Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Rencana renovasi rumah


__ADS_3

Senin malam, Azzam beserta istri dan anaknya sampai di desa dijemput oleh Rayyan. Mereka akan kembali beraktifitas seperti biasanya. Rama yang tertidur di pangkuan Zahra terlihat sangat lelap, mungkin lelah karena selama di Jakarta dia lebih banyak bermain bersama Kaivan.


" Dek, makan yuk? Tadi Rayyan beli makanan saat akan jemput di Bandara." ajak Azzam setelah Zahra meletakkan Rama di tempat tidur.


" Bang Rayyan udah pulang, Mas?"


" Udah, katanya mau periksa tugas anak - anak sekolah."


" Zahra mandi dulu, gerah."


" Bareng, yuk? Mumpung Rama sudah tidur."


Zahra hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Azzam yang girang langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi.


" Janji cuma mandi aja ya, Mas! Zahra capek, besok ke sekolah."


" Iya, sayang. Tapi besok Mas antar sekalian ke sawah."


" Rama gimana?"


" Ikut Mas ke sawah, kemarin Agus dan Cahyo bilang sudah bisa bekerja lagi besok."


" Uang yang dari Jefri udah Mas kasih ke mereka?"


" Belum, katanya uangnya terlalu banyak jadi mau buka rekening dulu ke Bank."


Usai ritual mandi bersama, Azzam dengan gelisah menatap istrinya yang tengah makan dengan lahap. Dari tadi ia sudah berkali - kali menelan ludah menahan hasrat yang meronta - ronta akibat melihat tubuh polos istrinya saat mandi.


" Mas tidak makan?" tanya Zahra.


" Eh, iya... Ini juga makan kok." jawab Azzam gugup.


" Makan, terus istirahat."


" Iya, Dek."


Azzam makan dengan pelan seakan tak bernafsu untuk menelannya padahal makanan yang dibeli Rayyan rasanya sangat enak.


" Sayang_..."


" Maasss...!" tatapan tajam Zahra membuat Azzam bungkam.


" Adek udah ngantuk?"


" Belum, tapi pengen rebahan saja."


" Q-time diluar yuk? Kangen berduaan sama kamu."


" Ayo, Zahra buatin kopi, mau?"


" Teh tawar panas saja, Dek."


" Yaudah, Mas tunggu aja diluar."


Azzam duduk diluar sambil menunggu Zahra membuat teh. Azzam mengedarkan pandangannya ke sekitar rumahnya. Dia bahkan sampai mengelilingi rumah yang tidak terlalu besar itu. Sambil berjalan ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Mas, ngapain disitu?" tegur Zahra melihat sang suami mondar - mandir di halaman.


" Mas lagi mikirin sesuatu, Dek." Azzam duduk di samping istrinya.


" Mikir apa, Mas?"

__ADS_1


" Mama pengen berkunjung kesini saat terapinya selesai nanti. Apakah Adek mengijinkan?"


" Kenapa harus minta ijin sama Adek, Mas? Kalau Mas tidak keberatan Adek ikut aja."


" Tapi rumah ini kecil, Dek. Mama pasti datang bersama Papa dan Kaivan."


" Langsung saja ke intinya, Mas mau ngomong apa sebenarnya?"


Azzam menggenggam tangan istrinya dengan lembut lalu menarik tubuhnya agar semakin mendekat padanya.


" Apaan sih, Mas? Malu kalau ada orang yang lewat." lirih Zahra.


" Malu kenapa? Kita pasangan halal, nggak ada salahnya pacaran di tengah malam." sahut Azzam.


" Malu tahu, Mas. Adek nggak mau jadi bahan omongan tetangga."


" Ya udah, sekarang Mas mau bicara serius." Azzam menghirup nafas dalam - dalam sebelum mulai bicara.


Zahra kini mulai fokus dengan apa yang akan diungkapkan suaminya. Dia tidak ingin berfikir negatif dulu sebelum semuanya jelas.


" Begini, sayang. Kamu jangan tersinggung atau marah. Jika kamu tidak setuju, Mas tidak akan melakukannya." ujar Azzam.


" Mas mau nikah lagi?" Zahra menatap suaminya tajam.


" Masya Allah, Dek. Mana pernah Mas kepikiran buat nikah lagi? Mas sangat mencintai kamu dan tidak akan pernah menduakanmu."


" Baguslah kalau begitu, karena kalau sampai ada perempuan lain bersama Mas, siap - siap saja berhadapan dengan mata - mata Tiger White...!"


" Nggak akan, sayang. Mas akan setia sama Adek seumur hidup."


