
Rencana Twins
•••••
1 minggu telah berlalu.
Di toko kue Ai sering uring-uringan. Tubuhnya saja di toko tetapi hatinya selalu berpusat memikirkan Cull. Bagaimana tidak kejadian 1 minggu yang lalu berhasil membawa perasaan Ai.
" Apa aku sudah tidak waras? kenapa wajah Rey selalu terbayang dalam benakku, " gumam Ai sembari memijit pelipisnya. " Apa aku sudah jatuh cinta kepadanya? secara hati ini sangat sakit melihat apa yang kulihat 1 minggu yang lalu? oh tidak mungkin, aku sudah seperti orang vil*! " Gumam Ai secepat mungkin menggelengkan kepala.
Tidak terasa waktu pulang tiba. Ai dan para karyawannya pulang ke rumah masing-masing.
" Ai ada apa denganmu selama seminggu ini? sepertinya ada yang tidak beres, " tanya Ine kepada sahabatnya Ai.
" Kamu benar In, tetapi maaf untuk saat ini aku belum bisa menceritakan kepada kamu, " jawab Ai tidak ingin menutupi, bagaimanapun Ine adalah bagian dari masalah pribadinya.
" Baiklah aku tidak akan memaksa, sebagai sahabat aku harap apapun masalahnya jangan menyimpan sendiri seperti masa lalu kamu dulu. Aku bukan dewa tetapi mungkin saja apa yang menjadi masalahmu aku bisa sedikit memberi saran, " ungkap Ine dengan bijak.
" Iya In, suatu saat aku akan berbagi cerita denganmu, " jawab Ai sembari tersenyum.
" Oya sudah lama Daddy twins tidak berkunjung ke toko, biasanya kalian selalu makan siang. Hmmm apa ini ada kaitnya dengan masalah yang kamu hadapi? " tanya Ine seperti seorang wartawan.
" Hmmm mungkin Rey lagi sibuk dengan pekerjaannya, " lirih Ai berusaha tenang dan tetap tersenyum.
" Ohhh, " gumam Ine dengan mulut membentuk o.
Akhirnya keduanya menyudahi. Setelah menutup pintu toko Ai dan Ine masing-masing menaiki kendaraan.
Di rumah sederhana. Max dan Mia belum tidur karena ingin menunggu kepulangan Mommy mereka, kebetulan besok adalah hari minggu.
Tok tok tok
" Nenek pasti itu Mommy, " cicit Mia karena sangat yakin jika yang datang adalah Mommy mereka.
" Mungkin sayang, cepat buka sana tetapi diteliti dulu dari celah jendela, " kata Nenek Leni.
Mia melangkahkan kaki menuju pintu, seperti yang dikatakan sang Nenek. Mia mengintip terlebih dahulu dari celah jendela memastikan apakah itu Mommy atau orang lain. Seketika senyuman terukir di bibir manis Mia karena itu adalah Mommy cantiknya.
Klek
Ceklek
Mia menekan kunci pintu dan segera membukanya.
" Selamat malam Ibu peri, " goda Mia sembari tertawa kecil.
" Sayang tumben menunggu Mommy? " bukannya menjawab sapaan Mia, Ai malah balik bertanya.
" Selalu deh mengabaikan sapaan Mia, " cicit Mia dengan wajah cemberut nya. " Apa Mommy tidak ingat jika malam ini adalah malam minggu? " imbuh Mia kembali.
Seketika Ai melamun karena biasanya malam minggu seperti ini Daddy twins semalaman bertandang ke rumah. Mereka selalu buat acara makan di rumah.
" Hmmm maaf Mommy tidak ingat sayang. Nenek dan Kakak apa sudah tidur? " tanya Mia sembari menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.
" Belum Mom, ada di ruang televisi, " jawab Mia mengikuti langkah Mommy.
Tiba di ruang televisi
" Selamat malam Ma, sayang! " Sapa Ai sembari tersenyum.
" Malam juga Kak, " jawab Mama Leni.
" Malam Mom, " timpal Max menghentikan jarinya di atas keyboard laptop.
" Mommy bersihkan diri dulu, " Ai langsung masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri. Ia tidak mau bergabung bahkan menyentuh orang rumah sebelum bersih karena sekarang masih dalam pandemi.
Di ruang televisi kini keluarga kecil yang penuh kasih sayang ini saling bertukar cerita. Untuk momen malam minggu kedua kalinya mereka menghabiskan malam minggu tanpa kehadiran sang Daddy.
