Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 67 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Hari berganti minggu. Tak terasa Emily sudah melewati ke 3 minggu. Berarti tinggal seminggu lagi masa training itu.


Setelah usai membersihkan satu lantai Emily berhenti sejenak. Makan malam tiba ia merasakan lapar. Emily pergi ke pantri khusus karyawan bagian cleaning servise.


Emily merebus tiga pop mie. Setelah siap Emily membawakan ke lobby dimana satpam sering bercakap-cakap.


Melihat kedatangan Emily senyuman menyungging di bibir dua pria itu.


"Pak malam ini kita makan pop mie," kata Emily sembari meletakan napan berisi tiga box pop mie.


"Non tau saja jika kita lapar," jawab Pak Supri.


"Kau ini selalu saja merasa lapar," ujar Pak Niko.


"Ayo segera dimakan Pak mumpung masih panas," kata Emily.


Ketiganya mulai menikmati pop mie buatan Emily.


Hmmm


Deheman seseorang menghentikan ketiganya.


"Selamat malam Tuan," sapa kedua satpam.


"Ikut aku," tunjuknya kepada Emily.


"Baik Tuan," jawab Emily. "Pak titip pop mie aku dulu," imbuhnya kepada kedua satpam.


"Bawa saja karena akan lama, ada pekerjaan banyak," ujar Max seakan paham.


"Pak aku permisi dulu," kata Emily lalu mengikuti langkah Max dari belakang.


Melihat kepergian Max dan Emily berbagai pertanyaan dari kedua satpam itu.


"Tuan sama Nona Emily cocok ya yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik," kata Pak Supri.


"Cocok si cocok tetapi perbedaan mereka jauh. Tuan orang kaya raya serta playboy, sedangkan Nona Emily orang sederhana dan bahkan memiliki anak," timpal Pak Niko.


"Paras cantiknya membuat adem ayem dan membuat tambah semangat hmmm,"


Bukk


Tinjuan melayang di perut buncit Pak Supri.


Awww


"Ingat anak istri di rumah," ujar Pak Niko sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


Di ruang CEO


"Maaf Tuan bolehkah saya habiskan ini dulu?" kata Emily menunjukan pop mie yang ada di tangannya.


Emily memberanikan duduk di sofa dan ingin melanjutkan menikmati pop mie yang mulai mengembang.


"Tu-----," seketika mata Emily membulat karena tiba-tiba pop mie itu disambar oleh Max dan langsung memakannya. Emily tak percaya seorang CEO seperti Max tidak merasa jijik memakan makanan dari sisa makanannya.


"Ambil bungkusan itu, makanlah! Titah Max menunjukan bungkusan berisi kotak makan di atas meja kebesarannya.


Emily mengikuti perintah Max, kebetulan ia memang lapar. Seketika senyuman kecil melengkung di bibirnya melihat makanan itu.


"Apa ini buat saya Tuan?" tanya Emily sebelum menikmati makanan itu.


"Apakah ada orang lain disini selain kita? kecuali penunggu kantor ini," ujar Max.


"Maksudnya penghuni bagaimana?" sungguh Emily penasaran dan dia tidak menyadari sekarang berhadapan dengan siapa.


"Penghuni atau penunggu kantor ini semacam makhluk kasat mata, bahkan didalam ruangan ini ada penunggunya," Max ingin mengerjai.


"Hah...." Emily ketakutan langsung memeluk Max dari belakang, kebetulan Max bangkit berdiri ingin mengambil minum.


Deg


Darah Max berdesir hebat merasakan pelukan erat dari Emily. Sedangkan tubuh Emily bergetar hebat, sungguh baru kali ini ia ketakutan atau merasakan takut dengan perkataan Max. Bukan hanya sekedar darah, jantung Max juga berdegup kencang apa lagi jemari Emily meremas baju kemejanya tepat berada di dada bidang itu.


Prang....


"Hantu," seru keduanya. Seketika keduanya saling berpelukan, bahkan Max membalik tubuhnya.


"Apakah benar-benar ada penghuni kantor ini," batin Max.


"Hah apakah itu penghuni yang dimaksudkan Tuan barusan?" batin Emily merasakan bulu romanya merinding.


