Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Fitnah


__ADS_3

" Kau mengenal orangtuaku...?" ucap Kaivan kaget.


" Ya, Papimu itu adik dari Papaku." jawab Bima.


" Apaaa...? Jadi kau sudah tahu sejak lama?"


" Benar, Kakek sudah bercerita beberapa tahun yang lalu."


" Kenapa kau tidak pernah menemuiku! Kenapa semua orang menyembunyikan identitas Papi dariku!" teriak Kaivan.


Kaivan berteriak sangat kencang sehingga membuat Azzam dengan cepat membekap mulutnya karena tak ingin pengintaian mereka gagal.


" Tahan emosimu, Kai...!" sentak Azzam pelan namun tegas.


" Kai... Sudah! Kita bisa bicarakan itu nanti." ujar Bima.


Rayyan menarik Kaivan dari cengkeraman Azzam dan membawanya sedikit menjauh. Bisa kacau bila mereka ribut di tempat ini.


" Boss, target sudah berkumpul. Tapi tidak ada Darco maupun Nella disana." kata Darrent.


" Kita serang setelah transaksi selesai." perintah Bima.


Selain anggota Tiger White, ada juga dari pihak kepolisian yang ikut turun tangan untuk menyergap para mafia itu.


" Pak, kita bisa mulai penyergapan sekarang." kata Bima kepada salah satu pimpinan pihak kepolisian.


" Baiklah, kita bergerak sekarang. Terimakasih kalian sudah membantu tugas kami."


" Tidak masalah, mereka juga sudah mengusik keluarga kami."


Dengan cara mengendap - endap, mereka berhasil mendekati target. Tak butuh waktu lama, pihak kepolisian melakukan penggerebekan dibantu anggota Tiger White.


" Jangan bergerak! Kalian semua sudah terkepung!" teriak pimpinan kepolisian itu.


Para anggota mafia yang sudah selesai bertransaksi itu terkejut saat melihat di seluruh ruangan itu terdapat banyak sekali petugas kepolisian dengan senjata lengkap mengarah pada mereka.


" Haishhh... apa - apaan ini! Kalian sudah menjebakku!" teriak salah satu geng mafia itu.


" Kami juga tidak tahu, Tuan. Kurasa tempat ini sudah paling aman." ucap anak buah Darco.


Karena sudah terpojok, mereka ditangkap tanpa perlawanan. Ada sekitar dua puluh orang yang tertangkap dalam operasi kali ini.


.


.


" Sakti... bisakah kau jelaskan padaku tentang Papi?" pinta Kaivan.


Saat ini mereka sedang beristirahat di Apartemen Rayyan yang sudah diubah menjadi markas dadakan oleh mereka.


" Bukan sekarang, Kai. Nanti kalau sudah waktunya, kita akan bertemu Kakek di Jerman." ujar Bima.


" Kapan...? Kenapa Kakek tidak pernah menemuiku selama ini?"


" Aku juga tidak tahu, Kai. Kakek hanya menyuruhku menyelidiki tentang kematian Papimu. Kau tahu betapa sulitnya mencari informasi tentang keluarga ibumu itu? Untung saja Zahra datang padaku untuk meminta bantuan untuk menyelamatkan keluarga Al Farizy yang ternyata bermasalah dengan ibumu."


" Kakak ipar itu orang yang sangat baik dan lembut, bagaimana bisa mengenalmu?"


" Hhh... kau tidak akan percaya jika aku ceritakan tentang istri Azzam itu."


" Kenapa...?"


" Dia itu mata - mata terbaik Tiger White. Sayang, setelah bertemu Azzam dia tidak mau kembali bertugas. Dia juga meninggalkan semua fasilitas yang kuberikan."


" Ish... ternyata kakak ipar sangat ahli mengelabuiku. Saat aku belikan dia ponsel Android, dia bahkan bertanya bagaimana cara membuka layarnya dan pura - pura kaget bisa melihat aplikasi yang sangat banyak di dalamnya. Aku tahu Deni juga pasti kesal saat kakak menanyakan bagaimana cara menggunakan kamera." Kaivan tersenyum merasa begitu bodoh dengan kepolosan kakak iparnya.

__ADS_1


" Hahahaa... kau jangan salah, dia itu Sarjana Manajemen & Bisnis di kampus ternama di Yogyakarta." sahut Bima ikut tertawa.


Azzam yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi ikut merebahkan tubuhnya di sofa samping Kaivan.


" Jangan ghibahin istriku!" sentak Azzam.


" Hahahaa... habisnya kakak ipar itu unik. Dia bisa membuat siapapun yang dekat dengannya merasa sangat nyaman." Kaivan tertawa riang.


" Awas aja kalau terlalu dekat dengan istriku!" ancam Azzam.


" Bagaimana tidak dekat, Mas. Istrimu itu pelayan khusus di rumah untuk menyiapkan semua kebutuhanku. Dia juga selalu mengantarkan bekal makan siang untukku ke kantor." goda Kaivan.


" Sial...! Aku saja tidak pernah menyuruhnya melakukan pekerjaan berat. Kau tahu...? Aku bahkan lebih sering memasak untuknya dan kau dengan seenaknya memperbudak istriku!" teriak Azzam.


Bima paling malas mendengarkan orang yang berdebat masalah sepele. Dia segera beranjak ke kamar untuk merubah penampilannya.


" Boss... ayo pulang!" teriak Bima yang sudah berpenampilan menjadi Sakti.


" Hah... aku malas pulang." Kaivan menghembuskan nafas kasar.


" Heh... pulang sana! Jaga kakak iparmu." usir Azzam.


