
"Kakak,"
"Emalia,"
Seketika keduanya membulatkan mata. Dengan secepat mungkin Emily ingin berlari tetapi sayangnya tangannya langsung ditarik oleh orang yang ia sebut Kakak.
"Lepas Kakak," kata Emily sembari menghentakkan tangan sang Kakak.
"Ikut Kakak, akhirnya Kakak dapat menemukanmu. Selama bertahun-tahun ini kami mencarimu Ema," bentak seseorang itu.
"Lepas Kakak, Ema tidak ingin ikut Kakak," mohon Emily sembari terisak.
Seakan mengabaikan permohonan Emily. Pria itu langsung membawa Emily pergi keluar Mall.
"Lepas Kakak, kasian Jihan hiks hiks," mohon Emily sembari terisak didalam mobil.
"Kamu harus ikut Kakak pulang ke kota x hari ini juga," bentak pria itu tanpa memperdulikan Emily yang duduk dibelakang kemudi sembari menangis.
"Kita langsung ke bandara Pak," ujar pria itu.
Tiba di bandara Emily izin ke toilet. Tentu saja di Kawali oleh pria itu.
"Kak Emanuel, Ema tidak akan pergi kemana-mana," bentak Emily tidak terima karena sang Kakak sampai mengawalinya ke toilet khusus wanita.
"Baiklah Kakak akan tunggu di sini. Mana tasmu biar Kakak yang pegang, bisa saya bukan kamu menghubungi seseorang," ujar sang Kakak yang bernama Emanuel.
"Huh," desis Emily sembari memberikan tas jinjingnya. "Kebetulan Emanuel tidak membawa ponsel, jika tidak percaya periksa saja," imbuh Emily dengan wajah tidak suka.
Emily memasuki toilet. Didalam toilet bukannya ia membuang air tetapi ingin menulis pesan kepada Aileen. Untung saja ketika didalam mobil tadi Emily cepat merogoh ponselnya diam-diam tanpa sepengetahuan Emanuel ia menonaktifkan ponsel lalu menyembunyikannya kedalam baju sehingga tidak mungkin diperiksakan oleh sang Kakak.
Dengan cepat ia menulis pesan dan langsung mengirimkannya kepada Aileen. Setelah itu ia segera nonaktifkan kembali ponsel itu dan menyimpan ditempat semula.
Emily keluar toilet disambut oleh sang Kakak.
"Cepatlah semua sudah bersiap-siap memasuki pesawat," ujar Emanuel segera menarik tangan Emily karena ia tidak ingin Emily kabur sebelum menyerahkan kepada kedua orang tua mereka.
"Sakit Kakak, bisa pelan tidak sih," gerutu Emily.
Didalam pesawat Emily tidak tenang. Ia selalu memikirkan Jihan.
"Jihan Mami tidak tau bagaimana nasib Mami nanti. Entah bisakah kita kembali bertemu, sepertinya tidak ada kesempatan untuk Mami bertemu denganmu lagi hiks hiks...." Tangis Emily didalam hati.
Emily mengusap kedua pelupuk matanya.
__ADS_1
•••••
Tiba di rumah besar dan mewah. Beberapa pelayan menyambut kedatangan Emily kembali. Emily mengedarkan pandangannya ternyata rumah yang sudah 7 tahun ia tinggalkan tidak ada yang berubah, semuanya masih sama.
Di ruang keluarga kedua orang tua mereka sudah menunggu. Ternyata Emanuel sudah terlebih dahulu mengabari kedua orang tua mereka.
Emily berdiri mematung dihadapan kedua orang tua yang amat ia sayangi.
"Kamu tidak merindukan kami Ema? bahkan menyapa kamipun kamu engan," ujar sang Papa yang bernama Bintara.
"Daddy, Mommy," lirih Emily dengan bibir bergetar.
"Duduk!" Tegas Bintara.
Emily patuh karena tidak ingin mendapat amukan. Sedangkan wanita yang berada di samping Bintara terisak melihat putri bungsunya telah kembali.
"Sayang kamu kemana saja selama ini?" lirih wanita paruh baya yang diyakini Mommy dari Emily. Sembari memeluk Emily dengan penuh kasih sayang.
"Mommy," isak tangis Emily dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya.
"Cukup untuk acara peluk-memeluk," ujar lantang Bintara dengan mata memerah sehingga membuat Emily maupun Sania melepaskan pelukan mereka.
"Kamu telah mencoreng nama besar Daddy Ema. Kamu juga telah memalukan keluarga ini, kami sudah tau semuanya Ema." Ujar Bintara dengan sorot mata tajam menatap Emily yang juga menatapnya. Bohong jika Emily tidak merindukan sosok Daddy yang selalu menyayanginya sebelum kejadian itu. Ingin sekali Emily mendekap tubuh pria paruh baya berkumis tipis itu.
"Kata maaf tidak akan merubah semuanya," ujar Bintara. "Besok bersiaplah untuk bertemu dengan Tuan Marvel," imbuhnya kembali. Sontak saja membuat Emily membulatkan mata tidak percaya.
