Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Asisten special


__ADS_3

Zahra dan Azzam sama - sama menikmati makanannya dalam diam. Cara mereka saling memandang terlihat tampak seperti atasan dan bawahan pada umumnya, tak ada senyum atau canda tawa seperti biasanya.


" Azzam...! Kau sudah disini, kenapa tidak memberitahuku?" seru Merry.


" Maaf, Nona. Saya paling tidak suka jika diganggu saat makan." kata Azzam datar.


" Saya hanya ingin bertemu saja, kebetulan saya juga mau makan di tempat ini."


" Silahkan saja, cari meja lain."


" Wanita ini saja boleh duduk satu meja denganmu, kenapa saya tidak!"


" Dia asisten saya."


" Hanya asisten." celetuk Merry.


" Asisten special..." sahut Zahra.


Merry menatap geram Zahra karena Azzam tidak mengatakan apapun untuk membela dirinya. Bahkan tatapan pria itu begitu lembut pada sang asisten.


" Saya sudah selesai makan, Tuan. Bolehkah saya ke kamar lebih dulu?" ucap Zahra.


" Saya juga sudah selesai, siapkan berkas yang tadi kuminta. Bawa ke kamarku, saya akan lembur malam ini." kata Azzam.


" Baik, Tuan." balas Zahra seraya menganggukkan kepalanya hormat.


" Zam, saya boleh ikut ke kamarmu?" pinta Merry.


" Jaga batasanmu, Nona!"


Azzam segera berlalu meninggalkan restoran diikuti Zahra di belakangnya. Mereka masih dapat mendengar umpatan kasar dari mulut Merry yang mencoba menahan amarah.


Sampai di dalam kamar, Azzam langsung masuk ke dalam kamar istrinya melalui pintu penghubung. Tidak mungkin mereka tidur terpisah apalagi kini mereka hanya berdua saja tanpa sang anak.


" Sayang, mandi dulu yuk." ajak Azzam.


" Mas duluan aja, Adek mau pesen makanan dulu." sahut Zahra.


" Bukannya tadi udah makan?"


" Tadi cuma sedikit, Adek nggak nafsu lihat perempuan itu."


" Yaudah, Mas pesenin juga. Sepertinya memang lebih nyaman makan berdua disini."


Azzam mandi terlebih dahulu gantian dengan istrinya takut nanti pesanan datang mereka masih di kamar mandi.


" Mas, cepetan...!" seru Zahra mengetuk pintu kamar mandi.


" Sebentar, sayang." sahut Azzam dari dalam.


" Cepetan, Mas...! Zahra pengen buang air kecil."


" Masuk aja, nggak di kunci."


Zahra langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan hampir saja menabrak suaminya yang sedang melilitkan handuk di tubuhnya.


" Hati - hati, Yang." tegur Azzam lalu keluar dari kamar mandi.


Azzam sedang memakai pakaiannya saat pelayan mengantarkan makanan. Dia bergegas membuka pintu dan menyuruh pelayan menata di meja.

__ADS_1


" Makanannya sudah datang, Mas?" Zahra keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


" Sudah. Kok keramas sih, Dek? Besok pagi juga keramas lagi." kata Azzam.


" Memangnya siapa yang mau keramas pagi - pagi?"


" Kita, sayangku. Cepat makan, biar nanti punya tenaga lebih untuk begadang sampai pagi." bisik Azzam.


" Zahra capek, jangan sekarang." rengek Zahra.


.


.


Pagi hari, Zahra menatap kesal suaminya yang tertawa tanpa merasa berdosa. Pria itu benar - benar membuktikan ucapannya dengan membuat Zahra begadang sampai jam dua pagi.


" Masih ngantuk, Yang?" tanya Azzam sambil nyengir.


" Mas jahat!" pekik Zahra.


" Mas udah pesan sarapan untuk kita. Habis sarapan kita tidur lagi, nanti habis zuhur baru ke proyek." ujar Azzam.


Zahra kembali meringkuk di tempat tidur seraya menutup seluruh tubunya dengan selimut. Dirinya enggan menatap suaminya yang sedari tadi terus menggodanya.


" Asisten special... Jangan ngambek lagi dong? Presdir yang paling berkuasa, tampan dan mempesona ini minta maaf deh," bujuk Azzam.


" Presdir sombong!" cibir Zahra.


" Sayangku, cintaku, bidadariku... Hari ini cantik sekali, bikin Mas nggak pengen beranjak dari tempat tidur." goda Azzam.


" Katanya disuruh tidur, kenapa menggangguku." sungut Zahra.


" Sarapan dulu baru boleh tidur."


" Yang, kamu nggak ada niat bantuin Mas kerja?"


