Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Pengganggu


__ADS_3

" Azzaammm...!" teriak seorang wanita seraya memeluk Azzam erat.


" Merry...! Jaga sikapmu!" seru Azzam marah dan melepas dengan kasar pelukan wanita itu.


Zahra yang tadinya sedang fokus dengan ponselnya mendongak melihat suara keras suaminya. Sepertinya ia tidak melihat saat wanita itu memeluk Azzam. Sebagai agen mata - mata terlatih, Zahra tidak langsung menghampiri suaminya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Masker yang menutupi sebagian wajahnya, membuat Zahra tidak merasa canggung jika nanti harus menampakkan diri di hadapan wanita itu.


" Zam, kita partner bisnis." rengek Merry.


" Saya tahu, tapi kita hanya kenal sebatas bisnis. Jangan sok kenal di luar pekerjaan."


" Kita kenal sudah cukup lama, Zam. Apa salahnya jika kita secara tidak sengaja bertemu disini?"


Azzam menatap kearah sang istri berniat untuk mendekatinya, namun kode dari Zahra membuatnya urung beranjak dari sana.


" Apa maumu?" kata Azzam datar.


" Kau tahu apa mauku dari dulu dan tidak akan pernah berubah sampai aku mendapatkanmu." sahut Merry percaya diri.


" Keputusanku juga tidak akan pernah berubah dari dulu, sekarang dan sampai kapanpun." tegas Azzam.


Azzam melangkahkan kakinya meninggalkan Merry dan memberi kode pada Zahra untuk mengikutinya. Azzam memilih untuk kembali ke hotel daripada ia bertindak kasar pada wanita.


" Mas tidak apa - apa?" tanya Zahra khawatir.


" Ya, hanya sedikit emosi saja." jawab Azzam.


" Siapa?"


" Wanita yang Mas ceritakan itu."


" Yaudah, jangan dipikrkan lagi. Jangan merusak liburan kita."


" Adek nggak marah sama Mas, kan?"


" Tidak, suamiku sayang. Kita akan menghadapinya bersama."


" Terima kasih, sayang. Semoga wanita itu tidak mengganggu kita lagi." ujar Azzam lirih.


" Ulat pengganggu itu akan aku musnahkan kalau kembali berulah." ucap Zahra santai.


Azzam tertawa pelan mendengar sebutan 'ulat pengganggu' yang tersemat untuk Merry. Mudah - mudahan sisi gelap istrinya tidak akan muncul lagi dengan adanya masalah ini.


.


.


Pagi hari, Zahra dan Azzam kembali menyusuri kota besar di negeri sakura itu. Mereka berkeliling di beberapa destinasi wisata yang cukup terkenal dan ramai.

__ADS_1


" Sayang, mau main salju dimana?" tanya Azzam.


" Dijalanan udah banyak salju, Zahra tidak mau mencoba olahraga ekstrim seperti itu." jawab Zahra asal.


" Hhh... Lalu tujuan kesini di musim salju apa?"


" Merasakan dinginnya salju secara langsung. Kota ini terasa indah dan damai, tidak banyak lalu lalang kendaraan."


" Apalagi?" cecar Azzam lagi.


" Bisa berduaan dengan suamiku tercinta. Sayang, ada ulat pengganggu yang membuatku risih."


" Nanti kita beli pestisida buat semprot hama ulat pengganggu itu." gurau Azzam.


" Hah... Kalau ngomongin pestisida, Zahra jadi ingat kampung halaman. Sudah berapa lama kita nggak pulang, Mas?"


" Satu bulan mungkin,"


Zahra duduk diatas tumpukan salju dengan sesekali meraup salju untuk dijadikan bulatan - bulatan kecil. Tingkahnya benar - benar mirip anak kecil.


" Kalau Rama diajak kesini pasti senang, Mas." ucap Zahra.


" Nanti kalau adiknya Rama udah dua tahun." sahut Azzam sembari berbaring di samping istrinya.


Pasangan suami istri itu tidak peduli dengan tatapan orang - orang disekitarnya yang memandang mereka aneh. Kalau dilihat dari lokasinya, mereka berdua saat ini seperti berada di sebuah taman bermain yang tertutup rapat oleh salju.


" Kalau ditanya pengen atau tidak, sudah pasti Mas pengen. Tapi Mas juga tidak mau memaksa Adek jika itu terasa menjadi beban. Bagaimanapun juga, prosesnya harus Adek sendiri yang menanggungnya. Mas hanya bisa mendukung secara moral tidak bisa ikut merasakannya. Jangan pikirkan soal anak lagi, Mas sudah cukup bahagia memiliki kamu dan Rama."


