
Berry Mengalah
•••••
Hari ini disela kesibukannya Berry ingin bertemu bahkan berbicara empat mata dengan sepupunya Cull. Selama kejadian itu mereka belum saling bertemu. Berry berinisiatif mengajak Cull untuk bertemu di sebuah bar milik sahabat mereka. Cull menyetujui ajakan pertemuan itu karena ada perihal juga yang ingin dibicarakannya.
Tiba di klub
" Hai Brother apa kau sudah lama menunggu? " tanya Cull yang baru tiba di meja dimana Berry tempati.
" Selalu begitu! " desis Berry memutar bola matanya malas.
" Sorry Brother ada sedikit kendala, " Cull menduduki sofa yang berada dihadapan Berry. " Hmmm kau ingin membicarakan apa? hmmm jangan bilang jika ini bersangkutan dengan wanitaku! " Ujar Cull langsung ke intinya.
" Wanitaku, wanitaku! Kalian saja belum resmi jadi masih milik bersama. " Goda Berry.
" Enak saja, dia Ibu dari anak-anakku itu berarti dia hanya akan menjadi wanitaku, " ujar Cull tidak ingin kalah.
" Aku tidak ingin bahas itu, " ucap Berry. " Aku ingin bertanya padamu, apakah kau hanya menginginkan Aileen karena terobsesi atau ada hal lainnya? " tanya Berry dengan wajah seriusnya, ia harus tau agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan karena ia tau masa lalu sepupunya ini.
" Tutup mulutmu! Aku ingin menikahinya karena aku mencintainya dan selalu mencintainya Sampai kapanpun, " ungkap Cull.
" Aku pegang perkataan kau! " Berry dapat melihat keseriusan di wajah dan kedua bola mata Cull, bahwa ucapannya tidaklah bohong. " Kenapa sampai saat ini kau belum juga melamarnya? jangan membuang waktu karena banyak pria disekelilingnya yang mengantri mengejar cintanya, " Berry sengaja menggoda Cull.
" Siapapun pria itu akan ku musnahkan! " Seru Cull menatap tajam. " Sangat sulit untuk menyakinkan dia, sudah beberapa kali aku mengungkapkan perasaanku tetapi selalu tidak membuahkan hasil. Dialah wanita yang pertama menolak seorang Cullen, padahal wanita-wanita di luaran sana berebut melemparkan dirinya pada seorang Cullen, " ucap Cull sembari memijit pelipisnya.
" Mereka hanya menginginkan hartamu saja atau hanya sekedar menikmati ranjang panas dengan kau saja, tidak ada yang akan serius. Hmmm itulah keunikan dari Aileen, dia sangat berbeda dengan wanita lain, " ungkap Berry mengagumi Ai.
" Itulah yang membuatku tergila-gila padanya. Aku ingin membayar kesalahanku dimasa lalu dengan membahagiakan mereka, " ungkap Cull tidak main-main. " Sepertinya sedikitpun dia tidak menaruh hati padaku, " Cull mendesis jika memikirkan perasaan Ai kepadanya.
" Apa mungkin dia masih menyimpan nama Kakak ipar di hatinya? secara itu cinta pertamanya. Kau tau apa makna cinta pertama bukan? cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan, bahkan sulit untuk move on, " Berry semakin memanas-manasi Cull, ia senang melihat tatapan mematikan sang sepupu.
" Sittt! " Umpat Cull sembari mendobrak pembatas sofa. Perkataan Berry berhasil membangkitkan amarahnya.
" Kau tenang saja, apa kau ingin mengikuti usulanku? agar kau mengetahui hatinya, " Berry ingin memberi usulan pada Cull.
" Apa? dia bukan wanita yang gampang, " jawab Cull menyebabkan semangatnya hilang.
" Sini aku bisikan! "
Berry membisikan sesuatu kepada Cull.
" Apa ini akan berhasil? atau malah menghancurkan semuanya? " tanya Cull tidak yakin karena rencana yang dirancang Berry berisiko besar dan dapat mempengaruhi hubungan yang mulai mendekati.
" Kau tenang saja, hanya ini yang bisa membuktikannya, " jawab Berry.
" Baiklah, jika gagal kau yang menanggung resikonya, " ancam Cull.
__ADS_1
" Oke! "
•••••
Menjalankan Rencana
Seperti biasanya jam makan siang Cull akan menghampiri Ai ke toko kue. Untuk hari ini dia bersemangat akan memulai rencana yang telah diusul dan direncanakan Berry.
Tidak butuh lama Cull menapakkan kaki di toko kue milik Mommy twins.
" Hmmm, " Cull berdehem sehingga membuat keseriusan Ai teralihkan.
" Rey kamu sudah tiba? " ucap Ai merapikan cara duduknya yang sedikit tidak sopan.
" Hmmm, "
" Apa kamu sudah makan? " tanya Ai seperti biasanya jika Cull sudah tiba.
" Apa kau punya waktu? aku ingin mengajakmu makan siang diluar, " ungkap Cull.
Ai berpikir sejenak.
" Aku tidak memaksa jika kau tidak punya waktu. Kalau begitu aku permisi ingin menjemput twins dan mengajak mereka untuk menemaniku makan siang, " Cull bangkit dari tempat duduknya.
Ai menyipitkan kedua matanya, sikap Cull hari ini sangat berbeda dari sebelumnya.
" Karena kau setuju aku membatalkan mengajak twins, lagipula mereka hari ini ada tambahan belajar, " ujar Cull seenak hati.
