Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Klarifikasi


__ADS_3

Zahra dan Rayyan beriringan memasuki ruang guru karena belum ada bel tanda masuk kelas. Tatapan beberapa guru yang kemarin menyebar gosip itu semakin tajam karena Zahra dan Rayyan datang secara bersamaan.


" Assalamu'alaikum..." ucap Zahra.


" Wa'alaikumsalam..." jawab mereka datar.


Reno dan Almira menyusul di belakang mereka lalu duduk di tempat masing - masing. Mereka tampak canggung dengan suasana pagi ini padahal diluar terlihat sangat cerah.


" Bu Zahra... tadi jalan kaki ya sama pak Rayyan?" celoteh salah satu guru perempuan di sudut ruangan.


" Mmm... iya, Bu." jawab Zahra singkat.


" Makin deket aja, bukannya juga baru kenal ya?"


Rayyan yang tahu arah pembicaraan selanjutnya langsung berdiri dengan menatap wanita yang terus menyudutkan Zahra itu.


" Maaf sebelumnya... Mungkin ini hanya salah paham saja. Saya ingin menjelaskan masalah gosip yang beredar di sekolah ini." ujar Rayyan tegas.


Zahra semakin takut saja jika masalah ini semakin panjang. Jika gosip ini tersebar sampai ke orangtua murid, nama sekolah ini akan tercemar.


" Ya Allah... semoga pak Rayyan bisa mengatasi semua masalah ini." batin Zahra.


" Penjelasan apa, Pak? Sudah jelas bu Zahra itu sudah bersuami, tapi masih berhubungan dengan Anda." guru yang bernama Sarah itu.


" Anda ini bekerja di tempat pendidikan, tapi ucapan Anda seperti orang yang tak pernah mengenyam pendidikan." sarkas Rayyan.


Rayyan geram sekali ingin menghajar guru itu. Untung saja perempuan, jika laki - laki pasti sudah babak belur di tangannya.


" Bu Sarah...! Jaga ucapanmu. Anda tidak tahu yang sebenarnya, jangan menyebar fitnah!" geram Almira."


" Waktu saya tidak banyak, jadi saya akan menjelaskan hubungan saya dengan bu Zahra. Beliau ini adalah adik ipar saya, karena saya adalah kakaknya Azzam suami Zahra." tegas Rayyan.


" Benarkah...? Apa ucapan Anda itu bisa dipercaya, pak Rayyan?"


" Tentu saja, Azzam adalah adikku. Kami merantau dari Jakarta ke kota ini. Kami dalam keadaan sulit waktu itu, jadi jarang sekali berjumpa. Namun kami masih komunikasi aktif dan terkadang bertemu saat adik saya mengantar sayuran ke kota."


Zahra menatap Rayyan tak percaya. Mungkinkah Rayyan dan suaminya memang bersaudara? Kenapa selama ini Azzam tak pernah cerita jika masih memiliki kerabat?


" Maka dari itu, saya mohon kepada bapak dan ibu guru semua untuk tidak menyebar berita hoaks di lingkungan sekolah ini. Jangan sampai citra sekolah ini tercoreng karena ulah para pendidik yang tidak punya attitude." tegas Rayyan kembali.


Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk berbunyi. Rayyan segera mengambil buku pelajaran di mejanya lalu melenggang keluar ruangan dengan wajahnya yang terlihat dingin dan angkuh. Berbanding terbalik dengan sifatnya saat bersama anak - anak, Rayyan terlihat sangat ramah dan suka tersenyum.


" Za... Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau pak Rayyan itu kakak ipar kamu?" tanya Mira penasaran.


" Hehehee... nanti dikira nepotisme," jawab Zahra asal.


" Ya Allah, Za... Kamu pikir kita ini pejabat!" kesal Mira.


" Sudah... Masuk sana! Awas jangan marah pada anak - anak!" peringat Zahra.


" Siap, Bu guru!"


.


.

__ADS_1


Jam dua belas siang, Zahra dan Rayyan bersiap untuk pulang. Walaupun jam mengajar Zahra hanya sampai jam setengah sebelas, namun ia sewaktu - waktu menggantikan guru lain yang tidak dapat hadir.


" Zahra... Aku antar pulang yuk?" ajak Mira.


" Tidak usah, Mir. Aku pulang sama pak Rayyan, kasihan kalau beliau jalan kaki sendiri soalnya motornya dibawa Mas Azzam."


" Tidak apa - apa, Za... Aku bisa pulang sendiri, kasihan Rama sudah menunggu di rumah." kata Rayyan.


" Tapi, Bang... Tadi kita berangkatnya bareng."


" Pak Rayyan sama saya saja, sekalian kita biar tahu tempat tinggal pak Rayyan." ucap Reno yang baru saja bergabung.