Zahra tersenyum lalu mengecup bibir suaminya dengan cepat hingga Azzam tak sempat menyadarinya.


" Jangan menggodaku, sayang. Ini Mas udah mati - matian untuk tidak minta jatah malam ini." lirih Azzam memelas.


" Mmm... Mas pengen renovasi rumah ini kalau boleh. Sebenarnya bisa aja kita beli rumah di kota, tapi sepertinya kamu sangat sulit untuk meninggalkan rumah ini."


" Ini rumah Mas juga, boleh kok di renovasi dan diperluas. Tapi Zahra maunya depan rumah tetap seperti ini. Mas bisa perluas sampai batas belakang dan juga samping."


" Tidak usah terlalu besar, cukup tambah tiga kamar saja di bawah. Nanti kita bikin dua lantai, setengahnya jadi ruang terbuka, terus ada beberapa kamar juga untuk anak - anak kita nanti."


" Apa tidak terlalu mencolok untuk ukuran rumah di desa, Mas?"


Azzam nampak berfikir sambil menatap ke sekitarnya. Benar juga apa yang dikatakan istrinya, rumah yang akan ia buat pasti akan sangat mencolok jika dibandingkan rumah tetangga yang sebagian masih berdinding anyaman bambu.


" Kalau menurut Adek gimana?"


" Mending bikin dua kamar lagi aja, Mas. Dapurnya digeser ke belakang."


" Jadi tidak perlu di bongkar semua?"


" Bongkar semua tidak apa - apa, tapi jangan merubah bagian depan. Zahra mau semuanya terlihat sederhana seperti sebelumnya."


" Sesuai perintah Anda, Nyonya. Jadi, kapan bisa dimulai renovasinya?"


" Tapi, kita mau tinggal dimana kalau di bongkar?"


" Tuh, di depan ada rumah yang bisa ditempati. Lagian juga Rayyan jarang pulang ."


Zahra menatap sang suami yang sedang meminum teh buatannya. Ragu untuk bertanya, namun terasa mengganjal dihatinya.


" Mas_..."

__ADS_1


" Ya...? Kenapa, Dek?"


" Apa Mas tidak ingin kembali ke rumah Papa?"


" Apa Mama yang menyuruhmu membujuk Mas agar kembali?"


" Bukan begitu, Mas. Adek cuma_..."


" Dengarkan Mas! Cukup satu kali ini saja Mas bicara dan tidak mau ada pertanyaan seperti itu lagi dari kamu. Mas akan menetap di kota ini, di rumah ini. Tidak ada seorangpun yang bisa mengatur hidup kita meskipun itu orangtuaku sendiri."


" Maaf, Zahra_..."


" Kamu nggak salah, kita jalani saja dulu. Mas tidak akan pernah meninggalkan rumah ini sampai kapanpun. Mas bahagia disini bersamamu, tempat ini adalah awal dari kehidupanku yang baru."


Zahra merebahkan kepalanya di pundak sang suami dengan mata yang terpejam. Rasanya sangat nyaman seperti tanpa beban pikiran.


" Kalau ngantuk kita tidur di dalam, sayang?" lirih Azzam.


" Pengen digendong," rengek Zahra.


" Nggak malu kalau ada tetangga yang lihat?"


Zahra nyengir lalu beranjak dari duduknya untuk membereskan gelas yang habis untuk minum teh. Azzam mengikuti langkah istrinya sampai ke dapur untuk menemaninya mencuci gelas.


" Kenapa Mas ikut kesini?"


" Mau gendong kamu."


" Tidak usah, istirahat sana!"


" Adek semakin cantik aja, sih?"


Azzam memeluk sang istri dari belakang. Satu hal yang dilakukan Azzam yang mampu membuatnya sangat nyaman.


" Boleh disini?" lirih Azzam dengan suara tertahan.


" Nggak! Mas jangan aneh - aneh." tolak Zahra.


" Please... I need you, now." bujuk Azzam.


" No...! I'm not comfortable here." tolak Zahra.


" Fine, kita di kamar saja."


Azzam menggendong tubuh istrinya menuju kamar yang kosong karena tak ingin mengganggu anaknya yang sudah tidur lelap.


" Pelan - pelan saja, Adek lelah."


" Iya, sayang. Habisnya sedari tadi kau menggodaku terus, gimana Mas bisa tahan?"


" Mas aja yang mudah tergoda," ledek Zahra.


" Siapapun pasti tergoda saat melihat apa yang ada di balik pakaian ini." seringai Azzam.


Azzam melepas dengan cepat pakaian istrinya dan juga miliknya sendiri sebelum mereka menikmati malam yang panjang.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2