Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 15


__ADS_3

•••••


Tanpa mencicipi hidangan sederhana di atas meja pria yang dijuluki opa Korea terpaksa menahan rasa laparnya. Bagaimana bisa makanan itu masuk kedalam kerongkongan karena mendengar kata-kata tuan rumah.


Tok tok tok


" Aku akan pergi! jangan lupa kunci pintunya" suara bariton itu terdengar begitu lembut. Mungkin saja jika ia sedang bersama sang Asisten akan menjadi bahan tawa karena sikap angkuh, arogan, dan sebagainya hilang begitu saja dihadapan wanita yang tidak dikenalnya.


Kret


Bunyi suara pintu karena engselnya mungkin sudah karatan, itu menandakan pintu terbuka atau tertutup.


Duar.... duar.....


Tiba-tiba suara petir menggelegar memecah keheningan malam di pedesaan yang penduduknya cukup padat. Angin mulai berdatangan pertanda sebentar lagi akan turun hujan lebat. Kilat serta petir masih betah melakukan kegiatannya, disertai hujan lebat.


" Bagaimana caranya aku pergi dari sini? hujan begitu lebat, ponsel pakai ketinggalan lagi, " gumamnya dengan frustasi. Ternyata tetesan hujan membasahi tubuhnya akibat angin menerpa dengan kencang, karena teras itu cukup kecil. " Tidak mungkin aku kembali masuk, tanpa secara langsung dia mengusir ku, " sambungnya dengan tubuh basah kuyup berdiri dibalik pintu.


Didalam kamar Ai mendengar panggilan tadi, ia barusan menyudahi teleponan kepada putra-putrinya serta sang Mama.


" Hmmm apa dia benar-benar sudah pergi? tapi sekarang lagi hujan lebat serta petir, " Ai bangkit dari baringnya, ia kelelahan akibat air matanya terkuras.


Ai mengedarkan pandangannya di seluruh arah dalam rumahnya tetapi ia tidak menemukan sosok pria itu. Tanpa menunggu lama ia menuju pintu utama.


Kret


Sekali lagi engsel pintu terbuat dari papan bekas itu mengeluarkan musik irama memilukan gigi.


Deg


Mata Ai membulat seketika mendapati pria yang sudah diusirnya dengan keadaan basah kuyup berdiri di tepi dinding.


" Bodo*, " gumamnya dengan segera menarik tangan kekar itu membawanya kembali masuk kedalam. Ai bisa merasakan tangan itu begitu dingin, bagaimana tidak pria itu cukup lama di teras. Tanpa melawan pria itu mengikuti langkah Ai seperti anak ayam mengikuti induknya dan ia juga sangat jelas mendengar umpatan bodo* dan baru kali ini ada seseorang yang berani mengatai ia dengan sebutan itu.


" Kenapa kau membawaku masuk lagi? minggir aku akan pergi, " ujarnya dengan sikap seriusnya padahal itu hanya kepuraannya saja, sejujurnya ia menginginkan malam ini menginap disini.


" Maaf, " lirihnya dengan wajah tertunduk.


Tanpa menjawab pria itu melepaskan tangannya dan melangkah menuju pintu.


" Tuan mau kemana? "


" Seperti yang kau mau, "


" Hmmm oke menginaplah disini karena keadaan tidak memungkinkan, "


Seketika seulas senyuman kemenangannya terpancar di wajah pria itu.


" Baiklah karena kau yang meminta, "


" Bukankah dia yang menginginkan menginap disini? aku hanya tidak tega saja, bagaimanapun dia orang baru disini, " batinnya dengan alis bertautan.

__ADS_1


" Segera bersihkan diri, tunggu sebentar aku akan masakin air panas. Sepertinya tuan kedinginan, " setelah mengatakan itu Ai langsung berlalu menuju dapur. Sedangkan pria itu menatap tidak percaya atas apa yang diucapkan Ai, kelihatan ia cuek tetapi sangat peduli apalagi dengan orang yang baru dikenalinya. Pria itupun mengikuti langkah Ai dari belakang.


" Hmmm kenapa harus masak air segala? bukankah semuanya sudah disediakan didalam kamar mandi? " ucap pria itu merasa heran.


" Ini bukan rumah mewah seperti yang tuan katakan, " sahut Ai dengan singkat, ia tau dengan perkataan pria itu. " Awas ini sangat panas, " sambungnya mengangkat panci berukuran cukup besar ke kamar mandi yang sangat sempit. Ia menuangkan air panas kedalam ember besar, sehingga mengeluarkan kepulan asap dari panasnya air itu.


" Segeralah bersihkan tubuh tuan, maaf hanya kamar mandi kecil ini yang ada, " ucapnya disertai senyuman kecilnya, hal itu membuat pria itu terpaku. " Tuan! " serunya karena pria itu menatapnya tidak berkedip, bahkan menyunggingkan senyuman mautnya.


Deg


Darah Ai berdesir hebat mendapat senyuman dari pria yang belum ia ketahui namanya.


" Hmmm, " deheman Ai dan berhasil menyadarkan senyawa yang sempat melayang.


" Hmmm, "


" Ya ampun ini kamar mandi atau apa sih? " gumamnya kesulitan untuk masuk. Ia segera membasuh tubuhnya yang mulai muncul ruam merah di seluruh tubuhnya.


