Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Bertemu ibu mertua


__ADS_3

Pagi hari Zahra terbangun saat adzan shubuh. Setelah sholat shubuh, seperti biasa ia membangunkan Kaivan yang pastinya masih terlelap.


" Tuan... sudah pagi! Cepat bangun!" teriak Zahra.


" Hmm... kau ini mengganggu saja! Saya ini majikan bukan suamimu." sahut Kaivan malas.


" Justru karena Tuan itu majikan, makanya saya bangunin dengan pelan. Kalau suami saya sudah pasti kubawakan air seember."


" Tunggu deh, Ra... ini kok kesannya kamu nglunjak lama - lama sama saya, ya? Kamu yang pinter atau saya yang terlalu bodoh." Kaivan duduk sambil memeluk gulingnya. Mungkin dia masih belum sadar sepenuhnya.


" Itu hanya perasaan Tuan saja, saya ini hanyalah pelayan yang tak berpendidikan tinggi seperti Anda."


" Sekarang jam berapa? Sepertinya masih sangat pagi."


" Jam lima, Tuan. Katanya mau belajar sholat? Ayo bangun, sebentar lagi matahari sudah terbit."


" Hah... kau ini mengganggu tidurku saja!"


Zahra tersenyum ketika melihat Kaivan beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, Kaivan berhenti dan berbalik menghadap Zahra.


" Ada apa, Tuan?"


" Mmm... caranya wudhu gimana?" tanya Kaivan sambil nyengir.


" Ya Allah Ya Rabb... Mana ponsel Tuan!"


Zahra membuka aplikasi pencarian tentang tata cara wudhu. Setelah dapat, ia menyerahkannya kepada Kaivan untuk dipelajari dengan cepat.


" Lima menit untuk mempelajarinya!" kata Zahra tanpa ekspresi.


" Ya Allah, Ra... Kau bisa jadi dosen killer kalau sekolah sampai S2." keluh Kaivan.


Kaivan yang memang pintar, dengan cepat bisa mempelajarinya tak sampai lima menit. Dia juga browsing cara sholat subuh.


.


.


Siang hari, seperti kemarin Zahra mengantar makan siang untuk Kaivan di kantor. Kali ini tak ada masalah lagi karena resepsionis itu sudah mengenal Zahra. Dia juga sudah dapat peringatan dari Deni untuk bersikap baik pada pelayan CEO itu.


" Assalamu'alaikum, Tuan..." sapa Zahra.


" Wa'alaikumsalam, Ra. Tumben datang lebih cepat?" balas Kaivan.


" Hari ini memang saya berangkat lebih cepat, Tuan. Jadi jalanannya belum terlalu macet."


" Sadar juga dengan kesalahanmu kemarin. Bawa makanan apa hari ini?"


" Ada telur balado, soto daging sama perkedel kentang. Tuan mau makan sekarang...?"


" Nanti saja, saya mau menghafal ini dulu."


Melihat Kaivan yang sangat serius menatap layar ponselnya membuat Zahra bingung. Apakah pekerjaannya itu harus dihafalkan juga? Bukankah setiap hari ia harus menangani berkas yang berbeda?


" Tuan... apa berkas - berkas itu harus dihafalkan semua?"


" Hahahaa... tidak, Rara. Saya sedang menghafal bacaan sholat biar lebih lancar."


" Oh... kirain menghafal berkas."


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, Kaivan segera memanggil Deni lewat interkom supaya datang keruangannya. Tak berselang lama, Deni datang namun tidak sendiri. Tuan Zaid berada di sisinya sambil membawa beberapa berkas di tangannya.


" Papa..."


" Kai... ada klien yang mengajak meeting di Bali. Kau pergilah besok pagi, meetingnya jam sebelas. Kau ambil penerbangan pagi saja biar sore bisa langsung pulang."


" Iya, Pa. Tapi boleh ajak Rara kan, Pa?" tanya Kaivan.


" Loh... kok saya, Tuan? Harusnya ajak Tuan Deni saja, saya tidak ada kepentingan disana." tolak Zahra.

__ADS_1


Deni yang sudah tahu identitas Zahra paham dengan situasi ini. Pasti dia merasa canggung pergi berdua dengan seorang pria yang bukan suaminya.


" Tuan... biar saya saja yang menemani, Rara pasti ada pekerjaan di rumah Anda." kata Deni.


" No, Rara yang harus ikut!"


" Ya sudah, tapi Papa berharap kamu bisa menjaga gadis ini dengan baik. Ingat! Jangan sekali - kali menyakiti wanita." ujar Tuan Zaid.


" Jangan bicara begitu, Pa. Harusnya papa sadar diri dengan apa yang papa lakukan pada mama Rahma."


" Tuan Kai... yang sopan kalau bicara!" tegur Zahra.


Kaivan hanya melengos lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. Pria itu sudah muak dengan semua yang terjadi dalam hidupnya.


" Tuan Besar, makan siang disini saja ya? Saya tadi membawa banyak makanan. Saya pikir Nyonya Nella juga disini."


" Tidak usah, Nak. Saya bisa makan diluar, Kaivan pasti tidak nyaman." tolak Tuan Zaid secara halus.


" Makanlah disini, Pa. Hargai usaha Rara yang sudah jauh - jauh datang membawa makanan kesini." kata Kaivan datar.


Zahra tersenyum lalu menyiapkan piring dan gelas yang ia isi dengan air putih. Deni yang sedari tadi diam menyusul Zahra ke pantri.


" Kenapa tidak bilang kalau istrinya Azzam?" bisik Deni.


" Jangan bicarakan itu disini!" tegur Zahra.


