Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Asisten pribadi Azzam


__ADS_3

Pagi - pagi sekali, Azzam dan Zahra sudah berada di Bandara. Rencananya mereka kembali menitipkan Rama kepada kakek dan neneknya. Jefri juga akan ikut dengan mereka sebagai salah satu pengawal bayangan.


" Adek yakin mau ikut dalam misi ini?" tanya Azzam memastikan.


" Tentu saja, kita akan hadapi semua ini bersama." jawab Zahra pasti.


" Maaf, ya?" lirih Azzam.


" Maaf? Soal apa?"


" Semenjak Mas kembali pada pada keluargaku, banyak sekali masalah yang terjadi padamu."


" Asalkan bersama Mas Azzam, Zahra siap menghadapi badai sedahsyat apapun itu."


" Hmm... Sudah mulai pandai gombal rupanya." ledek Azzam.


Tak lama, Azzam beserta anak dan istrinya masuk ke dalam pesawat. Rama terlihat sangat senang berada di dalam pesawat.


.


.


" Assalamu'alaikum..." ucap Azzam dan Zahra.


" Kok sepi, Mas?" tanya Zahra pelan.


" Mungkin di kamar, sayang. Inikan hari minggu, mungkin mereka tidak punya kegiatan diluar." jawab Azzam.


" Yah, Rama cari Om Kai?" ucap Rama.


" Yaudah, Rama naik keatas. Tahu kamarnya Om Kai, kan?"


" Iya, Yah."


" Hati - hati, sayang." peringat Zahra.


Rama berjalan menaiki tangga untuk mencari Kaivan yang mungkin saja kembali tidur setelah shubuh tadi. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Kaivan yang akan menghabiskan hari liburnya di tempat tidur.


" Om Kai...!" teriak Rama begitu naik ke ranjang.


" Astaghfirullah...!" pekik Kaivan.


Kaivan kaget karena melihat keponakannya yang tiba - tiba sudah berada disampingnya sedang tertawa melihatnya terkejut.


" Bangun, Om. Ayo main sama Rama." rengek Rama.


" Hmm... Pagi - pagi masih aja mimpi." gumam Kaivan.


" Om Kaivaannn...!" teriak Rama.


" Ya Allah...!" Kaivan hampir saja jantungan melihat sang keponakan sudah duduk di atas perutnya.


Rama menarik - narik baju Kaivan agar cepat bangun. Anak itu sudah tidak sabar untuk bermain dengan Kaivan.


" Boy...? Ini beneran kamu? Sama siapa kesini?"


" Sama Ayah dan Bunda, Om."


" Om mandi sebentar, kamu mainan dulu disini."


" Nonton kartun, Om?"

__ADS_1


" Iya, tapi di tv saja. Kalau di ponsel nanti Bunda marah lagi sama Om."


Setelah keponakannya mulai fokus nonton film, Kaivan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia pikir Azzam akan datang besok atau lusa, tapi saat ini bocilnya sudah di dalam kamarnya.


Usai membersihkan diri, Kaivan mengajak Rama untuk turun ke bawah menemui Azzam dan Zahra. Apakah ada masalah yang sangat penting sehingga mereka tidak memberi kabar dulu sebelum datang? Setidaknya Kaivan bisa menjemput mereka di Bandara.


" Assalamu'alaikum, Mas... Kak Zahra." sapa Kaivan.


" Wa'alaikumsalam, Papa dan Mama dimana?"


" Mereka sedang mengunjungi Villa di Bogor, biasa honeymoon biar kita punya adik lagi." gurau Kaivan.


" Haish... Sembarangan kalau ngomong. Aku nggak mau punya adik lagi, orangtua kita itu usianya sudah lebih dari setengah abad." sungut Azzam.


" Jangan dengarkan Kaivan, Mas." ucap Zahra.


" Oh iya, bukankah lusa baru kesini? Papa dan Mama pergi menghadiri undangan pernikahan rekan bisnisnya di Bogor sekalian menginap di Villa. Mungkin nanti sore atau besok baru pulang." kata Kaivan.


Azzam menyandarkan punggungnya di sofa sembari menghela nafas panjang. Dia juga sedang menunggu Deni yang tadi sudah dihubunginya supaya datang ke rumah.


" Deni bilang Merry berbuat ulah di proyek." kata Azzam.


" Wanita itu benar - benar tidak tahu diri. Kemarin aku sendiri yang kesana, Mas. Tapi dia tetap kekeh ingin bertemu denganmu langsung." sahut Kaivan.