" Zahra bantuin Mas kalau kerja di sawah aja."


" Mas udah jarang ke sawah, Yang. Agus dan Cahyo yang mengurus sawah sekarang."


" Rumah kita kapan jadinya, Mas?" Zahra bangkit dari tempat tidur lalu duduk di pangkuan suaminya.


" Satu bulan lagi sudah siap ditempati, kamu udah hubungi Agus?"


" Udah semalam, Zahra cuma minta bagian depan sama seperti dulu posisinya."


" Tapi tetap lantai dua, Yang."


" Iya, suamiku. Nanti setelah rumah itu jadi, Zahra mau pulang saja kesana."


" Iya, sayang. Terserah kamu saja, Mas bisa pulang pergi dari desa ke kota kok."


Azzam tahu istrinya itu lebih nyaman tinggal di desa daripada di kota. Udaranya yang masih sejuk membuatnya semakin betah. Rama juga lebih cocok berada di desa karena udaranya masih bagus dan baik untuk kesehatannya.


" Memangnya Mas nggak capek?"


" Capek sih, tapi kalau tiap pulang kerja dapat jatah pasti capeknya langsung hilang."


" Ish... Memangnya tidak ada keinginan yang lain?"

__ADS_1


" Hahahaa... Mas cuma bercanda, sayangku. Melihat senyumanmu saja sudah membuat Mas bahagia dan rasa lelah itu langsung menghilang begitu saja."


" Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang Mas berikan untuk Zahra dan Rama. Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk putra kita."


" Kau sudah memberikan yang terbaik untukku, sayang. Dengan melihat senyum bahagiamu setiap hari, Mas merasa berhasil menjadi suami dan ayah untuk kalian. Jangan pernah sungkan untuk berkeluh kesah padaku karena seorang suami adalah tempat bersandar istri, begitu juga sebaliknya."


Azzam mengecup bibir istrinya sekilas karena tiba - tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Zahra segera beranjak dari pangkuan suaminya dan segera memakai jilbab instan yang berada di tempat tidur.


.


.


Siang hari selepas zuhur, Azzam dan Zahra meninjau proyek pembangunan hotel. Disana sudah ada Merry yang sudah menunggunya dari pagi.


" Azzam... Kau lama sekali?" seru Merry seraya menggandeng lengan Azzam.


" Lepaskan tanganmu, Merry!" sentak Azzam.


" Kenapa? Kita rekan bisnis, you know?"


" Maaf, Nona. Tuan Presdir tidak suka terlalu dekat dengan orang asing." kata Zahra menengahi.


" Kau siapa, hah! Hanya asisten saja sok mengatur atasanmu!" sentak Merry.


" Selain asisten, saya juga menjaga keamanan dan kenyamanan atasan saya, Nona. Jangan sampai saya bertindak tegas jika Anda masih bersikeras mengganggu kenyamanan Tuan saya." tegas Zahra.


Azzam menyembunyikan senyum kecilnya melihat tingkah istrinya yang sedang cemburu. Dia hanya khawatir jika sang istri lepas kendali dan mengeluarkan pistol kesayangannya.


" Merry...! Fokus dengan tujuan pertemuan kita sekarang." peringat Azzam.


" Ok... Kita bicara di tempat yang lebih bersih." sahut Merry acuh.


Mereka bertiga berjalan menuju tempat mobil terparkir. Merry kembali merengek ingin satu mobil dengan Azzam namun langsung ditolak oleh Zahra. Istri Azzam itu tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk Merry berdekatan dengan suaminya.


" Nona, kita bertemu di Cafe Rose. Sopir Anda pasti sudah tahu dimana letak Cafe itu berada." ucap Zahra.


" Cihh... Awas kau nanti!" geram Merry lalu berjalan ke mobilnya sendiri.


Zahra menatap malas suaminya yang sedari tadi acuh dengan perdebatan dirinya dengan Merry. Sebagai suami seharusnya ia bisa bertindak lebih tegas pada wanita lain di depan istrinya.


" Hey, Asisten... Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" goda Azzam.


" Mas kenapa diem aja dia nempel kayak ulat bulu begitu!" kesal Zahra.


" Masuk dulu ke mobil, malu dilihat banyak orang." lirih Azzam.


Masuk ke dalam mobil, mood Zahra tiba - tiba buruk. Entah mengapa ia merasa benci melihat Merry yang bergelayut manja di lengan suaminya.


" Apa asisten specialku tengah cemburu?" ledek Azzam.


" Jangan meledekku!" pekik Zahra.


Azzam menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya. Dia harus bisa menenangkan emosi Zahra yang tidak terkontrol.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2