Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Semakin romantis


__ADS_3

Setelah acara di Resto selesai, Azzam mengajak istrinya untuk istirahat di kamar karena sebelum kembali ke Jakarta, Zahra merengek untuk jalan - jalan ke pantai terlebih dahulu.


" Dek, besok kamu ijin saja mengajarnya. Nanti sore juga kita baru pulang terus jemput Rama dulu di Jakarta. Kita menginap semalam di rumah Mama." ujar Azzam.


" Iya, nanti Adek bilang Bang Rayyan untuk memintakan ijin besok." sahut Zahra.


Azzam merebahkan tubuhnya di kasur diikuti istrinya yang rebahan di dadanya. Diusapnya dengan lembut rambut hitam lembut Zahra sambil tersenyum.


" Adek yakin mau ke pantai dulu? Sekarang panas loh?"


" Nanti habis Ashar saja, Mas. Cuma sebentar kok, nggak sampai setengah jam."


" Tapi jangan main air, ya? Dari pantai kita langsung ke Bandara."


" Iya, tidur dulu yuk? Nanti bangunkan sebelum waktu Ashar biar sempat buat mandi."


" Iya, sayangku."


Azzam yang tidak bisa tidur hanya diam seperti patung karena sang istri terlihat sangat nyaman dalam dekapannya.


' Maafkan aku, Zahra. Selama menikah denganku, kau tidak pernah merasakan hidup yang berkecukupan. Walaupun aku mampu, tapi aku takut kau tidak bisa menerimanya. Kuharap hubungan kita semakin membaik setelah ini. Seperti cita - cita kita dulu, membangun desa agar semua warganya bisa hidup dengan layak. Aku akan mengembangkan sawah lebih luas lagi agar semua warga bisa bekerja tanpa harus pergi meninggalkan keluarganya.' batin Azzam.


Lima belas menit menjelang Ashar, Azzam membangunkan istrinya yang masih lelap berbantalkan dadanya.


" Sayang, bangun... Mandi dulu yuk? Sebentar lagi Ashar."


" Hmm... Lima menit lagi."


" Ya sudah, kita kembali ke Jakarta besok pagi saja."


" Kenapa...?" Zahra langsung duduk walau masih setengah sadar.


" Karena kamu sepertinya betah disini. Atau kamu betah tidur diatas tubuhku." goda Azzam.


" Tapi menginap satu malam lagi sepertinya tidak masalah." sahut Zahra seraya naik keatas tubuh suaminya.


" Kamu ini ada - ada saja, Dek. Ya udah, Mas suruh Gerry supaya tidak kesini sekarang."


Azzam meraih ponselnya yang tak jauh dari tempatnya rebahan. Setelah mendapat nomor Gerry, ia segera menekan tombol hijau.


Azzam : " Ger, kau dimana?"


Gerry : " Baru keluar dari Apartemen, Boss. Tunggu sebentar, ya?"


Azzam : " Tidak usah. Aku akan menginap disini lagi malam ini. Kau istirahat saja disana."


Gerry : " Kenapa, Boss? Ada masalah apa?"


Azzam : " Tidak apa - apa, Zahra masih betah disini. Dia belum sempat ke pantai hari ini."


Gerry : " Ok, Boss. Selamat bersenang - senang."


Azzam : " Hmm..."


Azzam segera menutup telfonnya karena Zahra sedari tadi menggodanya. Entah sejak kapan Zahra melakukannya, namun kancing baju Azzam telah terlepas semuanya.

__ADS_1


" Sayang... Apa yang kau lakukan? Kebiasaan, pasti kabur setelah ini." Azzam mendesah pelan.


" Tahu aja suamiku, Zahra mau mandi dulu."


" Siapa yang mengijinkanmu pergi! Kita akan mempercepat proses pembuatan adiknya Rama."


" Maasss...? Kita mau jalan - jalan!"


" Tidak ada jalan - jalan! Biar Mas aja yang jalan - jalan disini." ucap Azzam dengan tersenyum jahil.


Zahra yang kesal langsung menepis tangan Azzam yang ingin menyentuh tubuh bagian depannya. Dia segera menjauh dari suaminya dengan wajah cemberut.


" Hei... Bidadariku bisa ngambek juga?" goda Azzam.


" Mas nyebelin...! Zahra mau pulang sekarang!"


" Mas cuma bercanda, sayangku. Ayo ambil wudhu, kita jama'ah terus ke pantai. Habis nonton sunset pulang, ya? Mas nggak mau kamu jadi sakit kena angin malam."


" Hmm..."


" Senyum kalau di depan suami, jangan cemberut."


.


.


