
" Tuan, pergilah ke Apartemen Rayyan." ucap Zahra datar.
" Apaaa...?" tanya Deni tak paham.
" Jangan banyak tanya, lakukan saja malam ini." suara Zahra terdengar seperti perintah.
Zahra langsung keluar dari mobil sebelum Deni banyak bertanya lebih jauh. Zahra tak ingin Kaivan curiga dengannya dan bertanya sesuatu diluar dugaan.
" Terima kasih, Tuan Deni. Hati - hati di jalan..." Zahra melambaikan tangan dengan senyum manisnya.
Deni yang melihat perubahan sikap Zahra jadi bingung. Saat berdua dengannya tadi, wanita itu terlihat sangat serius dan tegas. Namun saat ada Kaivan di sampingnya, dia berubah menjadi gadis yang manis dan polos.
Deni yang penasaran langsung melajukan kendaraannya menuju Apartemen Rayyan seperti kata Zahra tadi. Sepanjang perjalanan, Deni memikirkan hubungan antara Zahra, Azzam dan Kaivan. Mungkinkah mereka saling mengenal?
Impossible! Mereka tidak mungkin saling mengenal. Rara yang dikenal Deni hanyalah seorang pelayan. Tapi dari cara wanita itu menyebut nama Rayyan tanpa embel - embel 'Tuan' membuat Deni semakin penasaran.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai di Apartemen Rayyan. Deni berkali - kali mengetuk sampai akhirnya pintu terbuka dari dalam.
" Cari siapa...?" tanya seorang pria di balik pintu yang hanya terbuka sedikit.
" Maaf, Tuan. Mungkin saya salah kamar." jawab Deni bingung.
Siapa yang tidak bingung, setahu Deni sahabatnya itu memang tinggal di Apartemen itu. Tapi saat dia ingin masuk ternyata ada orang lain yang menempatinya. Dia tak hanya sendiri karena ada seorang anak kecil yang berjalan tertatih kearahnya.
" Salah kamar...? Memangnya siapa yang kau cari...?"
" Setahu saya ini kamar teman saya, Rayyan. mungkin di kamar sebelah."
" Anda tidak salah kamar. Ini Unit Apartemen Rayyan, Anda siapa?"
" Saya Deni."
" Silahkan masuk, sebentar lagi Azzam dan Rayyan sampai."
" Tunggu! Azzam tinggal disini juga?" Deni kaget mendengar nama Azzam disebut.
Bima sudah tahu jika Deni akan datang dari Zahra. Bima juga sudah memberitahu Azzam dan Rayyan supaya melibatkan Deni dalam misi ini karena hanya dirinya yang bisa keluar masuk kediaman Al Farizy dan di kantor.
" Maaf, saya harus mengurus anak majikan dulu."
Bima meraih Rama ke dalam gendongannya untuk mengambil makanan di dapur. Tadi Bima masak sayur bayam dan wortel untuk anak itu. Walaupun ia tidak pernah mengurus balita sebelumnya, namun untuk makanan dia tidak boleh sembarangan memberikan makanan instan.
" Ini anak siapa...?" tanya Deni penasaran.
" Anaknya Azzam, dia sedang ada kerjaan di Bandung jadi seharian ini saya yang jadi pengasuhnya."
" Istri Azzam...?"
" Kau tidak tahu...?" Bima tersenyum tipis.
Saat mereka sedang berbincang, Azzam dan Rayyan datang dan terkejut ada Deni. Mereka saling berpelukan seperti sudah lama tak bertemu saja padahal Azzam dan Deni sempat bertemu sewaktu di Jogja.
__ADS_1
" Kau tahu aku ada disini?" tanya Azzam.
" Tidak, aku sendiri juga bingung kenapa ada disini." jawab Deni.
" Memangnya kau diculik?!" sinis Rayyan.
Mereka bertiga selalu saja ribut dan berdebat kalau sudah berkumpul. Namun jika tak ada salah satu diantara mereka, sepertinya kehidupannya berjalan hanya dengan satu kaki.
" Huh... pelayan Kaivan yang menyuruhku datang kesini, entah apa maksudnya dia tak memberikan penjelasan sedikitpun."
" Kau sudah bertemu dengannya?" pekik Azzam.
" Bertemu siapa? Pelayan itu...? Sepertinya Kaivan sangat menyukainya, begitupun pelayan itu. Mereka terlihat sangat cocok." kata Deni tak menyadari tatapan tajam Azzam.
" DIA ISTRIKU...!" pekik Azzam memukul kepala Deni.
Tak hanya Deni, Rama yang sedari tadi bersandar di dada Bima sambil menonton youtube kartun di ponsel seketika menangis karena kaget.
" Woiii...! Bisa nggak jangan berteriak di depan anak kecil!" kata Bima pelan namun tegas.
Melihat Rama yang menangis namun tak bersuara membuat Azzam merasa bersalah. Dia segera mengambil putranya dari dekapan Bima.
" Maafin Ayah ya, Nak. Ayah nggak sengaja tadi bicara keras." Azzam menimang Rama dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Bunda..." lirih Rama.
