Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Mulai beraksi


__ADS_3

" Setelah masalah ini selesai, Mas Azzam pasti kembali seperti dulu lagi." ucap Zahra pelan.


" Kamu bicara apa, Nak?" tanya Nyonya Rahma karena Zahra hanya bergumam.


" Eh, tidak ada. Zahra tidak bicara apa - apa, Ma." elak Zahra.


" Maafkan Azzam, Nak. Pasti dia sangat merepotkanmu."


" Tidak, Ma. Mas Azzam tidak pernah merepotkan Zahra. Mas Azzam itu suami dan ayah yang baik untuk kami."


Zahra menggenggam erat tangan ibu mertuanya. Melihat mata berbinar wanita paruh baya di hadapannya, Zahra mencoba untuk menahan airmatanya agar tak menetes.


" Rara...!" panggil Sita dari ruang tamu.


" Ya...!" sahut Zahra dari dalam kamar.


" Ma, Zahra keluar dulu ya? Nanti kita bicara lagi, Zahra akan bicara lagi dengan Tuan Zaid soal penyelamatan Mama. Kalau tidak nanti malam mungkin lusa."


" Baiklah, Nak. Kamu hati - hati, terima kasih sudah menerima putraku, Azzam."


" Zahra yang merasa beruntung mendapatkan Mas Azzam, Ma."


Setelah berpamitan, Zahra keluar dari kamar ibu mertuanya. Dia membantu membereskan ruang tamu dan menyapu teras. Mungkin ini kesempatan yang bagus untuknya supaya dapat menghitung berapa jumlah penjaga yang ada di rumah itu.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Zahra bergegas menuju dapur membuatkan makan siang untuk Kaivan. Dia sudah janjian dengan Bima untuk mengambil makanannya pada jam sebelas.


" Masak apa, Ra?" tanya salah seorang pelayan yang juga memasak untuk para penjaga.


" Karena waktunya sangat mepet, mau buat makanan yang simple saja untuk Tuan Kaivan di kantor." jawab Zahra sambil tersenyum.


" Heh... apa kau menggoda Tuan Muda sampai bisa sedekat itu?" cibir pelayan yang lain.


" Menggoda...? Apa maksud kalian...?" Zahra memicingkan matanya.


" Jangan pura - pura polos deh, ngaku saja! Pasti kamu salah satu wanita simpanan Tuan Kai."


" Jaga bicaramu itu! Jangan menuduhku tanpa bukti."


" Bukti...? Bahkan setiap malam saya melihatmu keluar dari kamar Tuan Muda saat sudah larut. Apa yang dilakukan dua orang berlainan jenis di dalam kamar yang tertutup."


Zahra menghela nafasnya dengan pelan. Dia tidak boleh terpancing emosi dengan para pelayan yang merasa iri dengannya. Zahra tahu bahwa banyak pelayan muda di rumah ini yang menaruh hati pada Kaivan walaupun pria itu terlihat dingin dan tak pernah menghiraukan mereka.


" Saya hanya mengantarkan minuman ke kamar Tuan Muda karena beliau selalu kerja lembur di kamarnya."


" Lihat saja sampai saya temukan bukti kau bermain gila dengan Tuan muda, akan kulaporkan pada Nyonya besar." ancam pelayan itu.


Zahra hanya mengendikkan bahu seraya melanjutkan proses memasak untuk adik iparnya. Menanggapi ocehan mereka membuat kepala Zahra semakin pusing. Kali ini ia hanya memasak udang goreng tepung sama capcay jamur.


.


.


" Bim, gimana?" tanya Zahra.


Kini Zahra dan Bima sedang berada di halaman gerbang. Zahra memberikan rantang makanan untuk Kaivan.

__ADS_1


" Apanya...? Bersiap - siap saja, nanti kukirimkan senjata untuk berjaga - jaga." jawab Bima datar.


Mereka berdua tidak boleh terlihat terlalu akrab di rumah itu. Banyak musuh yang berada di sekitar mereka saat ini.


" Tidak usah, aku sudah ada kalau itu."


" Dapat darimana?"


" Punya suamiku ada di kamarnya."


" Ok, aku pergi sekarang. Chat aku kalau tidak sibuk, kita atur rencana malam ini."


" Siap, Boss."


Zahra kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Bima keluar dari gerbang. Dia bersikap biasa saja agar tidak terlihat mencurigakan saat tertangkap kamera cctv.


Zahra segera masuk ke dalam kamar untuk mengecek ponsel tersembunyinya. Yang pasti ia membuka rekaman cctv yang ia pasang di area paviliun.


" Jadi Nella menyuntikkan obat itu setiap malam hari. Hah... apa harus beraksi malam ini?" gumam Zahra.