" Mom kenapa Daddy sudah tidak pernah lagi ke rumah kita? " tanya Max dengan wajah seriusnya.
Mendengar pertanyaan Max membuat Ai kelabakan untuk mencari jawaban yang tepat.
" Iya Mom padahal kita-kita sudah rindu sama Daddy. Selama 2 minggu ini baru 3 kali Daddy menemui kami, itupun pada saat jam pulang dengan waktu singkat. Sepertinya ada perubahan dari sikap Daddy yang tidak biasanya, " sambung Mia dengan raut wajah sedih.
" Ketika kami bertanya kenapa Daddy selama ini tidak ke rumah dan tidak pernah menelepon? Daddy bilang karena sering ke luar kota dan kebetulan di lapangan tempat bertugas Daddy tidak ada jaringan. " timpal Max kembali.
" Pokoknya sikap hangat Daddy ke kami sedikit berbeda Mom, " ucapan Mia berhasil membuat dada Ai sesak.
" Sayang jangan berpikir atau berprasangka buruk yang tidak-tidak, mungkin saja Daddy benar. Karena Daddy bilang ke Mommy akhir-akhir ini sering keluar kota karena perusahaan Daddy sedikit dapat masalah, " jelas Ai menyakinkan twins.
" Ternyata kamu juga berubah kepada mereka! Apa hanya segini kasih sayang kamu kepada mereka? apa belum cukup penderitaan terpendam mereka? aku sudah salah mengartikan semua ini. Aku terima dan ikhlas jika kamu berubah sikap kepadaku, tetapi jangan kamu berimbas kepada anak-anak yang mulai merasakan kasih sayang seorang Daddy, " batin Ai menjerit, tanpa sadar bulir bening bergulir.
" Mom bagaimana jika besok kita jalan-jalan ke Mall? kata teman-teman sekolah Mia, Mall telah dibuka. Mia ingin ke wahana permainan Mom, " ungkap Mia ingin jalan-jalan ke Mall karena selama pandemi hampir semua pusat pembelanjaan di tutup.
" Max setuju, bagaimana jika kita mengajak Daddy juga? " timpal Max yang berhasil membuat Ai melebarkan mata.
__ADS_1
" Sayang tidak perlu mengajak Daddy, biar kita-kita saja, " jawab Ai.
" Tidak Mom. Mia ingin seperti teman-teman yang ditemani kedua orang tuanya, " cicit Mia.
" Apa Mommy tidak merindukan Daddy? " tanya Max. " Bukankah Daddy tidak ingin jauh dari Mommy? " sambung Max.
Ai menjerit dalam hati mendengar ocehan Max dan Mia.
" Dulu memang begitu sayang, tetapi sekarang Daddy kalian sudah memiliki kekasih, " batin Ai terasa sangat sesak bila mengingat hal itu. Bagaimana jika kedua anaknya tau.
" Mana ponsel Mommy biar Mia hubungi Daddy, " pinta Mia.
" Sayang bagaimana jika besok saja, kemungkinan Daddy sudah tidur. Apa kalian ingin menganggu istirahat Daddy? " jawab Ai berusaha membuat kedua anaknya mengerti.
" Kita coba Mom, karena kebetulan hari ini Daddy sudah pulang dari keluar kota. Uncle galon yang beritahu kemarin, " cicit Mia memaksa.
Tidak bisa menolak Ai memberi ponsel kepada Mia.
" Videocall saja! " Cicit Mia sembari menghubungi.
Tut tut tut
Sudah 3 kali tersambung tetapi tak terjawab.
" Apa Mommy bilang, Daddy pasti sudah tidur, " Ai berusaha menenangkan kedua anaknya karena raut wajah Max dan Mia menjadi sedih. Tidak dipungkiri jika Ai juga kecewa.
" Sss! " Desis Mia dengan wajah kecewanya.
" Coba hubungi sekali lagi Dek, " pinta Max.
Mia mengikuti perintah sang Kakak.
" Hallo Princess cantik Daddy, " sapa Cull ketika wajah cantik Mia di layar ponsel.
" Kenapa Daddy lama sekali mengangkat telepon Princess? apa kami menganggu? " semprot Mia merajuk.
" Sorry Princess Daddy lagi ada tamu, " jelas Cull dengan wajah gemes melihat wajah putrinya cemberut.
" Malam-malam begini masih kedatangan tamu? " Mia sengaja bertanya.
" Iya Princess kesayangan Daddy, kadang tamu tanpa diundang! " Canda Cull.
" Berarti jelangkung dong! " Balas Mia.
