
Usai makan siang, Azzam mengajak istrinya untuk mengambil berkas di kantor. Karena ini hari sabtu, jadi tidak ada karyawan yang masuk kecuali bagian keamanan. Mungkin hanya ada beberapa yang lembur itupun pulang tengah hari.
" Mas, tidak apa - apa aku ikut masuk?" lirih Zahra.
" Loh, memangnya kenapa? Kok nanya gitu, sayang?" sahut Azzam.
" Orang - orang disini kan tidak tahu aku istrimu,"
" Disini juga tidak banyak yang tahu kalau aku bossnya."
" Beneran, Mas?"
" Iya, Dek. Aku memang jarang datang ke kantor. Kamu tahu sendiri setiap hari kerjaan Mas di sawah. Mas hanya bekerja dari rumah untuk urusan kantor dan Restoran."
Azzam masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang menyapanya saat di lobby.
" Sayang, Mas lupa ambil sesuatu di mobil. Nanti setelah antar kamu ke ruanganku, Mas balik lagi ke bawah ya?"
" Aku di atas sendirian, Mas?"
" Kenapa...? Adek takut sendirian...? Hhh... agen rahasia Tiger White punya rasa takut juga?" goda Azzam.
" Zahra ikut ke bawah lagi aja, ya?"
" Nanti kamu lelah, sayangku. Bundanya Rama manja banget sih?"
Azzam menangkup wajah istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya tanpa terlewat sedikitpun. Tatapan matanya yang sayu membuat Zahra langsung mendorongnya sedikit menjauh.
" Mas... jangan seperti itu!" lirih Zahra.
" Maaf, sayang. Mas hanya merindukanmu." balas Azzam mendesah pelan.
Sampai di lantai paling atas, Azzam langsung mengantar istrinya ke ruangan khusus Presdir. Zahra langsung diantar ke kamar pribadi yang ada di dalam ruangan itu.
" Mas ke bawah sebentar, ya?"
" Beneran ya cuma sebentar?"
" Iya, Bunda. Ayah cuma sebentar kok."
Zahra langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah Azzam keluar. Rasanya sangat nyaman untuk beristirahat setelah kejadian semalam yang membuatnya susah tidur.
" Sayang, kamu capek ya?" bisik Azzam yang entah sejak kapan masuk.
" Zahra masih mikirin Agus sama Cahyo, Mas."
Azzam ikut berbaring di samping istrinya lalu mendekap tubuh ramping yang selalu membuatnya candu.
" Rileks, sayang. Jangan memikirkan itu lagi, mereka sudah mendapatkan perawatan yang terbaik."
" Tetap saja Zahra merasa bersalah, Mas. Seandainya malam itu Zahra tidak mengajak mereka untuk memantau keadaan sawah, pasti semua ini tidak akan terjadi."
" Hei... semua sudah terjadi, tidak ada yang harus kamu sesalkan."
Azzam menarik tubuh istrinya hingga terbaring di atas tubuhnya. Azzam mengecup bibir istrinya dengan lembut.
" Masss...!"
__ADS_1
" Salah satu cara membuat hati tenang adalah seperti ini. Hanya kita berdua, kita akan melewatkan hari ini disini sampai besok. Akan kubuat kau melupakan kesedihanmu, hanya kenikmatan yang akan kita dapatkan."
" Hanya kita berdua...? Rama gimana kalau kita tidak pulang?"
" Ada Kaivan dan Rayyan, jangan pikirkan siapapun lagi. Buat dirimu setenang mungkin, sayang."
Azzam sudah tidak sabar untuk mencumbu seluruh tubuh istrinya. Hampir tiga minggu Azzam tak menyentuh istrinya semenjak misi mereka untuk menyelamatkan orangtuanya.
" Mas... jangan sekarang."
" Kenapa, hmm...?"
" Sebentar lagi sholat Ashar, Mas tidak akan selesai dalam waktu secepat itu."
" Hhh... ditunda lagi?" ucap Azzam kecewa.
" Sudah jam setengah tiga, sabar ya?" Zahra tersenyum seraya mendorong pelan tubuh suaminya.
" Huft... kenapa sulit sekali hanya ingin berduaan dengan istri." kesal Azzam lalu keluar dari kamar.
Zahra mengikuti sang suami yang sudah duduk di kursi kebesarannya dengan laptop yang menyala di hadapannya.
" Anda perlu bantuan, Tuan Muda Al Farizy?" goda Zahra.
" Nanti saja setelah Ashar." sahut Azzam datar tanpa melirik istrinya sedikitpun.
