
" Mmm... umur saya... Ah, saya malu kalau bicara umur, Tuan. Ini Tuan lihat sendiri saja." Zahra menyodorkan kartu identitasnya yang ia ambil dari dalam tasnya.
" Hahahaa... kau ini sangat lucu, Ra. Saya mulai menyukaimu." Kaivan melihat kartu identitas Rara sekilas hanya sebatas nama dan tanggal lahirnya.
" Wow...! Kau baru dua puluh tahun?" ucap Kaivan sambil tersenyum.
What!!! Dua puluh tahun? Bima benar - benar keterlaluan, apa wajahnya masih pantas disebut gadis berusia dua puluh tahun? Zahra akan protes pada bossnya yang sudah membuat identitas palsunya sembarangan.
" Mmm... wajahku terlalu tua, ya?"
" Tidak, bukan begitu. Justru kamu itu baby face menurutku. Saya pikir kamu masih umur 17 tahunan."
" Ish... Tuan jangan meledekku."
" Ayo ikut saya ke rumah."
" Tapi, Tuan... kalau keluarga atau istri Tuan Kaivan tidak menerima saya bagaimana?"
" Saya belum punya istri, orangtua saya juga pasti bisa menerima keputusanku."
Kaivan menarik lengan Zahra masuk ke dalam mobil mewahnya. Senyumnya terkembang sempurna seperti habis dapat durian runtuh.
" Kenapa Tuan senyum - senyum begitu?" tanya Zahra heran.
" Ah... tidak apa - apa, sepertinya kamu bisa jadi teman yang menyenangkan." jawab Kaivan santai.
Kaivan kembali putar arah memasuki komplek elite. Tak sampai lima menit, ia sudah memasuki halaman rumahnya yang sangat luas.
" Wow...! Ini rumah Tuan Kaivan? Seperti istana saja, baru kali ini saja memasuki sebuah istana. Ck!"
Zahra berdecak kagum melihat kemegahan rumah atau bisa disebut istana Al Farizy. Dia tidak menyangka bahwa suaminya ternyata konglomerat kelas kakap.
" Ini bukan rumahku, Ra. Ini rumah papaku, Zaid Al Farizy."
" Al Farizy...? Jadi rumah ini milik pengusaha terkenal itu? Kalau ini rumah milik papanya Tuan, berarti ini milik Tuan juga. Bukankah milik orangtua itu nantinya akan diwariskan kepada anaknya?"
" Lain kali saya ceritakan padamu, ayo turun!"
Zahra mengikuti langkah Kaivan menuju pintu utama. Jantungnya berdetak sangat kencang walaupun dia sudah mempersiapkan semua ini dengan matang. Mungkin karena saat ini dirinya berhadapan langsung dengan keluarga suaminya.
" Rara... Ayo masuk! Sampai kapan kau mau jadi patung disitu?" titah Kaivan yang melihat Zahra mematung menatap pintu.
" Eh... iya, Tuan. Rumahnya sangat bagus, seperti istana. Saya sampai tidak bisa bernafas melihatnya." sahut Zahra nyengir.
Masuk ke dalam rumah, Zahra bertemu langsung dengan sepasang pria dan wanita paruh baya. Mereka menatap Zahra tajam, seakan ingin mengulitinya.
" Kai... siapa wanita itu?" tanya wanita paruh baya itu sinis.
" Mami apaan sih? Dia yang akan menjadi pelayan pribadiku. Kai tidak mau seperti yang kemarin lagi, Mami jangan tolak keputusanku!" jawab Kaivan datar.
" Sudahlah, Mi. Kalau itu memang pilihan Kaivan, berarti wanita itu memang dapat dipercaya." ujar pria paruh baya di sampingnya.
__ADS_1
Mereka berdua adalah Zaid dan istri keduanya, Nella. Zahra bisa mengenali mereka dari foto - foto yang ditunjukkan Rayyan. Ibu kandung Azzam tak terlihat sama sekali di sekitar ruangan itu.
Dari pertama memasuki gerbang, berjajar puluhan penjaga di setiap sudut rumah. Dari sekali pandang saja, bisa dipastikan ada lebih dari lima belas orang di halaman. Di sudut samping dan belakang pasti juga ada lagi.
" Heh... kau! Yakin mau kerja disini? Ingat! Kalau sampai kau berkhianat, nyawamu sebagai gantinya!" seru Nella.
" Iy... iya... Nyonya." jawab Zahra sambil menunduk.
" Mi... Kai mau dia hanya jadi pelayan khusus untukku saja, jadi jangan suruh dia bekerja yang lain. Kai tidak suka ada yang mengusik dia di rumah ini." tegas Kaivan.
" Memang dia itu siapa sampai kamu ngotot banget pengen dia jadi pelayan disini?"
" Mi... apa salahnya sih menolong orang yang sedang butuh pekerjaan?"