Azzam duduk diatas batu karang sambil mengawasi istrinya yang bermain air. Rasanya memang ada yang kurang jika tak ada Rama di tengah - tengah mereka. Tiba - tiba Azzam merindukan putranya yang kini sedang bersama Kaivan. Dia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Azzam : " Assalamu'alaikum, Kai."


Kaivan : " Wa'alaikumsalam, Mas. Loh, kok masih di pantai? Nggak jadi pulang hari ini?"


Kaivan : " Astaghfirullah, mau berapa lama kalian disana? Ingat udah ada anak, jangan keluyuran berdua aja."


Azzam : " Besok pagi juga pulang, Kai. Siang juga ada meeting, kan?"


Kaivan : " Iya, tapi Kai harus ke Bogor jam sepuluh. Pokoknya kalian sudah harus sampai rumah."


Azzam : " Tenang saja, sekarang mana anakku?"


Kaivan : " Jangan bicara padanya, nanti nangis lagi. Rama rewel kalau inget kalian."


Azzam : " Baiklah, titip Rama lagi malam ini. Assalamu'alaikum."


Kaivan : " Wa'alaikumsalam."


Azzam kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu menghampiri sang istri yang masih bermain ombak.


" Bunda, udah main airnya! Ombaknya juga semakin besar, ayo naik ke karang tunggu sunset aja." titah Azzam.


" Ayaahhh...! Sebentar lagi," rengek Zahra.


" Sayang... Kamu udah terlalu lama di dalam air."


Azzam menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya. Tak peduli dengan tatapan orang - orang di sekitarnya, Azzam menatap wajah sang istri yang cemberut itu dengan mengecup keningnya cukup lama.

__ADS_1


" Masss... Malu dilihat banyak orang." bisik Zahra.


" Makanya nurut sama suami, mau Mas cium sekarang di bibir yang manyun itu." sahut Azzam.


" Jangan macam - macam ya, Mas!"


" Nurut, nggak?"


" Iya...!"


Azzam tersenyum lalu menggandeng tangan Zahra menaiki batu karang agar mereka bisa duduk dengan nyaman menikmati sunset di hari yang cerah ini berdua. Jika diperhatikan, Azzam jadi semakin romantis meskipun di tempat umum. Dulu, mana pernah ia mencium istrinya di depan umum. Di depan anaknya yang masih balita saja, Azzam jarang melakukannya.


" Sejak kapan Mas jadi semakin romantis begini? Biasanya juga malu jalan bergandengan tangan aja." sindir Zahra.


" Sejak Mas menyadari kalau Adek itu semakin hari semakin bertambah cantik. Mas tidak mau ada pria lain yang merebut Adek dari Mas. Hanya Mas yang boleh memiliki Adek, tidak ada orang lain."


Azzam merengkuh tubuh istrinya untuk bersandar pada dada bidang yang selalu membuat Zahra merasa aman dan nyaman.


" Mas sayang banget ya sama Adek?"


" Tentu saja, sayang. Hanya kamu yang bisa singgah di hati Mas. Tidak pernah ada satupun wanita yang pernah membuat Mas jatuh cinta selain kamu."


" Masa' sih? Memangnya waktu kuliah dulu tidak ada yang suka sama Mas?"


" Banyak yang suka, tapi tidak ada yang bisa membuat Mas jatuh cinta."


" Kalau Adek gimana? Mama pernah cerita kalau_..."


" Iya, Dek. Mas tahu kamu yang menolong Mama waktu di Jogja. Hanya saja waktu itu kamu terlalu ceat pergi saat Mas mulai mendekat."


" Kenapa Mas memaksa Adek untuk menikah?"


Azzam mencium pipi Zahra gemas. Istrinya yang sangat cantik itu selalu membuatnya tak bisa melepas pandangannya.


" Mas nggak maksa, Adek sendiri yang bersedia menerima syarat dari Mas."


" Mas yang curang pasti waktu itu. Tiba - tiba tak ada satupun kendaraan yang lewat."


" Maaf ya, Dek. Sebenarnya waktu itu adalah hari paling sulit dari hidup Mas. Sebelum sampai di Jogja, Mas diusir oleh Papa. Sehari sebelumnya, Mama menyuruhku untuk mencarimu. Mama berharap kita berjodoh waktu itu hingga akhirnya Mas nekad melakukan itu padamu."


" Jangan bohong lagi sama Adek, Mas harus selalu jujur sama Adek apapun yang terjadi."


" Iya, sayangku."


Hari semakin beranjak senja. Matahari secara perlahan mulai merangkak ke ufuk barat dengan cahaya kuning keemasan. Pemandangan yang selalu Zahra nantikan setiap kali mengunjungi pantai.


" Thank you, my husband."


" You're welcome, my wife."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2