
" Nyonya tenang saja, sebentar lagi putramu pasti kembali." bisik Zahra.
" Apaaa...?" lirih Rahma tak percaya.
Zahra melepaskan pelukannya lalu menggenggam erat kedua tangan wanita yang kini menjadi ibu mertuanya itu. Tatapannya yang lembut dengan isyarat agar Rahma gidak bertanya.
" Saya janji akan mempertemukan Anda dengannya." bisik Zahra lagi.
" Kok bisik - bisik? Ngomongin saya, ya?" kata Kaivan datar.
" Tuan ini mau tahu saja urusan perempuan, Nyonya menyuruh saya untuk segera mencarikan jodoh untuk Tuan." sahut Zahra asal membuat Rahma mengulas senyum.
" Tidak mau! Kalau dipaksa, kau saja yang menikah denganku!" kesal Kaivan.
" Maaf, Tuan. Saya sudah punya pilihan sendiri." tolak Zahra sambil tersenyum.
" Saya tidak akan percaya sebelum melihatnya langsung dihadapanku. Yang pasti saya lebih tampan dari pria yang kerjanya di sawah itu." cibir Kaivan.
" Ish... kita lihat aja nanti, setampan apa pria pujaan hatiku." ketus Zahra.
Zahra memang tidak pernah menyebut Azzam sebagai suaminya di depan Kaivan. Dia hanya ingin membuat jarak dengan majikannya itu.
" Nyonya, putra Anda baik - baik saja. Bertahanlah sebentar lagi sampai kami menjemputmu lagi." bisik Zahra sembari menyelipkan sebuah kamera di samping meja kecil tempat menaruh minuman.
Dari tempat itu, Zahra bisa memantau kejadian yang terjadi di atas tempat tidur ibu mertuanya. Setidaknya ia harus bisa masuk ke tempat ini beberapa hari sekali untuk mengganti baterai kamera.
" Ma, Kai keluar dulu ya? Semoga Mama cepat sembuh. Nanti Kai akan sering mengunjungi Mama." pamit Kaivan.
" Iya, Nak. Jaga diri kamu baik - baik, Mama pasti bisa bertahan." ucap Mama Rahma.
" Rara juga pamit, Nyonya. Semangat untuk hari esok yang lebih baik. Allah akan selalu bersama orang - orang baik dan bersabar." pamit Zahra seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan senyuman lembut.
Rahma merasa terharu dengan perlakuan Zahra. Sikapnya tidak memperlihatkan seperti seorang pelayan, melainkan seorang anak kepada orangtuanya.
" Semoga kau selalu bahagia, Nak." Rahma membelai lembut pipi Zahra sebelum dua orang dihadapannya itu pergi.
.
.
Tepat jam lima pagi, Kaivan dan Zahra sudah bersiap pergi ke Bandara. Semalam Deni sudah memperkenalkan sopir pribadi untuk Kaivan agar CEO itu tidak kelelahan saat harus bekerja setiap harinya.
" Sakti, kita berangkat sekarang!" titah Kaivan.
__ADS_1
" Baik, Tuan." jawab sopir itu sopan.
Ya... sopir baru Kaivan itu bernama Sakti. Bimantara Sakti Kyle. Nama yang tak pernah ia sematkan saat berkenalan dengan orang lain.
Zahra membuka pintu mobil bagian depan seperti kemarin saat bersama Deni. Namun saat hendak masuk, Kaivan menarik tangannya.
" Kau di belakang bersamaku." titah Kaivan.
" Tapi, Tuan... saya di depan saja dengan sopir."
" Kau mau membiarkan saya sendirian di belakang? Inilah yang tidak saya suka pakai sopir!" kesal Kaivan.
Dengan tatapan matanya, Sakti menyuruh Zahra untuk menuruti keinginan Kaivan. Lebih baik mereka segera pergi dari tempat ini agar cepat sampai di Bandara.
" Ya sudah, Tuan jangan marah. Saya akan menemani Tuan di belakang." ucap Zahra sambil tersenyum.
Kaivan langsung masuk ke dalam mobil tanpa menyahuti ucapan Zahra. Entah mengapa, ia selalu merasa kesal saat Zahra menolak perintahnya namun tak berani memarahinya.
Saat Zahra duduk di sampingnya, Kaivan memalingkan wajahnya keluar kaca mobil. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Entah apa yang ia rasakan saat ini, dia merasa wajib menjaga Zahra. Dia menyadari tak ada rasa cinta sebagai seorang pasangan, perasaannya lebih kepada saudara.