"Dad untuk apa? bukankah Tuan Marvel sudah menikah beberapa tahun lalu?" tanya Emily masih belum percaya jika disuruh bertemu dengan Tuan Marvel.
"Sudah cerai," ujar Emanuel ikut menimpali.
"Daddy tidak mau tau besok kamu harus menemuinya. Cukup sudah kamu membuat Daddy malu Ema, jika bukan uluran tangan dari Tuan Marvel perusahaan kita tidak akan bergerak sampai saat ini Ema," ujar Bintara sembari mengusap wajahnya. "Tolong mengerti dengan posisi Daddy," imbuhnya.
"Tetapi Ema tidak mencintainya Dad," lirih Emily disertai isak.
"Soal cinta akan tumbuh seiringnya waktu. Lihat Daddy dengan Mommy, dulu juga menikah tanpa cinta tetapi pada akhirnya kami saling jatuh cinta sebelum kalian lahir ke dunia," kenang Bintara.
"Itu tidak sama Dad," kekeh Emily dengan berurai air mata.
"Tergantung kita menjalankannya," ujar tegas Bintara.
"Ema mencintai orang lain Dad, bahkan sangat mencintainya," kata Emily mengungkapkan isi hatinya.
"Daddy tidak peduli dengan cintamu itu Ema, palingan kamu jatuh cinta kepada pria pengangguran diluar sana," ujar lantang Bintara dengan sorot mata tajam karena tidak suka mendengar pengakuan Emily.
__ADS_1
"Bahkan pria yang membuat Ema jatuh cinta tidak setara kekayaannya dengan Tuan Marvel si mata keranjang itu Dad. Tuan Marvel tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria yang Emily cintai Daddy," batin Emily sembari mengingat pria itu.
"Mommy bawa putrimu ke kamar, jangan lupa nasehati dia agar tidak keras kepala," titah Bintara.
"Sayang sebaiknya kamu membersihkan diri dan segera beristirahat, atau kamu ingin makan terlebih dahulu?" kata Sania dengan lembut.
"Sebaiknya Ema ke kamar Mom, tidak ada selera untuk makan," decak Emily merajuk, tentu saja ia tidak selera untuk makan sedangkan pikirannya tertuju kepada Jihan terus-menerus.
Didalam kamar Ema meluapkan semua sesak di dadanya selama ini kepada sang Mommy.
"Mom bagaimana bisa Ema meninggalkan Jihan sebatang kara hiks hiks," tangis Emily seketika pecah.
"Sayang tenanglah," hanya itu yang bisa dikatakan Sania.
"Kenapa Daddy sama Kakak tega melakukan ini kepada Ema Mom?" lirih Emily didalam pelukan Sania.
"Sayang Daddy sudah terlanjur, Daddy ingin membalas budi," jelas Sania agar Emily dapat mengerti.
"Balas budi dengan mengorbankan kebahagiaan Ema, begitu Mommy? itu bukan balas budi namanya Mom tetapi sebagai tumbal," cicit Emily dengan emosi.
"Sayang tidak boleh ngomong begitu," Sania berusaha memberi pengertian kepada Emily.
"Sangat miris Mom. Demi kejayaan atau ketenaran seorang Ayah tega mengorbankan kebahagiaan putrinya. Ini sangat-sangat miris," sindir Emily sembari terkekeh dengan berurai air mata.
"Sabar sayang," kata Sania ikut menangis melihat putri kesayangannya terluka.
"Daddy egois Mom, sebelum bertindak sewenang-wenang mengambil keputusan sepihak," timpal Emily semakin menyudutkan sang Daddy.
"Kita tidak bisa melakukan apapun sayang, mau tidak mau kita ikutin apa yang dikatakan Daddy. Kamu tau sendiri bagaimana watak keras Daddy kalian, bahkan saran Mommy saja tidak pernah mau didengar ketika menyangkut dirimu," terang Sania.
"Atau jangan-jangan Ema bukan putri kandung Daddy Mom," seketika akal sehat Emily di keluar kendalinya.
"Ema!" pekik Sania tidak percaya apa yang dikatakan Emily. "Jangan sembarangan Ema, dia adalah Daddy kalian satu-satunya," tegas Sania.
"Jika putri kandungnya kenapa tega mengorbankan diriku," gumam Emily.
"Baiklah kamu segera membersihkan diri dan segera tidur, jangan banyak berpikir," kata Sania kembali lembut sembari mengusap punggung Emily.
Sepeninggalan Sania. Emily memasuki kamar mandi yang sudah sangat lama tidak dimasukinya. Di cermin besar didalam kamar mandi Emily memandangi wajahnya. Tiba-tiba bayangan wajah Jihan menari-nari di benaknya.
"Jihan sayang Mami sangat merindukan Jihan. Semoga Jihan baik-baik saja," gumam Emily sembari terisak.
Bersambung....
__ADS_1