Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Welcome to Bali, Rara!


__ADS_3

Setelah drama memandikan Rama yang kacau, Darren segera pergi dari Apartemen Rayyan dengan mengumpat sepanjang jalan. Baru kali ini Bima meremehkan hasil dari pekerjaan Darren yang tidak becus menjaga satu orang anak kecil. Padahal sudah bertahun - tahun Darren mengabdi di Tiger White dan tak pernah gagal dalam tugasnya.


" Boss tahu sendiri aku tidak pernah dekat dengan anak kecil, kenapa tidak cari baby sitter saja." gerutu Darren.


Lain dengan kekesalan Darren, Bima sedang mengajak Rama jalan - jalan ke pusat perbelanjaan. Dengan penampilannya yang sudah seperti semula dengan jas mahal, Arloji limited edition dan mobil Ferarri keluaran terbaru, Bima memasuki Mall itu dengan menggendong Rama. Tampak pandangan mata para wanita yang berdecak kagum menatapnya.


" Wowww... benar - benar pria idaman." bisik salah seorang pengunjung.


" Hot Daddy... ckckckkk!!!" seloroh yang lain.


Bima mengabaikan celotehan orang - orang yang menatapnya kagum. Dia lebih fokus untuk mencari barang - barang kebutuhan Rama yang telah ia catat di secarik kertas. Namun karena ia tak biasa berbelanja seperti itu, Bima merasa kesulitan untuk mencarinya hingga sebuah ide konyol melintas di pikirannya. Bima dengan senyum tipisnya menghampiri beberapa wanita yang tengah membicarakannya.


" Maaf, Nyonya... Bolehkah saya meminta bantuan?" ucap Bima ramah.


" Oh, tentu saja Tuan. Ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu dari mereka.


" Saya ingin berbelanja tapi putra saya sepertinya tidak mau turun dari gendongan. Bisakah Anda mencarikan barang - barang itu untuk saya?"


" Tentu, Tuan. Katskan saja barang apa yang Anda butuhkan."


Dengan senyum yang lebih lebar, Bima menyerahkan secarik kertas daftar belanjaannya lalu berjalan menuju sebuah kursi di sudut ruangan menunggu para wanita itu mencarikan barang - barangnya.


" Lihatlah, Boy...! Ketampanan itu harus dimanfaatkan. Kelak kau dewasa, pasti lebih tampan dariku." bisik Bima terkekeh sendiri.


Rama hanya diam sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia terlalu nyaman dalam pangkuan Bima hingga akhirnya tertidur.


" Haish... Kau ini diajak berburu gadis cantik malah tidur." gumam Bima.


Seandainya Zahra tahu kelakuan Bima, sudah pasti ia takkan rela putranya diasuh oleh pria penjaja wanita itu. Baru beberapa hari bersama, anak sekecil itu sudah diajarkan hal - hal diluar batas.


.


.


Zahra dan Kaivan kini sampai di pulau Bali. Mereka menyewa penginapan di dekat pantai Kuta karena siang nanti ada meeting di Restoran terdekat. Mereka berdua menikmati sarapan di dekat pantai sembari menikmati pemandangan alam.


" Ra, kau mau jalan - jalan atau istirahat saja sebelum meeting? Masih ada waktu tiga jam lagi." kata Kaivan.

__ADS_1


" Yang meeting itu Tuan, bukan saya. Tidak mungkin seorang pelayan seperti saya ikut di acara meeting, bisa kacau semua kerjaan Tuan."


" Terus mau kemana?"


" Mmm... saya bisa menunggu Tuan meeting dengan berkeliling pantai Kuta. Tenang saja, saya tidak akan nyasar."


" Baiklah, tapi jangan jauh - jauh. Cari tempat yang ramai biar aman. Saya tidak bisa menjagamu sepanjang waktu." peringat Kaivan.


Zahra merasa terharu dengan perhatian Kaivan. Pria itu memperlakukannya dengan sangat tulus, entah apa maksudnya. Mungkinkah pria itu akan membencinya saat penyamaran ini terbongkar?


" Iya, Tuan. Saya bisa menjaga diri saya sendiri." ucap Zahra.


Selesai sarapan, mereka menuju penginapan untuk beristirahat. Namun hanya Kaivan yang masuk ke dalam kamar karena Zahra kembali ke pantai untuk menikmati mentari yang sebentar lagi akan merangkak semakin naik.


Zahra duduk di batu karang tak menghiraukan teriknya mentari yang mulai panas. Di saat sendiri seperti ini hanya bayangan anak dan suaminya yang tersimpan dalam memorinya. Rasa rindu itu seakan tak tertahankan lagi, namun misinya kali ini lebih penting dan harus cepat ia selesaikan.


Tak ada foto atau barang apapun milik suami dan anaknya. Zahra harus meninggalkan semua identitas aslinya demi sebuah misi, demi keutuhan keluarga suaminya.