" Sudah... Jangan berdebat lagi, Kai. Sebaiknya kita berangkat ke kantor sekarang." lerai Zaid.
Zahra bisa menangkap sebuah ketulusan dan kebaikan dalam diri Kaivan. Tuan Zaid juga sepertinya orang yang baik, sorot mata itu memandangnya teduh.
" Rara... ayo aku tunjukkan kamar yang harus kau bersihkan dan pekerjaan apa saja yang harus kau lakukan." kata Kaivan.
" Baik, Tuan."
Zahra membungkukkan tubuhnya kepada Tuan dan Nyonya besar itu sebelum mengikuti langkah Kaivan naik ke lantai atas.
Sampai di depan sebuah kamar dengan pintu ukiran yang berwarna keemasan, Zahra takjub hingga berdecak pelan.
" Rara... itu bukan kamarku, sebelah sini!" tegur Kaivan.
" Itu kamar kakak saya."
" Kakak...? Tuan punya kakak...? Bukankah putra Tuan Al Farizy hanya satu? Tuan Kaivan itu putra tunggal Tuan Al Farizy, kan?"
" Saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Masuk ke kamarku!"
Kaivan memberitahukan tentang tugas Zahra di kamarnya. Mulai dari merapikan tempat tidur, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi sampai mencuci dan menyiapkan semua pakaian yang akan dipakai Kaivan.
' Ya Allah... suamiku saja masih sering mencuci sendiri, ini semua aku yang harus menyiapkannya. Dia pikir aku istrinya'.
Zahra hanya bisa mengumpat dalam hati demi melancarkan misinya. Dia harus banyak bersabar menghadapi keluarga pengacau ini.
" Tuan, apakah saya harus menginap disini atau pulang setiap sore?"
" Memangnya kau punya rumah?"
" Saya bisa sewa kontrakan, Tuan."
" Di belakang ada kamar khusus pelayan, kau nanti tinggal disana. Oh iya, kau bisa masak, kan?"
" Bisa, Tuan. Tapi hanya masakan kampung, kalau masak western food tidak bisa."
" Wowww... kau tahu western food juga?" Kaivan tertawa dengan kepolosan Zahra.
__ADS_1
" Ih... Tuan jangan bully saya. Kata itu sering saya dengar dari majikan yang dulu. Tiap pengen makan itu pasti pergi ke Restoran."
" Maaf... Ya udah, mulai sekarang kamu yang harus masak untukku. Saya tidak mau masakan pelayan yang lain."
" Baik, Tuan."
" Gadis pintar." Kaivan mengusap kepala Zahra yang berbalut kerudung itu.
Usai memberitahukan tugasnya, Kaivan mengantar Zahra ke kamarnya di di belakang. Dia juga memperkenalkan Zahra pada para pelayan yang ia lewati.
" Ya sudah, kau istirahat dulu. Nanti bersihkan kamarku, harus selesai sebelum maghrib terus masak makan malam untukku." perintah Kaivan.
" Maaf, Tuan. Biasanya pulang jam berapa?" tanya Zahra.
" Jam enam atau tujuh sampai rumah. Saya biasa makan jam delapan malam. Ingat! Masakannya jangan terlalu manis dan jangan pakai penyedap rasa."
" Baik, Tuan."
Setelah Kaivan pergi, Zahra merebahkan tubuhnya di kasur yang hanya muat untuk satu orang itu. Belum ada setengah jam berada di rumah ini, tetapi auranya sudah tampak tak nyaman. Apalagi tatapan tajam Nella, ibu tiri Azzam membuatnya harus semakin waspada.
Saat sedang memikirkan langkah selanjutnya, tiba - tiba ada suara ketukan dari luar. Zahra bergegas untuk membukanya, takut majikannya kembali.
" Hai..." sapa dua orang gadis di depan pintu kamar Zahra dengan tersenyum.
" Hai... masuklah." sahut Zahra lembut.
" Terima kasih, kami hanya mengantarkan seragammu. Karena kamu berhijab, jadi kamu pakai atasannya saja. Oh iya, kita belum kenalan."
" Nama saya Rara."
" Saya Nina..."
" Saya Sita."
Mereka bertiga duduk di ranjang Zahra untuk mengakrabkan diri. Zahra merasa senang karena masih ada yang mau berteman dengannya. Tadi, saat Zahra masuk bersama Kaivan, banyak tatapan sinis dari para pelayan yang sepertinya tidak menyukainya.
" Rumah ini bagus ya? Sudah seperti istana di negeri dongeng. Banyak pengawal dan pelayan yang berjaga dengan ketat untuk Tuan dan Nyonya besar." kata Zahra.
" Kau benar, Istana Al Farizy memang sangat indah. Tapi_..." ucap Sita pelan.
" Tapi apa...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1