Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Papa Zaid menang


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Zahra bertanya pada suaminya tentang tujuan mereka ke rumah sakit. Azzam tidak tahu harus menjawab apa sehingga melemparkan jawabannya pada sang ayah.


" Ayo masuk, kita mau bertemu dengan dokter tampan." ujar papa Zaid.


" Papa...!" sungut Azzam.


Zahra dengan manja merangkul lengan ibu mertuanya tanpa menghiraukan wajah suaminya yang terlihat kusut.


" Yang, kamu sama Mas aja!" rengek Azzam.


" Nggak, pengen sama Mama aja. Siapa tahu ada dokter tampan di dalam sana." sahut Zahra asal.


" Kita pulang saja!"


Azzam ingin menarik lengan istrinya untuk kembali pulang namun dihadang ayahnya. Entah mengapa Azzam menjadi sangat posesif pada istrinya walaupun itu hanya bersama Kaivan.


" Cepat masuk! Dokternya sudah menunggu di dalam." titah mama Rahma.


Sampai di depan poli obgyn, Zahra nampak mengerutkan keningnya. Dia merasa heran mengapa mereka semua datang ke tempat seperti itu.


" Ma, kenapa kita kesini? Mama hamil lagi? Waahhh... Mas Azzam mau punya adik lagi." seru Zahra riang.


" Husss... Ngawur kamu, Za! Usia Mama itu udah lebih dari setengah abad, bagaimana bisa hamil lagi." mama Rahma memukul pelan bahu menantunya.


" Bisa aja, Ma. Istri Nabi Ibrahim AS saja memiliki anak diusianya yang udah senja," sahut Azzam.


Kaivan hanya bisa menahan tawanya takut diomeli juga oleh ibunya. Lebih baik ia cari aman dengan mengajak Rama bermain.


" Udah - udah, anak itu berkah dan amanah. Siapapun yang hamil ya kita syukuri saja." ujar papa Zaid.


Mereka masuk ke dalam ruangan dan sudah disambut oleh seorang dokter muda dan tampan. Senyumnya yang manis membuat wanita manapun tidak akan bisa berpaling.


" Assalamu'alaikum." sapa papa Zaid.


" Wa'alaikumsalam, silahkan Om Zaid. Sudah lama tidak bertemu." balas dokter itu.


" Kapan kau pulang dari Jerman?" tanya mama Rahma.


" Baru tiga hari yang lalu, Tante."


" Oh iya, kenalin anak dan menantu Tante. Ini Azzam dan Kaivan, lalu ini Zahra dan putranya."


" Kenalkan, saya Daffi. Mulai hari ini, saya resmi bekerja di rumah sakit ini."


Daffi mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Azzam dan Kaivan. Tampak jelas bahwa Azzam tak menyukai pria yang diperkirakan lebih muda darinya.


" Pa, aku tidak mau Zahra diperiksa sama dokter laki - laki...!" protes Azzam.


" Kenapa...?" jawab papa Zaid acuh.


" Kita pindah rumah sakit saja!" ketus Azzam.


" Mas_..." lirih Zahra.

__ADS_1


Mereka semua dipersilahkan duduk di sofa tempat biasanya dokter beristirahat. Daffi bahkan menjamu mereka dengan air mineral yang ia ambil dari kulkas di sudut ruangan.


" Maaf ya, Om. Mama sedang ada operasi mendadak, mungkin lima belas menit lagi baru selesai." ucap Daffi.


" Tidak masalah, kami tidak buru - buru." sahut papa Zaid.


" Jadi, bukan kamu dokter obgynnya?" tanya Kaivan.


" Bukan, saya dokter specialis jantung. Saya sedang menunggu Mama saya disini, beliau yang menjadi dokter kandungan. Apa kalian tidak melihat papan nama di samping pintu masuk?" ucap Daffi yang membuat Azzam malu.


Kaivan tertawa cekikikan melihat raut wajah Azzam yang tanpa ekspresi karena ingin menutupi rasa malunya yang sudah salah menebak dokter di hadapannya.


" Kai_...!" tegur Zahra.


" Iya, Kai diam. Rama, kita jajan yuk? Om malas disini, ke kantin aja cari makanan."


" Ok, Om...!" sahut Rama senang.


Kaivan meraih tubuh kecil keponakannya untuk ia dudukkan dipundaknya. Jika dilihat dari interaksi mereka, banyak orang berasumsi bahwa dua pria beda usia itu adalah sepasang anak dan ayah.


" Yang, memangnya beneran kamu hamil?" bisik Azzam.


" Mana kutahu, aku belum periksa. Ini juga kalau bukan Papa yang memohon untuk kesini, aku juga nggak mau." sahut Zahra acuh.