" Bunda sedang bekerja, sayang. Nanti kalau pekerjaan Bunda selesai, kita bisa main sama - sama lagi." bujuk Azzam.
" Tidur, yuk? Rama pasti udah ngantuk, kan?"
" Bunda... Ayah..." rengek Rama.
" Tidur sama papa aja, sayang." bujuk Rayyan.
" Bundaaa...!" teriak Rama kencang sambil menangis.
Bima mengambil alih Rama dari gendongan Azzam. Dia sangat paham jika anak itu sangat merindukan ibunya.
" Mau jalan - jalan sama Om Bima...? Kita naik mobil yuk?" bujuk Bima.
Walaupun masih menangis, Rama tidak menolak ajakan Bima. Mereka keluar dari Apartemen untuk berkeliling di jalanan sebentar hingga anak itu tidur.
Sementara itu di dalam Apartemen, Deni yang merasa bingung disuruh pelayan baru Kaivan ke Apartemen Rayyan segera bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
" Adakah yang ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Deni.
" Kami punya misi, tapi tidak tahu kalau Zahra menyuruhmu datang kesini." kata Rayyan.
" Tunggu...! Dia beneran istrimu, Zam?"
" Iya, dia istriku!" sahut Azzam datar.
__ADS_1
" Wow... pantas saja dia sangat cantik walaupun penampilannya sangat sederhana. Kalau dipoles sedikit saja, dia pasti cantik bak bidadari kayangan." puji Deni.
" Sial...! Kau jangan berani mengganggu istriku!"
" Hahahaa... bukan aku, Zam. Tapi adik tirimu itu sepertinya menyukai Rara. Aku tidak pernah melihat Kaivan sedekat itu dengan wanita selama tiga tahun kerja dengannya."
Azzam semakin resah saja melepaskan Zahra untuk menjalankan misi. Selain khawatir dengan keselamatan nyawanya, kini Azzam juga khawatir jika Zahra terlalu dekat dengan Kaivan.
" Jangan dengarkan bualan Deni, Zahra tidak mungkin menyukai Kaivan." ujar Rayyan sambil menatap Deni tajam.
Bisa kacau jika Azzam cemburu dan nekat menemui Zahra yang sedang menjalankan misi. Bisa - bisa nyawa adik iparnya itu menjadi taruhan jika penyamarannya gagal.
Tak lama Bima datang dengan menggendong Rama yang sudah terlelap. Setelah meletakkan tubuh kecil itu di kamar Azzam, Bima bergabung dengan yang lain.
" Langsung saja dengan intinya. Saya sengaja menyuruh Zahra agar melibatkanmu dalam misi ini." kata Bima tegas menatap Deni.
Saat sedang serius seperti ini, aura dingin dan tatapan tajam Bima terasa sangat menakutkan. Sebagai pimpinan Tiger White, Bima tak segan - segan untuk membunuh musuhnya. Nyawa orang sudah seperti mainan untuknya.
" Misi apa...? Sebenarnya ada masalah apa ini dan Anda siapa?" tanya Deni bingung.
" Kau pasti lebih tahu seluk beluk kediaman Al Farizy daripada Rara. Apa kau tahu keberadaan ibu kandung Azzam?"
" Iya, Den. Harusnya aku tak meninggalkan Mama waktu itu." kata Azzam menyesal.
" Jadi istrimu masuk rumah itu untuk mencari tante Rahma, Zam?"
" Iya... Dan kuharap kau mau membantu kami."
" Tidak usah meminta, Zam. Tante Rahma itu sudah seperti ibuku sendiri. Aku juga akan mencarinya, kasihan beliau."
Deni memang tak pernah melihat keberadaan ibunya Azzam semenjak tiga tahun lalu. Entah apa yang terjadi, wanita paruh baya itu tidak pernah menampakkan diri. Pernah Deni bertanya kepada Zaid, namun Zaid hanya mengatakan jika istrinya berada di rumah dan sedang sakit.
" Tolonglah, Den. Hanya kau yang bisa membantuku mencari Mama. Zahra pasti sangat sulit untuk menghadapi mereka sendirian disana. Aku yakin Mama masih ada di dalam rumah itu." ucap Azzam.
" Tenanglah, Zam. Aku akan membantu istrimu semampuku. Mungkin Kaivan bisa kita manfaatkan untuk masalah ini. Kurasa dia juga terpaksa tinggal di rumah itu karena ibunya."
" Aku sudah tidak sabar menghancurkan wanita itu!" geram Rayyan.
" Tidak semudah itu, Ray. Tante Nella itu berdiri di bawah naungan kakaknya, Darco. Pria itu adalah mafia kelas kakap di Asia Tenggara. Dia memiliki banyak sekali bisnis ilegal namun polisi di beberapa negara sulit untuk menangkapnya." ungkap Deni.
Bima pernah mendengar nama Darco sebelumnya. Ya, dia adalah target yang sudah beberapa tahun ini diburu kakeknya, Edward Kyle.
" Aku akan segera melenyapkan Darco!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.