" Dasar php, " gumam Ai tetapi masih dapat didengar Cull.
" Semakin mengemaskan, " Cull menyentil pelan hidung mancung Ai.
" Huss! " Ai mendegus sebel.
Cull mengajak Ai kesebuah Restoran yang berada di tepi sungai. Ia ingin mendapat ketenangan di sana untuk berbicara dengan Ai.
" Ini sangat indah, " kagum Ai mendapati pemandangan dan ketenangan di sana. Cull sengaja memilih meja yang tertutup agar tidak ada yang menganggu.
" Apa kau menyukainya? " tanya Cull.
Ai mengangguk sembari memandangi tempat itu.
" Habiskan makananmu, ada perihal yang ingin ku bicarakan, " ucap Cull mulai menikmati hidangan yang mereka pesan.
Cull mengajak Ai berdiri di pinggir tepi sungai yang dibatasi pagar. Dari sana mereka dapat menikmati pemandangan alam disekitar sungai. Riuh air jernih terdengar begitu khas pedesaan.
" Aileen sekali lagi aku bertanya dan inilah terakhir kalinya untukku bertanya, " Cull memulai pembahasan.
__ADS_1
" Ingin bertanya apa? " tanya Ai sedikit bingung dengan tingkah laku Cull yang menampakan sedikit cuek selama mereka bersama karena biasanya pria ini selalu menggombal kepadanya .
" Apakah kau masih belum bisa membalas perasaanku? atau masih tetap menolak untukku nikahi? " tanya Cull dengan sangat serius, tatapannya tidak teralihkan sehingga membuat Ai sedikit gugup.
Mendengar pertanyaan Cull membuat Ai kelabakan untuk menjawab. Ai bingung harus menjawab apa, jujur saja ia sendiri belum mengetahui perasaannya. Tetapi ia tidak mengelak jika saat bersama Daddy twins ia merasa sangat nyaman.
" Aku sudah tau jawabannya, kau tidak perlu menjawab lagi, " tanpa ingin mendengar jawaban Ai, Cull tau jika wanita ini masih ragu padanya atau sama sekali tidak memiliki perasaan kepadanya. Karena selama ini ialah yang selalu memaksa Ai dan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
Cull tersenyum kecut karena kegagalan ini kembali lagi. Tiba-tiba ucapan Berry melintas di ingatannya, sehingga membuat hatinya tercubit.
" Apakah kau masih belum bisa melupakan mantan calon tunanganmu? " ujar Cull sembari memejamkan kedua matanya. " Secara cinta pertama memang sangat sulit dilupakan bahkan tidak bisa move on. Apakah karena itu kau tidak bisa menerima siapapun? " tanya Cull dengan tangan terkepal erat.
Deg
Sontak saja membuat Ai membesarkan mata dan mulut menganga. Pertanyaan atau tuduhan Cull membuatnya kecewa, kenapa pria ini harus menyinggung masa lalunya. Padahal sekarang tidak ada hubungan lagi, bahkan Ai sama sekali tidak pernah mengingatkan Exsel.
" A-aku-----, "
" Hmmm saatnya kita untuk pulang, sebentar lagi aku akan menghadiri rapat, " ujar Cull memotong ucapan Ai sembari memasukkan kedua tangannya di kantong celana bermerek.
" Rey, " lirih Ai ingin menghentikan langkah Cull dengan mata berkaca-kaca.
" Aku tidak ingin terlambat! " Ujar Cull tanpa membalikan badan.
Ai pasrah dan tidak ingin berbicara lagi, ia mengikuti langkah Cull keluar Restoran.
Didalam mobil
Hening begitulah suasana saat ini didalam mobil milik Cull. Biasanya selalu ada yang ingin dibahas tetapi saat ini seakan mulut keduanya terkunci rapat-rapat.
Cull yang konsen menyetir, sedangkan Ai hanya bisa memandang lewat jendela mobil. Pikirannya terus ke Cull, ia heran dengan sikap yang tidak biasa dari Cull.
Tidak butuh lama roda empat berhenti didepan toko kue milik Ai.
Ai turun dari dalam mobil tanpa dibukakan pintu oleh Cull, padahal biasanya pria itu terus yang membukakan pintu untuk dirinya, tetapi kali ini Ai harus mengigit jari.
" Bilang kepada twins akhir-akhir ini aku akan jarang menemui mereka karena pekerjaanku padat. Cabang perusahaan sedikit mengalami masalah, sehingga tidak ada waktu luang untuk bermain dengan mereka. Kau bisa maklumi, " terang Cull tanpa menatap wajah lawan bicaranya, mata dan jarinya sibuk ke benda pipih di tangannya.
" Pekerjaan lebih penting dari apapun, " ucap Ai dengan wajah sendunya, ia berusaha menahan perasaan sedihnya. Tidak ingin berlama-lama Ai menutup pintu mobil. " Hati-hati dijalan, " ucap Ai yang selalu mengingat Cull jika ia pulang. Ai berusaha tersenyum dibalik pintu mobil.
Cull dapat menyadari perubahan raut wajah Ai. Sebenarnya ia tidak tega bersikap cuek begitu tetapi ini sudah kesepakatan yang mereka rencanakan.
Tanpa mendengar jawaban Cull, Ai melangkahkan kaki masuk kedalam toko kue miliknya.
" Maafkan aku! " Gumam Cull memandangi punggung Ai sampai menghilang.
Bersambung.....
__ADS_1