
Sepulang dari pesta Jihan terpaksa menginap di rumah Nenek karena sang Mami tidak kunjung datang untuk menjemputnya. Sampai keesokan hari Jihan tetap setia menunggu. Tetapi Emily tidak juga kunjung datang.
"Nenek kenapa Mami belum juga menjemput Jihan?" tanya Jihan sudah sangat merindukan sang Mami.
"Entah sayang, coba kita ke rumah," jawab Nenek Lala.
Akhirnya mereka pergi ke rumah Emily yang tidak terlalu jauh.
Tok tok tok
"Emy, Emy," panggil Nenek Lala tetapi tidak ada jawaban.
"Mami, Mami," panggil Jihan tetapi tetap tidak ada jawaban.
"Sepertinya Mami tidak ada di rumah Nenek," kata Jihan.
"Mungkin sudah berangkat kerja," timpal Nenek Lala.
Jihan dan Nenek Lala kembali pulang.
*****
Di kantor Max hanya terdiam di ruangannya. Lama dia menunggu tetapi Emily tidak kunjung datang, membersihkan ruangannya seperti biasanya.
"Kemana dia, dasar lelet," umpat Max.
"Dion segera ke ruanganku!"
Setelah menghubungi Dion, Max menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya.
"Selamat siang Tian," sapa Dion.
Hmmm
"Apa kau tau karyawan yang bertugas membersihkan ruanganku?" ujar Max.
"Nona Emily maksud Tuan?" kata Dion.
"Siapapun itu namanya tidak penting bagiku, yang kutanya karyawan itu," ujar Max tidak ingin tau siapa nama itu.
"Sepertinya Nona Emily tidak masuk Tuan," tebak Dion.
"Jika belum yakin jangan asal tebak. Segera tanyakan kepada kepala bagian kebersihan," titah Max.
Tidak ingin mendapat amukan lagi Dion segera berlalu menuju bagian cleaning servise.
•••••
Setelah mendapat informasi Dion segera ke ruangan sang CEO.
Tok tok tok
"Masuk," suara bariton dari dalam.
"Maaf jika saya menganggu Tuan. Saya sudah mendapat informasi jika hari ini Nona Emily tidak masuk kerja tanpa izin," terang Dion takut-takut.
"Dasar seenaknya, dia pikir ini perusahaan nenek moyang dia," amarah Max sembari mengepalkan kedua tangannya.
Dion terdiam ia juga tidak tau apa alasan Emily tidak masuk kerja karena dia termasuk karyawan yang rajin dan patuh dengan peraturan perusahaan.
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaanmu," ujar Max sembari memijit ujung keningnya.
Setelah kepergian Dion, Max bangkit dan berdiri menghadap kaca lebar yang membentang didalam ruangan itu.
"Apa dia benar-benar berhenti dari pekerjaan ini? seperti yang dia katakan. Berani sekali dia, apa dia mampu membayar denda yang sudah tertera?" gumam Max pada dirinya sendiri.
Sesaat Max kembali duduk.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" ujar Max kembali sembari menjambak rambutnya.
•••••
Hiks hiks hiks
Tangisan Jihan selama 1 minggu terus menerus. Keberadaan Emily tidak ada yang tau. Mereka tidak mendapat kabar. Nenek Lala ingin membawa Jihan ke Mansion keluarga Sywa, bertujuan untuk mencari keberadaan Emily.
"Jihan jangan menangis lagi. Nenek akan membawa Jihan ke rumah keluarga Sywa," kata sang Nenek sehingga membuat Jihan menghentikan tangisannya.
"Benarkah itu Nenek?" tanya Jihan belum terlalu yakin.
"Iya Jihan, sekarang bersiaplah," titah Nenek Lala.
Sungguh Jihan sangat senang karena ia berharap sang Mami dapat ditemukan.
Tiba di gerbang Mansion bukan mereka bisa masuk. Mereka harus melaporkan dulu.
"Maaf Pak kami ingin menemui Tuan, Nyonya Sywa," kata sang Nenek.
"Apa kalian sudah membuat janji?" tanya sang satpam yang tidak mengenali Jihan.
"Belum Tuan," jawab sang Nenek dengan jujur.
"Paman bilang saja Jihan yang ingin bertamu," kata Jihan.
"Baiklah tunggu sebentar," ujar sang satpam.
Didalam Mansion Aileen sedikit tidak percaya jika Jihan datang ingin menemuinya tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Bawa segera masuk, lain kali jangan halangi dia masuk kedalam Mansion. Dia adalah bagian dari keluarga ini," Aileen memperingati.