" Hahaha....! " Gelak tawa keduanya.
" Kebetulan malam minggu Dad, jadi sedikit terlambat tidur, " jawab Max.
" Aduh.... aduh....! " Seketika suara wanita terdengar mengaduh seperti kesakitan.
" Suara siapa itu Dad? " semprot Max dan Mia serempak.
" Itu hmmm itu adalah tamu Daddy sayang, " jawab Cull seketika membuat wajah Ai berubah.
" Jadi tamu Daddy adalah seorang wanita? " semprot Mia dengan wajah sangarnya.
" Iya Princess! " Jawab Cull dengan bibir terangkat, bagaimana tidak di layar ponsel ia dapat melihat raut wajah Ai seperti menahan sesuatu. Sedangkan Ai tidak menyadari jika mode kamera di alihkan kepada dirinya yang duduk dihadapan Max dan Mia.
" Suruh cepat pulang Dad, tidak baik jika wanita bertamu ke tempat lawan jenis. Para iblis pada gentayangan, sangat berbahaya, " cicit Mia masih dengan wajah sangarnya.
" Tidak bisa begitu Princess, karena ini masalah penting. Hmmm jika begitu Daddy akhiri ya karena tidak enak dengan tamu Daddy dibiarkan sendiri, " ujar Cull sembari menahan tawa.
" Sayang kalian dengar bukan apa yang dikatakan Daddy? kalian juga harus segera tidur. Jangan mengganggu Daddy yang lagi sibuk, pekerjaannya lebih penting dari apapun, " sindir Ai ikut membuka suara.
" Apa Mommy ingin berbicara dengan Daddy? " pancing Mia semakin membuat Ai terhimpit.
" Tidak perlu, " jawab Ai dengan mimik wajah yang sulit dijabarkan.
Sedangkan Cull berusaha menahan tawa diseberang sana. Wajah Ai membuatnya bersorak girang didalam hati.
" Apa Daddy ingin berbicara dengan Mommy? " tanya Mia semakin membuat Ai mendesah pelan.
" Hmmm tidak usah Princess, lagi pula Mommy juga menolak, " Cull sengaja beralasan karena Ai yang menolak.
" Dad, besok kami akan jalan-jalan. Apakah Daddy bersedia menemani kami? " ungkap Mia mengutarakan niat rencana awalnya menelepon.
" Sayang sekali Princess karena Daddy masih berada di luar kota. 3 hari lagi baru kembali, " jelas Cull menolak karena beralasan masih di luar kota.
" Oh begitu? bukankah Daddy sudah kembali? karena kata Uncle galon Daddy sudah kembali kemarin, "
" Tidak jadi karena masih ada masalah yang belum tuntas Princess. Kalian tenang saja, Daddy akan transfer uang untuk jalan-jalan. "
" Tidak perlu! " Semprot Ai dengan rahang mengeras.
" Baiklah Dad jika Daddy benar-benar tidak bisa hiks hiks hiks.... " Seketika tangisan Mia pecah.
__ADS_1
" Princess kenapa kamu menangis? " Kening Cull mengerut, ternyata akting dan sandiwara putrinya sangat mantap. Sangat cocok menjadi pemain sinetron, tetapi sayangnya ia tidak berminat sama sekali putra-putrinya menjadi seorang aktor/artis.
" Hiks hiks hiks.... Daddy jahat dan tidak sayang kami lagi! " Cecar Max dan Mia serempak di iringi raungan.
" Son, Princess tenang sayang! " Cull sedikit terbawa perasaan melihat kedua wajah kesayangannya menangis. Walaupun itu sandiwara mereka tetapi hati Cull perih bila melihat air mata dari kedua buah hatinya. Karena selama ini mereka sudah banyak menderita.
" Sayang hentikan jangan membuat Mommy takut," Ai ikut merasakan apa yang dirasakan twins, kini matanya sudah berkaca-kaca. Cull dapat jelas melihat hal itu sehingga ia tidak tega karena mode kamera dialihkan kembali.
" Son, Princess tenang sayang, " Cull berusaha menenangkan diseberang sana.
" Baiklah Dad kita akhiri, kami akan segera tidur, " Mia pura-pura merajuk.
Sambungan videocall terputus.
" Dad memang sudah berubah, " isak Mia.
" Apa Daddy sudah tidak sayang kita lagi? " timpal Max masih terisak.
" Sayang sudah, Daddy tidak bermaksud begitu, " Ai mendekap kedua anaknya dengan batin terisak.
