
Deg
Perkataan sindiran Emily mengenai jantungnya. Seketika Max mengingat sesuatu. Walaupun ia tidak begitu kuat mengingatnya.
Sungguh Max menjadi orang sombong dan tega merendahkan Emily dari kalangan bawah. Seandainya orang tuanya tau sikap atau perlakuan Max saat ini jangan harap mereka akan memaafkan Max. Khususnya sang Mommy.
Dengan cepat Max bergegas menyusul Emily. Tetapi wanita rapuh itu sudah secepat kilat menghilang. Bahkan Emily tidak meminta gajinya dan ia keluar toko tanpa permisi kepada siapapun.
Max segera meluncurkan roda empat membelah jalanan padat sembari memperhatikan jalanan sana-sini. Tidak sengaja di jalanan sepi matanya menangkap sesosok wanita mengiring sepeda motor buntutnya.
Mobil itu menepi setelah mendahului wanita itu sehingga membuat sang wanita beserta sepeda motor terhenti karena dihalangi mobil mewah di depannya.
"Dasar orang kaya seenaknya saja menepikan mobil tanpa memikirkan pejalan kaki seperti aku ini," gerutu Emily sembari mengusap peluh di wajahnya. Emily tidak tau jika pemilik mobil itu adalah pria yang menambah penderitaannya.
Hmmm
Deheman itu membuat Emily menadah kepalanya ke atas dan tampaklah wajah yang tidak ingin ia lihat di dunia ini.
"Kenapa dia selalu muncul, aku tidak ingin melihat wajah angkuh dan arogan itu," batin Emily.
"Maaf Tuan bisakah parkir tidak menghalangi jalan pejalan kaki?" kata Emily berusaha berbicara lemah lembut, dan tidak ingin terbawa emosi karena ia sadar telah berhadapan dengan siapa.
"Emang ini jalan Nenek moyangmu? itu masih luas," ujar Max sembari menunjuk jalan lebar yang dilewati banyak mobil. Sungguh Max merasa senang berdebat dengan wanita itu.
"Ada apa dengan sepeda motor butut kau itu?" tanya Max seperti ejekan.
Emily tidak marah di ejek atau dikatai dengan bahasa kasar tentang sepeda motornya karena kenyataannya begitu.
"Bukan urusan Tuan," jawab Emily berusaha mengatur nafasnya, jujur saja ia kelelahan. Seharusnya sekarang ia sudah tiba di rumah tetapi karena jalur menuju jalan rumah ditutup aparat lalu lintas karena ada terjadi kecelakaan sehingga mau tidak mau ia memutar arah.
"Tentu saja itu urusanku karena kau karyawan di perusahaan milikku. Aku tidak ingin mendapat alasan terlambat karena sepeda motor butut itu rusak," ujar Max.
"Ini tidak rusak tapi kehabisan minyak bakar," decak Emily terpaksa mengatakan sebenarnya.
"Sangat ceroboh," sindir Max.
"Permisi Tuan beri saya jalan," pinta Emily ingin segera pergi.
__ADS_1
"Kau tau sedang berhadapan dengan siapa?" Max mulai naik pitam karena tidak dipatuhi Emily.
"Saya tau saya berhadapan dengan manusia bukan seorang hewan," kata Emily tersulut kembali emosi.
"Kau menyamakan aku dengan hewan? begitu hah?" Max benar-benar naik pitam.
Emily menelan ludahnya, bukan itu maksud perkataannya.
"Bukan itu maksud saya Tuan," kata Emily berusaha meredakan emosinya.
"Membalikan fakta," serunya.
Emily tidak ingin meladeni sang CEO karena ia ingin segera tiba di rumah. Tanpa berkata ia berlalu dengan mengiring sepeda motornya.
"Satu langkah lagi kau berani melangkahkan kaki akan aku pecat!" Seru Max dengan suara meninggi.
Seketika membuat Emily benar-benar menghentikan langkahnya. Wanita itu tersulit emosi, ia heran apa mau sang CEO sebenarnya. Bahkan dia sudah memecat dirinya dari toko bunga karena pekerjaannya mengecewakan dan sekarang juga pria itu akan memecat dirinya.