Kret


Bunyi engsel pintu kamar mandi tidak ubahnya dengan pintu utama, semua engselnya sudah karatan.


" Tuan sudah-----, "


Deg


Dengan cepat Ai membalikan tubuhnya dengan jantung berdebar, bagaimana tidak pria maco ini dengan keadaan terbungkus handuk sebatas pinggang. Sehingga menampakan dada kekarnya, membuat Ai menelan salivanya.


Ai melangkah membawa secangkir teh hangat ke ruang utama dan meletakkannya di atas meja terbuat dari bambu.


" Pakaianku basah semua, terus aku pakai apa?, " Ai menepuk keningnya baru sadar jika pria itu tadi basah kuyup.


" Aduh pakaian pria tidak ada di rumah ini, "


" Emang milik suamimu?, "


" Apa tuan tadi tidak dengar trio ratu gosip menjuluki saya JAHE? "


" JAHE? bukankah itu sejenis rempah masakan atau minuman? apa hubungan jahe dengan kau? "


" JANDA HEBAT, "


" Aku suka itu, "


" Hah....??? " Ai melototkan mata dengan mulut menganga atas ucapan pria itu.


" Kau ngomong sama dinding? lawan bicaramu ada didepan kau, " ujarnya dengan sedikit geram karena sedari tadi Ai menghadap tubuhnya ke dinding sembari berbicara.


" Apa bedanya? "


" Apa kau tidak tau sopan santun jika sedang berbicara dengan seseorang? apa matamu bermasalah? wanita diluar sana berebut serta histeris ingin melihat tubuh polosku yang perfek ini? apa kau wanita tidak normal? " si opa Korea sengaja memanasi Ai, ia paham alasan Ai tidak ingin melihatnya.

__ADS_1


" Saya bukan mereka jadi jangan samakan! tuan mengatai saya wanita tidak normal? " Ai mulai terbawa emosi.


" Berarti benar kau adalah wanita tidak normal seperti yang kau katakan beda dengan wanita yang kumaksud, " ia yakin ucapan ini membuat Ai semakin geram.


" Tuan mengatai saya tidak normal? apa harus saya buktikan? " ucapnya menggebu tanpa sadar ia membalikan tubuhnya menghadap pria yang mengulum senyuman menyeringai.


" Buktikan ucapan kau! " masih dengan senyuman. " Lihatlah kau saja menundukkan kepala, berarti ucapan kau hanya omong kosong, " ia semakin memanasi sembari menundukkan wajahnya semakin mendekati Ai.


" Buktikan ucapanmu, " bisiknya dengan nada sensual.


Deg


Bisikan serta nada menggoda itu membuat bulu kuduk Ai meremang. Suara itu mengingatkan ia pada kejadian yang tidak diinginkannya. Tiba-tiba panas dingin serta wajahnya berubah pucat pasi, tubuhnya bergetar. Dengan reflek ia mendorong tubuh kekar itu sehingga membuat pria itu terdorong. Ai langsung berlari masuk ke kamarnya tidak lupa mengunci pintunya terlebih dahulu.


" Ada apa dengannya? dia memang beda serta unik, " pria itu mengulum senyum. " Sepertinya alergiku kumat, " pria itu menggaruk kulit bagian yang gatal, semua kulitnya sudah memerah.


" Aku harus bagaimana? ini sangat gatal sekali, " gumamnya sembari menggaruk. " Apa aku minta tolong padanya? tetapi sepertinya ia marah kepadaku, " ucapnya pada diri sendiri.


Tok tok tok


Tok tok tok


" Mommy twins M.... Mommy twins M.... " panggilnya berkali-kali.


Ceklek


" Ada apa la-----, "


" Ini sangat gatal, "


Dengan cepat Ai menarik tangan pria itu tidak memikirkan lagi atas kepolosan tubuh itu.


" Duduk, " titahnya, ia membuka kotak p3k meraih salep. " Apa tuan alergi dengan air hujan? " tanyanya sembari memberi salep.


" Kenapa kau tau jika aku alergi air hujan? "


" Saya tau karena putra sulung saya juga alergi seperti yang tuan alami.


Deg


Keduanya seketika terdiam sembari mencerna ucapan itu. Ai menatap intens wajah pria yang ada di hadapannya. Seketika membuat darahnya berdesir hebat.


" Wajah ini begitu mirip dengan Max, dan mereka sama-sama alergi pada air hujan. Hidung serta senyumanya mengingatkanku pada Mia, " batinnya tanpa berkedip menelisik rupa wajah sempurna itu. " Hmmm tidak mungkin, kamu jangan konyol Ai, " batin dan pikirannya bertempur, ia segera menggelengkan kepala menepis semua itu.


" Oleskan pakai ini, biasanya akan kembali normal 1 jam kemudian, " terangnya sembari menyodorkan salep tersebut.


" Bagaimana aku bisa mengoleskan semua yang gatal? apa kau tidak bisa membantu? "


" Dasar selalu merepotkan, " desisnya menarik kembali tangan yang menggenggam salep tersebut.


Ai mulai mengoleskan salep itu dari tangan dengan tangan bergetar, degup jantungnya mungkin dapat didengar oleh pria itu. Tidak hanya Ai yang merasakan itu, opa Korea juga merasakan apa yang dirasakan Ai. Sentuhan lembut jari-jari Ai membuat si monster bermata satu meronta.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2