Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Liburan sederhana


__ADS_3

Keesokan harinya,


Sabtu pagi, Azzam dan Zahra sudah siap untuk mengajak Rama jalan - jalan. Dengan semua perlengkapan yang sudah di packing di dalam tas ransel. Tak lupa Rayyan yang juga selalu ikut kemanapun mereka pergi.


" Za... nanti Rama ikut sama aku saja, nggak enak naik motor sendirian." ucap Rayyan.


" Makanya cari istri biar nggak ngrepotin kami terus!" cibir Azzam.


" Nanti kalau adikku sudah pulang ke rumah, baru aku akan menggelar pesta pernikahan yang mewah. Kalian harus datang nanti, sebagai pengiringku." sahut Rayyan santai.


" Memangnya adiknya bang Rayyan kemana?" tanya Zahra.


" Oh itu, dia diluar kota. Tidak tahu kerjaannya apa, jadi tentara perbatasan mungkin jadi sudah bertahun - tahun tak pulang." jawab Rayyan seraya tersenyum meyakinkan.


" Wah... hebat banget adiknya bang Ray, jadi tentara... Pahlawan bangsa Indonesia."


" Kebanyakan drama kamu, Dek!"


Rayyan segera mengambil Rama dari pangkuan Azzam. Zahra segera memakaikan kain gendongan agar Rama tak jatuh saat di motor nanti.


" Kita sudah seperti keluarga kecil bahagia, Za." celetuk Rayyan.


" Kamu minggir, Dek! Biar Mas aja yang bantuin pakai gendongan." Azzam menarik tangan Zahra.


" Apa sih, Mas? Zahra cuma bantuin pakai gendongan."


" Mas juga bisa!"


Rayyan tersenyum geli melihat tingkah Azzam yang terlalu posesif pada istrinya. Apalagi harus cemburu pada dirinya yang sudah menganggap Zahra seperti adiknya sendiri.


Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat menuju pesisir pantai selatan. Obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar kota. Tempat ini sangat cocok untuk mereka, apalagi untuk Azzam yang menginginkan ketenangan. Dengan mendengar suara ombak dari lautan seakan bebannya berkurang bersama gulungan ombak yang menerjang.


Setelah lebih dari satu jam, mereka sampai juga di tempat tujuan. Mereka memilih tempat yang hanya dikunjungi sedikit pengunjung agar Rama lebih nyaman bermain.


" Mas, Zahra kesana dulu sama Rama." pamit Zahra pada suaminya.


" Hati - hati, Dek! Mainnya dipinggir saja, Rama masih belum kuat jalannya." peringat Azzam.


" Iya, Mas."


" Bunda... Ayo...!" teriak Rama.


" Sebentar, sayang." sahut Zahra.


" Air... air... Bunda, renang."


" Kita main pasir aja ya? Airnya banyak nanti Rama kedinginan." bujuk Zahra.


Karena Rama terus merengek, Zahra luluh juga kemudian membawanya masuk ke dalam air di dekat karang agar ombak tidak langsung menerjang tubuh mereka.


Azzam sesekali berteriak agar Zahra selalu waspada terhadap ombak yang datang karena terkadang besar juga, jika tidak waspada mereka bisa terseret ke tengah laut.


" Zam, sampai kapan kau seperti ini?" kata Rayyan seraya menatap ujung lautan.

__ADS_1


" Apa maksudmu? Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Mereka berdua adalah harta yang tak pernah akan habis. Aku tidak butuh kemewahan seperti yang kau tawarkan itu." ucap Azzam datar.


" Kau jangan egois, Zam. Istrimu memang tidak menuntut, tapi dari dalam hatinya kau tidak tahu. Dia seorang wanita, butuh materi juga untuk menunjang kehidupannya."


" Kau benar tapi belum saatnya, Ray. Aku nyaman hidup seperti ini. Zahra juga belum tentu bisa menerima kehidupanku di masa lalu."


" Tapi sampai kapan, Zam? Kau tak bisa lari dari masalah seperti ini terus. Bukan untuk kehidupanmu sendiri, pikirkan berapa orang yang akan menderita jika kau tak kembali."


Zahra datang bersama Rama di waktu mereka sedang berdebat. Nampak wajah mereka serius saling menatap. Zahra semakin heran dengan sikap mereka yang selalu bermusuhan namun terlihat akrab.


" Jangan saling tatap begitu, nanti kalau saling cinta jadi repot!" Zahra menaruh Rama di pangkuan Rayyan.


" Sayang, jangan ngomong begitu!" tegur Azzam.


Azzam menarik tangan Zahra untuk duduk di sampingnya. Senyuman istrinya itu mampu membuat rasa lelahnya hilang.


" Mas, bisa nggak kita disini sampai sore? Zahra pengen lihat lihat matahari tenggelam di balik lautan ini. Pasti sangat indah pemandangannya." pinta Zahra merengek.


" Nanti pulangnya gimana, Dek? Rama masih kecil, kasihan kalau diajak naik motor malam - malam." ujar Azzam.


