
Zahra perlahan masuk ke dalam rumah dan mengucap salam walau banyak pertanyaan di dalam hatinya. Bagaimana mungkin pria itu bisa berada di dalam rumahnya sementara ia tak mengenalnya sama sekali.
" Assalamu'alaikum..." ucap Zahra lalu mencium punggung tangan suaminya.
" Wa'alaikumsalam... baru sampai, Dek?"
" Iya, Mas. Tadi menggantikan pak Reno di kelas enam."
Zahra melirik sekilas pada tamu yang sekarang sedang duduk di samping suaminya. Ingin bertanya namun terasa sungkan.
" Selamat siang, Bu... kita bertemu lagi." senyum pria itu begitu manis.
" Eh iya, Pak. Apa anda guru baru yang akan mengajar di sekolah?" tanya Zahra.
" Iya, Bu... kenalkan, saya Rayyan. Kebetulan saya mengontrak di seberang rumah ini." ucap Rayyan ramah.
" Tidak ada yang tanya!" kesal Azzam.
" Mas_...!" tegur Zahra.
" Oh iya, saya buatkan minum sebentar ya, pak?"
" Tidak usah, dia juga udah mau pulang!" lagi - lagi Azzam mengoceh.
Rayyan hanya tersenyum melihat tingkah Azzam yang seakan tidak senang dengan kehadirannya. Dia cukup tahu diri dengan tatapan tajam dari sang pemilik rumah.
" Eh... tidak usah, Bu. Saya mau beres - beres rumah dulu sekalian belum sholat dluhur." tolak Rayyan sopan.
" Pak Rayyan tinggal dimana?"
" Itu di depan, Bu..."
" Ngontrak di rumah pak Darman, walaupun sudah lama kosong tapi masih layak ditempati."
" Udah pergi sana!" usir Azzam.
Karena sudah merasa diusir, akhirnya Rayyan berpamitan sambil tetap tersenyum ramah. Entah apa yang terjadi sebelumnya, Zahra merasa suaminya begitu kesal dengan tetangga baru mereka.
" Mas kenapa sih dari tadi ketus sama tamu?" tanya Zahra heran.
" Memangnya kenapa? Biasa aja, kamu tuh yang terlalu tebar pesona sama dia." sahut Azzam datar.
" Ya Allah, Mas... Istighfar, jangan su'udzon sama istri sendiri."
" Mas tidak su'udzon, cuma_..."
" Cemburu ya...?" goda Zahra.
" Tidak..."
" Yakin...?" Zahra memeluk suaminya dari belakang.
" Zahraaa...!" geram Azzam.
Zahra tahu suaminya sudah tak marah lagi, namun ada gelagat aneh dari suaranya yang serak. Zahra bergegas melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar mandi sebelum ada singa yang menerkamnya sambil tertawa.
" Zahraaa...! Cepat keluar...!" teriak Azzam
Zahra hanya tertawa kecil tanpa menyahuti teriakan suaminya. Senang rasanya bisa membuat sang suami cemburu.
.
.
Setelah Ashar, Azzam kembali ke sawah untuk menyelesaikan panen yang hanya tinggal sedikit. Hanya cabai yang lumayan masih banyak karena bisa panen secara beruntun.
" Assalamu'alaikum, Bu Zahra..." sapa Rayyan dengan senyum yang terkembang.
" Wa'alaikumsalam, Pak Rayyan..." balas Zahra.
" Mmm... saya ada sedikit makanan untuk keluarga bu Zahra sekalian mau pinjam sapu kalau boleh."
__ADS_1
" Oh iya, Pak. Sebentar saya ambil, buat nyapu di dalam atau diluar?"
" Di dalam, Bu... sebenarnya saya sedikit malu kalau harus beli peralatan rumah seperti itu. Apa Anda bisa membantu saya?"
" Bisa, Pak. Tulis saja apa yang mau dibeli, nanti kita beli sama - sama selepas maghrib."
" Apa tidak merepotkan? Takutnya suami ibu tidak mengijinkan."
" Tidak perlu khawatir, nanti mas Azzam juga ikut."
" Terimakasih, Bu Zahra..."
" Panggil Zahra saja kalau diluar rumah."
" Iya, sepertinya juga saya lebih tua. Kamu panggil Mas Ray saja gimana...?"
" Mmm... maaf, saya belum berani tanpa persetujuan suami saya."
" Tidak apa - apa, lain kali saja."
Setelah cukup lama berbincang, Rayyan segera kembali ke rumah untuk membersihkan seluruh ruangan di rumahnya.
" Keluarga kecil yang bahagia, semoga tidak ada kejadian buruk suatu hari nanti." gumam Rayyan tersenyum tipis.
.
.
" Mas, tadi pak Rayyan meminta kita untuk menemani belanja perlengkapan rumah. Bisa, kan?" ucap Zahra usai mereka sholat maghrib berjama'ah.
" Kamu peduli banget sih, Dek? Baru sehari kamu mengenal dia." ujar Azzam.
" Bukannya peduli, Mas... Adek cuma kasihan saja sama pak Rayyan. Katanya beliau malu mau beli sapu sendiri."
" Hhh... merepotkan!" gerutu Azzam namun tetap tak menolak permintaan istrinya.
Pukul setengah tujuh malam, Rayyan sudah bertengger di depan rumah Azzam. Dia dengan setia menunggu Azzam keluar dari rumah.
" Maaf, tetangga baru... saya ada janji dengan Zahra si cantik jelita calon bidadari surga." seringai Rayyan.