Emily mendorong sepeda motor itu dengan kuat sehingga tersungkur mengenai mobil mewah milik Max. Tentu hal itu membuat Max membulatkan mata dengan tangan terkepal erat.
Emily menghela nafas sembari mengatur emosinya.
"Saya juga berharap dunia ini tidak mempermainkan saya tetapi nyatanya takdir mengatakan jika saya tidak seberuntung orang-orang termasuk Tuan," ungkap Emily sembari mengusap air matanya. "Saya bekerja banting tulang tidak mengenal lelah itu hanya demi untuk masa depan anak saya, semua itu untuk dirinya yang tidak seberuntung seperti teman-teman sebayanya," sambungnya, kembali mengusap air mata yang sudah mengalir deras. Emily juga heran kenapa ia luapkan semua kepada orang yang baru dikenalnya. Selama ini ia menutupi masalah pribadinya, tetapi hari ini ia meluapkan semuanya kepada seorang CEO terkenal.
"Apakah sebegitu besar masalah yang dia hadapi? cukup menarik," batin Max.
"Saya menerima dengan ikhlas pemecatan saya," lirih Emily sembari menyunggingkan senyuman kecil, lalu menggapai sepeda motor itu. Belum saja semuanya terangkat suara bariton itu menghentikan Emily.
Deg
"Baik tetapi kau harus membayar denda sebesar 100 juta karena kau sudah menangani kontrak. Apa kau lupa dalam isi kontrak itu?" ujar Max sembari menyilang kedua tangannya.
"Apa?" gumam Emily dengan mata melotot tidak percaya dengan isi perjanjian kontrak karena jujur saja ia tidak sempat membaca poin-poin sebelum membubuhkan tanda tangan waktu itu. "Menjerat rakyat jelata," gerutu Emily.
Mendengar umpatan Emily. Tanpa disadari Emily pria angkuh itu melengkungkan senyuman di bibirnya.ax yakin ancamannya menakutkan Emily sehingga tidak berani keluar dari perusahaan yang sudah terkontrak dengan dirinya.
"Pencuri," teriak Emily menyadari dua orang pengendara sepeda motor ingin menggasak benda berharga didalam mobil Max karena pintu mobil terbuka kecil.
__ADS_1
"Kurang aja*," Max dengan cepat mencegah para begal.
Salah satu begal berhasil dikalahkan oleh Max.
"Awas," teriak Emily menghambur memeluk Max sehingga serangan dari rekan begal itu mengenai tubuhnya.
Dengan terbirit-birit kedua begal itu lari mengendarai sepeda motor.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Max karena ia tau begal itu melakukan pukulan di tubuh Emily dengan jantung berdebar.
"Tidak apa-apa Tuan," jawab Emily sembari mengigit bibir bawahnya menahan sesuatu yang amat sakit luar biasa.
"Coba aku periksa,"
Dengan gerakan mundur Emily mengurungkan niat Max yang ingin memeriksa bagian tubuh Emily, kebetulan lampu yang menyala di sana tadi ketika mati karena ulah kedua begal sebelum beraksi tanpa mereka sadari karena sedang berdebat sepanjang waktu.
"Maafkan aku," sungguh Emily tidak percaya dengan perkataan yang baru saja diucapkan Max.
Emily menyunggingkan senyuman manisnya sehingga membuat Max terpesona tanpa sadar membalas senyuman Emily.
Dret
Ponsel Max bergetar yang berada dalam kantong celana.
Mommy ❤ calling
"Baik Mom,"
Ternyata yang menghubunginya adalah sang Mommy.
Max membalikan badan seketika ia tidak melihat Emily dibelakangnya. Ternyata wanita itu sudah menjauh sembari mengiring sepeda bututnya memasuki gang kecil.
"Uh seperti jelangkung," gerutu Max padahal ia ingin menawarkan untuk mengantar Emily pulang.
Tidak ingin berlama karena sudah terlambat akhirnya Max melajukan kendara roda empatnya, agar cepat sampai hotel dimana tempat perayaan ulang tahun kedua orang tuanya.
Bersambung....
__ADS_1