Zahra memeluk suaminya seraya menciumi seluruh wajahnya gemas. Kalau tidak ingat tempat, sudah pasti ia akan ikut berbaring pada hamparan putih yang dingin itu.


" Udah sore, Yang. Ada yang mau di kunjungi lagi atau pulang?" tanya Azzam.


" Pulang aja, Mas. Capek, pengen berendam air hangat." jawab Zahra.


" Mau ke pemandian air panas? Di sekitar sini kayaknya ada." tawar Azzam.


" Nggak ah! Nanti nggak bisa berendam bareng sama Mas Azzam." goda Zahra dengan senyum jahilnya.


" Kalau mau berendam sama Mas nanti aja habis Isya' atau besok setelah shubuh. Nanggung sebentar lagi maghrib." sungut Azzam.


Zahra tahu kebiasaan suaminya yang tak pernah puas jika hanya sekali. Tenaganya seakan tak pernah habis walaupun baru pulang kerja. Zahra sendiri sampai kuwalahan ditambah Rama yang sering sekali bangun jika tidur sendirian.


" Pulang yuk? Jangan berpikiran mesum disini." ledek Zahra.


" Sayang...! Jangan sampai Mas melewatkan waktu Maghrib dan Isya'." geram Azzam.


Zahra kembali mengenakan masker di wajahnya untuk menghalau dingin. Diikuti sang suami, mereka berjalan kaki menuju hotel karena mobil yang mereka sewa disuruh pulang duluan ke hotel.

__ADS_1


Saat tengah asyik bercanda sambil berlari - lari kecil, tiba - tiba ada sekelompok pria dengan jas tebal warna gelap menghadang mereka. Azzam dan Zahra saling bertatapan dengan melempar kode lewat interaksi mata.


Zahra mendekat kearah sang suami dan berlindung di belakang punggungnya. Zahra tahu sang suami tidak mengijinkannya berkelahi kecuali dalam keadaan terdesak.


" Kalau perlu bantuan, Mas panggil Zahra aja." bisik Zahra pada suaminya.


" Tenang saja, sayang. Mas akan menikmati ini, sudah lama tidak olahraga kecuali di ranjang." sahut Azzam asal yang langsung mendapat cubitan keras di lengannya.


Tanpa Azzam duga, keempat pria di depannya itu membawa sebilah samurai di tangan masing - masing. Zahra sempat ingin ikut maju namun Azzam melarangnya dan menyuruh kekasih halalnya itu untuk duduk manis diatas salju.


" Mas, apakah mereka benar - benar akan membunuh kita?" bisik Zahra.


" Kita lihat saja dulu, mereka akan menyerang sungguhan atau hanya menggertak." sahut Azzam.


Terdengar bisik - bisik samar dari mereka dengan bahasa Jepang yang fasih. Azzam yang memang bisa berbahasa jepang itu jadi tahu maksud mereka.


" Sayang, berlindunglah di tempat yang aman. Target mereka bukan Mas, tapi kamu." bisik Azzam.


" Aku? Kok bisa, Mas?"


" Lihat saja nanti, mundurlah!"


Azzam tak ingin membuang waktu karena sebentar lagi waktunya maghrib. Dia segera menghadapi para penjahat itu tanpa rasa takut sedikitpun. Zahra sedikit menjauh seraya mengawasi sang suami. Walaupun ia yakin dengan kemampuan suaminya, namun Zahra juga harus tetap waspada jika ada serangan mendadak.


Setelah beberapa saat mengamati, Zahra tahu bahwa para penjahat itu tidak pernah menggunakan samurainya dengan benar. Hingga Azzam dapat melumpuhkan mereka semua, Zahra duduk nyaman seraya mengawasi sekitar.


" Saya tahu kalian hanya orang suruhan, pergi dan katakan padanya jika saya tidak takut apapun." seru Azzam datar dan menampakkan wajah marahnya.


Setelah para penjahat itu pergi dengan tubuh yang hampir remuk, Zahra menghampiri sang suami lalu memeluknya.


" Mas tidak apa - apa?"


" Tidak, sayang. Sepertinya mereka dilarang untuk melukaiku. Target mereka adalah dirimu."


" Huh... Baru aja mau liburan, udah diusik. Lihat aja nanti kalau bertemu orangnya, akubunuh sekalian!" kesal Zahra.


" Udah, sayang. Sebaiknya sekarang kita pulang, sebentar lagi maghrib."


Sepanjang perjalanan ke hotel, Zahra diam dan tak fokus menanggapi ucapan Azzam. Sekelebat banyangan seseorang tadi membuat Zahra berpikir keras untuk mengungkap siapa orang yang mengusik hidupnya.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2