu membuat Mia serta yang lainnya menegang. Ucapan Oma Lili sangat menghujam. Seketika bocah cantik itu meneteskan air mata, ia tidak percaya atas ucapan Oma yang dikenalnya baik serta menyayangi mereka.
" Mami jaga ucapan! mereka tidak tau apa-apa, " sanggah Opa Matheo. " Max, Mia lebih baik kalian pulang, ini sudah malam. Maaf atas ucapan istri saya, " Opa Matheo tidak enak hati dengan keluarga Mama Leni.
" Tidak apa-apa Tuan. Maaf semuanya jadi berantakan begini, " wanita paruh baya ini merasa tidak enak hati.
" Kimmy bawa cucu-cucuku ke mobil, aku ingin bicara dua mata dengan Mama Leni, " titah Tn. Matheo.
Kini tinggallah Tn. Matheo dengan Mama Leni.
" Hmmm apa mereka punya hubungan? " tanya Tn. Matheo.
" Benar Tuan, tapi itu dulu, " jawab Mama Leni. " Exsel adalah calon tunangan putri saya 8 tahun yang lalu, selama ini mereka belum pernah bertemu, " ungkap Mama Leni dengan nada sesaknya karena kembali memutar memori dimana mereka dihina dan diusir dari rumah.
" Calon tunangan? " Gumam Tn. Matheo.
•••••
1 minggu berlalu
Kini hubungan Cintaka dan Exsel renggang. Cintaka memilih tinggal sementara di Mansion orang tuanya, sedangkan Exsel masih di rumah milik mereka.
Sepulang dari rumah sakit Cintaka selama seminggu ini tidak ingin bertemu dengan suaminya. Exsel ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya. Bahkan mertua perempuannya juga tidak ingin melihat batang hidung menantunya.
Ternyata Cintaka dinyatakan hamil usia 4 minggu. Kabar bahagia serta kabar buruk datang secara bersamaan. Selama 8 tahun mengarungi bahtera rumah tangga kini kabar bahagia mereka rasakan.
Tidak hanya renggang kepada Exsel saja, ternyata ini berlaku juga kepada keluarga Aileen khususnya si kembar.
Selama itu juga Ai berdiam di rumah. Tokoh kue Ine yang menghandle.
Seperti hari ini Ai terpaksa ke tokoh karena dimintai Ine.
" Ada masalah apa In sehingga tidak bisa melalui telepon? " tanya Ai seketika tiba di tokoh.
" Begini Ai Tn. Cullen memesan kue kesukaannya tetapi Tuan ingin kamu sendiri yang mengantar ke kantornya, " Ine memberitahukan karena ia dihubungi oleh Asisten Akas.
Ai tertekun bagaimana mungkin ia akan pergi ke kantor, bahkan akan bertemu dengan Cull. Walaupun dalam benaknya ia merindukan pria itu karena sudah seminggu mereka tidak saling temu, bahkan saling mengirim pesan.
" Apa tidak bisa salah satu kalian yang mengantar? " Ai menolak untuk mengantar pesanan kue itu.
" Ai dengar aku, semakin kamu menghindari masalah ini maka semakin rumit. Hadapi semuanya oke! " saran Ine karena mengerti dengan apa yang terjadi.
Sesaat Ai mencerna ucapan Ine dan memahaminya.
" Baiklah! Siapkan pesanan tersebut aku akan segera mengantarkannya, " akhirnya setelah dipikir-pikir Ai bersedia mengantar kue pesanan Cull.
Kini wanita berparas cantik itu telah berdiri didepan gedung besar bertingkat ratusan. Ai menegak kepalanya keatas memandangi ketinggian gedung kantor perusahaan " SYWA GRUP " ini adalah pertama kalinya ia akan menginjakan kaki di kantor itu.
Tiba di lobby ia menghentikan langkahnya karena ia mendengar namanya dipanggil.
" Aileen! "
Ai membalikan badan kebelakang.
__ADS_1
Deg
" Kak Exsel, " gumamnya dengan raut wajah cemas, kini tubuhnya menegang.
" Dek, tunggu sebentar saja, " Exsel berlari sembari menyerukan Ai. Sehingga Ai terpaksa menghentikan langkahnya.
" Ada apa lagi Kak? " Ai berusaha menahan amarahnya karena ia tidak ingin dituduh merusak rumah tangga orang.