" Sakti, nanti setelah mengantar kami ke Bandara kau bisa pulang dan beristirahat. Kau bisa bertanya pada kepala pelayan untuk kamar yang kau tempati." kata Kaivan.
" Baik, Tuan." jawab Sakti pelan.
" Tuan, kenapa saya harus ikut? Terus... siapa yang membersihkan kamar Tuan?" tanya Zahra heran.
" Saya hanya tidak ingin kau bermasalah dengan para pelayan di rumah. Sepertinya banyak yang tidak menyukaimu karena dari sekian banyak pelayan, hanya kau saja yang kuijinkan memasuki kamarku." jawab Kaivan.
" Benar juga, hanya Sita dan Nina yang mau berteman dengan saya. Itu saja jarang sekali bertemu karena mereka bekerja di paviliun menemani Nyonya Rahma."
" Mereka hanya diluar, tidak diijinkan masuk ke kamar Mama jika belum waktunya."
" Kok bisa? Apakah mereka akan ketahuan kalau masuk diam - diam?"
" Tentu saja, seluruh paviliun itu dipasang kamera cctv kecuali kamar Mama."
" Hhh... keadaan Nyonya Rahma sangat buruk, apa Tuan tidak bisa membawanya ke rumah sakit untuk perawatan?"
Kaivan menatap Zahra penuh selidik. Mungkin Kaivan heran mengapa Zahra sangat peduli dengan orang yang baru dikenalnya.
" Sebaiknya jangan ikut campur masalah ini jika masih sayang dengan nyawamu." ucap Kaivan datar.
Bima bisa menangkap maksud dari ucapan Kaivan adalah sebuah peringatan bahwa ia harus berhati - hati. Tidak bisa dipungkiri jika Nella sama seperti kakaknya, Darco yang sangat kejam. Mereka tidak ragu untuk membunuh siapapun yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Bima tetap fokus dengan jalanan sembari mendengarkan obrolan Zahra dan Kaivan. Bima bisa menyimpulkan jika Kaivan sebenarnya pria yang baik, hanya saja ia terlahir dari rahim yang salah.
Jam enam kurang lima belas menit, mereka sampai di Bandara. Tak ada barang yang dibawa kecuali ransel yang dibawa Kaivan untuk menyimpan berkas - berkas meetingnya nanti. Zahra hanya membawa tas selempang kecil yang berisi mukena yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi.
" Ra, mau sarapan dulu? Kita masih punya waktu lima belas menit sebelum berangkat." ujar Kaivan.
" Nanti saja di Bali, Tuan. Saya tidak suka makan terburu - buru." tolak Zahra.
" Ok. Dan ... Sakti, kau bebas hari ini sampai saya kembali. Saya yakin kau belum nyaman untuk tinggal di kediaman Al Farizy. Jadi tidak perlu datang ke rumah tanpa saya karena Mami tidak akan menerima orang luar begitu saja."
" Baik, Tuan."
Bima masih menunggu sampai Kaivan dan Zahra masuk ke dalam pesawat, baru dirinya pergi meninggalkan Bandara. Karena tak ingin gagal di hari pertama, Bima pulang ke Apartemen Rayyan untuk mrnemani Rama. Tadi dia meninggalkannya bersama Darren karena Azzam dan Rayyan sedang keluar kota.
" Hey... Boy? Apa Om Darren mengurusmu dengan baik?" celoteh Bima sambil berbaring di karpet depan tv tempat Rama bermain.
Baru dua jam Rama ditinggal berdua dengan Darren, Apartemen itu sudah seperti kapal pecah. Dilihat dari pakaian anak itu, sudah dipastikan ia belum mandi dan sarapan.
" Darren... apa kau ingin membunuh pewaris Al Farizy!" sentak Bima.
" Apaaa...? Saya tidak mengerti, Boss?"
" Kau belum memandikan dan memberinya makan b*d*h!" umpat Bima kesal.
" Hehehee... saya tidak tahu, Boss. Mending disuruh hajar preman sekampung daripada jagain anak kecil."
" Dasar payah!"
Bima segera membuat makanan untuk Rama di dapur. Entah mengapa ia sangat perhatian pada Rama, padahal sebelumnya ia tak pernah peduli ketika para sepupunya membawa anak saat pertemuan keluarga.
" Darren, mandikan Rama!" teriak Bima dari dapur yang tak jauh dari tempat Darren duduk.
" Mandi, Boss? Bagaimana caranya?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1