
Azzam tidak mengijinkan Zahra ikut penyelidikan dalam mengungkap kasus kejahatan Merry. Dia tidak ingin istrinya terluka walaupun hanya sedikit. Meski kemampuan Zahra dalam ilmu bela diri terbilang tinggi, namun sebagai suami tentu tidak akan membiarkan sang istri dalam bahaya.
" Sayang, cukup kamu dampingi Mas kerja. Jangan bertindak apapun tanpa seijin Mas." ujar Azzam tegas.
Kaivan memberi kode pada kakak iparnya untuk diam, tidak membantah ucapan Azzam. Semakin mereka tidak ada yang mengalah, masalah ini tidak akan selesai dengan cepat.
" Jefri dan Darren, kalian tetap pantau rumah itu dan juga Merry. Jangan bertindak sendiri tanpa perintah dariku." perintah Bima.
" Siap, Boss." jawab Darren.
" Jefri, kau sudah sering berinteraksi dengan mafia narkoba. Apa tidak ada yang bisa kau lakukan?" ucap Zahra.
" Ada, jika kalian setuju." sahut Jefri.
" Katakan dulu apa yang bisa kau lakukan." kata Bima.
" Saya akan menyamar jadi pembeli seperti pekerjaanku dulu." ungkap Jefri.
" Baiklah, bawa beberapa anak buah untuk menemanimu." kata Bima.
" Saya akan bekerja dengan tim milikku sendiri."
.
.
Zahra hari ini menemani putranya bermain seharian untuk mengganti hari - hari sebelumnya saat ia tinggalkan ke Bandung.
" Bunda, laper..." rengek Rama.
" Mau makan apa, Jagoan Bunda?" tanya Zahra sambil menoel hidung putranya gemas.
" Ayam goreng, Bunda."
" Yaudah, kita masak yuk? Buat ayam goreng yang enak buat kesayangan Bunda."
" Horeee...! Ayam goreng...!"
Zahra menggendong putranya masuk ke dalam rumah. Kedua mertuanya sedang ada acara diluar, jadi hanya ada mereka berdua selain pelayan.
" Bunda... Papa dimana?"
" Tumben nanyain Papa Rayyan?"
" Papa sudah lama tidak main sama Rama."
" Papa lagi kerja, sayang. Nanti kalau libur, Papa pasti kesini."
" Kenapa kita tidak pulang saja, Bunda?"
" Ayah ada sedikit pekerjaan disini, sayang. Ini juga rumah kita, kenapa harus pulang?"
" Kasihan Papa sendirian di rumah."
" Papa juga jarang di rumah, disini ada Om Kaivan."
Zahra sebenarnya merasa tidak nyaman dengan panggilan Rama pada Rayyan. Kesannya ia memiliki dua suami dalam waktu bersamaan. Pernah suatu ketika, Zahra dan Rama pergi ke Mall diikuti Azzam dan Rayyan. Semua orang menatapnya aneh karena Rama menyebut dua pria dewasa di sampingnya itu 'Ayah' dan 'Papa'.
" Seperti ada yang menyebut namaku tadi?"
Rayyan yang entah sejak kapan di pintu dapur mengagetkan Zahra dan Rama. Pria itu berdiri dengan tegap sembari menenteng paperbag berisi mainan.
__ADS_1
" Papaaa...!" teriak Rama sembari berlari menyambutnya.
" Hai, Jagoan... Apa kau betah disini?" Rayyan memeluk tubuh kecil keponakannya.
" Iya, Om Kaivan membelikan banyak mainan." celoteh Rama.
" Papa juga bawa mainan buat Rama."
" Horeee... Terimakasih, Papa."
" Sama - sama, sayang. Kamu main dulu sana, Papa mau bicara sama Bunda sebentar."
Rama berlari kearah pengasuhnya yang berada di halaman belakang. Mainan Rama memang tersimpan di paviliun yang dulu dipakai untuk menyekap nyonya Rahma tapi sekarang sudah direnovasi dengan design yang baru untuk menghilangkan kenangan buruk di masa lalu. Bahkan Rama yang masih kecil itu malah berniat menempatinya saat besar nanti.
" Abang kapan sampai di Jakarta?"
" Beberapa jam yang lalu, Mama masuk rumah sakit."
" Hah...? Tante sakit apa...?"
" Darah tingginya kumat, terlalu memikirkan hal - hal yang tidak penting."
" Bukannya mikirin hal yang tidak penting, Tante itu mikirin putranya yang udah bangkotan nggak nikah - nikah." ledek Zahra.
" Hei... Kau jangan menghinaku! Umurku belum genap 30 tahun." sungut Rayyan.
" Ish... Gitu aja ngambek, ayo bantuin masak buat makan malam.
" Disini banyak pelayan, Za. Ngapain sih kamu masih turun ke dapur?"
" Soalnya sudah lama kita nggak masak bareng. Sebentar lagi Mas Azzam sama Kaivan pulang, ayo cepat bantu."
Dengan berat hati Rayyan ikut turun tangan membantu Zahra memasak. Dia bahkan menyuruh semua pelayan bagian dapur untuk beristirahat atau menemani Rama bermain.
