Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Saling percaya


__ADS_3

Malam hari, Azzam dan Zahra ke Apartment Rayyan untuk membawakan makanan dan menanyakan masalah yang sedang dihadapinya. Setelah memasukkan kode pintunya, Azzam mengajak Zahra untuk masuk.


" Assalamu'alaikum, Bang." ucap Zahra.


" Wa'alaikumsalam. Kalian jadi kesini?" sahut Rayyan.


" Iya, ayo makan dulu." ujar Azzam.


" Aku ambil piring dulu." kata Rayyan pelan.


" Biar Zahra saja, Bang. Duduk saja sama Mas Azzam." sahut Zahra.


" Terima kasih, Za."


Mereka bertiga makan dengan cepat lalu berpindah ke ruang tamu untuk bersantai setelah makan. Rayyan masih terlihat murung sejak tadi membuat Zahra semakin penasaran saja.


" Abang kenapa?"


" Kemarin waktu pulang ke Jakarta, Abang dipaksa untuk menikah dengan anak temen arisan Mama." keluh Rayyan.


" Abang tidak mau dijodohkan?"


" Tentu saja Abang tidak mau, kenal juga nggak!"


" Ta'aruf dulu, Bang. Siapa tahu cocok, umur Abang ini sudah cukup untuk membina rumah tangga."


" Tapi Abang tidak mau dijodohkan, Za. Abang bisa cari calon istri sendiri."


" Buktikan kalau Abang bisa. Zahra bisa minta waktu sama Tante supaya menunda perjodohan sampai batas waktu yang kita sepakati."


Azzam hanya diam tak ingin ikut campur hal semacam ini. Dia tahu Rayyan sebenarnya sangat keras kepala sama seperti ibunya. Mereka akan mempertahankan apa yang menurutnya benar.


" Tidak ada batas waktu! Abang tidak mau dijodohkan dengan siapapun." kesal Rayyan.


" Udah, Ray... Jangan marah terus, kita bahas yang lain saja gimana?" kata Azzam mengalihkan pembicaraan.


" Mas_..." lirih Zahra.


Azzam merangkul pundak istrinya agar tidak melanjutkan obrolan tentang perjodohan Rayyan dengan anak teman ibunya.


" Ray... Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu. Tapi kalau kondisi kamu seperti ini, aku nggak yakin bisa meninggalkanmu sendiri." ujar Azzam.


" Memangnya mau pergi kemana?" tanya Rayyan.


" Mau honeymoon ke Jepang."


" Hah...! Kau gila, Zam. Pekerjaan kita sekarang ini sedang menumpuk dan harus kejar target. Seenaknya saja mau honeymoon." ketus Rayyan.


" Udah, Mas. Kita bisa pergi tahun depan." ucap Zahra sendu.


" Kelamaan, sayangku. Bukannya ini impian kamu untuk melihat salju di Jepang?"


" Tidak masalah, masih ada hari lain. Jangan sering merepotkan Bang Rayyan."


" Kalian bisa pergi minggu depan. Kita scedule ulang jadwal meeting dengan klien." kata Rayyan datar.


" Tidak usah, Bang. Zahra tidak mau merepotkan Bang Ray terus." ucap Zahra.


Jika seperti ini terus, perdebatan tidak akan pernah selesai. Azzam harus bisa menengahi keduanya yang mempertahankan ego masing - masing.


" Berhenti...! Sebaiknya kita istirahat sekarang. Jangan ada yang membantah kali ini." tegas Azzam.

__ADS_1


" Kita pulang, Mas?" lirih Zahra.


" Tidak. Mas punya kamar sendiri disini. Ray... Masuklah ke kamarmu, nanti bicara lagi kalau semuanya sudah tenang." ujar Azzam.


Zahra mengikuti sang suami masuk ke sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar Rayyan. Melihat Azzam yang langsung masuk ke kamar mandi, Zahra lebih memilih naik ke tempat tidur.


" Sayang, cuci muka dulu sebelum tidur." tegur Azzam.


" Sebentar, Mas. Zahra pengen rebahan sebentar." rengek Zahra.


" Dek...!"


" Iya - iya...!"


Zahra segera bangkit dari tempat tidurnya dengan bibir manyun. Bukannya ia tidak mau, tapi sedang malas saja. Azzam menghela nafas pelan melihat tingkah Zahra yang terkadang kekanakan.


Usai mencuci muka, Zahra segera menjatuhkan diri di samping sang suami yang berbaring sambil fokus dengan ponselnya.


