
•••••
Wanita berparas cantik meraung menangisi putrinya yang terbaring lemah dengan alat medis terpasang di tubuhnya.
Tiba-tiba bulir bening membendung dikedua pelupuk mata Mia.
" Sayang apa kamu mendengar Mommy? kamu dengar sayang? jangan menangis, jangan takut ada Mommy, Nenek dan Kakakmu disini hiks hiks, " tangis Ai kembali pecah sembari mengusap pelupuk mata Mia.
" Kakak hentikan, kamu hanya membuat Mia ikut sedih. Semua akan baik-baik saja Kak, " ucap Mama Leni langsung mendekap tubuh lemah putrinya yang sangat disayanginya.
" Putriku Mama....! Katakan padanya jangan pernah meninggalkan Kakak. Kakak belum siap untuk itu Mama, lebih baik Kakak yang diposisi Mia hiks hiks.... Dia masih terlalu kecil untuk melewati ini, " raung Ai tanpa memikirkan siapapun lagi dalam ruangan itu.
Semua terenyuh dan sesak mendengar raungan Ai.
" Sayang ini semua salah Mami. Mami minta maaf, karena menyelamatkan Mami Mia terbaring disini mempertaruhkan nyawanya melawan maut, " akhirnya Mami Lili tidak tahan lagi, bagaimanapun ini semua terjadi karena dirinya.
Seketika membuat Ai tertawa miris menoleh kearah Mami Lili.
" Apa Nyonya tidak salah tempat atau orang? Nyonya tidak pernah mempunyai salah kepada saya, tetapi kenapa Nyonya katakan perkataan lelucon itu? " ujar Ai sembari tertawa miris masih dengan berderai air mata. " Apa saya ini sebuah mainan? sehingga Nyonya beri lelucon? " sindir Ai.
" Aileen! " Seru Mama Leni memperingati putrinya karena tidak sopan.
" Mami minta maaf sayang, " mohon Mami Lili.
" Apa salah kami kepada kalian? jika aku punya salah jangan libatkan kepada anak-anakku yang tidak tau apa-apa. Bahkan melontarkan kata kasar yang tidak patut diucapkan. Kalian boleh menghinaku semau kalian tetapi tolong jangan libatkan anak-anakku, " ucap Ai dengan tatapan bergantian menatap semua orang yang berada dalam ruangan rawat Mia.
" Dan buat Tn. Rey jadi ini maksud Tuan mengundang saya datang ke kantor Tuan? ingin mempermalukan kami? kenapa Tuan lakukan itu? apa salah kami pada kalian? kita hanya orang asing, tidak memiliki ikatan tetapi kenapa kalian ikut campur dalam kehidupan kami? " tangis Ai menatap sendu pada Cull.
Deg
Cull sontak kaget mendengar tuduhan Ai, dia sama sekali tidak melakukan itu. Semuanya diluar dugaannya, bahkan ia tidak mengetahui jika Mia serta Kakaknya juga menemuinya di kantor.
Cull menggeleng membalas tuduhan Ai.
" Apa ini semua karena dulu aku memiliki hubungan dengan Exsel? sehingga kalian merubah sikap, bahkan berpikiran negatif? singkirkan pikiran buruk kalian, " teriak Ai sembari meremas baju di dadanya menahan sesak. " Jelaskan kepada keluargamu Kak Exsel dari awal sampai akhir, agar mereka tidak asal menuduh, " imbuh Ai sekali lagi.
__ADS_1
" Sudah Kak, hentikan! Lihat putrimu berjuang untuk melewati ini, " Mama Leni memapah tubuh lemah Ai membawanya kembali duduk.
" Mama siapa orang yang telah berbaik hati mendonorkan darahnya untuk putriku? Kakak ingin berterima kasih kepada orang itu, apa Mama tau siapa orangnya? " tanya Ai berharap tau siapa orangnya.
" Mama tidak tau sayang, nanti kita tanyakan pada Dokter, " jawab Mama Leni karena ia juga tidak mengetahui itu.
Seorang pria menggeleng beberapa kali.
" Mama kenapa Mia belum juga bangun? hiks hiks.... " Setelah mengatakan itu Ai tidak sadarkan diri tergolek di samping Mia terbaring.
" Mommy, " panggil Max sembari menangis.
Dan semua orang sontak kaget.
Kini tinggallah Cull dan Berry di ruang rawat Mia, sekalian Ai juga dirawat dalam satu ruangan.
