Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Rindu istriku


__ADS_3

" Kai... Klien kita perempuan?" tanya Azzam kaget.


" Iya, Mas. Memangnya kenapa...?" Kaivan balik bertanya.


" Namanya seperti tidak asing saja."


" Siapa, Zam?" tanya Rayyan.


" Merry Davidson... Apa dia dulu satu kampus dengan kita?" kata Azzam.


" Merry... Merry yang selalu ngejar kamu itu?"


" Mudah - mudahan saja bukan dia."


Setelah makan siang bersama, mereka bubar untuk pulang ke rumah masing - masing. Azzam masih terdiam memikirkan wanita yang akan menjadi partner kerjanya itu.


" Kenapa, Mas? Apa calon klien kita mantan kekasihmu?" tanya Kaivan.


Kakak beradik itu kini sedang berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah. Kaivan merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan kakaknya.


" Bukan, Kai. Dia hanya teman satu kelas saat di kampus. Aku harap hanya namanya saja yang sama."


" Apa hubungan kalian buruk?"


" Entahlah, aku merasa tidak pernah menanggapi ulah wanita itu. Jangan cerita apapun pada Zahra, takut nanti jadi salah paham."


" Kalau menurut Kai, kak Zahra tidak akan salah paham tapi eksekusi langsung. Mas pikir seperti apa sifat para agen Tiger White?"


" Tapi Zahra beda, Kai."


" Dasar bucin!"


Azzam menjitak kepala Kaivan dengan keras karena mengejeknya. Dia tidak terima dikatakan seperti itu walaupun kenyataannya memang benar.


Sampai di halaman rumah, Rama sudah berlari menghampiri Azzam dan Kaivan yang baru keluar dari mobil.


" Assalamu'alaikum, kesayangan Ayah." Azzam merentangkan kedua tangannya menyambut putranya.


" Wa'alaikumsalam." balas Zahra.


" Udah makan, Dek?" Azzam merangkul pinggang sang istri.


" Sudah, ayo masuk."


" Kakak ipar...! Kenapa Kai ditinggal sih?" gerutu Kaivan.


" Maaf, Tuan Muda Kaivan... Saya lupa kalau majikan saya masih di belakang." goda Zahra.


" Nggak asik, ah!"


Kaivan menyambar tubuh kecil Rama dari gendongan Azzam lalu membawanya sedikit berlari menuju kamarnya di lantai atas.


" Apa dia selalu manja seperti itu denganmu?" Azzam menatap tajam istrinya.


" Kaivan hanya butuh teman, Mas. Sejak kecil hidupnya sudah terlalu berat. Apalagi melihat bagaimana ayahnya terbunuh di hadapannya."


" Mas tahu, makanya tetap bisa menerima dia walaupun ibunya sangat jahat."

__ADS_1


" Suamiku memang baik hati."


Azzam membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat. Namun sampai di kamar, Azzam tak membiarkan Zahra untuk beristirahat. Dia memanfaatkan waktu berduaan selagi putranya sedang bersama Kaivan.


.


.


Keesokan harinya, Azzam pergi ke Singapore bersama Deni untuk urusan pekerjaan. Semalam ia sudah membujuk sang istri untuk ikut namun gagal. Zahra lebih memilih tinggal di rumah bersama mertuanya.


" Den, apakah yang kita pikirkan sama?"


" Mungkin. Sepertinya Merry tahu kau pimpinan tertinggi di perusahaan."


" Hah... Kau tahu sendiri aku paling malas berurusan dengan perempuan macam dia."


" Tidak usah dipikirkan, Boss. Lebih baik kau istirahat saja. Agenda hari ini adalah meeting saat jam makan siang lalu malamnya kita makan malam bersama."


" Kenapa harus makan malam juga?"


" Hanya sekedar ramah tamah biasa, Tuan Davidson yang mengundang secara langsung."


Azzam mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak. Harusnya urusan seperti ini bisa di handle Kaivan, tapi klien bersikeras untuk bertemu Azzam secara langsung.


Tak berselang lama, Azzam dan Deni sudah sampai di Bandara Internasional Singapore. Keduanya bergegas mencari taksi untuk mencari hotel terdekat dari tempat meeting.


" Satu kamar saja, Den. Kita hanya sehari disini." ujar Azzam saat mereka akan memesan kamar.


" Yakin, Boss?"


" Jangan buang - buang uang untuk hal sepele."


" Jangan menuduh tanpa bukti. Istriku tidak seperti itu."


Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Deni dan Azzam segera masuk ke dalam lift. Mereka berpakaian santai tidak seperti pengusaha. Dengan atasan kaos yang dilapisi jaket warna gelap dan celana bahan warna senada. Tak lupa tas ransel di punggung mereka yang kesannya memperlihatkan seperti seorang mahasiswa.


