Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Penyelidikan


__ADS_3

Azzam dan Zahra kembali ke Bandung satu bulan setelah kunjungan terakhirnya. Merry berkali - kali menghubungi Deni agar menyuruh Azzam datang namun tanpa asistennya.


" Azzam... Kenapa kau bawa asisten?" tanya Merry dengan wajah jutek.


" Kemanapun Tuan Presdir pergi, saya pasti mendampingi beliau, Nona." sahut Zahra datar.


" Kau hanya asisten, beraninya kau bicara!" sentak Merry.


" Sudahlah, Merry. Jangan berlebihan, kita bahas masalah kerjaan saja." kata Azzam datar.


Sementara Merry sedang membahas pekerjaan, Jefri dan yang lainnya menyelidiki rumah besar di pinggiran kota yang di sewa wanita itu. Sampai disana, banyak sekali penjaga di setiap sudut rumah.


" Tempat ini dijaga sangat ketat, jadi penasaran apa yang tersembunyi di dalamnya." gumam Jefri.


Jefri yang dulunya juga pernah berkecimpung dalam dunia hitam paham dengan situasi saat ini. Dia mengerahkan anak buahnya untuk berpencar ke segala arah.


" Saya akan menyelinap masuk kesana, kalian jaga di setiap sudut." perintah Jefri.


" Kau yakin? Ini sangat berbahaya." sahut Darren.


Asisten pribadi Bima itu memang ikut turun tangan langsung sesuai perintah atasannya. Darren yang notabene memang dekat dengan Zahra dengan tangan terbuka akan selalu membantu wanita itu setiap ada masalah.


" Kalau begitu kita pantau saja dari luar, mungkin saja rumah itu masih kosong. Kau bawa alat penyadap untuk memantau rumah itu?"


" Tentu saja. Saya tidak akan meninggalkan barang penting ini."


Darren mengeluarkan beberapa alat penyadap lalu memasangnya di area rumah itu juga di beberapa titik jalan yang akan dilewati secara sembunyi - sembunyi. Setelah semua selesai, mereka meninggalkan tempat itu.


.


.


Jefri memantau pergerakan rumah itu dari kamera yang ia pasang tadi bersama Darren. Mereka berdua menyewa Apartemen yang hanya berjarak beberapa unit dari unit Merry.


" Jef, itu ada beberapa mobil masuk gerbang rumah Merry." ucap Darren.


" Siapa mereka? Semoga saja ada salah satu dari mereka yang kukenal." sahut Jefri.


Sepanjang mereka memantau, hanya melihat mobil itu menurunkan barang - barang di bungkus kardus. Sepertinya Jefri memang harus masuk ke dalam rumah itu untuk melihat langsung barang - barang itu.


" Apa Merry sudah keluar dari kamarnya?" tanya Jefri.


" Sudah. Sepertinya dia tidak ke proyek jika melihat pakaiannya yang terkesan ingin ke Club." jawab Darren.


" Suruh anak buahmu untuk pantau terus kemanapun dia pergi."


" Tenang saja, mobilnya sudah dipasang GPS. Anak buahku akan terus memantaunya dari jauh. Merry juga punya pengawal bayangan, kita harus hati - hati."


" Sepertinya ada mafia di belakangnya. Merry dan Ayahnya hanyalah pion yang ia mainkan."


" Kita tunggu penyelidikan Boss Bima dulu di Singapore, mungkin ada informasi penting dari sana."


" Ok... Kau cari makan dulu sana! Lapar seharian di depan layar begini."


" Mau makan apa?"


" Apa saja, saya tidak ada alergi apapun."


.


.

__ADS_1


Sementara itu, Bima kini berada di Singapore bersama beberapa orang pengawalnya. Dari atap gedung yang menjulang tinggi itu, dia bisa menatap keindahan kota di malam hari.


" Kalian kembali ke Markas, saya akan istirahat dulu di Apartemen." perintah Bima.


" Baik, Boss." jawab mereka serempak.


Bima memang punya Apartemen di Singapore yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung di pusat kota. Dia suka kesunyian seperti ini untuk menjernihkan pikirannya.


" Apa aku telfon Zahra, ya? Ini baru jam sembilan malam, pasti dia belum tidur." gumam Bima.


Bima merogoh ponsel dari saku celananya dan mencari kontak Zahra yang ia beri nama 'harimau imut'. Dia terkekeh sendiri saat teringat pertama kali ia menuliskan nama wanita itu. Dari sekian banyak anak buahnya yang perempuan, hanya Zahra yang berhijab dalam kesehariannya. Walaupun terlihat garang saat eksekusi musuh, namun Zahra tidak pernah membunuhnya. Dia hanya melumpuhkan lawan di titik - titik yang tidak akan berakibat fatal.