" Mas Azzam, Rama... gimana kabar kalian? Bunda sangat merindukan kalian. Sabar, ya? Bunda pasti cepat kembali dan kita bisa bersama lagi seperti dulu. Setelah ini, Bunda tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi." batin Zahra yang tanpa sadar meneteskan airmata.


" Kenapa panas - panasan? Disini banyak tempat yang teduh." tegur Kaivan yang entah sejak kapan duduk di sampingnya.


" Hampir lima menit yang lalu. Saya tidak ingin mengganggu lamunan kamu, tapi melihatmu menangis sepertinya kau merindukan seseorang."


" Ah... tidak seperti itu, Tuan. Mungkin efek dari panasnya cuaca hari ini. Kenapa Tuan ada disini?"


" Saya bosan di penginapan. Tahu begini tadi tidak usah sewa, buang - buang duit saja." seloroh Kaivan.


" Benar, Tuan. Padahal kita bisa menunggu meeting di tempat wisata atau berkeliling pusat perbelanjaan untuk menghabiskan waktu."


" Sudah terlanjur juga, jalan - jalan yuk? Kau pasti belum pernah berkeliling kota Bali."


" Boleh juga, Tuan. Kita bisa beristirahat setelah meeting Anda selesai."


" WELCOME TO BALI, RARA...!" teriak Kaivan di tengah deburan ombak.


" Tuan...! Malu di dengar orang." tegur Zahra karena ada beberapa pengunjung yang menatapnya.

__ADS_1


Kaivan tertawa riang seakan tanpa beban. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu, Zahra tak berani untuk sekedar bertanya. Biarlah Kaivan bertingkah aneh yang penting tidak merugikan dirinya.


" Kau tahu, Ra... tempat ini adalah tempat kenanganku waktu kecil bersama Papi. Beliau mengajakku ke tempat ini, batu karang ini, hanya berdua tanpa Mami."


Kaivan menerawang jauh pada masa tujuh belas tahun yang lalu saat ia berumur sepuluh tahun. Papinya selalu memberikan kasih sayang dan perhatian dengan tulus. Berbeda dengan Mami yang selalu sibuk dengan bisnisnya bersama sang paman.


" Tuan_..."


" Lain kali saja saya ceritakan, sekarang saya hanya ingin mengenang masa indah itu bersamamu. Saya percaya jika kau adalah satu - satunya wanita yang baik selain mama Rahma."


Tak ingin terlalu larut dengan kenangan masa lalu, Kaivan menyewa mobil untuk berkeliling di sekitaran pantai Kuta. Dia terlihat sangat menikmati moment ini bersama Zahra.


Nyaman! Itulah yang saat ini dirasakan Kaivan. Dia juga melihat Zahra yang sangat antusias menikmati pemandangan disana. Tanpa sadar, gadis itu terus saja tersenyum sepanjang perjalanan. Ah, Kaivan ternyata masih berpikir bahwa Zahra adalah seorang gadis yang polos. Padahal wanita itu adalah ibu dari satu orang putra calon pewaris kekayaan Al Farizy.


" Ra... kau sudah lama menjalin hubungan dengan kekasihmu itu?" tanya Kaivan memecah keheningan.


" Mmm... sudah tiga tahun lebih, Tuan. Kenapa...?"


" Apa kalian tidak berencana untuk menikah? Tidak baik menjalin hubungan tanpa status yang jelas."


" Hehehee... kami masih mengumpulkan biaya untuk masa depan, Tuan. Kalau Tuan sendiri bagaimana? Tuan itu tampan, mapan dan juga baik. Apa belum ada keinginan untuk menghalalkan seorang gadis?"


" Tidak. Saya tidak akan menikahi siapapun sebelum melihat Mas Azzam bahagia. Saya tidak ingin perbuatan ibuku itu menjadi karma untukku di kemudian hari."


" Tuan... semua itu bukan salahmu. Anda juga berhak untuk mencari kebahagiaan."


" Seandainya saya bisa, pasti sudah kulakukan dari dulu. Kau tahu, setiap ada perempuan yang mendekatiku... mereka... mereka seperti berubah menjadi Mami. Saya membayangkan bagaimana nasibku nanti jika wanita yang bersamaku ternyata kejam."


Zahra membiarkan Kaivan mengeluarkan semua beban hatinya. Ternyata bukan hanya suaminya yang menderita, tapi Kaivan ternyata mengalami beban mental yang cukup berat. Zahra semakin yakin jika Kaivan bisa diajak kerjasama untuk menyelamatkan ibunya Azzam.


" Tidak semua wanita seperti itu, Tuan. Suatu saat, pasti ada seorang gadis yang bisa membuka hati Tuan." ujar Zahra lembut.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2