" Apa ada yang aneh dengan penampilan kita, Boss? Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" bisik Deni.


" Abaikan saja! Mungkin kau terlihat tampan hari ini." ledek Azzam.


" Pesona Deni memang tidak pernah luntur." sahut Deni jumawa.


" Dasar jomblo abadi...!" umpat Azzam sambil tertawa pelan.


Masuk ke dalam kamar, Azzam melirik jam tangannya dan menghela nafas lega. Setidaknya ia masih punya waktu dua jam untuk istirahat sebelum bertemu dengan klien.


Melihat Deni yang sudah terlelap dengan cepat, Azzam tiba - tiba merindukan istrinya padahal baru beberapa jam saja mereka berpisah.


" Rindu istriku." desah Azzam pelan seraya mengusap layar ponselnya yang terdapat foto dirinya beserta istri dan anaknya.


.


.


Tepat jam makan siang, Azzam dan Deni keluar dari kamar hotel usai sholat zuhur. Penampilan mereka kini berubah 180°. Azzam dengan kemeja warna hitam dipadukan dengan warna celana bahannya yang serupa dan jas mewah warna putih membuat siapapun yang melihatnya pasti terpesona. Deni yang selalu berada di sampingnya juga berpenampilan yang sama, hanya berbeda warna saja. Deni lebih memilih warna navy untuk jasnya.


Hanya butuh waktu lima belas menit, Azzam dan Deni sudah sampai di Restoran hotel mewah tempat bertemu dengan klien.

__ADS_1


" Selamat siang, Tuan Davidson." sapa Azzam.


" Tuan Azzam, nice too meet you. Selamat datang di negara saya." balas Tuan Davidson ramah.


Mereka saling berjabat tangan dan Tuan Davidson mempersilahkan mereka untuk duduk. Di saat yang bersamaan, seorang gadis cantik dengan pakaian yang super seksi menghampiri.


" Azzam...!" seru gadis itu.


Azzam hanya menatap sekilas seraya menganggukkan kepalanya tanpa menyambut gadis yang merentangkan kedua tangannya untuk di peluk.


" Anda mengenal saya, Nona?" tanya Azzam datar.


" Wait...! Kau tidak mengenalku? Aku Merry, teman kampus dulu."


Ya... Gadis itu adalah Merry Davidson, wanita yang dari kemarin jadi bahan perbincangan Azzam dan Deni. Azzam jadi menyesal datang ke Singapore karena ternyata memang tebakannya tepat.


" Sorry, silahkan duduk. Saya memiliki banyak teman, jadi tidak bisa mengingat satu persatu." ujar Azzam.


" Terima kasih... Dan kau... Deni, kan? Wahh... Kalian ternyata tidak pernah bisa lepas satu sama lain."


" Hai... Merry, saya kira wajahmu masih sedikit terekam dalam ingatanku." ucap Deni dengan senyum yang sulit diartikan.


" Ternyata kalian mengenal putri saya, ini akan lebih mudah untuk kerjasama kita." ujar Tuan Davidson.


Mereka mulai membahas kerjasama untuk pembangunan hotel di wilayah Bandung. Namun dari keempat orang itu, hanya Merry yang tidak fokus dengan meeting. Dia lebih suka menatap wajah tampan Azzam yang tidak pernah dapat ia lupakan selama bertahun - tahun.


" Merry, are you okey?" tiba - tiba Tuan Davidson menepuk pundak putrinya pelan.


" Oh... Yes, Daddy. I'm fine." jawab Merry kaget.


" Fokus, Nona. Kita sedang bekerja, bukan main - main." sindir Deni.


" Of course. Saya akan bekerja dengan baik, Tuan Deni." ketus Merry.


" Good, girl." sahut Deni.


Usai penandatanganan kontrak, mereka makan siang bersama. Merry mencoba untuk mengobrol dengan Azzam, namun pria itu cuek dan tak menanggapi ocehannya.


" Azzam, saya akan membawamu berkeliling kota ini. Kau mau, kan?" Merry memegang lengan Azzam dengan manja.


Azzam mendesah pelan. Dia masih menghormati Tuan Davidson sebagai rekan bisnisnya. Jika tidak, mungkin ia akan menghempaskan tangan Merry dengan kasar.


" Sorry, saya harus kembali ke hotel dengan segera. Nanti sore saya akan kembali ke Indonesia." ujar Azzam sembari menarik pelan tangan Merry dari lengannya.


" Tapi, Tuan... Bukankah kita sudah agendakan untuk makan malam?" kata Tuan Davidson.


" Maaf sebelumnya, Tuan. Tiba - tiba saja saya rindu istriku. Permisi, saya ada urusan penting setelah ini."


Azzam segera menjabat tangan Tuan Davidson tanpa melirik sedikitpun kearah Merry yang menatapnya kecewa.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2