" Mas, Zahra tidur dengan pakaian seperti ini?" rengek Zahra manyun.


" Lepas aja kalau nggak nyaman, Dek. Besok pagi bisa dipakai lagi."


" Sekarang pakai apa?"


" Tidak usah pakai apa - apa, tidak akan ada yang lihat selain Mas."


" Mas Azzam...!"


Azzam meletakkan ponselnya di samping bantalnya lalu memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Dikecupnya cukup lama bibir istrinya lalu menariknya ke dalam pelukan.


" Mas bantu lepas pakaianmu biar tidurnya nyaman."


Tangan Azzam dengan cekatan melepas pakaian panjang istrinya lalu mengambilkan kaos miliknya yang ada di dalam lemari.


" Terima kasih, suamiku."


Azzam kembali memeluk istrinya setelah puas menciumi seluruh wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan.


" Udah, Mas. Katanya disuruh istirahat?" rengek Zahra.


" Ada yang pengen Mas bicarakan sama Adek, serius." ujar Azzam.


" Soal apa?"


" Adek janji tidak akan marah? Terus dengarkan penjelasan Mas sampai selesai?"


" Iya, cepat katakan."


Azzam semakin mempererat pelukannya dan mencium bibir istrinya dengan lembut dan menuntut.


" Mas...! Jangan aneh - aneh, katanya mau bicara."


" Hehehee... Sorry, sayang."


" Ada apa sih? Dari tadi muter - muter terus."


" Begini, Dek. Kemarin waktu Mas ke Singapore, Mas bertemu seorang teman kuliah dulu. Ternyata dia adalah putri dari klien yang akan membangun hotel di Bandung."


" Apakah dia mantan kekasih Mas Azzam?"


" Bukan."

__ADS_1


" Teman dekat?"


" Bukan juga."


" Lalu apa? Kenapa Mas seperti cemas begitu?"


Azzam menatap langit - langit kamar lalu menghembuskan nafasnya kasar. Jika ia jujur, akahkah sang istri marah?


" Dulu dia mengejarku tanpa rasa malu padahal sudah berkali - kali aku menolaknya. Mas pikir setelah lama tidak bertemu, dia sudah berubah. Tapi_..."


" Wanita itu masih terobsesi denganmu?"


" Sepertinya begitu. Dan dia akan stay di Indonesia sampai proyek pembangunan selesai."


" Mas jujur sama Zahra. Apa pernah Mas terbersit sedikit saja membalas perasaannya?"


" Tidak dan selamanya tidak akan pernah terjadi. Cinta Mas hanya untuk kamu, sayangku."


Zahra merasa puas dengan jawaban suaminya. Dia tahu suaminya sangat khawatir jika suatu saat mereka bertemu dan membuat kesalahpahaman.


" Hanya itu jawaban yang Adek butuhkan. Selama kita berdua bisa menjaga kepercayaan satu sama lain, kita pasti bisa menghadapi semua ini dengan mudah."


" Terima kasih, sayang. Mas hanya tidak ingin terjadi salah paham diantara kita karena kehadirannya."


" Selama Mas masih cinta sama Adek, maka tidak ada satu orangpun yang bisa mengusik keluarga kita."


" Istriku memang sangat luar biasa."


" Apa dia tipe yang menghalalkan segala cara?"


" Kurasa iya, jadi sebelum itu... Mas ingin kamu waspada sebelum hal itu terjadi."


" Sebaiknya kita tidur dan pikirkan masalah Bang Rayyan dulu."


Zahra menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya bersiap untuk tidur. Namun baru beberapa detik, suaminya kembali berulah. Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang jika Zahra tak bisa menjaga pertahanannya.


" Mas... Jangan disini, nggak enak sama Bang Rayyan." lirih Zahra.


" Mas nggak bisa tidur, Yang." rengek Azzam.


" Tapi Zahra nggak mau melakukannya disini."


" Yaudah, kalau begitu Mas boleh ketemu Rayyan sekarang? Adek tidur duluan saja, Mas mau bahas kerjaan soalnya."


" Jangan lama - lama, kalau Adek diculik hantu gimana?"


" Adek lebay, ah! Pasti ketularan Kaivan."


Zahra memeluk Azzam semakin erat sebelum pria itu bangkit dari tempat tidur. Kali ini ia sangat senang menggoda suaminya.


" Udah, Yang! Kalau kamu godain terus, Mas bisa lepas kendali." lirih Azzam geram.


" Siapa yang godain? Zahra cuma peluk aja nggak boleh?" elak Zahra.


" Zahraaa...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2