Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kembali ke sawah


__ADS_3

Siang hari, Azzam mengajak istrinya untuk pulang karena sudah rindu dengan putranya yang sejak kemarin ia tinggalkan hanya demi bisa berduaan dengan sang istri.


Sampai di rumah, Rama sedang bermain dengan Kaivan di halaman. Saat mobil Azzam datang, Rama langsung berlari begitu melihat Zahra keluar dari mobil.


" Bundaaa...!" teriak Rama.


" Eh, anak Bunda yang tampan. Nungguin Bunda, ya?" sahut Zahra seraya mencium wajah putranya berkali - kali.


" Assalamu'alaikum." ucap Azzam.


" Wa'alaikumsalam, Mas kemana saja dari kemarin nggak pulang." sahut Kaivan.


" Ada pekerjaan penting di kantor, Kai. Aku lembur semalam jadi tidak bisa pulang."


" Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan." cibir Kaivan.


" Anak kecil tahu apa kau!" ledek Azzam.


" Mas Azzam... Kaivan...!" seru Zahra dari teras.


" Siap, Boss!" jawab Kaivan cepat.


Zahra menggendong putranya masuk ke dalam kamar karena sedari tadi sudah menguap beberapa kali. Mungkin Kaivan belum terbiasa menjaga anak kecil, jadi dia kurang peka dengan kondisi anak.


" Dek, jangan terlalu baik dengan anak itu. Perhatianmu terlalu berlebihan padanya, Mas nggak rela." lirih Azzam.


" Ssttt... nanti saja kalau Rama sudah tidur." tegur Zahra pelan.


Azzam ikut berbaring di samping istrinya dan memeluk erat tubuh yang selalu membuatnya merasa nyaman.


" Kira - kira udah jadi belum disini, sayang?" bisik Azzam seraya mengusap perut Zahra.


" Apa sih, Mas? Jangan aneh - aneh kamu!" lirih Zahra.


" Mas masih kangen berduaan sama Adek,"


" Punya anak satu saja Mas mengeluh nggak punya waktu berduaan. Apalagi kalau nanti punya anak banyak, Mas?"


" Insya Allah kita bisa membagi waktu, Dek. Mas akan memberikan hal yang terbaik untuk kalian?"


" Soal harta...?"


" Bukan itu, sayangku. Mas akan memberikan seluruh cinta dan kasih sayang untuk kalian. Harta bukanlah segalanya, sayang. Jika boleh jujur, Mas lebih senang saat bekerja di sawah. Memiliki banyak waktu bersama dengan anak istri tanpa harus memikirkan banyak beban pekerjaan. Maka dari itu, Mas akan tetap mempertahankan sawah untuk sumber mata pencaharian kita."


" Harta itu memang penting, Mas. Tapi... Bahagia tak harus kaya, kan?"


" Iya, sayang. Banyak orang yang bahagia walau kehidupannya sangat sederhana bahkan kekurangan materi. Kuharap kita bisa memanfaatkan harta yang kita punya untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan."


Zahra membalikkan tubuhnya menghadap sang suami lalu mengecup bibirnya cukup lama sebelum akhirnya mereka tidur dengan lelap.


.


.


Sore hari, Kaivan pamit untuk kembali ke Jakarta. Dia tidak bisa meninggalkan kantor walaupun rasanya sangat nyaman tinggal di pedesaan. Rayyan yang mengantarkannya ke Bandara karena Azzam sangat lelah.


" Mas, kamu udah bilang sama Mama dan Papa kalau tidak pulang dengan Kaivan?"


" Sudah, Dek. Kemarin Mas udah bilang kalau tetap tinggal disini denganmu. Disana juga udah ada Kaivan yang menemani. Mas yakin Kaivan tulus menyayangi Papa dan Mama."


" Maaf ya, Mas. Karena Zahra... Mas harus pisah dengan Papa dan Mama."

__ADS_1


" Ngomong apa sih, Dek! Sudah berapa kali Mas bilang untuk tidak bahas itu lagi. Semua ini murni keinginan Mas sendiri, bukan karena kamu dan Rama."


" Maaf..."


" Kamu temani Rama dulu, Mas masih ada sedikit pekerjaan."


Azzam masuk ke dalam kamar dan membuka laptopnya untuk mengecek laporan keuangan Restoran. Rayyan memang hanya fokus di Perusahaan saja. Sesekali menggantikannya untuk cek restoran namun tidak terlalu sering. Azzam yang menghandle semua urusan Restoran.


" Mas_..."


" Apa sih, Dek?"


" Jangan marah, ya?"


" Mas nggak marah, sayangku. Cuma mau cek laporan hasil penjualan di Restoran."


" Bener ya, nggak marah?"


" Sini Mas peluk, biar Adek yakin kalau Mas beneran nggak marah."