" Benar juga, kita bisa kumpul - kumpul mumpung hari ini aku tak ada kegiatan." sahut Mira.


" Terserah kalian, yang penting ada makanan." kata Reno.


" Ya sudah, sebelum pulang kita mampir dulu ke pasar. Zahra dan Bu Mira bisa pulang dulu untuk siap - siap memasak." ujar Rayyan.


" Kita berdua yang belanja, Pak Rayyan?" tanya Reno kaget karena selama ini dirinya tak pernah masuk ke pasar.


" Kenapa pak Reno? Tidak ada salahnya kita berbelanja, mungkin ini suatu permulaan agar suatu saat nanti kita sudah terbiasa saat sudah berkeluarga. Ada saatnya tugas istri itu harus dilakukan oleh suami juga." jawab Rayyan.


Kharisma yang terpancar dari wajah Rayyan membuat siapapun yang melihatnya pasti terpukau. Walaupun saat sedang serius, dia terlihat sangat dingin dan angkuh.


" Ish... pak Rayyan so sweet banget, calon suami idaman." celoteh Mira sambil nyengir.


" Mira...!" tegur Reno tak suka.


" Sudah - sudah... Ayo pulang! Betah banget jadi penghuni sekolah." ucap Zahra.


.


.


" Pak Rayyan... kenapa membeli bahan makanan banyak sekali?" tanya Reno.


" Ini untuk stok beberapa hari ke depan. Biar nanti Zahra saja yang masak sekalian." jawab Rayyan.


" Sini saya bantu bawa, Pak. Belanjaannya sangat banyak ini."


" Terimakasih, pak Reno. Kalau begitu langsung dibawa ke motor dulu, saya mau beli buah - buahan dulu untuk Rama."


Selesai berbelanja, mereka pulang dengan barang bawaan yang sangat banyak. Orang - orang yang melihat heran karena ada dua pria tampan dan rapi masuk ke dalam pasar dan berbelanja sayuran.


Sampai di rumah, Rayyan langsung menaruh barang belanjaan di rumah Zahra. Terlihat hanya ada Rama dan seorang pemuda yang sedang bermain.


" Assalamu'alaikum..." ucap Rayyan dan Reno.


" Wa'alaikumsalam..." jawab pemuda itu.


" Gus, Zahra kemana?" tanya Rayyan.


" Ada di dalam, Bang sama temannya."


" Kamu baru pulang dari sawah?"

__ADS_1


" Sudah dari tadi, Bang. Ini lagi nungguin Mas Azzam pulang."


" Tidak usah ditunggu, Azzam pulang malam."


" Pulang malam...? Kok tidak bilang kala perginya lama."


" Pulang saja, biar Rama saya yang jaga."


" Iya, Bang. Terimakasih, saya pulang dulu."


Sementara Rayyan masuk membawa barang belanjaan, Reno bermain dengan Rama. Mereka terlihat akrab karena Zahra sering mengajak Rama ke sekolah.


" Za, ini kamu simpan dulu bahan makanan yang tidak dimasak. Biar aku bersihkan ayamnya dulu." kata Rayyan.


" Mau masak apa, Bang...?" tanya Zahra.


" Ayam kecap saja sama capcay. Udah masak nasi, kan?"


" Udah. Oh iya, Agus masih di depan?"


" Sudah pulang, Rama lagi main sama pak Reno."


Almira mengupas bawang untuk membuat bumbu sambil sesekali mengusap airmatanya. Wajahnya sedari tadi manyun seperti ikan lohan.


" Bu Mira, kenapa cemberut? Lagi patah hati ya?" ledek Rayyan.


" Ish... mana ada patah hati, ini gara - gara bawang yang bapak beli." sungut Mira.


" Memangnya apa salah bawang sama bu Mira?"


" Hehehee... sudah, jangan diteruskan. Kamu temenin Pak Reno sama Rama di depan." ucap Zahra menengahi.


" Thank you, bestie... kamu teman terbaikku." Mira langsung berlari keluar dari dapur.


Rayyan heran dengan tingkah Mira yang sekarang tersenyum lebar, padahal tadi mukanya cemberut sambil menangis.


" Tidak usah heran, Almira itu tidak bisa masak dan tidak pernah ke dapur." kata Zahra.


" Masya Allah... Aku pikir dia baru putus cinta." sahut Rayyan sambil menggelengkan kepalanya.


" Abang bisa masak?"


" Bisa, walaupun tidak jago juga. Karena menurutku, masak sendiri itu lebih higienis."


Hampir satu jam akhirnya masakan mereka sudah matang dan mereka makan bersama dengan lahap. Zahra juga mengajak Agus dan Cahyo untuk makan bersama.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2