" Aku ingin menanyakan sesuatu? " ujar Berry dengan nada tidak bersahabat seperti biasanya. " Apa kau punya hubungan dengan Mommy twins? " tanya Berry tidak ingin berbelit-belit.
Cull menatap tajam sepupunya, pertanyaan itu membuatnya sedikit terpancing emosi karena disaat situasi begini menanyakan hal pribadi.
Duarr
Mata Berry melotot dengan tubuh menegang mendengar pengakuan sepupunya.
" Kau bercanda, katakan itu tidak benar! " Teriak Berry kecewa dengan pengakuan Cull.
" Itu semua benar, aku juga baru tau jika wanita itu adalah Mommy twins, " ucap Cull jujur, ia paham dengan reaksi sang sepupu.
" Brengse*, " umpat Berry sembari mengusap wajahnya, bagaimana mungkin mereka merebutkan satu wanita yang sama. " Lebih baik kau mundur, aku sudah lama mengenalnya, bahkan sebelum Max dan Mia lahir, " Berry berharap sepupunya mundur.
" Tidak! aku jatuh cinta kepadanya, " balas Cull.
" Kau bukan jatuh cinta, tetapi *****, " ujar Berry dengan tatapan tajam karena ia tau siapa sepupunya ini.
" Tutup mulutmu! Aku akui jika masa laluku sangatlah buruk, tetapi ini tidak berlaku padanya, " ungkap Cull membalas tatapan tajam Berry.
__ADS_1
" Hahaha....! Apa kau yakin dia akan menerima cintamu setelah mengetahui siapa dirimu? dia wanita yang terlalu sempurna untukmu, " ejek Berry.
Cull terdiam mendengar penuturan Berry. Apa yang dikatakan Berry ada benarnya. Seketika impiannya sirna setelah mencerna ucapan Berry.
Cull mendekat, duduk di samping Mia yang masih betah menutup mata.
" Tetapi aku sangat menyayangi mereka seperti anakku sendiri, " suara itu sangat pelan serta halus. Cull mendaratkan kecupan lama di kening Mia.
" Aku juga menyayangi mereka, bahkan ketika mereka masih berada dalam kandungan, " ujar Berry tidak mau kalah. " Aku kecewa kepadamu! " Setelah mengatakan itu Berry langsung bergegas keluar karena amarah dan rasa kecewa memenuhi dirinya. Ia tidak pernah menyangka jika keadaannya seperti ini, semua yang ia rancang luntur sudah.
" Jangan pikir kau menang setelah mendonorkan darahmu pada Mia! "
Cull memandangi punggung Berry yang sudah mulai menghilang dibalik pintu.
" Ahhk, " desis Cull mengusap wajahnya.
•••••
Cull menggenggam telapak tangan Mia.
" Princess sudah cukup bercandamu! Daddy sudah lelah membangunkanmu. Lihat kasian Mommy, ikut merasakan apa yang kamu rasakan. Daddy minta maaf karena telah mengabaikan kalian beberapa hari, " Cull ikut melihat kondisi Mia. " Daddy sangat menyayangi kalian bertiga, Daddy janji tidak akan bertindak bodoh lagi, " ungkap Cull berbicara sendiri, sedangkan kedua wanita cantik beda usia masih menutup mata.
Cull berpindah duduk. Kini ia duduk di samping Ai. Cull tatap dalam-dalam wajah pucat dan lelah Ai. Ingatan masih terbayang-bayang di matanya, dimana Ai berusaha mencari pendonor di jalanan.
" Kau wanita yang hebat! Mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan putrimu. Tuhan sudah mengirim malaikat untuk menyelamatkan putrimu, jadi jangan takut lagi, " ucap Cull sembari menggenggam tangan Ai.
Merasa sangat lelah tanpa sadar Cull ikut tertidur dengan posisi duduk menaruh kepalanya di samping kepala Ai. Sehingga kelihatan mereka seperti sepasang suami-istri.
Mia membukakan kedua matanya lebar-lebar. Bocah cerdas itu selamat dari maut. Mia menoleh kepalanya kesamping dimana matanya menangkap kedua orang dewasa sedang terlelap dalam tidurnya.
Bulir bening luruh begitu saja membasahi wajah pucatnya. Mia dengar semua dari awal obrolan antara Daddy tampan dan Uncle Berry tetapi ia pura-pura belum sadarkan diri.
" Huk huk, " Mia terbatuk sehingga membuat kedua orang dewasa terbangun.
" Sayang....., "
__ADS_1
Bersambung.....