" Inilah yang aku takuti, " batin Ai dengan di iringi tetesan air mata.
" Apa yang terjadi? " tiba-tiba suara Mama Leni terdengar menghampiri mereka.Karena mendengar raungan tangis kedua cucunya membuat tidur nyenyak Mama Leni terbangun. Dengan cepat Ai menghapus air matanya.
" Maaf Ma sudah menganggu tidur Mama, " kata Ai tidak enak hati.
" Kenapa kalian menangis sayang? siapa yang menyakiti kalian? " ternyata Mama Leni lihai berakting juga.
" Daddy Nenek, " lirih Mia masih dengan terisak.
" Daddy jahat, " timpal Max.
" Cukup sayang. Ayo kalian segera tidur, " suara Ai sedikit meninggi sembari mengiring twins masuk ke kamar miliknya.
" Mama lanjutkan tidur Mama yang sempat terganggu, " kata Ai. Tanpa menunggu sahutan Mama ia berlalu.
Tanpa disadari Ai ternyata Max dan Mia tos-tosan dengan sang Nenek.
" Malam ini kita tidur sama-sama, " jelas Ai.
Ai berbaring diantara Max dan Mia, berarti ditengah.
" Tidurlah sayang agar besok cepat bangun, " kata Ai sembari kedua tangannya mengelus kepala Max dan Mia.
" Kasian kalian, " gumam Ai sembari menangis.
" Apa tamu yang kamu maksudkan itu adalah kekasih pada waktu itu? " gumam Ai membatin.
Seketika pikiran buruk memenuhi isi kepalanya. Ingatan tentang kasak-kusuk masa lalu Cull membuat hatinya perih. Ai menuding jika saat ini Daddy twins sedang bersenang-senang dengan para wanita.
" Kesalahan yang tidak disengaja adalah berhubungan dengan pria nakal, " batin Ai sembari menangis pilu.
Mungkin karena kelelahan menangis secara diam ditambah lagi dengan beban pikiran, akhirnya Ai terlelap menyusul twins ke alam mimpi.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kembali ditutup sangat pelan. Sesosok itu berjalan mengendap sangat hati-hati.
Berdiri cukup lama memandangi orang-orang yang sangat ia cintai dan sayangi tertidur nyenyak. Tanpa disadari ia meneteskan air mata. Wajah polos Max dan Mia yang sedang terlelap berhasil membuat jantungnya berdebar.
Ia mendekat disisi ranjang sebelah Max. Menghapus sisa air mata yang masih tertinggal, dan mendarat kecupan sayang di kening serta wajah tampan Max.
Kini giliran Mia. Sama halnya yang dilakukan kepada Max, begitu kepada Mia.
" Akting kalian pantas di acungi jempol tetapi Daddy tidak tega sampai melihat kalian menangis seperti itu. Jika bukan demi misi mendapatkan hati Mommy kalian, demi apapun Daddy tidak akan setuju, " gumam pada diri sendiri.
Ternyata sesosok itu adalah Daddy mereka.
Cull mengangkat Mia memindahkan posisi putrinya dengan Mommy. Cull berlutut di lantai agar wajahnya sejajar.
Tanpa menunggu lama ia mendaratkan kecupan di seluruh wajah Ai. Selama ini ia sudah berusaha menahan untuk tidak bertatap muka seperti saat ini.
" Aku minta maaf sudah bersikap dingin dan mengabaikan, " gumam Cull sembari menghapus jejak air mata Ai.
" Rey kamu tega, " gumam lirih Ai dengan mata terpejam sembari tangan di gerakan.
" Kasian kau sayang sampai terbawa mimpi, " gumam Cull kembali mengecup kening Ai.
" Rey, " gumam Ai kembali tanpa sadar memeluk lengan Cull.
Cull menyambut dengan senang hati.
" Aku sudah tau jawabannya, hanya kau saja yang belum menyadari isi hatimu sayang. Tetapi misi ini masih panjang untuk menyakinkan keras kepalamu, " gumam Cull mengulum senyuman.
Cull ikut membaringkan tubuhnya dan kini posisi Daddy dan Mommy twins saling berpelukan. Ai mengira yang ia peluk adalah bantal guling empuknya, tetapi malam ini guling empuk berubah keras dan sangat nyaman. Sedangkan Cull sangat menikmati momen itu, tanpa ada rasa *****. Untungnya ukuran ranjang Ai adalah king size sehingga muat menampung mereka berempat.
__ADS_1
Potret kebersamaan mereka sedang tertidur adalah cerminan keluarga bahagia.
Bersambung....