" Cium juga,"


Azzam melakukan apa yang di inginkan istrinya. Entah mengapa istrinya itu sangat manja sekali hari ini. Putranya juga sama, dia sering minta gendong sejak ia datang siang tadi.


Pukul empat sore, Zahra memandikan Rama sambil bermain air hingga Azzam harus menegurnya karena terlalu lama takut masuk angin.


" Dek, Rama bisa sakit terlalu lama bermain air."


" Anaknya saja seneng kok, Yah. Sebentar lagi ya?"


" Bunda...!"


" Ya udah, Ayah saja yang pakein bajunya!"


" Kamu kenapa sih, Dek? Gimana Mas mau gantiin baju Rama kalau kamu begini?"


" Besok Mas beneran mau ke sawah?"


" Iya, sayang. Sebaiknya sekarang kamu masak biar Rama tidak kelaparan."


" Sebentar lagi, Mas."


.


.


Pagi hari, kesibukan seperti biasa terjadi di rumah Zahra. Azzam sedang memandikan putranya, sementara sang istri membuat sarapan di dapur.


" Mas ke sawah jam berapa?" tanya Zahra.


" Sekalian antar Bunda ke sekolah saja, nanti Rama ikut Mas ke sawah." jawab Azzam.


" Jangan diajak panas - panasan."


" Bundaaa...!" teriak Rama senang.


Rama memang sudah bisa dengan jelas mengucapkan beberapa kata namun hanya Ayah dan Bunda yang terdengar paling sering.


" Sayangnya Bunda udah wangi, mau ikut Bunda atau Ayah?"


" Dek, nanti ganggu kamu mengajar." ujar Azzam.

__ADS_1


" Iya, Ayah. Hari ini Ayah terlihat sangat tampan,"


" Ish... Ayah aja belum mandi di bilang tampan."


" Mau mandi atau tidak, Ayah Azzam tetap yang paling tampan."


" Bunda sudah mulai pintar merayu sekarang?"


Selesai sarapan mereka bersiap untuk aktifitas masing - masing termasuk Rayyan. Dia masih harus mengajar sampai satu bulan ke depan meskipun sudah mengajukan surat pengunduran diri.


" Za, kau ikut saja denganku. Biar Azzam langsung ke sawah." ujar Rayyan.


" Papa, ikut...!" rengek Rama.


" Rama sama Ayah dulu, ya? Papa harus bekerja mencari uang yang banyak buat beli mainan." bujuk Rayyan.


" Papaaa...!"


" Rama ikut Ayah mainan di sawah dulu? ya? Nanti kita beli mainan yang banyak." bujuk Azzam.


" Bukan begitu cara bujuk Rama." kata Zahra.


Azzam dan Rayyan saling berpandangan lalu menatap istrinya seakan meminta jawaban.


" Rama, sayang... Ikut Ayah beli telur mau? Nanti Rama bisa makan telur yang banyak." bujuk Zahra sambil tersenyum.


" Mau, telur..." ucap Rama seraya tersenyum riang.


" Masya Allah... nih bocah nggak tahu jajanan berkelas kayaknya." cibir Rayyan.


Azzam segera mengambil gendongan agar anaknya tidak jatuh saat naik motor. Zahra lebih memilih berangkat bersama Rayyan supaya Azzam bisa langsung ke sawah.


" Assalamu'alaikum, Pak." sapa Azzam pada para pekerja yang sudah berada di sawah.


" Wa'alaikumsalam, Mas Azzam. Sudah pulang dari kota?"


" Sudah kemarin, Pak. Keadaan sawah gimana?"


" Tanamannya banyak yang rusak, Mas. Hampir setengahnya mati."


" Ya sudah, nanti saya beli bibitnya lagj. Kita tanam lagi yang baru."


" Gudang itu sekarang tidak ada orangnya ya Mas semenjak kejadian Agus dan Cahyo malam itu?"


" Mereka sudah pergi, Pak. Tanah belakang gudang itu nanti diolah saja dulu. Saya berencana untuk menanam buah melon."


" Kalau begitu butuh pegawai lagi, Mas. Soalnya akan susah kalau nanti panen kurang orang. Tanah belakang gudang itu juga sudah bertahun - tahun menganggur."


Azzam berpikir sambil mengelilingi sawahnya untuk melihat seberapa besar kerusakan tanaman miliknya. Sepertinya memang butuh banyak dana untuk menggarap sawahnya kembali.


" Pak, tolong cari tiga orang lagi yang bisa menanam dan merawat melon. Kalau bisa yang warga sekitar sini saja, daripada tak ada pekerjaan."


" Iya, Mas. Nanti saya carikan, kebetulan banyak warga sini yang pengen bekerja di sawah ini. Walaupun gajinya tidak seperti kalau buruh di kota namun mereka senang karena tidak harus jauh dari keluarga."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2