" Cckkk... Cckkk... Cckkk...! Tuan kalau ngambek semakin tampan deh, baru tiga minggu tidak ke sawah sudah kelihatan glowing lagi." Zahra tak berhenti menggoda suaminya.
" Adinda Azzahraaa....!" geram Azzam.
Azzam sangat kesal dengan tingkah istrinya yang tak berhenti mengganggunya. Kalau saja sebentar lagi tidak masuk waktu Ashar, sudah habis istrinya itu di ranjang.
Zahra menjauh dari suaminya lalu berdiri di dekat kaca hingga bisa melihat pemandangan kota Jogja yang hari ini sangat cerah.
" Sayang... kesini sebentar." titah Azzam.
" Apa sih, Mas? Pemandangan dari sini ternyata sangat indah."
" Katanya tadi mau bantuin Mas kerja?"
" Hmm..."
" Apa...?"
" Tolong periksa berkas ini, biar cepet selesai dan besok Mas bisa fokus buat ngurus sawah."
" Biar sawah Zahra yang urus saja, Mas pulanglah ke Jakarta rawat Mama."
Zahra mengambil berkas di tangan suaminya lalu beranjak menuju sofa. Walaupun dia belum pernah bekerja di perusahaan, namun Zahra paham karena dirinya dulu kuliah di jurusan itu.
" Sayang... sawah itu urusan Mas, kamu kalau mau urus kantor ini saja atau Restoran."
" Tapi, Mas... Saat ini Mama dan Papa lebih membutuhkan kehadiranmu."
" Jadi kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi?"
" Bukan begitu, Mas. Zahra hanya tidak mau memisahkan anak dari orangtuanya. Aku tahu gimana rasanya berpisah dengan orangtua."
__ADS_1
" Hanya ada kita, jangan membahas yang lain. Aku tidak mau hubungan kita hancur karena aku kembali kepada keluargaku."
Azzam mendekap erat istrinya. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa istri dan anaknya yang selama ini menemaninya di saat ia terpuruk.
" Mas bisa pulang kapanpun juga, tapi saat ini Mama sangat membutuhkan kehadiranmu. Jika nanti Zahra sudah keluar dari pekerjaan menjadi guru, Zahra bisa sering datang ke Jakarta. Tapi untuk menetap disana sepertinya Zahra belum bisa."
" Kenapa...?"
" Agus dan Cahyo pasti butuh pemulihan yang cukup lama. Aku tidak bisa mempercayakannya pada orang lain. Mereka itu sudah seperti adikku sendiri, biarlah mereka tetap di desa merawat orangtuanya. Hasil dari sawah kurasa cukup untuk mereka."
" Mas terserah kamu saja, Dek. Mas yakin kamu akan melakukan yang terbaik."
" Zahra hanya ingin warga di desa kita bisa bekerja tanpa harus pergi jauh meninggalkan anak dan istrinya, Mas. Tanah yang dari Jefri itu kita buat gudang atau di bongkar saja Mas untuk lahan baru?"
" Kalau untuk buka lahan sepertinya butuh pekerja lagi, Dek. Apa hasil dari sawah bisa untuk membayar gaji mereka?"
" Adek mana tahu, yang ngurudin gaji pekerja Mas semua."
" Kita bahas besok saja, Dek. Udah waktunya sholat Ashar."
" Berkas ini...?"
" Nanti saja setelah sholat."
Azzam mengambil wudhu terlebih dahulu kemudian disusul istrinya. Di dalam kamar itu sudah tersedia sajadah, mukena dan sarung. Zahra tersenyum sang suami sudah mempersiapkan semuanya.
" Ayo, sayang." ajak Azzam.
.
.
Keinginan tak sesuai harapan. Azzam yang sudah bersemangat sehabis melipat sajadah harus kembali kecewa karena Zahra malah langsung keluar untuk mengerjakan berkas yang diberikannya tadi.
" Sayang... itu nanti saja habis maghrib." rengek Zahra.
" Sekalian, Mas. Biar nanti nggak kepikiran terus." sahut Zahra asal.
" Ya Allah... kenapa istriku nakal sekali." keluh Azzam.
Zahra tidak tega melihat wajah memelas suaminya. Dia segera menutup berkasnya lalu berjalan menuju suaminya.
" Hanya kita berdua, kenapa Mas terburu - buru?" Zahra tersenyum jahil.
" Kau dari tadi hanya menggodaku, jangan salahkan kalau aku memaksamu!" geram Azzam.
Azzam langsung menarik tubuh istrinya ke dalam kamar dengan paksa. Dia tak peduli walau istrinya meronta minta dilepaskan.
" Aku tidak akan melepasmu sampai besok pagi."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.