" Tutup mulutmu!"
Perdebatan mereka berhenti saat melihat Zahra keluar seraya menggendong Rama. Zahra heran menatap dua pria di hadapannya saling menatap tajam.
" Zahra... Rama biar sama saya saja, biar kamu bisa berduaan sama suamimu." ucap Rayyan seraya tersenyum sangat manis.
" Tidak usah, Pak. Nanti jadi merepotkan," tolak Zahra pelan.
" Ayo berangkat! Keburu tokonya tutup." seru Azzam.
Azzam mengambil Rama dari gendongan istrinya lalu diberikan kepada Rayyan. Kemudian Azzam memakaikan gendongan agar Rayyan lebih mudah membawa Rama saat menaiki motornya.
" Anak Bunda jangan rewel ya..." Zahra mengusap pipi Rama gemas.
" Tenang aja, Za... Rama aman bersamaku. Kalian jalan saja dulu, saya sama Rama jalan pelan - pelan." sahut Rayyan.
" Terimakasih, pak Ray..."
" Jangan panggil 'Pak' diluar sekolah."
" Terus...?"
" Panggil 'Abang' saja..."
Zahra menoleh kearah suaminya seperti meminta pendapat. Mendapat anggukan dari Azzam, Zahra langsung tersenyum walaupun merasa heran juga karena Azzam terlihat sangat percaya dengan orang yang baru ia kenal.
" Baiklah... kalau diluar sekolah, Zahra panggilnya 'Abang' saja." ucap Zahra canggung.
Saat mereka akan pergi, Agus dan Cahyo datang. Mereka heran melihat Rama begitu dekat deng orang asing. Ingin bertanya namun sungkan pada Azzam.
" Mas Azzam, mbak Zahra... mau kemana...?" tanya Agus.
__ADS_1
" Mau ke jalan depan ke toko perabotan. Kalian mau ikut...?" jawab Zahra.
" Tidak, Mbak. Ini mau ke Mushola terus nanti ke pos ronda." kata Cahyo.
Azzam memakaikan helm untuk istrinya baru untuk dirinya sendiri. Dia memang memprioritaskan anak dan istrinya daripada dirinya sendiri.
Rayyan menatap sepasang suami istri yang terlihat sangat romantis walaupun hidupnya sederhana. Mungkinkah mereka tak menginginkan harta dunia seperti orang kebanyakan?
.
.
Pagi hari, Zahra sudah bersiap untuk berangkat mengajar. Hari ini Azzam tidak ke sawah jadi Rama tak perlu dititipkan.
" Maasss...! Kok motornya mogok?" seru Zahra di teras.
" Mogok...? Semalam baik - baik aja, sayang." sahut Azzam sembari menggendong Rama.
" Duhhh... bisa telat kalau jalan kaki, Mas."
" Sebentar, Mas pinjem motor Agus dulu buat antar kamu."
Saat hendak berjalan ke rumah Agus, Rayyan datang dengan motor sportnya. Dengan senyum manisnya, ia menyapa Zahra.
" Assalamu'alaikum, Zahra... Azzam..." sapa Rayyan.
" Wa'alaikumsalam, Bang Ray..." jawab Zahra.
" Azzam... mau kemana?" tanya Rayyan.
" Mau ke tetangga pinjam motor buat antar Zahra ke sekolah. Motorku mogok, baru mau dibongkar." kata Azzam.
" Zahra bareng saya saja, kebetulan tujuan kita sama."
" Jangan, Bang... takut nanti malah jadi omongan orang. Kita baru saja kenal, Zahra takut jadi fitnah."
" Ya udah Azzam bawa motorku saja, biar saya lari pagi." ucap Rayyan.
" Tidak usah, saya percaya padamu. Dek, kamu ikut Rayyan... nanti pulangnya Mas jemput." kata Azzam.
" Tapi, Mas_..."
" Rayyan tidak akan macam - macam, bilang sama Mas kalau dia berulah. Akan kupatahkan lehernya biar tak berani mengusikmu."
" Tenang saja, Boss... Nyonya aman bersamaku." sahut Rayyan santai.
Azzam langsung menatap tajam kearah Rayyan. Ada kemarahan dalam tatapan matanya membuat Zahra merasa tidak nyaman.
" Mas... jangan begitu, Zahra takut..." tegur Zahra.
Tatapan Azzam melunak lalu memeluk istrinya dengan erat. Azzam tidak pernah menunjukkan sifat masa lalunya di hadapan sang istri.
" Maaf... sekarang berangkat sama Rayyan, nanti kalian terlambat ke sekolah."
Zahra semakin heran dengan sikap suaminya yang begitu percaya dengan Rayyan, seakan mereka sudah kenal lama. Biasanya hanya Agus dan Cahyo yang dipercaya Azzam untuk mengantar jemput Zahra jika Azzam sedang sibuk.
Setelah pamit, Zahra naik keatas motor Rayyan. Walaupun sebenarnya ragu, tapi ia tidak punya pilihan. Zahra juga takut akan ada gosip di sekolah nanti.
Sampai di sekolah, masih ada beberapa guru yang juga baru datang. Mereka menatap Zahra dan Rayyan dengan intens. Mungkin ada yang berpikir macam - macam antara Zahra dan guru baru itu.
Rayyan menyapa mereka dengan sopan lalu mengajak Zahra untuk segera masuk karena bel tanda masuk sudah berbunyi.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1