
Hari ini Aileen ke kantor putranya ingin mengantarkan makan siang buat Max. Max sendiri yang meminta ingin dimasakin makanan kesukaannya. Dengan senang hati Aileen memasak makanan kesukaan Max
Di dapur ia bernyanyi kecil sembari mengaduk-aduk wajan.
"Hmmm sepertinya Mommy sangat bahagia?" tanya Cullen tiba-tiba datang dengan tangan melingkar di perut Aileen, memeluk dari arah belakang.
"Sayang mengejutkan Mommy saja," kata Aileen masih melanjutkan aktivitasnya di wajan.
"Mommy wangi sekali membuat Daddy ingin seperti ini terus," ujar Cullen ingin menggoda.
"Sayang lepaskan Mommy sulit untuk bernafas," kata Aileen karena pelukan itu cukup erat.
Hmmm
Dengan terpaksa Cullen melepaskan lingkaran tangannya di tubuh sang istri.
"Mommy masak makanan kesukaan boy? apakah putra kita akan makan siang di Mansion?" tanya Cullen karena ia hafal makanan kesukaan putra sulungnya.
"Tidak sayang tetapi Mommy yang mengantarkannya ke kantor," jawab Aileen.
"Selalu merepotkan istriku," desis Cullen.
"Sayang dia putra kita," ujar Aileen sembari menghela nafas.
"Seperti raja saja, memangnya dia tidak bisa mengambil sendiri?" imbuhnya kembali.
"Mulai deh," cibir Aileen sembari mengelus rahang kekar itu. "Apakah Daddy ingin ikut?" tawarnya.
"Tentu saja. Daddy tidak ingin mata para pria lapar mengagumi Mommy tanpa ada Daddy di samping Mommy," sangat posesif.
"Sudah tua Dad," Aileen menghela nafas.
"Walaupun tua Mommy tetap mempesona dan para pria di luaran sana tidak menyangka jika Mommy sudah berumur dan memiliki dua anak." Ujar Cullen sembari menatap wajah cantik itu.
"Mereka semua sudah tau jika Mommy adalah istri seorang Cullen Sywa, mana mungkin mereka berani melirik Mommy." Jawab Aileen.
"Siapa bilang sayang," sambungnya.
"Beruntung jika begitu," kata Aileen. "Hmmm Mommy ingin merasakan milik orang lain," bisiknya.
"Sayang!" Teriak Cullen dengan suara meninggi. Sungguh perkataan Aileen membuatnya murka.
"Awas Mommy ingin siap-siap berdandan cantik," ujar nya menahan tawa tanpa memperdulikan wajah muram sang suami.
"Daddy ikut." Dengan cepat Cullen mengejar sang istri untuk bersiap.
__ADS_1
•••••
Roda empat membawa Cullen bersama Aileen menuju kantor. Mereka menggunakan supir pribadi. Cullen memang tidak ingin menyetir sendiri karena konsentrasinya selalu untuk sang istri.
Tiba-tiba didepan mini market mobil di rem mendadak sehingga mengakibatkan kepala Aileen terbentur kursi didepannya.
Awww
Ringisnya
"Apa kau bisa menyetir?" bentak Cullen murka karena melihat istrinya meringis kesakitan.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja. Didepan sana ada anak kecil, kemungkinan tersenggol," kata sang supir dengan wajah pucat pasi.
"Apa?" teriak Aileen tanpa berpikir ia turun begitu saja.
Hiks hiks hiks
Tangisan bocah cantik membuat Aileen berlari untuk menghampirinya.
"Anak cantik apa kamu baik-baik saja?" tanya Aileen dengan lembut.
"Sakit, sakit," lirih nya sembari menangis. "Mami sakit Mi," serunya memanggil orang tuanya.
"Sayang sini biar Oma obati," Aileen menggendong bocah cantik itu membawanya ke dalam mobil.
"Dad ambilkan kotak obat," perintah Aileen karena kotak obat selalu tersedia didalam mobil untuk kepentingan mendadak seperti saat ini. "Sayang tahan ya biar Oma obati agar tidak infeksi," kata Aileen menuangkan alkohol dingin ke kapas dan langsung membersihkan luka itu dengan tiupan dari mulutnya.
"Perih," ringis anak kecil itu.
Aileen dengan telaten mengobati luka itu.