Bunyi pecahan kaca tepat diarea ruang kerja Dion. Tiba-tiba pintu terbuka.


Aaakkk


Teriak keduanya semakin ketakutan.


"Maafkan saya Tuan," tiba-tiba suara bariton itu membuat kesadaran Max maupun Emily kembali normal. "Saya tidak sengaja saya pikir tidak ada orang didalam," ujar Dion kembali.


Secepat mungkin Max maupun Emily melepaskan dekapan mereka.


"Huhh," keduanya menghela nafas ternyata itu bukan hantu melainkan Dion.


"Apa yang kau lakukan disini? kau membuat jantungku ingin meledak," ujar Max dengan wajah murkanya.

__ADS_1


"Maaf Tuan," jawab Dion sembari menundukkan kepala.


"Sejak kapan Tuan takut dengan yang namanya mahkluk kasat mata?" batin Dion merasa heran.


Emily merasa canggung ia merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya ia melakukan hal memalukan seperti itu. Sedangkan Max santai saja bahkan ia menganggap hal itu biasa saja.


"Baiklah saya permisi Tuan," kata Emily ingin segera keluar dari tempat yang membuatnya sesak.


"Kau belum membersihkan ruangan ini, seenaknya saja mau pergi," decak Max menatap tajam.


"Maaf tetapi sepertinya Tuan akan melakukan pekerjaan," kata Emily.


"Dion itu berkas yang harus kau kerjakan malam ini karena besok akan segera di presentasikan," ujar Max sembari menunjukan dimana letak berkas itu.


Dengan segera Dion meraih berkas itu karena ia tidak ingin berlama-lama di ruangan itu.


"Baiklah Tuan saya permisi," pamit Dion sembari tersenyum menatap Emily yang juga menatapnya. Bahkan Dion merasakan detak jantungnya tidak normal akibat senyuman mempesona seorang Emily.


Sedangkan kening Max mengerut melihat tatapan aneh dari Dion, lalu mengikuti sorot mata Dion tepat berpusat di wajah cantik Emily. Bahkan baru kali ini Max melihat senyuman mempesona dari Emily. Selama ini wanita itu tidak pernah tersenyum kepada dirinya.


"Hmmm jika sudah selesai silahkan pulang untuk segera mengerjakan tugas yang kuberikan," sindir Max.


Dion tersenyum canggung ia benar-benar tidak sadar, lalu segera meninggalkan tempat itu untuk mengatur detak jantungnya.


"Jika makananmu sudah habis segera lakukan pekerjaanmu, aku akan tidur disini malam ini," ujar Max tanpa memandang Emily yang terdiam mematung.


"Baik Tuan, terima kasih atas makanan ini," kata Emily tanpa tersenyum.


Dengan cepat Emily menghabiskan makanan itu karena ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.


Setelah di ruangan kerja usai Emily masuk kedalam kamar pribadi Max yang sengaja pintunya tidak ditutup rapat. Dengan hati-hati Emily membersihkan kamar itu karena ia melihat sang CEO sudah terlelap. Ia tidak ingin menganggu waktu istirahatnya dan bahkan tidak ingin bertatap muka karena jujur saja ia sangat canggung dengan apa yang terjadi tadi.


Emily masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan lantai kamar mandi. Emily tersenyum di pantulan cermin karena puas dengan hasil kerjanya.


"Uumm harum," gumam Emily menghirup aroma kamar yang sudah wangi, ia sengaja memilih pengharum yang nyaman dihirup serta menyegarkan.


Emily membasuh wajahnya sebelum keluar.


"Sangat melelahkan," gumamnya, tetapi seketika wajah manis Jihan terbayang. Seketika rasa lelah itu hilang begitu saja. "Demi masa depan kamu Mami rela banting tulang sayang, besok pagi sampai sore Mami akan bekerja di toko bunga," imbuhnya.


Emily keluar, sesaat ia terdiam menatap arah kasur. Max tertidur dengan posisi telungkup sehingga wajah tampannya tersembunyi dibalik bantal.


Emily menutup pintu dengan hati-hati. Lalu meraih tas selempang miliknya dan segera meninggalkan ruang kebesaran sang CEO.


√ Roll 2 bab lagi


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2