Zahra mendesah pelan saat teringat tidak menyimpan nomor ponsel papa mertuanya. Harusnya ia bergerak lebih cepat kemarin. Zahra lantas menghubungi nomor Kaivan.


Zahra : " Kai, tolong kirimkan nomor Tuan Zaid secepatnya!"


Kaivan : " Untuk apa, Kak?"


Zahra : Ada hal yang harus aku bicarakan dengan beliau."


Kaivan : " Jangan! Kita tidak tahu apakah ponsel Papa disadap atau tidak."


Kaivan : " Aku usahakan, tapi tidak janji. Takutnya Mami berkunjung kesini."


Zahra : " Ok! Selamat bekerja, Adik ipar."


Kaivan : " Terima kasih atas perhatiannya, kakak iparku yang cantik."


Setelah sambungan terputus, Zahra menemui Sita untuk menanyakan jadwal kunjungan ke paviliun. Pasalnya, Zahra sungguh tidak tega melihat ibu mertuanya terkurung di paviliun sendirian.


.


.


" Malam ini ada transaksi senjata ilegal di gedung tua dekat pantai. Kita harus bersiap dari sekarang." perintah Azzam.


" Kau yakin ikut misi ini, Zam?" tanya Rayyan.


" Memangnya apalagi yang harus kulakukan? Hanya dengan cara ini kita bisa mengusik kehidupan Darco. Aku tidak akan puas sebelum melihat mereka benar - benar hancur."


Azzam dan Rayyan kini sedang berada di ruangan mewah di sebuah gedung berlantai 15. Ya... lebih tepatnya ruangan Presdir perusahaan yang sedang berkembang pesat. Azzam menduduki kursi kekuasaan itu dengan penuh wibawa dan berkharisma. Selama ini tidak ada yang tahu siapa Presdir di perusahaan besar yang bernama 'A.A Corporation' itu. Perusahaan itu bekerjasama dengan perusahaan - perusahaan besar dari luar negeri. Rayyan dan beberapa rekan lainnya yang selalu tampil di hadapan publik saat dibutuhkan. Mereka akan mengaku sebagai utusan dari sang Presdir.


" Kendalikan dirimu, Zam. Ingat anak dan istrimu, mereka butuh sosok yang mengayomi bukan memberikan didikan yang buruk untuk mereka."


Azzam memejamkan matanya sejenak dengan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya hingga ponselnya yang ia taruh diatas meja kerjanya bergetar tanda panggilan masuk. Azzam bergegas menyambar ponselnya dan tersenyum saat melihat nama 'Bunda' tertera di layarnya.


Azzam : " Assalamu'alaikum, Bunda."

__ADS_1


Zahra : " Wa'alaikumsalam, Ayah. Sedang apa sekarang?"


Azzam : " Mmm... sedang membantu pekerjaan Rayyan, sayang. Kenapa? Kamu kangen ya sama Ayah?"


Zahra : " Ish... Bukan itu, Mas. Rama sama siapa di Apartemen?"


Azzam : " Darrent ada disana, sayang. Jangan khawatir, anak kita aman bersama dia."


Zahra : " Kapan kita mulai beraksi? Keadaan Mama semakin memburuk, harus segera ditangani dokter."


Azzam : " Malam ini Mas akan mulai mengacaukan bisnis Nella dan Darco lagi. Mungin besok malam kita bisa jemput Mama, sayang."


Zahra : " Semoga berhasil, Mas. Hati - hati disana, ya?"


Azzam : " Iya, sayang. Kamu juga hati - hati disana."


Zahra : " Hmm... ya udah, Zahra mau ke paviliun dulu Mas. Assalamu'alaikum,"


Azzam : " Wa'alaikumsalam, Bunda."


.


.


Malam hari, Azzam dan yang lainnya sudah standby di dekat pantai. Gedung kosong yang telah rusak sebagian itu sudah dipantau oleh anggota Tiger White sejak siang hari.


Bima berada di barisan paling depan bersama Azzam, Darrent, Rayyan dan Kaivan. Sementara Deni, ia bertugas menjaga Rama di Apartemen.


" Kai... beneran mau ikut ke dalam?" tanya Azzam.


" Iya, Mas. Kai sudah janji pada Mama Rahma untuk membawa Mas Azzam pulang." jawab Kaivan.


" Meskipun harus melawan Mami kamu?"


" Iya, sudah sejak lama aku ingin menghancurkan bisnis dan semua kejahatannya bersama Om Darco."


" Why...? She is your mother."


" No...! She is killed my father." lirih Kaivan.


" What...?" pekik Bima.


" Sudah lama aku ingin membalas kematian Papi, tapi aku tak punya dukungan dari siapapun. Bahkan aku tidak pernah tahu siapa keluarga besar Papi."


" Jadi benar, Om Adrian dibunuh?" teriak Bima.


" Kau mengenal orangtuaku...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2