" Hmm... baiklah, terserah Mas saja." ucap Zahra sendu.


Rayyan sangat tahu keinginan Zahra, namun ia tak ingin ikut campur saat ini karena bisa semakin memperkeruh suasana. Rayyan bangkit dari duduknya seraya menggendong Rama untuk menjauh dari mereka.


" Dek, bukannya Mas tidak mau... Tapi kita harus pikirkan kesehatan Rama." bujuk Azzam.


" Iya, Zahra tahu." sahut Zahra datar.


" Tidak usah berkhayal terlalu tinggi, Mas!"


" Tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha, Dek. Mas akan buktikan ucapan Mas ini." tegas Azzam.


" Aamiin..."


Azzam menatap wajah istrinya yang masih memandangi lautan lepas. Akankah ia harus menuruti permintaan istrinya? Walaupun sebenarnya ia ingin sekali membuat istrinya bahagia, namun ada anak yang masih terlalu kecil diantara mereka. Angin malam tak baik untuk kesehatan anak kecil.


" Makan dulu yuk? Mas laper, sekalian Rama dibikinin susu." ajak Azzam.


" Mereka kemana, Mas?"


Azzam mencari ke sekeliling tempat itu namun tak menemukan keberadaan Rayyan dan Rama. Dia segera mengambil ponsel di saku jaket yang digantung di pundaknya.


" Ray, kau dimana?"


[ " Ada di resto tak jauh dari tempat kalian sekarang. Cepat kesini, keburu Rama lapar." ]


" Ya sudah, kau tunggu disana."


Azzam mematikan panggilan telfonnya lalu mengajak Zahra untuk menyusul Rayyan dan Rama. Azzam tak ingin putranya terlalu lama menunggu.


" Biar Rama sama Zahra saja, Bang Ray." pinta Zahra.


" Tidak usah, hari ini sampai besok Rama aku sewa sebagai anakku. Kalian bisa menikmati liburan berdua disini."

__ADS_1


" Sewa...? Abang mau ngamen bawa anak?" pekik Zahra.


" Ya Allah, Zahra... kamu itu berpendidikan tapi berpikir dangkal. Mana mungkin pria tampan sepertiku ngamen." sahut Rayyan.


" Papa... Minum...!" rengek Rama.


Azzam dan Zahra hampir berteriak mendengar putra semata wayang mereka memanggil Rayyan dengan sebutan ' PAPA '.


" Rayyan...! Apa kau sudah meracuni pikiran putraku!" sentak Azzam tak terima.


" Pelankan suaramu, Zam! Kita di tempat umum, jangan membuat keributan." kata Rayyan.


" Kau sudah keterlaluan, Ray!"


" Sorry... Aku tidak bermaksud jahat, Rama juga sudah aku anggap seperti putraku sendiri."


" Sudah, Mas... Malu jadi pusat perhatian banyak orang." lerai Zahra.


Zahra mengusap punggung suaminya dengan lembut agar bisa sedikit meredam amarahnya. Zahra berharap semua ini tidak jadi masalah yang berlarut - larut.


" Kalian pesan makanan sana! Rama keburu lapar menunggu kalian." ujar Rayyan.


Walaupun masih sangat kesal, Azzam bergegas memesan makanan untuk dia dan istrinya. Rayyan sudah memesan terlebih dahulu untuk dirinya dan Rama.


" Nanti aku akan bermain air lagi dengan Rama, kalian bisa jalan - jalan berdua." kata Rayyan.


" Zahra tidak mau merepotkan bang Ray..."


" Siapa yang bilang merepotkan? Aku senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan keponakanku yang tampan ini."


Setelah semua pesanan datang, Rayyan menyuapi Rama dengan nasi dan ikan bakar. Anak itu sangat lahap sekali makannya. Mungkin karena bermain air terlalu lama membuat anak itu kelaparan.


" Zam, nanti selepas Ashar aku akan membawa Rama pulang. Kalian menginap saja disini malam ini, nikmati kebersamaan kalian malam ini. Aku sudah menyewa satu kamar untuk kalian sampai besok siang. Rama akan tinggal bersama selama kalian honeymoon."


" Tidak usah Ray, kami tidak biasa tidur tanpa Rama." tolak Azzam.


" Jangan keras kepala! Kalian harusnya bersyukur karena aku sudah berbaik hati memberikan fasilitas gratis untuk bulan madu. Zahra itu sekarang adikku, jadi kau tidak boleh membuatnya bersedih."


" Jangan berlebihan seperti ini, Bang... kami sudah banyak merepotkan bang Rayyan."


" Jangan menolak! Semua sudah aku bayar lunas termasuk makanan kalian di Resto ini."


Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Azzam dan Zahra menurut dengan Rayyan. Kini Azzam tahu apa yang Rayyan inginkan dengan mengajak mereka liburan kali ini. Walaupun hanya liburan sederhana, namun akan tercipta kebahagiaan yang sangat istimewa.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2