Bima yang selalu bekerja dengan Zahra sering dibuat kesal oleh wanita itu karena tidak boleh bermain wanita apalagi di hadapannya. Walaupun hanya bawahan, tapi Zahra selalu memperingati Bima untuk tidak berbuat hal - hal yang menjerumuskannya dalam dosa.


[" Assalamu'alaikum, cantik."] sapa Bima sambil nyengir.


[" Wa'alaikumsalam, Bim. Ada apa...?"] sahut Zahra.


[ " Kangen sama keponakan, mana dia?" ]


[ " Rama di Jakarta, Bim. Aku lagi di Bandung sama Mas Azzam." ]


[ " Tahu gitu aku ajak liburan ke Singapore, Ra. Kasihan anak itu tidak pernah diajak liburan jauh." ]


[ " Memangnya kau bisa urus balita?" ]


[ " Bisa sewa baby sitter, Ra." ]


[ " Nggak boleh! Aku tidak percaya dengan orang baru."]


[ " Ya udah, kita bahas topik yang lain saja. Gimana perkembangan penyelidikan disana?" ]


[ " Jefri sama Darren sedang memantau rumah sewa Merry di pinggiran kota." ]


[ " Mas Azzam di kamar mandi, ada perlu sama suamiku?" ]


[ " Tidak, kangen sama kamu." ]


[ " Ish... Ngawur kamu, Bim!" ]


[ " Hahahaa... Kamu tidak kangen dengan suasana kota ini? Aku sedang diatap gedung Apartemenku." ]


[ " Lain kali aku kesana sama Mas Azzam." ]


[ " Begini, Ra. Aku sudah selidiki perusahaan Tuan Davidson. Lusa kita ketemu di Jakarta, semua harus kumpul." ]


Zahra dan Bima berbincang hingga Azzam keluar dari kamar mandi. Mereka menyudahi obrolannya ketika Azzam ikut berbincang sebentar tentang penyelidikan Bima di Singapore.


" Tidur, Yang." titah Azzam pada istrinya.


" Belum ngantuk, Mas." sungut Zahra.


" Semangat banget habis terima telfon dari Bima?" sindir Azzam.


" Mas cemburu?" goda Zahra.


" Pastilah Mas cemburu, istrinya asyik sendiri ngobrol sama pria lain." kesal Azzam.


" Mas... Zahra dan Bima itu hanya teman, tidak ada perasaan lebih." ungkap Zahra.


" Apa buktinya?" tantang Azzam.

__ADS_1


" Apapun yang Mas inginkan, Zahra insyaAllah aku turuti jika itu bisa membuktikan bakti seorang istri kepada suaminya."


" Yakin?"


" Iya, Zahra yakin."


" Yaudah, malam ini lima ronde."


" What...?!" pekik Zahra.


.


.


Seperti yang sudah disepakati, hari ini Azzam dan Zahra sudah sampai kantor untuk menemui Bima dan yang lainnya. Rama ditinggal di rumah bersama kakek dan neneknya.


" Masuk ke ruanganku saja!" titah Azzam saat bertemu dengan Bima di lobby kantor.


" Jefri belum datang?" tanya Bima.


" Belum, dia masih dalam perjalanan." jawab Azzam.


" Sayang, keponakanku nggak ikut?" Bima tersenyum jahil pada Zahra.


" Jangan panggil istriku seperti itu!" sentak Azzam.


" Udah, Mas. Jangan tanggapi ocehan Bima." Zahra merangkul lengan suaminya.


Mereka masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Azzam tak melepaskan rangkulannya di pinggang sang istri hingga membuat Bima jengah.


Sampai di ruangan Azzam, Kaivan dan Deni sudah menunggu disana. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.


" Jefri sudah dibawah, kita tunggu sebentar." kata Bima.


" Jangan lama - lama, aku sama Deni ada meeting tiga puluh menit lagi." ucap Kaivan.


" Sok sibuk anak kecil!" sahut Bima.


" Cihhh...! Kakak tidak ada adab...!" ketus Kaivan.


Tak lama, Jefri dan Darren datang dengan wajah lelah. Mereka memang datang langsung dari Bandung lepas shubuh tadi.


" Kalian duduk dulu!" titah Azzam.


" Terima kasih, Boss." ucap Darren.


" Gimana hasil penyelidikan kalian?" tanya Bima.


" Di rumah itu menyimpan barang - barang yang dikemas dalam kardus. Kami belum sempat memeriksa barang - barang itu." ungkap Jefri.


" Apa perlu aku yang periksa, Jef?" ucap Zahra.


" Kamu tidak boleh melakukannya, sayang!" tolak Azzam.


" Tapi, Mas_..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2