" Kalau Mas yang minta, Adek mau nggak?" Azzam memasang wajah penuh harap.


" Tidak! Kau itu pria yang tidak pernah peka dengan keinginan istrinya."


Tak berselang lama, dokter yang ditunggu datang bersamaan dengan Kaivan yang membawa sekantong besar jajanan milik Rama.


" Tidak apa - apa, putramu menemani kami mengobrol disini." sahut mama Rahma.


" Om, Tante... Karena Mama sudah datang, saya permisi ke ruangan saya." pamit Daffi.


" Silahkan, Nak. Kalau ada waktu mampirlah ke rumah." ujar papa Zaid.


" Insya Allah, Om."


Setelah berbicara sebentar dengan ibunya, Daffi keluar dari ruangan itu sambil tersenyum ramah ke arah Zahra.


" Jangan tersenyum padanya!" ketus Azzam.


" Mas kenapa sih? Aneh banget deh, kayak anak kecil." lirih Zahra.


" Kalian itu jangan berisik!" tegur Mama Rahma pelan.


" Baiklah, kita periksa sekarang." ujar dokter Mala.


" Ini beneran Zahra harus periksa, Ma?" Zahra memasang wajah memelas.


" Biar Papa kamu tidak penasaran, sayang. Suami kamu juga sudah berharap punya anak lagi." sahut Mama Rahma.


Mama Rahma menemani Zahra untuk melakukan USG. Azzam dan Kaivan nampak waspada, sedangkan Papa Zaid terlihat begitu santai sambil memainkan ponselnya bersama cucu kesayangannya.

__ADS_1


" Lihat...! Titik putih itu merupakan janin yang tumbuh dalam rahim kamu. Usianya baru enam minggu, kondisinya sehat." ujar dokter Mala menjelaskan.


" Saya beneran hamil, Dok?" ucap Zahra kaget.


" Iya, dijaga kondisi kesehatannya. Jaga pola makan dan jangan terlalu lelah."


Papa Zaid dan istrinya tampak sumringah dan berhambur memeluk Zahra dengan erat. Sementara Azzam, ia masih belum percaya bahwa sang istri tengah mengandung benih cinta darinya. Bagaimana ia percaya, jika setiap Azzam menginginkan sang istri hamil lagi, Zahra dengan tegas menolaknya dengan alasan sang putra masih terlalu kecil.


Tak berbeda jauh dari Azzam, Kaivan tampak bingung antara sedih atau bahagia dengan kehadiran sang keponakan yang baru. Dia harus bersiap untuk menjalankan tantangan dari ayahnya.


" Kalian tidak senang dengan kehamilanku?" ucapan sendu Zahra membuyarkan lamunan adik kakak itu.


" Tentu saja Mas bahagia, sayang. Sudah lama Mas menantikan hari ini." Azzam memeluk istrinya dengan erat.


" Selamat kakak ipar, semoga selalu sehat dan melahirkan bayi mungil yang cantik." ucap Kaivan.


" Apa kau berharap punya keponakan perempuan?"


" Tentu saja, aku bisa mengajak dia berkencan nanti."


" Dasar anak nakal...!" Mama Rahma mencubit lengan putranya gemas.


Ekheemmmm!


Papa Zaid memberi isyarat agar semuanya diam. Semua mata kini terfokus padanya karena sepertinya akan akan ada pengumuman penting.


" Horeee...! Papa Zaid menang...!" teriak Zahra tiba - tiba.


Azzam dan Kaivan saling tatap dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Mereka berdua sudah paham apa yang akan dikatakan oleh ayahnya.


" Kalian berdua pasti sudah bisa menebak apa yang akan Papa katakan." ujar Papa Zaid tegas.


" Iya, kami sudah paham." sahut Azzam datar.


" Baiklah, bisa kita pulang sekarang? Papa tidak sabar untuk mendapatkan hadiah." seloroh Papa Zaid diiringi tawa istrinya.


" Mala, kami pulang dulu ya? Salam buat putramu yang tampan itu. Seandainya Zahra belum menikah, pasti kujodohkan mereka." ucap Mama Rahma.


" Mama...! Zahra itu menantumu." sungut Azzam.


" Oh iya, Mama lupa. Kirain kamu yang menantu Mama."


" Hati - hati, jaga menantumu dengan baik atau putraku akan merebutnya dari kediaman Al Farizy." sahut dokter Mala.


" Kau ini tidak pernah berubah."


Mama Rahma dan Dokter Mala saling berpelukan sebelum berpisah. Mereka terlihat sangat akrab walau jarang sekali bertemu.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2