" Kebalik, Mas. Justru Kakak ipar yang menjagaku." sahut Kaivan seraya merapikan jasnya.


" Jaga Mama." lirih Azzam.


" Tenang saja, kakak ipar selalu pantau Mama. Dia juga sudah memberikan obat penawar dari obat yang diberikan Mami."


" Ya sudah, kau pulang sana."


Bima dan Kaivan segera pergi meninggalkan Apartemen Rayyan. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi mereka dari jarak yang tak begitu jauh.


" Tuan Kaivan keluar dari sebuah unit Apartemen bersama sopirnya."


" Siap, laksanakan!"


.


.


Zahra terbangun jam dua pagi. Dia keluar dari kamarnya untuk mengambil wudhu karena ingin sholat tahajud. Saat akan kembali ke kamar, ia melihat Kaivan yang baru pulang.


" Tuan...? Anda baru pulang?" tegur Zahra.


" Iya, habis main sebentar. Apa masih ada makanan sisa semalam? Saya lapar, tolong antar ke kamar." kata Kaivan.


" Baik, Tuan. Tapi saya sholat dulu sebentar tidak apa - apa?"


" Ya." jawab Kaivan singkat.


Zahra bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk sholat. Tak sampai lima belas menit, ia keluar dan segera menghangatkan makanan yang tersimpan di kulkas. Hanya ada sayur capcay dan ayam goreng. Tapi tak masalah, karena Kaivan bisa memakan apapun selain keju.


" Tuan...?" Zahra mengetuk pintu beberapa kali.


" Sebentar...!" teriak Kaivan dari dalam.


Tak lama pintu terbuka dan tampaklah senyum lebar dari pria di dalam kamar itu. Kaivan tampak lebih segar setelah mandi dan rambutnya yang basah membuatnya semakin menawan dengan wajah tampannya. Tidak ada seorangpun jika wajahnya itu hampir mirip dengan Bima.


" Kenapa jam segini keramas? Habis ngapain aja tadi?" cecar Zahra setelah meletakkan nampan di meja.


" Ya Allah, Kak. Kai cuma gerah baru pulang. Lagian bukannya bagus mandi jam segini untuk kesehatan?" sahut Kaivan.


" Kau tidak macam - macam diluar sana, kan?"


" Macam - macam gimana? Kai nggak paham maksud kakak?"

__ADS_1


" Jangan sok polos, kau tahu apa maksudku."


" Jangan su'udzon, Kak. Tadi Kai habis dari Apartemen kak Rayyan sama Sakti."


" Ya sudah, kalau begitu aku balik ke bawah. Lumayan masih bisa tidur dua jam."


" Kak..."


Apa...?"


Zahra yang sudah hampir mencapai pintu menghentikan langkahnya. Melihat wajah Kaivan yang tampak serius membuatnya penasaran. Mungkin saja adik iparnya itu akan memberi kabar soal anak dan suaminya.


" Aku sudah tahu siapa keluarga besar Papi."


" Benarkah? Siapa mereka...?"


Zahra tidak jadi keluar tapi duduk di sofa yang berseberangan dengan Kaivan. Rasa kantuk yang tadi mulai menyerangnya menguap seketika.


" Papiku itu adik dari Papanya Sakti. Jadi bisa dibilang aku ini adik sepupu dari Sakti."


" Subhanallah... jadi kalian bersaudara? Syukurlah, aku senang mendengarnya, Kai. Ternyata teman - teman terdekatku adalah saudara yang berarti jadi saudaraku juga."


" Iya, Kak. Aku merasa sangat bahagia sekarang, akhirnya aku masih memiliki keluarga."


Zahra berdiri mengusap pelan bahu Kaivan. Pria itu meneteskan airmata bahagia atas semua kejadian hari ini dimana Sakti mengungkapkan jati diri Kaivan yang sebenarnya.


" Makanlah, keburu dingin lagi." ucap Zahra lembut.


Di saat bersamaan, pintu kamar Kaivan terbuka dengan kasar dengan teriakan seseorang yang memekakkan telinga.


" Kaivaannn...!" teriak seseorang dari depan pintu.


Nella dan Tuan Zaid serta dua pelayan menatap Zahra tajam. Nella segera masuk dan menampar pipi Zahra cukup keras.


" Mamiii.. ! Apa yang kau lakukan!" seru Kaivan.


Zahra yang masih belum menyadari keadaan, hanya mampu mengelus pipinya yang terasa panas dengan tetesan darah di sudut bibirnya.


" Dasar wanita ******! Beraninya kau menggoda putraku!" hardik Nella.


" Maaf, Nyonya. Anda salah paham." ucap Zahra.


" Apa kau pikir aku buta, hah...!"


Terlihat amarah di mata Nella yang menatap tajam Zahra. Kaivan merasa tidak terima dengan tuduhan ibunya yang menyudutkan kakak iparnya.


" Cukup, Mi...! Jangan fitnah sembarangan. Kai dan Rara tidak melakukan apa - apa." geram Kaivan.


Kaivan jadi teringat pesan Azzam sebelum dirinya pulang dari Apartemen tadi. Mungkinkah Azzam sudah punya firasat buruk tentang istrinya?


" Fitnah kau bilang? Untuk apa dia jam segini berada di kamarmu kalau bukan buat jadi ******!"


' Astaghfirullahal'adziim... kuatkan hatiku untuk tidak terpancing emosi ya Allah.' gumam Zahra dalam hati.


Zahra dapat melihat seringaian tipis dari dua pelayan di belakang maminya Kaivan. Kini dia tahu siapa penebar fitnah itu.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2