"Selesai," Aileen menghela nafas. "Maaf ya sayang semua ini salah kami," kata Aileen minta maaf.
"Tidak Oma, Jihan yang salah tidak melihat mobil ketika ingin menyeberang." Jawab anak kecil itu.
"Nama kamu Jihan? makna cantik seperti orangnya. Hmmm Mami kamu kemana sayang? kenapa mau menyeberang sendiri?" tanya Aileen penasaran karena sejak tadi orang tua Jihan tidak mencari keberadaan putrinya.
"Mami tadi masuk ke gedung besar itu Oma. Sedangkan Jihan disuruh tunggu disini," kata Jihan sembari menunjuk gedung itu.
"Apa kamu tau tujuan Mami ke sana?" tanya Aileen sedikit penasaran.
"Mami bilang ingin bekerja di sana Oma setelah kemarin gagal karena Mami datangnya terlambat," terang Jihan menirukan keterangan Maminya.
"Terima kasih Oma, Opa. Jihan mau keluar," pinta Jihan.
__ADS_1
Hmmm
"Setauku perusahaan lagi menambah karyawan di bagian cleaning servise. Apa mungkin Mami bocah cantik ini melamar jadi cleaning servise?" batin Cullen.
"Baiklah kebetulan Oma sama Opa ingin ke kantor itu. Ayo Riko jalankan mobilnya," titah Aileen kepada sang supir.
"Tidak Oma itu kantor tidak sembarangan orang masuk, kemarin saja Jihan tidak dibolehkan masuk sehingga Jihan menunggu Mami di depan mini market ini," kata Jihan memberitahukan. "Mami juga melarang Jihan menerima tawaran orang yang baru kita kenali," kata Jihan begitu polosnya.
Mendengar perkataan Jihan membuat Aileen maupun saling mandang dengan saling menghela nafas berat. Begitulah peraturan perusahaan mereka karena tidak bisa sembarangan orang yang memasuki kantor demi keamanan kantor.
"Kamu tenang saja sayang karena kebetulan kami ada keperluan di sana," kata Aileen sembari menyelipkan helaian rambut panjang Jihan yang menghalangi wajah cantiknya.
"Kami bukan orang jahat anak manis. Jika tidak percaya dan kurang yakin tatap mata Opa sama Oma," kata Cullen.
"Tidak Opa, dari sorot mata orang bisa menghipnotis kita," jawab Jihan dengan polosnya.
Tap
Cullen menepuk jidatnya ternyata ia salah berbicara, anak manis itu sangat pintar padahal bukan itu tujuan dari perkataannya.
"Sayang maksud Opa itu tidak seperti itu. Percayalah kami orang baik, jika kami berniat jahat sejak tadi kami membiarkan kamu tergeletak di sini dan menculik kamu." Kata Aileen dengan pelan-pelan menyakini Jihan.
Sesaat Jihan menatap Cullen dan Aileen silih berganti. Batinnya dapat merasakan jika Opa dan Oma yang baru saja ia kenal adalah orang baik.
"Baiklah Opa tampan dan Oma cantik," jawab Jihan dengan polosnya tanpa merasa takut lagi.
"Anak pintar," seru keduanya sembari mengelus pucuk kepala Jihan.
•••••
Di lobi perusahaan SYWA GRUP wanita itu tampak sedih dan rapuh. Sudah berusaha ia memohon agar diterima dan bahkan rela menjadi apapun agar bisa bekerja di sana tetapi tidak ada gunanya lagi ia berlama-lama di sana.
"Oma, itu Mami Jihan," tunjuk Jihan setelah mobil berhenti. Kebetulan sang Mami berdiri tidak jauh dari tempat mereka menepikan mobil.
Cullen serta Aileen dapat melihat jelas raut wajah murung wanita cantik itu. Mereka tau arti mimik wajah itu, ternyata Maminya Jihan tidak diterima bekerja di kantor milik keluarga mereka.
"Baiklah Opa, Oma, Jihan akan menemui Mami. Terima kasih semuanya," kata Jihan langsung turun begitu saja dan bergegas menghampiri Maminya.
"Jihan," panggil keduanya tetapi tidak di dengar oleh Jihan lagi.
Cullen dan Aileen segera turun. Mereka sudah datang sedikit terlambat. Siap-siap menerima umpatan sang CEO playboy.
Jihan Luisa bocah manis dan imut
__ADS_1
Bersambung....