" Hmmm kamu kesini ada perlu apa? " tanya Exsel, matanya menangkap paper bag di tangan Ai.
" Aku-aku-------, "
" Hem hem, " deheman seseorang membuat keduanya menoleh.
Deg
Mata Ai membulat dengan tubuh menegang. Pria yang ia rindukan kini berdiri dihadapannya dengan sorot mata serta raut wajah tidak bersahabat. Ai memutuskan tatapannya, sungguh hatinya perih melihat sorot mata asing itu baginya.
" Cull Kakak ingin bicara kepadamu! Tolong bantu Kakak, " ucap Exsel memohon bantuan kepada sang Adik ipar untuk membantunya.
" Aku tidak punya waktu untuk mengurus itu! " seru Cull dengan tatapan dingin.
" Akas katakan kepada kedua orang ini agar segera meninggalkan lobby, " perintah Cull tanpa memandang, pria itu melanjutkan langkahnya kembali memasuki kantor.
Akas mengikuti perintah Tuannya. Akhirnya Ai mengikuti Akas memasuki kantor.
Di tempat meja Resepsionis sedang ribut.
" Tolong Aunty izinkan Mia ke ruangan Daddy, " rengek Mia berkali-kali.
" Siapa Daddy kalian? " tanya salah satu Resepsionis yang baru bekerja.
" Daddy tampan pemilik perusahaan ini Aunty, " jawab Mia.
Atas jawaban Mia membuat kedua Resepsionis dan beberapa karyawan disana tertawa lepas. Menertawai pengakuan konyol Mia menurut mereka.
" Dengar bocah kecil, kamu salah alamat, " bentak salah satunya karena hampir 20 menit Mia menganggu pekerjaan mereka.
Tap tap tap
Derap sepatu melengar menuju arah meja Resepsionis. Mia menoleh.
" Daddy! Panggil Mia langsung menerobos memeluk erat kaki Daddy tampan yang berdiri mematung. " Daddy, Aunty-Aunty ini tidak memperbolehkan Mia ke ruangan Daddy. Kata Aunty-Aunty cantik ini larangan dari Daddy, apakah benar Dad? " tanya Mia sembari menangis menegak wajahnya keatas ingin menatap wajah dingin sang Daddy.
Cull tidak menjawab bahkan menatap Mia. Dalam benaknya bocah mengemaskan ini adalah anak dari hubungan Ai dengan Kakak iparnya, itulah pikiran yang menguasai diri Cull semenjak kejadian itu.
" Daddy! " Seru Mia kembali sembari mengguncang-guncang kedua kaki tegap itu.
" Tidak! Dia bukan Daddymu, " tiba-tiba suara itu membuat semua orang menoleh. " Adikku bukanlah Daddymu, sejak kapan dia menjadi Daddymu? "
" Aunty cantik, " Panggil Mia kaget dengan ucapan Cintaka.
" Kakak, " gumam Cull sedikit cemas.
" Aku juga bukan Aunty seperti yang kamu katakan," ucap lantang Cintaka, amarah sudah menguasai dirinya.
" Aunty?! " Lirih Mia dengan tangisan, merasa tangannya tidak kuat menggenggam kedua kaki kekar sang Daddy membuatnya terlepas. Bocah kecil ini merasakan kesedihan mendalam.
" Kebetulan itu Mommymu, tanyakan kepadanya siapa sebenarnya Daddy kalian, " tunjuk Cintaka kepada Ai serta Max. Ternyata Max menyusul Adiknya sehingga ia juga berada dan melihat tontonan menyedihkan itu.
Bocah lelaki itu mengepalkan kedua tangannya.
" Mommy, " panggil Mia terisak berlari kearah sang Mommy yang terdiam mematung.
" Mommy katakan kepada Mia dan kepada semua orang disini siapa Daddy kami yang sebenarnya? tunjukan kepada semua orang disini Mom, jika kami memiliki sesosok Daddy, " isak Mia tetapi kata-katanya lantang.
Ai berjongkok merengkuh tubuh Mia membawa ke pelukannya. Bulir bening sudah tidak bisa ia tahan kan lagi, hatinya tersentak, terenyuh mendapati pertanyaan putrinya yang tidak dapat ia jawab sampai kapanpun.
" Katakan Mom jika Mia juga memiliki sesosok Daddy seperti teman-teman Mia, "
Deg
Bersambung....
__ADS_1