" Tenang saja, nanti aku yang hadapi wanita itu." ucap Zahra.


" Kak Zahra mau ikut ke Bandung?"


" Iya, karena sekarang aku bekerja untuk Presdir Azzam Al Farizy."


" Kerja?"


" Benar, Zahra akan menjadi asisten pribadiku selama menangani proyek dengan Merry."


" Dia tetap disini sama kamu."


Tak berselang lama, Deni datang dengan beberapa berkas di tangannya. Kini mereka berada di ruang kerja supaya lebih nyaman membahas soal pekerjaan.


" Yang, tadi Agus untuk teras mau dibuat seperti apa?" tanya Azzam pelan.


" Nanti Zahra hubungi Agus. Kita fokus dulu dengan masalah ini." jawab Zahra.


" Den, besok aku dan Zahra akan menemui Merry. Kau tetap stay di kantor sama Kaivan, biar Merry aku yang urus." ujar Azzam.


" Kamu yakin, Zam? Zahra juga tidak apa - apa bertemu dengan Merry?"


" Tidak masalah, aku ingin tahu seberapa nekat wanita itu." kata Zahra.


.


.


Azzam dan Zahra berangkat ke Bandung setelah shubuh. Azzam sudah memesan kamar hotel khusus yang mana dua kamar itu saling terhubung. Mereka tidak ingin Merry tahu jika Zahra adalah istri Azzam.


" Sayang, kamu masuk lewat pintu sebelah sana." ujar Azzam pelan.


" Kita tidak satu kamar, Mas?" lirih Zahra.


" Kau itu asistenku, jangan berharap lebih dari atasan." gurau Azzam.


" Ish... Awas aja nanti!" kesal Zahra.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar masing - masing, Zahra langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Masih ada waktu dua jam untuk istirahat sebelum zuhur.


" Asistenku cantik banget hari ini." bisik Azzam seraya memeluk erat tubuh istrinya.


" Hmm... Jangan ganggu, Mas. Adek masih ngantuk." gumam Zahra tanpa membuka matanya.


" Udah waktunya zuhur, sayang."


Zahra baru teringat jika saat ini dirinya berada di kamar hotel yang berbeda dengan suaminya. Secara refleks Zahra langsung mendorong tubuh suaminya dan menendangnya hingga terjatuh ke lantai.


" Auwww... Sayang, kenapa menyerangku!" seru Azzam.


Zahra yang belum sepenuhnya sadar langsung turun dari ranjang dan kembali ingin menghajar suaminya. Untung saja kali ini Azzam sudah siap sehingga ia bisa menahan serangan Zahra.


" Sayang... Ini suamimu. Apa yang kau lakukan!" teriak Azzam.


Zahra langsung terduduk di tepi ranjang sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa di depannya adalah sang suami.


" Mas... Ini beneran kamu?" lirih Zahra.


" Adek tenang dulu, lihat Mas!" Azzam menangkup wajah istrinya dengan tersenyum.


" Maaf... Adek pikir Mas orang lain. Bukannya pintu kamar Adek kunci, ya?"


" Kamu pasti lelah, sholat dulu terus makan baru istirahat lagi."


" Maaf ya, Mas... Kenapa tadi tidak melawan?"


" Mana mungkin Mas melawan istri cantik ini?"


Zahra merasa malu dengan kelakuannya sendiri hingga menenggelamkan wajahnya dalam dekapan suaminya.


" Kok Mas bisa masuk kamar Zahra?"


" Di kamar ganti ada pintu penghubung jadi Mas bisa kesini tanpa lewat pintu depan."


" Bahaya kalau kayak gitu."


" Bahaya gimana?"


" Kalau yang sewa di sebelah orang lain, gimana? Bisa aja itu orang jahat."


" Udah, jangan berpikir macam - macam. Ayo jamaah, sebentar lagi pesanan makanan datang." ujar Azzam.


Entah mengapa, akhir - akhir ini memang Zahra mudah lelah dan mengantuk padahal tidak mengerjakan pekerjaan yang berat.


Malam hari, Azzam dan Zahra makan di restoran yang tidak jauh dari hotel. Mereka sengaja keluar untuk memancing kedatangan Merry. Apa reaksi yang akan ditunjukkan Merry saat melihat Azzam bersama seorang wanita?


Saat makanan datang, Azzam segera mengajak istrinya untuk makan. Pengawal diluar melaporkan jika Merry sudah di parkiran.


" Sayang, kamu sudah siap berhadapan dengan Merry?"


" Siap, Boss!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2