"Maafkan saya Nyonya," jawab sang satpam.
Jihan menyunggingkan senyuman mendengar mereka diperbolehkan masuk kedalam Mansion.
"Oma hiks hiks hiks," tiba-tiba datang Jihan langsung menangis.
"Jihan sayang ada apa? apa ada yang menyakiti Jihan? atau Jihan sakit?" tanya Aileen bertubi karena merasa khawatir.
"Mami Oma, Mami hiks hiks," isak Jihan sembari mendekap Aileen.
"Sayang tenang dulu. Jihan minum dulu," kata Aileen langsung meminta air putih kepada sang pelayan.
Jihan mengikuti apa yang dikatakan Aileen. Setelah melihat Jihan tenang baru Aileen bertanya.
"Bibi sebenarnya ada apa?" tanya Aileen kepada Nenek Lala.
"Begini Nyonya. Emily Maminya Jihan sudah 1 minggu ini menghilang begitu saja tanpa kabar. Maminya Jihan mulai tidak pulang ketika dimana Jihan menghadiri pesta Nyonya," terang Nenek Lala.
"Iya Oma hiks hiks," seketika tangisan Jihan pecah kembali.
__ADS_1
Tap tap
Derap sepatu terdengar.
"Apa yang terjadi sayang?" tiba-tiba Cullen datang.
"Daddy sudah pulang?" tanya Aileen mengabaikan pertanyaan sang suami yang baru pulang dari kantor karena ada hal yang dibahas dengan Max putra mereka. "Daddy duduk dulu, akan Mommy jelaskan," imbuhnya.
Hmmm
Cullen menatap Jihan sedang terisak dipeluk oleh sang istri.
"Maminya Jihan menghilang sayang sudah 1 minggu tanpa ada kabar," jelas Aileen.
"Kok bisa?" tanya Cullen sedikit aneh. Masa orang dewasa bisa menghilang, begitulah yang ada dibenak Cullen.
"Begitulah kenyataannya sayang, kasian Jihan sudah seminggu ini terus menangisi Maminya yang tak kunjung pulang," kata Aileen ikut merasakan bagaimana perasaan Jihan selama itu.
"Jihan terakhir ketemu Mami kapan?" tanya Cullen ingin mencari titik terang.
"Malam ketika Jihan pergi menghadiri pesta perayaan ulang tahun Opa sama Oma," jawab Jihan.
"Jihan tau sore itu Mami mau kemana?" tanya Cullen lagi.
"Kerja Opa. Mami jika sore bekerja di toko bunga tetapi Jihan tidak tau dimana tempat Mami kerja," kata Jihan dengan polos.
"Bibi, apa Bibi tau toko bunga tempat dimana Maminya Jihan bekerja?" tanya Cullen kepada Nenek Lala.
"Maaf Tuan, Bibi juga tidak tau," jawab Nenek Lala.
Semuanya terdiam. Cullen maupun Aileen berpikir dalam, tentang alasan bagaimana bisa Maminya Jihan pergi tanpa meninggal pesan.
•••••
Max sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Emily. Karena 1 minggu Emily tidak masuk kerja dan bahkan tidak ada surat pengunduran diri. Max tidak tinggal diam lagi. Ada perasaan kehilangan sosok Emily yang selalu berdebat dengan dirinya.
Tok tok tok
Max mengetuk pintu rumah kontrak milik Emily, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Max sudah dapat memastikan jika pemilik rumah tidak berada di rumah.
"Apakah ini benar alamat yang diberikan Dion?" gumam Max kembali mencocokkan alamat di kertas yang ia genggam. "Betul ini alamatnya," imbuhnya kembali.
"Apa Tuan ingin mencari Emy?" tiba-tiba seorang wanita paru baya menghampiri Max yang dapat dipastikan tetangga Emily.
"Emy,"ujar Max dengan kening mengerut.
" Emily maksud Ibu," kata wanita paru baya itu.
"Iya," jawab Max.
"Sudah 1 minggu ini Emy tidak pulang, bahkan kami di komplek ini tidak mengetahui keberadaannya yang tiba-tiba menghilang. Kasian putrinya selalu menangis mencari Maminya," jelas wanita itu.
"Jadi dimana putrinya sekarang?" tanya Max ingin tau.
"Dia berada di rumah Neneknya," jawab Ibu itu.
"Apa Ibu tau dimana rumah Nenek Lala?" tanya Max.
Wanita paru baya itu menunjukan rumah Nenek Lala. Tanpa ingin berlama-lama Max melangkah menuju rumah Nenek Lala.
__ADS_1
Bersambung....