" Terserah Abang saja, Zahra suka semua masakan Bang Rayyan."
" Kamu cuma berdua sama Rama disini?"
" Iya, Mama dan Papa sedang pergi."
Menjelang maghrib, Azzam dan Kaivan pulang bersama. Di saat itu pula, Zahra dan Rayyan juga baru selesai masak.
" Assalamu'alaikum," ucap Azzam dan Kaivan.
" Wa'alaikumsalam." sahut Zahra dan Rayyan.
" Bang Rayyan kapan datang?" tanya Kaivan.
" Belum lama, Kai. Nih, sampai sini langsung disuruh masak sama Nyonya Muda." jawab Rayyan.
" Sekali - kali pegang pisau, Bang. Jangan laptop terus dipelototin." sahut Zahra.
" Yang, Rama dimana?" Azzam memeluk istrinya dari belakang.
" Lagi main sambil makan di belakang. Mas mandi dulu sana, habis maghrib kita makan." ucap Zahra.
" Mandi bareng yuk?" bisik Azzam.
" Gantian aja, jangan aneh - aneh."
.
__ADS_1
.
Usai makan malam, mereka bersantai sejenak di ruang keluarga menunggu adzan Isya'. Rama asyik bermain di pangkuan Rayyan sambil bertanya hal - hal baru yang ingin dia ketahui. Anak itu sepertinya mempunyai rasa penasaran yang tinggi terhadap sesuatu yang tampak asing baginya.
" Nanti Rama tidur sama Papa, ya?" pinta Rayyan.
" Abang nggak kembali ke rumah sakit?" tanya Zahra.
" Males, Dek. Mama itu cuma cari perhatian saja."
" Abang jangan begitu, beliau itu yang sudah melahirkan Abang. Seperti apapun orangtua kita, mereka adalah orang yang pertama kali kita hormati."
" Iya, Ray. Kalau masalah perjodohan itu, nanti aku yang akan bicara sama Tante. Sekarang kamu kembali ke rumah sakit, besok kami akan menyusul." ujar Azzam.
" Baiklah, nanti aku kesana setelah Rama tidur." sahut Rayyan malas.
Setelah selesai sholat isya' berjamaah, Rayyan menemani Rama tidur di kamar Kaivan lalu kembali ke rumah sakit. Sebenarnya ia malas harus bertemu sang ibu yang selalu membujuknya untuk menerima perjodohan itu. Namun Rayyan bukanlah orang yang bodoh, wanita yang akan dijodohkan dengannya itu adalah keluarga parasit. Mereka akan melakukan berbagai tipu muslihat untuk memperdaya ibunya Rayyan dengan dalih persahabatan.
Sampai di rumah sakit, Rayyan langsung membaringkan tubuhnya di sofa saat melihat ibunya sudah terlelap bersama ayahnya yang duduk di kursi samping sang ibu.
Rayyan menatap kedua orangtuanya dengan perasaan tak menentu. Ingin marah karena perjodohan itu, namun ia tidak tega pada orangtuanya sendiri.
.
.
Azzam dan Kaivan sedang berada di ruang kerja saat Zahra menemani putranya tidur. Malam ini Rama lebih memilih tidur bersama ibunya daripada Kaivan. Mungkin karena mereka jarang sekali bertemu akhir - akhir ini.
" Gimana proyek di Bandung, Mas?"
" Masih berjalan dengan normal, Merry sepertinya lebih sibuk diluar. Dia hanya datang untuk menggangguku saja."
" Apa yang dilakukannya diluar? Bukankah dia terlalu gegabah untuk membuka bisnis kotornya di negara lain?"
" Biarkan saja, ini malah lebih mudah untuk menghancurkan mereka. Bima sudah mendapatkan bukti kejahatan Tuan Davidson yang menyuap beberapa aparat pemerintah disana. Jika dia berani berulah disini, maka kita sudah siap bertindak."
Tak berselang lama, Zahra masuk dengan membawa minuman hangat untuk suami dan adik iparnya.
" Mas, Zahra udah malas ketemu Merry. Apa tidak ada cara untuk mempercepat kerjasama dengannya?" rengek Zahra.
" Sabar, sayang. Proyek ini hanya enam bulan, hotel yang dibuat juga tidak besar kok." ujar Azzam.
" Kak Zahra cemburu, ya?" ledek Kaivan.
" Ish... Cemburu sama perempuan itu? Hah... Bahkan melihatnya saja membuatku muak." ketus Zahra.
" Kak Zahra memang muak, tapi buat Mas Azzam pasti berkah." Kaivan mulai bertingkah konyol tanpa melihat tatapan tajam kakaknya.
" Benar itu, Mas? Wanita itu berkah buat kamu?" pekik Zahra.
" Ya Allah, sayang. Jangan percaya ucapan Kaivan, dia hanya provokasi kamu aja." Azzam sudah mengepalkan tangannya ingin meninju adiknya.
Azzam menarik kerah kemeja adiknya lalu menyeretnya keluar agar tidak berbuat ulah yang berakibat fatal jika istrinya terprovokasi.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.