" Sorry, tapi ini sangat berbahaya untukmu. Kalau sampai Nyonya Nella tahu, nyawamu bisa melayang."


" Saya tahu, tapi ibunya mas Azzam masih terkurung di rumah itu. Saya harus bisa menyelamatkannya."


" Besok Bima akan datang ke kediaman Al Farizy sebagai sopir pribadi Kaivan. Jadi kalian bisa mengatur strategi selanjutnya."


" Ok! Ayo cepat bawa minumannya."


Zahra yang tadinya tak ingin ikut makan dipaksa Kaivan. Dia duduk di samping Kaivan karena dua sofa tunggal sudah ditempati Deni dan Tuan Zaid.


.


.


" Tuan... ini minumannya saya taruh meja ya?"


" Hmm... istirahatlah! Kau pasti lelah, besok kita berangkat jam lima biar tidak ketinggalan pesawat."


" Bukankah meetingnya jam sebelas, Tuan? Kenapa berangkat pagi?"


" Biar bisa istirahat dulu sebelum ketemu klien, Ra."


" Terserah Tuan saja,"


" Kau keberatan ikut denganku, Ra?"


" Ah... tidak, Tuan. Saya akan ikut kemanapun Tuan pergi."


" Baguslah. Tidur sana, besok jangan sampai kesiangan!"


Zahra menatap Kaivan yang masih fokus dengan laptopnya. Sepertinya pria itu tidak menyadari jika Zahra masih ada di belakangnya.


" Tuan_..." panggil Zahra pelan.


" Astaga...!" pekik Kaivan kaget.


" Rara...! Kau masih disini?"


" Hehehee... saya belum pergi, Tuan."


" Kau butuh sesuatu...?"


" Mmm... apa kita bisa mengunjungi Nyonya Rahma? Beliau pasti kesepian di paviliun, apalagi Tuan Azzam tidak pernah datang."

__ADS_1


" Tidak mudah masuk kesana, Ra. Kau tidak lihat para pengawal Mami banyak sekali."


" Anda putranya, masa' iya tidak diijinkan masuk?"


Kaivan menutup laptopnya lalu berbalik menghadap Zahra. Tatapannya begitu serius kepada wanita di hadapannya.


" Apa tujuanmu ingin bertemu mama Rahma? Kau sudah mengenal beliau sebelumnya...?" cecar Kaivan.


Zahra yang merasa dicurigai berusaha untuk bersikap normal. Dia harus mencari alasan yang tepat agar Kaivan percaya padanya.


" Tidak, Tuan. Saya belum pernah bertemu sebelumnya. Hanya saja, saya merasa kasihan mendengar cerita Tuan kemarin. Sebagai seorang perempuan, saya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Nyonya Rahma yang sudah terpisah lama dengan anaknya."


" Hhh... baiklah. Ayo kita pergi sekarang sebelum Mami pulang!" ujar Kaivan cepat.


Zahra bersemangat sekali mengikuti langkah Kaivan menuju paviliun. Setelah berdebat dengan para pengawal, akhirnya Kaivan bisa membawa Zahra masuk ke paviliun. Tak lupa Zahra membawa kamera mini daya baterai yang bisa merekam selama tiga hari.


Sambil berjalan, Zahra menempelkan kamera di pintu masuk dan tempat yang ia lewati menuju ke kamar Nyonya Rahma.


" Mama..." Kaivan memeluk tubuh wanita yang semakin melemah itu.


" Azzam..." lirih Nyonya Rahma.


" Mas azzam belum ditemukan, Ma. Tapi Kai janji akan mencari Mas Azzam sampai dapat, Ma."


" Siapa gadis itu, Kai?"


" Oh... ini pelayan baru Kaivan, Ma. Ra, kenalkan ini mama Rahma."


" Saya Rara, Nyonya. Pelayan Tuan Kaivan." ucap Zahra tersenyum.


" Kamu cantik sekali, saya pikir calon istrinya Kaivan."


Zahra hanya tersenyum, sedangkan Kaivan terlihat canggung. Wajah Kaivan terlihat memerah karena malu. Walaupun Rahma hanya ibu tiri, namun wanita paruh baya itu sangat tulus menyayangi Kaivan.


" Ma, Kai tidak akan menikah sebelum Mas Azzam. Kaivan akan terus mencari Mas Azzam sampai dapat. Mama harus sehat terus, Kai sayang Mama."


" Ya Allah, Mas. Seandainya kamu tahu keadaan Mama sekarang, kamu pasti menangis. Aku saja rasanya tidak sanggup melihat tubuh Mama yang lemah dan kurus." batin Zahra.


Zahra memalingkan wajahnya seraya menyeka airmata yang tiba - tiba membasahi pipinya. Ia tak ingin Kaivan dan mama Rahma melihatnya.


" Rara... kamu kenapa...?" rupanya mama Rahma menyadari airmata Zahra.


" Eh... tidak apa - apa, Nyonya. Saya hanya merindukan orangtua saya saat melihat Nyonya."


" Kalau rindu kenxpa tidak pulang?"


" Mereka sudah tidak ada, Nyonya."


" Innalillahi... Maaf, ssya tidak tahu Nak."


" Bolehkah saya memeluk Nyonya?"


" Tentu saja, sini Nak."


Zahra memeluk Rahma dengan erat. Airmatanya tak terbendung lagi saat ibu dari suaminya itu mengelus punggungnya dengan lembut.


" Mas, aku sudah memeluk Mama. Beliau sangat membutuhkanmu, Mas. Mama bertahan dengan siksaan hanya untuk menunggumu datang." batin Zahra.


" Nyonya tenang saja, sebentar lagi putramu pasti kembali."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2